
Di sisi lain, Aleena masih menangis di dalam mobil, sedangkan Abizar hanya diam karena dia tidak tau harus melakukan apa agar Aleena bisa pulih.
“Maaf..” hanya ucapan itulah yang keluar dari mulut Abizar.
Abizar benar-benar menyesal karena saat itu tidak menunggu Aleena sampai keluar dari toilet, harusnya dia tidak ke toilet saat itu dan tetap menunggu di tempatnya seperti janjinya pada Aleena.
Mendengar ucapan maaf dari Abizar membuat Aleena menoleh secara perlahan ke arah Abizar.
“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya Aleena.
“Aku meminta maaf karena aku sudah lalai menjagamu.” Ucap Abizar.
“Jangan bicara seperti itu kak, aku tidak ingin kamu merasa bersalah karena kamu juga tidak menduga hal ini akan terjadi.” Ucap Aleena.
“Aku antar kamu pulang.” Ucap Abizar yang di balas anggukan oleh Aleena.
Abizar fokus untuk menyetir sampai akhirnya tibalah mereka di halaman rumah Herlambang.
“Ayo kita sudah sampai, aku akan mengantarmu sampai dalam karena aku harus menjelaskan apa yang terjadi di pesta itu.” Ucap Abizar.
Aleena hanya menganggukkan kepala sambil menghela nafas panjang, lalu Abizar segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Aleena dan membantu Aleena turun dari mobil.
Di ruang tamu, Nancy, Ratu dan Queen masih duduk di sana sambil memainkan hp mereka masing-masing dan beberapa kali mereka bertiga berbicara satu sama lain.
Ketiganya menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara mobil berhenti di depan pintu rumah.
“Siapa kak? Masa iya kak Aleena dan kak Iren sudah pulang?” tanya Ratu.
“Entahlah, Queen coba kamu lihat!” ucap Nancy.
Queen menganggukkan kepala dan bersiap untuk berdiri, namun sebelum dia beranjak dari tempat duduknya, mereka bertiga melihat Abizar yang sedang merangkul Aleena yang terlihat basah.
“Kak Aleena?!” teriak Nancy, Ratu dan Queen secara bersamaan.
Nancy, Ratu dan Queen segera berjalan menghampiri Aleena dan membantunya untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Di mana om Gilang?” tanya Abizar.
“Papi ada di atas kak, apa perlu aku panggilkan?” tanya Queen.
“Tidak perlu, biar aku saja yang menghampirinya.” Ucap Abizar yang langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar Gilang.
Tok,,tok,,tok.. Abizar memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Gilang beberapa kali.
“Om, ini aku Abizar.” Ucap Abizar.
Tidak lama kemudian, Gilang membuka pintu kamarnya dan tersenyum melihat Abizar di sana.
“Abizar, kamu sudah pulang? Di mana Aleena?” tanya Gilang.
“Om, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Ucap Abizar.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu kepada Aleena?” tanya Gilang yang sudah merasa khawatir.
Akhirnya Abizar menjelaskan semuanya kepada Gilang, bagaimanapun juga dia harus memberitahu semuanya kepada Gilang sampai se detail apapun karena dia tidak ingin kalau sampai Gilang mengetahui hal ini dari orang lain atau berita yang akan muncul di tv.
“Kamu tenang saja, pasti Irene sudah menutup semua media agar tidak mengabarkan tentang video saat Aleena di permalukan, mungkin akan ada kabar lain yang keluar nantinya.” Ucap Gilang.
“Tidak apa, saudara-saudaranya akan mencoba untuk menenangkan Aleena, masalah Siska dan Ronald pasti Daniyal dan Irene sudah mengatasi mereka, lebih baik kamu pulang dan istirahatlah.” Ucap Gilang.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Aleena akan baik-baik saja karena dia adalah anak yang kuat.” Lanjutnya.
“Terimakasih om.” Ucap Abizar.
“Jangan berterimakasih padaku, karena aku yakin kalau Irene tidak akan memaafkanmu.” Ucap Gilang.
“Iya om, aku sudah siap untuk hal itu.” Ucap Abizar.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Abizar akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah malam.
