
Akhirnya dokter menyatakan kalau Irene akan segera melahirkan, dengan perasaan yang tidak karuan Daniyal setuju untuk menemani Irene melahirkan anak pertama mereka.
Daniyal juga sudah menghubungi semua kerabat terdekat mereka dan memberitahu kalau Irene akan segera melahirkan.
Tentu saja semua orang panik sekaligus terkejut karena Irene melahirkan saat belum waktunya.
“Aaaaa,, sayang sakit sekali…” teriak Irene yang terus menggenggam tangan suaminya.
“Sayang tenanglah aku selalu ada di sampingmu.” Ucap Daniyal yang terus menguatkan istrinya.
“Irene tenanglah, kalau kamu terus berteriak itu akan membuat tenagamu habis.” Ucap dokter yang menangani persalinan Irena yang tidak lain masih saudara dekat Daniyal.
Irene berusaha sekuat mungkin untuk mengganti teriakannya menjadi tarikan dan buangan nafas berkali-kali hingga membuatnya sedikit demi sedikit merasa nyaman.
Hingga tibalah saat yang di tunggu-tunggu, bayi laki-laki nan tampan yang akhirnya terlahir di dunia ini yang akan menghiasi kehidupan Irene dan Daniyal.
“Oeekkk,, oeekkk,,” suara nyaring dari tangisan bayi Irene dan Daniyal terdengar sangat kencang bahkan sampai orang yang ada di luar pun bisa mendengarnya dengan jelas.
Semua orang mengucap syukur atas lahirnya anggota baru di keluarga mereka, sedangkan di dalam ruang persalinan Daniyal terus meneteskan air mata membuat Irene ingin sekali tertawa kalau tidak terasa ngilu.
“Kenapa malah kamu yang menangis?” tanya Irene dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Itu karena kamu, kamu adalah wanita yang sangat hebat, terimakasih karena sudah memberiku malaikat yang akan melengkapi kebahagiaanku.” Ucap Daniyal yang terus menerus menciumi kening istrinya.
“Kebahagiaan kita, aku bahagia karena memiliki dua laki-laki hebat di hidupku.” Balas Irene.
Semua orang yang ada di dalam ruangan persalinan sedang membersihkan bayi yang baru saja lahir itu, lalu segera memberikannya kepada Daniyal untuk di adzani, barulah Daniyal mendekatkan bayi mereka kepada Irene.
“Terimakasih karena sudah mau berjuang bersama mami nak.” Ucap Irene yang terus menciumi wajah putranya.
“Silahkan keluar dulu, aku harus menyiapkan anak dan istrimu untuk di pindahkan ke ruangannya.” Ucap dokter tersebut.
“Baiklah, terimakasih karena sudah banyak membantu.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan dan senyuman oleh dokter tersebut.
Daniyal segera keluar dari ruang persalinan dan di sambut oleh kerabat dekatnya yang langsung menghampiri Daniyal secara berbondong-bondong.
“Bagaimana? Irene baik-baik saja kan?” tanya Gilang.
“Baik-baik saja pi, cucu papi juga sangat baik dan tampan.” Ucap Daniyal.
“Wah papi akhirnya punya jagoan.” Ucap Gilang dengan bahagia.
Semua orang juga ikut bahagia mendengar jawaban dari Daniyal, dan tidak sabar menunggu Irene di pindahkan ke ruangannya agar bisa di jenguk.
Namun, saat ini Daniyal hanya fokus kepada Abizar dan Adyatma yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, yang pasti tidak ada ekspresi kebahagiaan di wajah kedua saudaranya itu.
Daniyal juga tidak percaya kalau ternyata papinya tidak ada di saat cucu pertamanya lahir, padahal papinya sangat menginginkan cucu laki-laki yang akan menemaninya berman golf, bermain catur, bola dan lainnya.
“Aku hanya terlalu tinggi berharap, papi tidak mungkin berada di sini.” Gumam Daniyal sabil tersenyum tipis.
Daniyal ingin sekali menghampiri Abizar dan Adyatma, hanya saja dia takut kalau ada yang curiga dengan mereka, akhirnya Daniyal mengurungkan niatnya untuk menghampiri kedua adiknya dan terus menemani mertuanya dan adik iparnya.