
Keesokan harinya, Daniyal sudah keluar dari rumah sakit begitu juga dengan Ratu yang keluar bersamaan dengan Daniyal, keduanya di jemput oleh Irene dan juga Gilang.
“Biar kami antar kamu pulang Dani, aku juga ingin bertemu dengan om kamu.” Ucap Gilang.
Mendengar ucapan Gilang membuat Daniyal panik karena dia tidak ingin Gilang bertemu langsung dengan papinya.
“Tidak perlu tuan, aku mau langsung bekerja saja.” Ucap Daniyal.
“Bekerja? Irene, apa kamu sudah menyuruhnya bekerja?” tanya Gilang kepada anak sulungnya itu.
“Hah? Engga kok pi, aku tidak menyuruhnya langsung bekerja kok.” Jawab Irene.
“Nona Iren tidak menyuruhku langsung bekerja tuan, tapi aku sendiri yang mau bekerja karena tubuhku sudah sangat siap untuk bekerja.” Sambung Daniyal.
“Engga, kamu harus pulang kami akan mengantarmu.” Ucap Gilang.
“Tapi gang di rumahku ga bisa masuk mobil tuan.” Ucap Daniyal.
“Tidak apa, aku akan menurunkan kamu di depan gang, biarkan aku bertemu dengan om kamu kapan-kapan karena aku mau meminta maaf kepadanya karena sudah membuatmu seperti ini.” Ucap Gilang.
“Omku memaklumi hal ini tuan karena memang tugasku seperti ini, jadi tidak perlu merasa bersalah.. Lagian nona Iren sudah meminta maaf kepada omku tuan.” Jelas Daniyal.
“Mulai saat ini jangan memanggil anak-anakku dengan sebutan nona, karena usiamu bahkan lebih tua di bandingkan Iren, aku rishi mendengar nona-nona.” Ucap Gilang.
“Apa? T-tapi tuan..”
“Bukankah kalian semua mengaku sepupu anak-anakku? Mana ada sepupu yang memanggil nona?” tanya Gilang.
Daniyal yang bingung dengan situasi tersebut langsung menoleh ke arah Irene untuk meminta jawaban.
“Papi benar, semua karyawan perusahaanku ga ada yang manggil aku nona atau nyonya kok, mereka semua memanggilku kak.” Sahut Irene yang mengerti dengan kode Daniyal.
“Oke semuanya sudah beres bukan? Kalo gitu mulai hari ini kamu jangan memanggil anak-anakku dengan kata nona lagi, dan kamu juga harus memanggilku dengan sebutan om Gilang, yang lain juga akan aku beritahu.” Ucap Gilang.
Daniyal hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Gilang, sedangkan Irene hanya diam sibuk memainkan hpnya.
Ketiganya segera masuk ke dalam mobil, sedangkan Daniyal berjalan menuju pintu depan untu menyetir.
“Kamu mau apa Dani?” tanya Gilang.
“Nyetir tuan.. Om..” ucap Daniyal.
“Hari ini kamu duduk di sebelah supir, aku sudah menyuruh supir pribadiku untuk menyetir hari ini.” Ucap Gilang.
“Tapi ga ada supir di dalam om.” Ucap Daniyal yang sudah melihat ke dalam mobil.
“Dia bilang mau ngopi di luar sebentar, aku akan menghubunginya.” Ucap Gilang yang langsung menelfon supir pribadinya.
Namun belum saja Gilang menghubungi supirnya, dia sudah datang dengan wajah yang berkeringat karena berlari.
“Kamu kok keringetan begitu?” tanya Gilang.
“Maaf pak tadi yang bikini kopi lama banget jadi saya takut bapak udah selesai makanya lari.” Jelas supir pribadinya.
“Santai aja kali, kamu kan ga lagi kerja sama belanda.” Ucap Gilang yang langsung masuk ke dalam mobil di ikuti yang lainnya.
Setelah keheningan di dalam mobil selama beberapa menit, akhirnya Daniyal menyuruh supir untuk berhenti di depan gang yang terlihat sangat kecil yang hanya muat untuk satu orang berjalan.
“Di sini? Rumah kamu ada di sini?” tanya Gilang yang tidak menyangka jika gang kecil yang di bilang Daniyal adalah gang yang sangat kecil.
