MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 92 (KEDATANGAN ABIZAR)



Daniyal yang sudah berpakaian santai segera menghampiri Irene di meja makan, Irene sudah menyiapkan piring yang berisi nasi dan lauk untuk suaminya dan menyambutnya dengan senyuman.


“Kok kamu sama bi Sumi ga makan duluan?” tanya Daniyal.


“Kita nungguin kamu sayang, ayo sarapan.” Ajak Irene.


Akhirnya Daniyal segera duduk di kursi makannya dan mereka segera menyantap sarapan dengan tenang.


“Irene udah selesai sarapan, kalo gitu Iren berangkat dulu ya sayang bi Sumi.” Pamit Irene.


Seperti biasanya Irene mencium punggung tangan Daniyal dan juga bi Sumi, lalu setelah itu Irene mengendarai mobilnya sendiri.


Selama tinggal di sana, Irene selalu mencium punggung tangan bi Sumi, walaupun bi Sumi sudah menolak karena Irene adalah majikannya namun Irene tetap memaksa untuk mencium tangan bi Sumi sebagai tanda kalau bi Sumi


adalah orang yang sangat Irene hormati.


Setelah melihat Irene sudah melajukan mobilnya, Daniyal masuk ke dalam rumah lebih dulu sedangkan bi Sumi baru masuk ke dalam rumah setelah mobil Irene sudah tidak terlihat lagi.


Namun saat bi Sumi mau masuk ke dalam rumah dia terkejut saat melihat mobil yang sangat dia kenali masuk ke halaman rumah Daniyal.


“Tuan Abizar!?” ucap bi Sumi yang segera berlari masuk ke dalam rumah untuk memanggil Daniyal.


“Tuan! Tuan!” teriak bi Sumi membuat Daniyal yang sudah berada di tengah-tengah tangga.


“Yaampun bi kenapa teriak begitu? Ada apa?” tanya Daniyal yang sudah menghentikan langkahnya.


“Anu tuan, di depan ada tuan Abizar.” Jawab bi Sumi.


“Apa?! Abizar? Apa mobil Irene sudah keluar saat Abizar masuk?” tanya Daniyal yang ikut panik.


“Sudah tuan, tapi ga tau deh kalo nyonya Iren ngeliat lewat spion.” Ucap bi Sumi.


Daniyal akhirnya kembali menuruni tangga dan berjalan menuju pintu depan untuk melihat Abizar yang katanya sudah masuk ke dalam halaman rumahnya.


Abizar keluar dari mobilnya dengan santai dan pakaian yang sudah rapih, lalu dia berjalan ke arah Daniyal dengan tatapan tajam.


“Abizar, ada apa kamu kemari? Kamu gila ya?!” ketus Daniyal.


“Kita bicara di dalam!” ketus Abizar yang langsung berjalan masuk begitu saja ke dalam ruang tamu, sedangkan Daniyal hanya mengerutkan keningnya sambil berjalan mengikuti sang adik.


“Abizar, kamu ini apa-apaan sih? Gimana kalau sampai Irene tau kalo kamu ada di sini?”


“Kenapa emang kak? Biarin aja dia tau kalo ternyata aku ini adikmu!” ucap Abizar.


“Kamu kenapa sih? Sebenernya kenapa kamu tiba-tiba emosi begitu Abizar?” tanya Daniyal.


“Aku datang kemari karena melihat hubunganmu dan Irene semakin dekat kak! Kalian berdua semakin romantis satu sama lain! Balas dendam? Haha ga akan pernah kamu bisa membalas dendam karena kamu sudah mulai


mencintainya kak!” ketus Abizar.


“Apa maksudnya?! Aku sama sekali tidak mencintainya!” balas Daniyal.


“Jangan bohong kak! Sebulan waktu yang cukup buat membalas dendam!” ketus Abizar.


“Cukup kamu bilang? Sebulan hanyalah waktu untuk membangun kepercayaannya padaku!” ketus Daniyal.


“Kamu seperti ini karena kamu belum merasakan bagaimana rasanya menikah Abizar, semua butuh proses! Kalau kamu mau membuat mereka hancur sehancur-hancurnya maka kamu harus menahannya lebih lama lagi!” lanjut


Daniyal.


“Ga mau tau, terserah kakak mau gimana, pokoknya aku ga ngasih kamu waktu banyak kak!” ketus Abizar yang langsung berjalan keuar rumah begitu saja.


