
“Besok aku akan bertunangan dengan Irene Herlambang.” Ucap Daniyal yang membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main.
“Apa!!!?” teriak Tom dan Roy secara bersamaan.
“Aku tau kalian berdua pasti sangat terkejut, tapi inilah kebenarannya, aku tidak ingin berbohong kepada kalian berdua karena aku akan mengundang kalian berdua besok.” Ucap Daniyal.
“Kamu! Kamu tidak berbohong Daniyal? Kamu benar-benar mau bertunangan dengan Irene?” tanya Roy.
“Hmm, bukankah waktu itu kamu bilang kamu menabrak putri dari keluarga Herlambang di perusahaanku? Dia adalah Irene Herlambang, kita baru selesai berbicara tentang pertunangan.” Jelas Daniyal.
Tiba-tiba saja Tommy berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Daniyal lalu mencengkram kerah jas Daniyal dengan penuh emosi.
“Tom!” teriak Roy, namun Daniyal merentangkan tangannya ke arah Roy untuk menandakan kalau Roy tidak di ijinkan untuk ikut campur.
Akhirnya Roy berusaha untuk tidak ikut campur dan kembali ke tempat duduknya untuk mengamati kedua sahabatnya itu.
“Apa kamu tidak tau kalau aku sudah menyukai Irene?!” tanya Tommy dengan menggebu-gebu.
“Aku tau, bahkan aku sudah melihat ekspresi wajahmu saat melihat Irene waktu itu.” Jawab Daniyal.
“Lalu kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku Daniyal! Kenapa kamu merebutnya dariku!?” ketus Tommy.
“Karena aku tau kalau kamu memiliki banyak wanita Tom! Kamu bisa memilih wanita manapun, sedangkan aku? Aku hanya bisa memilih wanita yang di pilihkan papiku!” teriak Daniyal.
“Apa dia adalah misi yang kamu jalani dari papimu!?” tanya Tom.
Daniyal hanya diam seribu bahasa, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Tom karena dia tidak ingin kedua sahabatnya tau tentang misi yang di berikan papinya.
“Kenapa kamu diam saja Daniyal!” teriak Tom.
“Aku tidak mau menjawab masalah pribadiku! Kamu tidak tau apapun tentang keluargaku! Jadi bisakah kamu tutup mulut untuk kali ini Tom? Bukankah ada banyak wanita yang kamu sukai?” tanya Daniyal yang membuat Tom semakin kesal.
Bruugghh!!! Tiba-tiba saja satu pukulan mendarat di pipi kanan Daniyal, membuat Roy terkejut dan kembali berdiri dari tempat duduknya.
“Tom hentikan!” teriak Roy.
“Hahahaha, baguslah, kalau kamu memukulku seperti itu tandanya kamu tidak benar-benar marah kepadaku bukan?” tanya Daniyal.
“Apa?” ucap Tom dan Roy secara bersamaan karena merasa aneh dengan pertanyaan Daniyal.
“Kali ini aku membiarkanmu Daniyal! Kalau kamu menyakiti Irene, aku tidak akan segan-segan untuk mengambilnya darimu walaupun aku harus mengerahkan semua orangku untuk membantaimu!” ketus Tommy sambil melepaskan kerah Daniyal.
Roy segera kembali duduk di tempat duduknya dan bernafas lega karena kedua sahabatnya itu sudah baik-baik saja.
“Kalian berdua ayolah, jangan sampai kalian berdua bertengkar hanya karena seorang wanita!” ucap Roy yang segera mendapatkan tatapan tajam dari keduanya.
“Kamu gila ya?! Kalau wanitanya seperti Irene kamu juga akan ikut bertanding!” ketus Tommy.
“Bukannya kamu bilang kalau anyak rumor mengatakan kalau Irene adalah orang yang sombong dan arogan?” tanya Roy.
“Kamu tidak akan menyangka saat bertemu langsung dengannya, dia adalah orang yang sangat baik dan sangat cantik, kamu tidak akan bosan jika berhadapan dengannya ber jam-jam tanpa mengatakan apapun!” ucap Tommy.
“Ehem! Yang sedang kalian bicarakan itu adalah calon tunanganku!” ketus Daniyal.
“Cih! Baru saja calon tunangan kan? Sebelum janur kuning melengkung aku bisa saja merebutnya darimu!” ucap Tommy.