“Iya om, makanya aku ga mau om Gilang masuk ke sana karena tempatnya terlalu sempit dan juga kotor.” Ucap Daniyal.
“Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu.. Baiklah lain kali aku akan mampir ke rumahmu karena sekarang aku harus segera ke perusahaan.” Ucap Gilang.
“Di mana yang lain? Kenapa hanya kak Iren dan papi yang ke rumah sakit?” tanya Ratu.
“Yang lain memiliki kegiatan lain Ratu, kenapa? Kamu merindukan yang lain?” tanya Irene.
“Hm, apa mereka tidak merindukanku?” gumam Ratu yang kesal karena semua saudaranya tidak bisa ikut menjemputnya di rumah sakit.
Irene hanya tersenyum tipis saat mendengar gumaman adiknya itu, karena tanpa di ketahui oleh Ratu Irene sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Ratu.
Ratu sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya melihat ke luar jendela mobil karena masih merasa kesal.
Sampai akhirnya Irene dan Ratu sudah sampai di depan rumah mereka, tiba-tiba saja Ratu langsung keluar dari mobil setelah mobil tersebut berhenti hingga membuat Irene terkejut.
“Hei, Ratu!” teriak Irene namun tidak di dengarkan oleh adiknya itu.
“Aish anak itu benar-benar susah di atur.” Gumam Irene yang langsung keluar dari mobil dan menyusul adiknya untuk masuk ke dalam rumah.
Ratu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengetahui sejak tadi ada yang mengintipnya dari belakang sofa ruang tamu bersiap untuk mengejutkan Ratu.
“Kejutan!!!” teriak semua orang yang membuat Ratu terkejut bahkan sampai melompat.
Ratu yang terkejut langsung melihat satu per satu orang yang mengagetkannya, lalu Ratu segera menghela nafas panjang untuk saat melihat saudara perempuannya dan juga para bodyguard mereka yang mengejutkannya.
“Apa kalian semua ingin aku jantungan hah?!” ketus Ratu.
“Kamu pasti sedih kan karena kita ga bisa datang menjemputmu?” tanya Queen.
“Aku ga sedih kok, cuma kesel aja! Tapi ga begini juga maksudnya, sumpah sampe sekarang jantungku masih berdetak kencang!” ketus Ratu.
Irene masuk di tengah-tengah situasi yang tidak dia ketahui dengan santainya.
“Wah pasti kamu senang sekali karena saudaramu menyambut kamu di rumah seperti ini bukan?” tanya Irene.
“Mereka mau buat aku jantungan kak..” ucap Ratu.
“Sudahlah jangan judes begitu, itulah yang membuat saudaramu malas membuat kejutan atau apapun untukmu.” Ucap Irene sambil merangkul leher adiknya dan menariknya untuk mendekati Nancy yang sedang memegang kue.
“Selamat datang di rumah adikku, dan maaf karena sudah membentak kamu waktu itu.” Ucap Nancy.
“Apaan sih kak, kamu kan sudah minta maaf kepadaku kemarin.” Ucap Ratu.
“Emang salah minta maaf dua kali?” tanya Nancy.
“Haah,, terserahlah..” ucap Ratu yang langsung meniup lilin yang menyala tanpa disuruh.
“Hei, harusnya kamu niupnya nunggu di suruh!” ketus Nancy.
“Biar ga kelamaan, aku laper tau apa kalian juga menyiapkan makan untukku?” tanya Ratu.
Semua orang hanya menggelengkan kepala melihat sikap cuek Ratu yang sama sekali tidak berubah walaupun dia sudah di rawat di rumah sakit selama beberapa hari.
“Aku sudah menyiapkan makan, ayo kita makan bersama.” Ajak Aleena.
“Kalian makanlah, aku akan makan nanti saat aku ingin.” Ucap Irene.
Aleena menoleh ke arah kakaknya, dia baru ingat kalau sang kakak tidak nyaman makan bersama orang lain yang tidak dia tau sikapnya saat makan.
“Ah iya lupa kak,, apa perlu aku bawakan makan ke kamarmu kak?” tanya Aleena.
“Tidak perlu, kalian makanlah dulu aku akan mengurus beberapa dokumen di kamarku.” Ucap Irene sambil tersenyum lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan yang lainnya hanya bisa menatap ke arah Irene yang sudah naik ke atas dengan tatapan bingung karena ucapan Aleena kepada Irene tadi.