
Pemeriksaan sudah di lakukan, Daniyal dan Irene sudah melihat bagaimana perkembangan bayi mereka yang sudah semakin membesar dan sehat.
Tidak ada kendala apapun kata dokter dan itu yang membuat Daniyal dan Irene tenang, namun keduanya hanya bisa menahan tawa saat dokter melarang untuk melakukan hubungan suami istri saat usia kandungannya masih sangat muda.
Daniyal awalnya tidak terima, namun dokter bilang berhubungan dengan terlalu bersemangat akan membuat guncangan untuk calon bayi dan bahkan kemungkinannya bisa mengalami keguguran.
Mendengar ucapan dokter tersebut membuat Daniyal baru diam dan tidak berani mengatakan apapun lagi.
Akhirnya keduanya segera pergi dari ruang pemeriksaan dan memutuskan untuk pulang karena sudah selesai melakukan pemeriksaan bahkan Daniyal bisa melihat hasil print out usg dari anaknya itu.
“Kenapa anak kita kecil begini? Kamu harus makan yang banyak setelah ini agar dia cepat besar!” ucap Daniyal.
“Yaampun memang begitu, semuanya bertahap sesuai bulannya.” Ucap Irene.
“Benarkah? Berarti dia akan membesar nanti?” tanya Daniyal.
“Iya sayang iya, kenapa kamu ini bawel sekali akhir-akhir ini?” ucap Irene.
“Biarkan saja!” balas Daniyal.
“Sayang, bisakah aku turun? Dokter bilang aku masih kuat berjalan.” Ucap Irene yang masih berada di atas kursi roda.
“Tidak sayang, aku akan meminimalisir kelelahan kamu.” ucap Daniyal.
“Yaampun kamu ini berlebihan sekali!” gumam Irene sambil memegang keningnya yang pusing karena sikap Daniyal.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pulang ke rumah, namun tiba-tiba saja Irene menginginkan hal yang lain.
“Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah papi? Mereka sama sekali tidak tau kalau aku sedang hamil, bagaimana kalau kita memberitahu mereka sekarang?” tanya Irene.
Ciitt!!! Daniyal menginjak pedal rem dengan tiba-tiba membuat Irene hampir membentur depan mobil kalau dia tidak menggunakan sabuk pengaman.
“Sayang! Kamu tidak apa-apa?!” tanya Daniyal dengan khawatir.
“Kamu ini kenapa sih? Kayak kaget banget aku bilang mau ngasih tau keluargaku? Mereka kan harus tau, keluargamu juga harus tau.” Ucap Irene.
“Usia kandunganmu masih kecil sayang, jangan di beritahu dulu sampai usia kandungannya lima bulan.” Ucap Daniyal.
“Bagaimana bisa? Sayang kamu ini sebenarnya kenapa sih? Papi pasti sedih sekali kalau kita baru memberitahunya setelah berusia lima bulan.” Ucap Irene.
“Tapi aku ga mau terjadi sesuatu kepadamu.” Ucap Daniyal.
“Apa yang akan terjadi padaku setelah aku memberitahu keluargaku kak? Apa mereka akan tega melakukan sesuatu yang membahayakan? Apa papi akan tega melakukan itu pada cucu pertamanya? Dan adik-adikku juga mereka tidak akan tega melakukan hal itu kepada keponakan yang selalu mereka tunggu.” Ucap Irene dengan kesal.
Sebenarnya bukan itu masalahnya, Daniyal tidak mengkhawatirkan tentang keluarga Irene, namun dia mengkhawatirkan Abizar yang mengetahui kehamilan Irene, mungkin dia akan murka dan bisa membahayakan Irene dan bayinya.
“Tapi... Aku takut kalau ada orang lain yang akan mengetahui kehamilanmu dan orang itu akan membuatmu dan anak kita terluka.” Ucap Daniyal dengan nada khawatir.
Mendengar ucapan suaminya membuat Irene menghela nafas panjang lalu dia menggenggam tangan suaminya dengan erat.
“Aku dan anak kita pasti baik-baik saja sayang, jika ada yang mau melakukan hal jahat padaku maka ada banyak orang juga yang akan melindungiku termasuk dirimu bukan?” ucap Irene dengan tenang.
Karena sekarang Irene tau kalau yang membuat Daniyal tidak mau memberitahu kehamilannya karena dia tidak ingin Irene dan anak mereka terluka.