Daniyal hanya diam mematung melihat Abizar pergi begitu saja melewatinya, sedangkan bi Sumi yang dari tadi mendengar semuanya hanya bisa berjalan menghampiri Daniyal dan mencoba untuk menenangkannya.


“Bi apa aku sudah mulai mencintai Irene?” tanya Daniyal dengan wajah sedih.


“Tuan, percaya saja pada perasaan tuan, perasaan tuan lebih tau bagaimana nyonya Irene yang sebenarnya.” Ucap bi Sumi.


Tidak ada kata-kata lain yang bisa di lontarkan dari bibir bi Sumi selain kata sabar, karena sebenarnya bi Sumi juga tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi majikannya itu.


“Aku harus bagaimana ini bi? Arghh, kenapa aku harus menikah dengannya sih!” ketus Daniyal yang frustasi dengan nasibnya.


“Tuan jangan seperti ini, bibi harap tuan mengikuti apa kata hati tuan yang bibi lihat akhir-akhir ini tuan sudah sangat bahagia.” Ucap Daniyal.


“Kalau nanti Abizar sudah tidak bisa di atasi, aku titip Irene ya bi.” Ucap Daniyal.


“Maksud tuan?” tanya bi Sumi tidak mengerti.


“Sudahlah nanti saja, Daniyal ke kamar dulu ya bi.” Ucap Daniyal yang dengan lemas dia berjalan menaiki tangga.


Daniyal tidak melupakan tentang rencananya untuk balas dendam, hanya saja dia bingung harus membalas dendam seperti apa kepada Irene yang selama ini sudah mengurusnya dengan baik.


Sedangkan di sisi lain, Irene yang sudah berada di tengah jalan mau ke perusahaannya, memutuskan untuk membuat janji dengan dokter untuk pemeriksaan rutin.


Irene memang selalu seperti itu, tiga bulan sekali dia selalu melakukan pemeriksaan rutin untuk melihat apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak, Irene juga ingin meminta obat diet karena dia merasa tubuhnya sudah bertambah berat badan.


“Setelah rapat aku akan segera ke rumah sakit.” Gumam Irene yang langsung kembali fokus menyetir mobilnya.


Sesampainya di perusahaannya, Irene segera turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam dan di sambut oleh para karyawannya.


“Selamat pagi kak Irene..” sapa Elif dengan ceria seperti biasanya.


“Pagi Elif, bagaimana? Ruangannya sudah siap untuk di gunakan kan?” tanya Irene.


“Sudah kak, aku juga sudah menaruh dokumen di atas meja semua orang.” Jawab Elif.


“Baguslah, bagaimana dengan Aleena?”  tanya Irene kembali.


“Kak Aleena sedang pemotretan kak.”


“Oke deh, dia sama Abizar kan?” tanya Irene, karena Irene tau hari ini Aleena akan melakukan pemotretan dengan salah satu model laki-laki yang terkenal fakboy itulah kenapa Irene bertanya keberadaan Abizar.


“Sepertinya ga ada deh kak, tadi cuma nganter kak Aleena terus dia bilang mau pergi dulu sebentar.” Jelas Elif.


“Apa? Kenapa dia meninggalkan Aleena dengan laki-laki buaya itu!?” ketus Irene yang mempercepat langkahnya dan segera menaiki lift untuk melihat proses pemotretan sebentar.


“Kakak mau lihat kak Aleena?” tanya Elif.


“Iya aku mau lihat sebentar, aku ga tenang kalo Aleena di tinggal sama laki-laki itu.” Ucap Irene.


“Tapi kan banyak kru juga kak, sepertinya tidak akan jadi masalah besar deh.” Balas Elif.


“Ga bisa Elif, apapun bisa di lakukan olehnya, kalau bukan karena performanya yang bagus dan banyak sekali yang menyukainya aku mungkin sudah memindahkan dia ke kantor cabang.” Jelas Irene.


“Baiklah kak aku akan menekan lantai pemotretan.” Ucap Elif yang langsung menekan angka 5 di tombol lift.


“Kak, setelah rapat jadwal kak Iren kosong, kakak mau aku naikin jadwal yang harusnya buat besok?” tanya Elif.


“Ga perlu Elif, aku akan ke rumah sakit setelah rapat nanti.” Jawab Irene.


“Rumah sakit? Kenapa kakak ke rumah sakit?” tanya Elif sedikit khawatir.


“Aku hanya menjalani pemeriksaan rutin aja kok jangan khawatir.” Ucap Irene yang akhirnya membuat Elif bernafas lega.