MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 87 (MEMILIKI ISTRI YANG SEMPURNA)



Setelah kepergian Sherly, Daniyal ingin masuk kembali ke dalam villa, tetapi terhenti saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.


“Brams? Kemana saja kamu hah?! Di saat aku butuh kamu malah tidak bisa di hubungi!” ketus Daniyal.


“Sorry, aku ada operasi! Dan kamu tau bodyguard mu ini menerobos masuk ke dalam ruang operasi dan membuat semua orang terkejut termasuk diriku!” ketus Brams.


“Baguslah! Tugas mereka memang seperti itu!” jawab Daniyal cuek.


“Bagus kamu bilang? Aku sedang mempertaruhkan hidup dan mati seseorang Daniyal!” ketus Brams.


“Di saat kamu menyelamatkan nyawa orang lain, nyawa istriku yang jadi taruhannya! Lalu aku harus apa?!” teriak Daniyal.


“Apa?! Istri? Kamu sudah menikah?” tanya Brams.


Mendengar pertanyaan Brams membuat Daniyal tersadar kalau dia memang tidak mengundang Brams ke pesta pernikahannya.


“Iya aku sudah menikah.” Jawab Daniyal sambil berjalan masuk ke dalam villa.


“Apa?! Kenapa kamu tidak mengundangku? Om Bram juga ga bilang apapun.” Ucap Brams yang mengikuti Daniyal dari belakang.


Brams Aditya adalah teman SMA dan teman kampus Daniyal, nama Brams dan papi Daniyal memang hampir mirip karena hanya berbeda kata s di belakang namanya. Setelah Brams ingin memperdalam pengetahuannya di bidang


kedokteran, Brams sama sekali tidak pernah bertemu dengan Daniyal, bahkan mengirim pesan hanya beberapa kali karena keduanya sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Lagipunya Daniyal memang tidak mengundang orang banyak, dia hanya mengundang beberapa orang yang ada di negaranya saja.


“Sorry, aku lupa.” Jawab Daniyal.


“What!? Lupa? Seriusan Dan? Kamu lupa mengundangku ke acara pentingmu itu?” tanya Brams.


Daniyal tidak menjawab apapun, dia hanya diam dengan mata yang menajam membuat Brams tau kalau sahabatnya itu tidak mau membahas tentang pernikanannya.


“Oke baiklah kamu lupa mengundangku! Di mana istrimu sekarang? Apa yang terjadi padanya?” tanya Brams.


“Dia sudah baik-baik saja hanya kelelahan, tadi sudah ada yang memeriksanya.” Jawab Daniyal.


“Siapa yang memeriksanya? Apa dokter itu bisa di percaya? Dari rumah sakit mana dia?” tanya Brams.


“Sherly yang memeriksanya.” Jawab Daniyal.


“Sherly? Sherly yang kita tau? Bagaimana bisa? Kamu menghubunginya?” tanya Brams.


“Tidak, aku sudah lama tidak mengabarinya tapi kebetulan dia sedang menginap di villa sebelah.” Jelas Daniyal.


“Awalnya aku juga tidak mengetahui dia ada di sini, tapi dia menawarkan diri untuk membantu karena mendengarku teriak-teriak, dan begitulah akhirnya kita bertemu.” Lanjut Daniyal.


“Wah dunia memang sempit Daniyal, aku tadinya mau bilang kalau jodoh ga akan kemana, tapi kamu sudah memiliki istri sekarang.” Ucap Brams.


“Sudahlah jangan di bahas, nanti malam kalau istriku sudah bangun dia mengajak kami makan malam bersama, bagaimana kalau kamu ikut makan malam bersama mumpung kamu di sini?” tanya Daniyal.


“Boleh deh, tapi aku akan memastikan istrimu dulu apa dia benar-benar baik-baik saja atau bagaimana.” Ucap Brams yang di balas anggukan oleh Daniyal.


Brams terkejut melihat Irene yang sedang memejamkan kedua matanya, benar-benar cantik pikirnya, beruntung sekali Daniyal memiliki istri secantik Irene.


“Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.” Ucap Brams kepada Daniyal.


“Mungkin kamu melihatnya di sini.” Sahut Daniyal sambil memberikan sebuah majalah.


Brams melihat majalan yang di berikan Daniyal kepadanya, foto Irene menjadi cover di majalah tersebut dengan tulisan ‘CEO wanita termuda yang berhasil mendirikan perusahaannya sendiri’.