“Kak, bagaimana bisa hal ini terjadi kepadamu? Padahal kamu sudah berusaha untuk mencari tas limited edition untuk wanita itu, tapi kenapa dia malah mempermalukan kamu kak.” Ucap Nancy.
“Sudahlah, mungkin kak Siska sangat menyukai kekasihnya itu makanya dia sampai tidak percaya dengan penjelasanku.” Ucap Aleena.
“Kak, kamu ini terlalu baik makanya orang memperlakukan kakak seenaknya!” ucap Queen.
“Iya Queen benar! Kak Aleena harus bisa tegas kpada orang lain agar tidak di tindas seperti sekarang ini.” Sahut Ratu.
“Kak Iren pasti marah banget.” Ucap Nancy tiba-tiba.
Semuanya menoleh ke arah Nancy setelah dia mengatakan tentang Irene, mereka baru sadar kalau Irene tidak pernah terima jika salah satu adiknya di permalukan oleh siapapun.
“Aku ga tau deh gimana nasib kak Siska, soalnya tadi wajah kak Iren benar-benar murka.” Ucap Aleena.
“Biarin aja! Biar dia tau rasa!” ketus Nancy.
***
Di lain tempat, Irene dan Daniyal baru saja keluar dari parkiran hotel tersebut hanya diam dengan pikirannya masing-masing.
Daniyal sibuk menyetir mobilnya sedangkan Irene termenung sambil menatap ke luar jendela mobil.
“Kita ke restaurant terdekat dulu ya, kamu belum makan apapun dari tadi.” Ucap Daniyal.
“Hmm, terserah kakak aja.” Ucap Irene yang masih menatap ke luar jendela.
Daniyal hanya menghela nafas panjang melihat Irene yang seperti tidak bersemangat, lalu dia kembali fokus menatap jalan yang ada di depannya.
Daniyal sengaja mengajak Irene untuk makan lebih dulu, karena jika sudah sampai di rumah Irene pasti tidak akan sempat untuk makan.
“Apa kakak mengenal laki-laki kurang ajar itu?” tanya Irene yang akhirnya membuka suara.
“Akhirnya kamu bertanya juga, dari tadi aku sudah menantikan kamu bertanya.” Ucap Daniyal.
“Aku mengenalnya tentu saja, dia tidak ada apa-apanya di bandingkan denganku dan kamu Irene, dia hanyalah CEO dari perusahaan yang aku dukung, itulah kenapa dia sangat ketakutan denganku.” Jelas Daniyal.
“Kamu membuatnya bangkrut dalam sekejap, apa tidak merugi pada perusahaanmu?” tanya Irene kembali.
“Tidak sama sekali, karena walaupun masih aktif pun perusahaannya sama sekali tidak menghasilkan apapun, dia memiliki nama hanya karena perusahaanku yang mendukungnya.” Jawab Daniyal.
“Terimakasih.” Ucap Irene yang membuat Daniyal menoleh ke arah Irene.
“Terimakasih untuk apa?”
“Karena kamu sudah membalaskan ketidak adilan kepada adikku.” Ucap Irene.
“Tidak perlu sungkan, karena Aleena, Nancy, Ratu dan Queen juga akan menjadi adikku setelah kita menikah nanti.” Ucap Daniyal yang membuat Irene tersentuh.
Bagaimana tidak, Irene tersentuh saat ada orang lain yang juga perhatian dan perduli dengan keluarganya.
Sampai akhirnya mereka berdua sampai di restaurant yang ada di dekat hotel tersebut.
“Ayo turun, apa kamu perlu waktu untuk membersihkan meja?” tanya Daniyal.
“Hah? Engga perlu kak, aku akan mencoba untuk menyembuhkan OCD ku.” Ucap Irene.
“Kamu serius? Kamu mau menyembuhkan OCD mu?” tanya Daniyal yang terkejut dengan pernyataan Irene.
“Aku serius kak, bagaimanapun juga aku harus mengatasinya agar orang lain merasa nyaman padaku.” Ucap Irene.
“Aku tidak pernah merasa seperti itu kok, selama kamu bisa jadi diri sendiri dan senang akan hal itu tidak masalah, tapi kalau kamu sudah mulai muak dan risih dengan OCD mu, maka aku akan membantumu untuk menyebuhkan OCD mu itu.” Ucap Daniyal yang membuat Irene trsenyum senang.