
“Aku hamil pi…” ucap Irene kepada sang papi membuat papinya mematung seketika setelah mendengar kata-kata itu.
“Apa kamu bilang? Kamu hamil? Ini kamu ga boong sama papi kan? Kamu beneran hamil?” tanya Gilang yang langsung berdiri dan melihat wajah anaknya.
“Beneran papi, Irene ga bohong kok Iren beneran hamil.” Jawab Irene.
“Wah ini harus segera memberitahu adik-adikmu!” seru Gilang yang mau berjalan keluar kamar namun di halangi oleh Irene.
“Papi jangan! Jangan kasih tau siapapun dulu ya Iren mohon,, ini juga hanya papi yang Iren kasih tau tapi Iren mau minta tolong sama papi agar tidak memberitahu siapapun.” Ucap Irene.
“Kenapa Iren? Bukannya adik-adikmu akan sangat senang mendengar kamu sedang hamil? Mereka pasti senang kalau tau mereka akan memiliki keponakan.” Ucap Gilang.
“Iya Iren tau pi, tapi kayaknya kak Daniyal bener-bener takut, dia takut karena terlalu senang adik-adik sampai lepas kendali dan mengatakan hal ini kepada sembarang orang, kak Daniya takut ada yang berniat jahat kepadaku dan anak yang aku kandung.” Jelas Irene.
“Daniyal?” tanya Gilang.
“Iya pi, awalnya Iren maksa buat ngasih tau ke semuanya tentang kehamilan ini, tapi pas berjalan masuk ke dalam kak Daniyal keringetan banget tangannya.” Ucap Irene.
“Jadi Irene pikir kalau kak Daniyal benar-benar ketakutan dan akhirnya Iren ga jadi deh ngumumin kehamilan ini.” Lanjut Irene.
“Benarkah? Kalau begitu jangan beri tahu siapapun, pasti Daniyal punya alasan sendiri untuk merahasiakan kehamilanmu.” Ucap Gilang.
“Terimakasih sudah mau mengerti pi…” ucap Irene.
“Papi pasti akan mengerti sayang, papi masih ga menyangka kalau sebentar lagi papi akan menjadi kakek.” Ucap Gilang.
“Masih ada sekitar tujun bulan lagi pi..” balas Irene.
“Itu adalah waktu yang sebentar Iren, nanti ga akan kerasa tiba-tiba kamu akan melahirkan.” Ucap Gilang.
“Benarkah pi?”
“Iya, papi pernah merasakannya… Mulai sekarang kamu sudah harus meminimalisir untuk bekerja dan melakukan pekerjaan rumah, papi tau walaupun Daniyal memiliki banyak pelayan pasti kamu masih suka ikut campur untuk melakukan pekerjaan di sana kan?” ucap Gilang.
Ya, Gilang sudah hapal semua sifat anak-anaknya, dia juga sudah hapal dengan sifat Irene yang akan selalu membantu para pelayan melakukan pekerjaan mereka.
“Hehehe, tapi kak Daniyal mampu membuat OCD Irene menghilang papi.” Ucap Irene.
“Benarkah?”
“Ya walaupun belum sepenuhnya hilang, kadang kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai di meja makan rasanya masih kesal, tapi sebisa mungkin Iren menahannya.” Ucap Irene.
“Bagus kalau begitu, sudah lebih baik kamu istirahat sekarang, cucu papi pasti pingin tidur juga.” Ucap Gilang.
“Baiklah pi, nanti sore kita jalan-jalan di taman sambil mengobrol ya pi..” ucap Irene.
“Iya sayang.” Ucap Gilang.
“Bye papi…” ucap Irene yang langsung pergi meninggalkan sang papi di kamarnya.
Setelah melihat Irene pergi dari kamarnya, Gilang langsung menatap bingkai foto berukuran besar yang di dalamnya terdapat foto sang istri yang sidah meninggal.
“Sayang, anak kita akan segera menjadi ibu, aku tau dia pasti akan menjadi ibu yang hebat untuk anaknya, tapi aku mohon kamu untuk membantunya dari sana, bantu lindungi dia dari orang-orang yang berniat jahat kepada anak dan cucu kita.” Ucap Gilang seolah sedang mengobrol dengan sang istri.