“Aku janji aku akan menjaga anak kita dengan baik.” Ucap Irene meyakinkan.
Keduanya akhirnya sampai di rumah keluarga Herlambang dan dengan perasaan gugup Daniyal melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Irene.
Irene merasakan basah di tangan suaminya, itu menandakan kalau suaminya benar-benar gugup saat berjalan masuk ke dalam rumah keluarganya.
“Sebenarnya kenapa kamu gugup seperti itu kak? Apa ada sesuatu yang tidak bisa kamu katakan kepadaku?” batin Irene sambil mengeratkan genggamannya kepada Daniyal agar Daniyal sedikit lebih tenang.
“Kak Iren!!” teriak Queen yang kebetulan baru mau menaiki tangga.
“Queen, kamu sendirian?” tanya Irene.
“Yang lain di kamar masing-masing kak, tunggu ya aku panggil papi kak.” Ucap Queen dengan bersemangat segera berlari menaiki tangga dan memanggil semua orang.
Tentu saja Queen sangat bersemangat, setelah menikah Irene hanya sekali mengunjungi rumah mereka setelah pulang dari Korea dan itupun hanya memberikan oleh-oleh untuk keluarganya saja.
Sesekali adik-adiknya bermain di rumah Irene dan Daniyal, tapi seringkali setiap mereka ke rumah kakaknya itu baik Irene maupun Daniyal tidak ada di rumah karena sibuk bekerja dan akhirnya mereka semua jarang bertemu dengan Irene dan Daniyal.
Setelah mendengar kabar dari Queen kalau Irene dan Daniyal kemari, semua orang sangat bersemangat dan segera berebut untuk segera menuruni tangga dan memeluk Irene dengan erat.
“Kakak!!!” teriak semuanya sambil memeluk tubuh Irene secara bersamaan.
Daniyal sedikit khawatir dengan keadaan bayi yang ada di perut Irene karena ke tiga adik Irene sangat bar-bar sekali.
Eh? Tiga? Kemana Aleena? Pikir Daniyal, apa dia sedang bekerja? Baguslah jika begitu Abizar tidak ada di sini.
“Kemana Aleena?” tanya Irene.
Daniyal hanya diam mendengar ucapan Irene, dia tidak menyangka kalau ternyata pikirannya tersambung dengan sang istri.
“Kak Aleena ada pemotretan mendadak kak.” Jawab Ratu.
“Pemotretan mendadak? Tapi Elif tidak memberitahu aku tentang hal itu.” Ucap Irene.
“Mungkin karena Elif ga mau kakak merasa bertanggung jawab karena kakak minta kosongin jadwal hari ini kan?” tanya Nancy.
“Kamu kenapa mengosongkan jadwal hari ini Irene? Apa kamu sedang sakit?” tanya Gilang yang dari tadi ingin bicara dan memeluk putrinya tapi di dului oleh putrinya yang lain.
“Papi, aku merindukan papi..” ucap Irene sambil memeluk tubuh papinya.
“Jawab pertanyaan papi, apa kamu sakit?” tanya Gilang.
“Aku baik-baik saja pi, aku minta mengosongkan jadwalku karena aku ingin mengunjungi papi dan adik-adik.” Jawab Irene dengan santai.
Mendengar jawaban dari Irene membuat Daniyal tidak percaya, karena dia pikir istrinya akan mengatakan yang sebenarnya, tapi ternyata tidak, ada apa? Kenapa dia tidak mengatakan yang mau dia katakan?
“Daniyal, apa benar Irene baik-baik saja?” tanya Gilang.
“Iya pi, Irene baik-baik saja kok, katanya dia sedang merindukan papi dan adik-adik jadi dia mengajakku untuk mengosongkan jadwal dan pergi ke sini.” Jawab Daniyal yang mendukung kebohongan istrinya.
“Ah iya aku bawa buah pisang, semangka dan jeruk untuk papi, ini bagus untuk menurunkan darah tinggi jadi aku membelinya, Aleena bilang kalau akhir-akhir ini papi sering sakit kepala.” Ucap Irene.
Daniyal segera memberikan buah yang tadi sempat dia beli bersama Irene di perjalanan, karena Daniyal tidak ingin mengunjungi mertuanya dengan tangan kosong jadilah dia memutuskan untuk membeli buah.