
Setelah selesai bersiap akhirnya Irene dan Daniyal sudah keluar dari kamarnya, Daniyal membawakan koper miliknya dan juga milik sang istri.
“Sini koperku biar aku aja yang bawa kak.” Ucap Irene.
“Tidak! Kalau sampai kamu kelelahan aku tidak akan bisa melakukan malam panas seperti semalam lagi.” Bisik Daniyal.
“Ih kamu ini menyebalkan sekali kak!” ketus Irene.
“Jangan panggil aku kak, aku ini suamimu bukan kakakmu.” Ucap Daniyal.
“Terus apa? Sayang?” tanya Irene.
“Ya aku lebih senang kamu memanggilku seperti itu.” Ucap Daniyal dengan senyum di wajahnya.
“Baiklah sayang, aku akan memanggilmu seperti yang kamu mau.” Ucap Irene.
Kedua pasangan itu benar-benar terlihat bahagia saat itu, mereka benar-benar memiliki seluruh bumi karena kemesraan mereka.
“Wah pengantin baru kalian ini bangun siang sekali..” ucap Gilang sambil tersenyum.
“Maaf ya pi, tadi Iren yang lama.” Sahut Irene.
“Tidak pi, Daniyal yang bangunnya kesiangan dan Iren tidak mau membangunkanku.” Sambung Daniyal.
Gilang hanya tersenyum mendengar ucapan Irene dan Daniyal yang saling menyalahkan diri sendiri itu.
“Yah kalian akan terus menyalahkan diri sendiri jadi jangan di teruskan oke.” Ucap Daniyal.
“Kakak kenapa bawa koper?” tanya Queen.
“Kakak juga pulang hari ini?” sambung Ratu.
“Hem, aku dan kak Daniyal ingin pulang ke rumah dan segera merapihkan beberapa barang, jadi nanti kita akan ikut kalian ke rumah untuk mengambil beberapa barangku.” Jelas Irene.
“Yah kak Iren benar-benar akan pergi… Pasti di rumah akan sepi sekali.” Ucap Queen.
“Ya benar, pasti nanti tidak ada yang bangun pagi untuk menyiapkan meja makan.” Sahut Ratu.
“Kalian ini jangan manja deh! Kak Iren sudah menikah dan sudah seharusnya dia ikut dengan suaminya.” Ucap Aleena.
“Sudah ayo sebaiknya kita segera berangkat karena hari sudah semakin panas.” Ajak Gilang yang di balas anggukan oleh semuanya.
“Kemana Abizar dan yang lain?” tanya Irene.
“Mereka sudah ada di mobil dan mereka akan berad di belakang mobil kita.” Jelas Gilang.
Aleena, Nancy, Ratu dan Queen naik mobil bersama papi mereka, sedangkan Irene naik mobil bersama suaminya dan para bodyguard mengikuti mereka dari belakang.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah megah Gilang, semua orang segera turun dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Irene segera menuju kamarnya di atas untuk mengemasi barangnya di ikuti oleh Daniyal yang akan
membantunya.
“Wah kamarmu sangat rapih ya..” ucap Daniyal.
“Masa sih? Ini udah paling berantakan padahal.” Ucap Irene.
“Apa?! Yang begini di bilang berantakan terus rapihnya gimana Iren?” tanya Daniyal terkejut.
Irene hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, dia terus membereskan barangnya yang ingin dia bawa ke rumah barunya.
“Segini aja?” tanya Daniyal saat melihat Irene hanya membawa beberapa barang dan baju kesukaannya.
“Iya segini aja, toh kapan-kapan kita menginap di sini jadi biar aku ga perlu bolak-balik.” Ucap Irene.
“Kalo cuma baju aku sudah menyiapkan semuanya di sana Iren.” Ucap Daniyal.
“Hah? Menyiapkan apa? Pakaianku? Emang kamu tau ukuran pakaianku?” tanya Irene.
“Aku tau semuanya tentangmu, Tiko sudah mencarikan pakaian untukmu jadi tidak perlu membawa pakaian.” Jelas Daniyal.
“Yah baiklah, sini biar aku yang bawa.” Ucap Daniyal.
“Engga kak ini berat.” Ucap Irene.
“Tidak apa-apa.” Daniyal tetap mengambil kotak yang di bawa Irene lalu dia segera berjalan ke bawah.