Sampai saat ini, jika ada masalah yang sedang menimpanya atau anak-anaknya, Gilang selalu berbicara dengan bingkai foto istrinya seolah-olah sang istri masih hidup sampai saat ini.
***
Di sisi lain, Aleena yang masih melakukan pemotretan mendapat pesan kalau Irene sedang berada di rumah papinya.
Tentu saja permintaan Aleena akan selalu di turuti karena Aleena adalah adik pemilik perusahaan di mana mereka bekerja, bahkan Aleena akan mendapatkan perlakuan khusus jika mau, namun Aleena tidak pernah menginginkan perlakuan khusus dan hanya ingin di samakan dengan model yang lainnya.
Abizar yang tidak tau apa-apa hanya bisa kebingungan melihat Aleena yang ke sana kemari meminta dirinya agar di potret lebih dulu.
“Dia kenapa sih? Tumben banget minta foto duluan?” gumam Abizar.
Namun dia tidak mau bertanya kepada Aleena karena melihat Aleena masih sibuk berpose di depan kamera.
“Terimakasih semuanya, terimakasih..” ucap Aleena kepada staff pemotretan.
Setelah pemotretannya selesai, Aleena segera menghampiri Abizar dan tersenyum ke arahnya.
“Ada apa? Kenapa kamu menyelesaikan pemotretan dengan cepat?” tanya Abizar.
“Aku ingin cepat pulang, ayo kita pulang!” ucap Aleena.
“Pulang? Kenapa pulang? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Abizar.
“Ga ada sesuat terjadi kok kak, hanya saja kak Irene dan kak Daniyal sedang berkunjung dan mereka akan makan malam di rumah.” Jelas Aleena.
“Benarkah? Ada urusan apa dia ke rumah?” tanya Abizar.
“Kenapa kamu nanya kayak begitu? Emang salah kalo kakakku mengunjungi aku dan papi?” tanya Aleena.
“Ya ga apa-apa.” Ucap Abizar.
“Kamu ini sebenarnya kenapa sih kak? Kamu kayaknya akhir-akhir ini sensi banget kalo aku udah ngomongin kak Iren dan kak Daniyal, ada masalah?” tanya Aleena.
“Masa sih? Engga ah pikiran kamu aja kali, aku ga ada masalah apa-apa kok sama mereka.” Ucap Abizar.
“Toh mereka jarang banget pulang jadi ga masalah dong kalo mereka ke rumah.” Ucap Aleena.
“Aku ga sensi kok, mereka pulang ya ga apa-apa toh itu rumah papinya, kamu aja yang nganggep aku sensi.” Ucap Abizar.
Aleena memilih untuk tidak berbicara dengan Abizar karena menurutnya Abizar hari itu benar-benar menyebalkan.
Entahlah, bukan hari itu saja tapi akhir-akhir ini Aleena memang merasa kalau Abizar selalu emosi hanya dengan hal-hal kecil.
Selama di perjalanan menuju rumah, Aleena dan Abizar hanya diam tidak mengatakan apapun karena mereka sama-sama sedang kesal saat itu.
“Mampir ke restaurant yang ada di pusat kota dulu, aku akan membeli beberapa makanan untuk nanti malam.” Ucap Aleena.
Abizar tanpa berkata apapun hanya menuruti ucapan Aleena dan mengantarnya ke restaurant yang dia tuju.
Bahkan Abizar tidak membantu Aleena turun dari mobil seperti yang biasa dia lakukan hari itu. Keduanya berjalan berjauhan namun Abizar masih membawakan makanan yang di beli Aleena ke dalam mobil.
Aleena yang keluar belakangan karena harus membayar tiba-tiba saja tersandung ambang pintu dan membuatnya terjatuh.
Abizar yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Aleena dan membantunya untuk berdiri.
“Kamu ini bisa liat ga sih!? Kamu saja ga bisa menjaga diri sendiri! Bagaimana kalau aku pergi dan kamu harus mengurus dirimu sendiri!?” ketus Abizar.
Mendengar ucapan Abizar membuat Aleena mematung lalu menoleh ke arah Abizar dengan tatapan tajamnya.
“Apa kamu bilang barusan?” tanya Aleena yang membuat Abizar juga terkejut karena sudah berbicara seperti itu.