
Aleena dan Queen masih berada di kamar Gilang karena sampai saat itu Gilang masih tidak sadarkan diri membuat kedua anak perempuannya mengkhawatirkan keadaannya.
“Kak, apa tidak sebaiknya kita memberitahu kak Iren tentang keadaan papi? Sekalian kita mengkonfirmasi pesan yang kak Iren kirim untuk papi.” Ucap Queen sambil berbisik.
“Jangan sekarang, nanti aja karena aku yakin kak Iren juga sedang pusing karena harus menjaga Ratu dan yang utama karena masalah Nancy.” Balas Aleena.
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata kita memiliki banyak sekali rahasia ya kak? Saudara yang seperti apa kita ini, masih takut untuk menceritakan rahasianya kepada saudaranya sendiri.” Ucap Queen.
“Jangan bicara seperti itu, semua orang memiliki privasinya masing-masing, mereka menyembunyikan rahasia karena tidak ingin menyusahkan dan membebani kita.” Jelas Aleena.
“Tapi aku ga pernah merasa terbebani kok kak kalo mereka cerita.”
“Queen, pikiran orang ga ada yang tau kan? Tidak semua masalah harus di ceritakan oke?” tegas Aleena.
Aleena benar-benar harus menjelaskan kepada Queen dengan perlahan karena Queen masih kecil dan selama ini di hidupnya hanyalah bermain dan tertawa, dia masih belum merasakan bagaimana dunia luar yang kejam.
“Kamu tidurlah, biar aku yang menjaga papi di sini.” Ucap Aleena.
“Engga kak, aku juga akan menemani kakak di sini.” Balas Queen.
“Kalo gitu kamu tidur di sofa aja, setidaknya kita harus bergantian Queen, kalau aku mulai lelah aku akan membangunkanmu dan aku yang akan tidur.” Jelas Aleena.
“Hm, baiklah kak aku akan mengambil gulingku dulu di kamar.. Kalau ada apa-apa segera bangunkan aku ya kak..” ucap Queen yang di balas anggukan oleh Aleena.
Queen segera berjalan ke kamarnya untuk mengambil guling kesayangannya lalu kembali ke kamar sang papi dan tidur di sofa yang ada di sana.
Sedangkan Aleena yang melihat adiknya sudah berbaring di sofa kembali melihat papinya dan memegang tangan papinya dengan erat.
“Papi sadarlah, Aleena tau kalau kak Iren bisa mengatasi semuanya dan saat papi sadar nanti semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Aleena dengan pelan.
Jarum jam terus berjalan dan Aleena tetap setia berada di sebelah papinya dan memegangi tangannya, sampai kedua matanya benar-benar tidak kuat lagi, akhirnya Aleena segera membangunkan adiknya.
“Queen, bangunlah aku sudah mengantuk..” bisik Aleena.
Dengan perlahan kedua mata Queen terbuka dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan jam 12 malam.
“Yaampun kak Aleen kuat amat ga tidur sampe jam 12?” tanya Queen.
“Makanya sekarang aku udah ngantuk banget, kamu gentian jaga papi ya, kalo papi udah sadar segera bangunkan aku.” Ucap Aleena.
“Siap bos!” tegas Queen yang langsung beranjak dari sofa dan membiarkan Aleena untuk beristirahat.
Queen menjaga papinya dengan baik, sampai saat dirinya tertidur tiba-tiba saja Gilang terbangun dan menggerakkan tangannya hingga membuat Queen kembali terbangun.
“Papi? Kak Aleen, papi udah bangun.” Ucap Queen.
Aleena yang memang baru tertidur langsung terbangun saat mendengar ucapan adiknya dan segera menghampiri papinya.
“Papi..” ucap Aleena.
Gilang membuka kedua matanya dan tersenyum ke arah kedua putrinya yang sedang menunggunya.
“Apa kalian berdua dari tadi berada di sini?” tanya Gilang kepada kedua anaknya.
“Hm, kami menunggu papi di sini.” Jawab Aleena.
“Kalian ga tidur?”
“Queen tidur pi, kak Aleen yang ga tidur soalnya tadi pas kak Aleen baru tidur papi bangun.” Jelas Queen.