Daniyal hanya menatap tajam ke arah Tommy dan menggelengkan kepalanya.
“Apa kalian akan perang dingin lagi? Baru saja kalian berbaikan.” Ucap Roy.
“Wow! Kalian berdua ini memang selalu kompak ya? Aku selalu cemburu dengan kedekatan kalian berdua tau.” Ucap Roy.
“Diamlah! Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi aku mau pulang.” Ucap Daniyal yang saat ini sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu ga mau minum dulu Dan? Kita belum minum apapun loh..” ucap Roy.
“Tidak! Kamu temani saja temanmu yang sedang galau itu, sedangkan aku harus beristirahat karena aku akan bertunangan dengan orang yang di anggap dewi bagi semua orang besok pagi, kalian berdua harus datang karena aku mengundang kalian secara khusus.” Ucap Daniyal yang langsung pergi begitu saja keluar dari ruangan mereka.
“Sial! Dia ingin memanasi aku ya?!” ketus Tom.
“Sudah sudahlah, dia kan memang mau bertunangan Tom, apa kamu ingin aku panggilkan para wanita?” tanya Roy.
“Apa di pikiranmu hanya ada wanita saja Roy!? Kamu juga harus segera mencari wanita yang benar dan nikahilah dia!” ketus Tommy yang segera keluar dari ruangan itu.
“Lah? Kenapa jadi gue yang di marahin gini? Kan mereka yang ada masalah, apes banget dah jadi gua!” gumam Roy sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Roy memutuskan untuk memanggil para wanita yang ada di clubnya dan menyuruh pelayannya memberikan beberapa minuman untuknya.
“Lebih baik menikmati hidup dari pada terikat dengan pernikahan bukan?” gumam Roy sambil bergoyang menikmati lagu yang di nyalakan.
Sedangkan Tommy berlari menahan pintu mobil Daniyal yang baru saja mau masuk ke dalam mobil.
“Kamu apa-apaan sih Tom!?” ketus Daniyal yang terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Tommy.
“Aku peringatkan lagi kepadamu, aku tidak akan segan merebut Irene darimu kalau merasa dia tidak bahagia bersamamu!” ketus Tommy.
“Ya aku tau! Tapi sayang, bahkan untuk menggenggam tangannya pun aku tidak akan pernah memberimu kesempatan!” balas Daniyal yang langsung menepis tangan Tommy dari pintu mobilnya.
Daniyal segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Tommy yang masih mematung di tempatnya.
“Menyebalkan!” ketus Tommy sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lalu Tommy memutuskan untuk pulang karena moodnya semakin tidak karuan setelah mengetahui kalau calon tunangan Irene adalah Daniyal sahabatnya sendiri.
Sedangkan Daniyal tidak langsung pulang ke rumahnya, dia justru membelokkan mobil sportnya ke arah rumah keluarga Herlambang dan melihat rumah itu dari kejauhan.
Daniyal melihat masih banyak orang yang sibuk mengatur semua dekorasi untuk pernikahannya, dia langsung melihat foto sang mami yang tergantung di spion mobilnya.
“Mi, Daniyal akan membalas semua perbuatannya kepada mami! Aku akan membalas kematian mami yang tidak adil ini!” gumam Daniyal dengan penuh amarah.
Lalu Daniyal menghubungi Tiko untuk membicarakan sesuatu.
“Selamat malam tuan..” ucap Tiko dari sebrang telfon.
“Tiko, aku ingin kamu bersihkan rumah pribadiku secepatnya karena setelah menikah aku akan membawa Irene tinggal di sana.” Ucap Daniyal.
“Tapi tuan,, bukankah rumah itu adalah rumah yang akan anda berikan kepada wanita yang anda cintai?” tanya Tiko.
“Lalu apa kamu fikir seorang CEO menikah hanya tinggal di apartment? Atau aku harus membeli rumah baru? Cih! Aku tidak sudi membeli rumah baru karena wanita itu, lebih baik aku membeli rumah baru untuk wanita yang aku
cintai nanti dan akan aku buat lebih megah!” ucap Daniyal.
“Jadi kamu segera bereskan semuanya, utus para pelayan untuk bersiap menyambut kedatangan Irene, karena setelah bertunangan aku akan membawanya dan mengenalkannya kepada para pelayan di sana.” Lanjut Daniyal.
“Baik tuan!” ucap Tiko yang langsung mematikan telfon dari atasannya itu.