Daniyal dan Irene segera berpamitan kepada Gilang dan juga adik-adiknya, lalu Daniyal meninggalkan Irene yang mengatakan kalau dia masih mau berbicara dengan Gilang.
“Papi, papi beneran ga apa-apa kan Iren tinggal?” tanya Irene.
“Tidak apa-apa, karena saat ini kamu sudah memiliki tanggung jawabmu sendiri dan kamu harus bertanggung jawab dengan benar-benar.” Ucap Gilang.
“Baiklah pi, Iren akan sering-sering mampir ke sini untuk menjenguk papi.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Gilang.
“Kalau begitu Iren pamit pulang dulu ya pi, papi ga perlu mengantar lebih baik istirahat saja.” Lanjut Irene.
“Baiklah, hati-hati di jalan, kalau ada sesuatu segera beritahu papi.” Ucap Gilang yang di balas anggukan oleh Irene.
Setelah berpamitan kepada Gilang, Irene segera pergi keluar menyusul Gilang yang sudah menunggunya di mobil.
“Maaf nunggu lama ya? Papi ga bisa nganter, aku suruh dia istirahat.” Ucap Irene.
“Hem aku mengerti kok, kalo gitu ayo kita pulang ke rumah baru sekarang.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan dan senyuman oleh Irene.
***
Sedangkan di sisi lain, Aleena melihat papinya sedang menangis setelah Irene pergi, dia segera menghampiri papinya untuk menghibur.
“Papi…” ucap Aleena.
Gilang dengan segera menghapus air matanya dan tersenyum melihat putri keduanya.
“Tidak perlu pura-pura tersenyum papi, Aleena tau papi pasti sangat sedih saat kak Iren pamit untuk pergi bukan?” ucap Aleena.
“Tentu saja papi sedih, putri kecil papi sudah milik orang lain sekarang dan papi hanya bisa mendoakannya agar dia bahagia bersama keluarga kecilnya.” Jelas Gilang.
“Papi masih memiliki empat putri yang menyebalkan lainnya, tidak perlu khawatir pi.” Canda Aleena.
Candaan Aleena ternyata benar-benar ampuh untuk membuat Gilang tersenyum.
“Lihat lah, papi terlihat sangat tampan saat tersenyum.” Puji Aleena.
“Kamu ini selalu bisa menghibur papi, kalau kamu juga menikah lalu papi sama siapa?” ucap Gilang kembali.
“Papi,, kenapa mengatakan hal itu? Kak Iren baru saja menikah jadi tidak mungkin menikah dalam waktu dekat jadi papi tenang saja.” Ucap Aleena dengan santainya.
“Kamu ini dasar menyebalkan! Kamu harus mendapatkan laki-laki yang bisa membimbingmu dan mengajarimu banyak hal karena kamu adalah orang yang selalu mengiyakan ucapan semua orang dan kamu bisa dengan mudah
terpengaruh.” Ucap Gilang.
“Apa sekarang papi akan mengijinkan kami memilih pasangan sendiri?” tanya Aleena.
“Yah, karena papi sekarang sudah bisa tenang ada Irene dan Daniyal yang akan mengatur perusahaan.” Ucap Gilang.
“Tapi kamu dan yang lainnya juga harus mampu untuk mengatur perusahaan, dan kamu harus memiliki sesuatu yang akan kamu turunkan kepada anak-anakmu kelak.” Jelas Gilang.
“Papi, cukup kecantikanku yang akan aku turunkan kepada anakku agar dia bisa menjadi model terkenal sepertiku.” Ucap Aleena dengan percaya diri.
“Diamlah! Sudah sana pergi karena papi akan istirahat.” Ucap Gilang.
“Baiklah pi, istirahatlah karena papi pasti sangat kelelahan.” Ucap Aleena.
Aleena segera memasangkan selimut ke tubuh papinya lalu mencium kening papinya dan segera keluar dari kamar.
“Pasti papi kesepian dan mersa kehilangan, karena selama ini kita semua hanya bergantung kepada kak Iren.” Gumam Aleena.
“Aku juga harus bisa seperti kak Iren yang mampu mengatasi semuanya baik di rumah atau di tempat kerja.” Gumam Aleena kembali yang akhirnya segera berjalan menuju kamarnya.