Dengan cepat Aleena menyenggol tubuh Queen dan menggelengkan kepalanya kepada sang papi, sedangkan Queen yang tubuhnya di senggol langsung menatap tajam ke arah kakaknya.
“Papi baik-baik saja kan? Masih pusing? Mau minun obat dulu apa langsung Aleen panggilin dokter Fatur?” tanya Aleena.
“Engga usah Leen, papi minum obat papi aja ya.” Ucap Gilang.
Akhirnya Aleena segera mengambilkan obat darah tinggi sang papi di laci dan juga segelas air untuknya.
“Queen ambil roti dulu ya pi, papi harus makan sebelum minum obat.” Ucap Queen yang langsung berjalan ke dapur untuk mengambil roti yang memang mereka stock di lemari dapur.
Hanya ada Aleena dan Gilang di dalam kamar, Gilang terus saja memperhatinya putrinya yang sedang menyiapkan obat untuknya.
“Aleen..” panggil Gilang.
“Hmm, ada apa pi?” tanya Aleena seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa kamu pernah berpikir kalau Nancy akan mengalami hal seperti itu?” tanya Gilang yang membuat Aleena menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Gilang.
“Kenapa papi bertanya seperti itu?” tanya Aleena.
“Karena selama ini papi mengira Nancy adalah putri papi yang paling mudah bergaul dan berani jika dirinya mengalami ketidakadilan.” Jelas Gilang.
“Tapi papi ga nyangka kalau dia akan mengalami hal yang di luar dugaan.” Lanjutnya.
Aleena menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.
“Papi, kalau menurut Aleena, orang yang paling terlihat kuat adalah orang yang paling pintar menutupi semua masalahnya.” Jelas Gilang.
“Hm, kamu benar… Papi harus segera bertindak dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang sudah membuat anak papi seperti itu!” tegas Gilang.
“Papi diam saja, kak Iren pasti sudah memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini.” Ucap Aleena.
Gilang hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan putri keduanya, lalu Queen masuk membawakan roti untuk Gilang.
Setelah meminum obatnya, Aleena menyuruh Gilang kembali beristirahat dan mereka akan menunggu di kamarnya, namun Gilang menolak.
“Papi, Aleena ga mau ninggalin papi sendirian.” Ucap Aleena.
“Papi sudah baik-baik saja sekaran jadi kalian bisa kembali ke kamar kalian untuk beristirahat, jangan begadang lagi karena kalian memiliki kegiatan besok.” Jelas Gilang.
“Kak Aleen, ayo kita tidur di kamar aja, papi juga butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.” Ajak Queen sambil memegang lengan kakaknya.
Akhirnya Aleena mengalah dan menuruti permintaan papi dan adiknya untuk tidur di kamar masing-masing.
“Baiklah kalau gitu Aleen sama Queen pergi ke kamar dulu ya pi, kalau ada apa-apa langsung telfon Aleen ya..” ucap Aleen sebelum meninggalkan kamar papinya.
Setelah memastian kedua putrinya meninggalkan kamarnya, Gilang segera mengambil hpnya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan segera menghubungi Nancy namun tidak di angkat.
“Kenapa tidak di angkat? Mungkin karena sudah malam dia tertidur ya..” gumam Gilang.
Akhirnya Gilang segera mengirimkan pesan kepada Nancy agar bisa di baca Nancy setelah dia terbangun nanti.
“Nancy\, papi sudah tau apa yang sedang menimpamu\, papi benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa mendapatkan masalah seperti itu\, kenapa kamu tidak bercerita kepada papi? Siapa laki-laki br*ngs*k yang sudah
membuat putri papi menderita dan mendapat hinaan seperti itu?! Papi janji akan mematahkan tulang-tulangnya jika papi mengetahuinya.”
“Kamu adalah berlian bagi papi dan juga mami, kamu, kakak-kakakmu dan adik-adikmu adalah berlian yang sangat berharga yang selama ini papi jaga.. Hati papi hancur melihat video yang di kirimkan oleh kakakmu, papi berjanji
tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah menghinamu hidup dengan tenang!”
Itu adalah pesan yang di kirim Gilang untuk putri ketiganya, perasaannya sebagai orang tua benar-benar di hancurkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan dia tidak akan diam saja saat salah satu putrinya di perlakukan seperti itu.