“Wah iya benar! Dia bahkan di undang papaku untuk menjadi tamu di pembukaan rumah sakit keluargaku yang sekarang.” Ucap Brams.


“Kamu hebat sekali memiliki istri yang sempurna seperti itu Daniyal, kalo gini sih Sherly tidak ada apa-apanya di bandingkan dirinya.” Ucap Brams.


“Jangan membandingkan mereka!” tegas Daniyal.


“Kamu marah karena tidak suka istrimu di bandingkan dengan mantan kekasihmu? Ah lebih tepatnya kekasihmu Daniyal, kalian tidak pernah saling mengatakan kata putus bukan?” ucap Brams.


“Diamlah! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, kalau istriku mendengarnya dia bisa salah paham!” ucap Daniyal.


“Baiklah kalau begitu aku akan bersiap, sampai jumpa nanti malam, istrimu baik-baik saja dia sedang tertidur nyenyak sekarang.” Ucap Brams.


“Baiklah terimakasih.” Ucap Daniyal yang langsung mengantar Brams keluar dari villa.


Hari sudah mulai sore, tetapi Daniyal masih setia untuk menunggu Irene sadar dari tidur panjangnya. Bahkan Daniyal sudah sempat tertidur di sebelah Irene lalu terbangun kembali tetapi Irene belum bangun juga.


“Iren, kenapa kam masih belum bangun juga?” tanya Daniyal yang masih menggenggam tangan Irene.


Dan akhirnya Daniyal terkejut saat melihat tangan Irene bergerak sedikit.


“Iren! Kamu sudah bangun?” tanya Daniyal.


“Aku di mana? Jam berapa ini?” tanya Irene.


“Kita di villa kok ga kemana-mana, sekarang udah sore kamu tadi pingsan dan kata dokter kamu hanya kelelahan saja.” Jelas Daniyal.


Daniyal membantu Irene yang ingin bangkit dari tidurnya secara perlahan.


“Bagaimana? Masih pusing?” tanya Daniyal.


“Engga kok, badanku enak rasanya, tidurku nyenyak sekali.” Jawab Irene.


“Maaf karena sudah membuatmu lelah Iren, malam ini kita tidak akan berdiam di kamar saja, kita mendapat undangan dari dokter yang memeriksamu tadi untuk makan malam bersama.” Jelas Daniyal.


“Dokter yang memeriksaku?” tanya Irene dengan bingung.


“Iya, karena dokter pribadiku di Korea ternyata sedang operasi dan kebetulan dokter tersebut sedang menginap di villa sebelah jadi dia datang untuk membantu.” Jelas Daniyal.


“Wah baiknya, kalau begitu kita harus memenuhi undangannya, aku juga ingin berterimakasih secara langsung kepadanya.” Ucap Irene.


Daniyal hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Irene dan membantunya membersihkan tubuhnya.


Senyum Daniyal seketika mengembang saat melihat ada banyak sekali tanda yang dia tinggalkan di tubuh istrinya itu, ada kepuasan sendiri sudah bisa memiliki Irene seutuhnya.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Daniyal dan Irene segera bersiap memakai pakaian santai dan bersiap untuk makan malam bersama.


“Sudah siap? Ayo kita berangkat.” Ajak Daniyal sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri yang sudah terlihat sangat cantik.


“Ayo, kita tidak boleh membiarkan nona itu menunggu bukan?” ucap Irene yang langsung membalas uluran tangan Daniyal.


Daniyal dan Irene pun bergandengan tangan keluar dari villa membuat bodyguard yang awalnya berdiri tegap langsung menoleh ke arah Daniyal dan Irene yang sudah membuka pintu.


“Tuan, nyonya, anda mau kemana?” tanya salah satu bodyguardnya.


“Aku mau makan malam di restaurant di sana, kalian tidak perlu mengikuti kami istirahatlah dan nikmati makan malam menggunakan kartu yang sudah aku berikan.” Ucap Daniyal.


“Baik tuan terimakasih, kalau begitu kami undur diri dulu.” Ucap bodyguard tersebut mewakili teman-temannya.


Setelah melihat semua bodyguardnya pergi, Daniyal kembali berjalan menuju restaurant yang sudah di tentukan oleh Sherly.