MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 73 (PERSIAPAN)



Hari berlalu begitu cepat, seminggu lagi acara pernikahan Irene dan Daniyal akan segera di laksanakan, semua orang sibuk menyiapkan semuanya.


Namun Irene dan Daniyal masih saja sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, bahkan sampai saat ini pun mereka sama sekali belum memilih pakaian untuk pernikahan mereka.


Seperti saat ini, Aleena dan Nancy sedang berada di ruang tamu karena hari ini adalah hari minggu dan semuanya libur, kecuali Irene yang terus saja bekerja walaupun hari libur.


“Bagaimana ini? Kak Iren cuek bange sama acara pernikahannya kak, aku sudah menyuruh sahabatku untuk membuat gaun yang indah untuknya.” Jelas Nancy.


“Yah gimana lagi, kamu tau kan bahkan sampai saat ini kak Iren dan kak Daniyal masih saja bekerja, bahkan sekarang waktunya libur juga mereka tetap bekerja.” Jawab Aleena.


“Bagaimana kalo kita buat rencana kak!” ucap Nancy.


“Rencana apa? Jangan aneh-aneh deh, aku ga mau buat kak Iren marah lagi dan membuat Abizar bekerja lembur lagi.” Ucap Aleena.


“Engga kak, aku janji ga akan berlebihan dan ga akan ngebuat kak Iren marah.” ucap Nancy dengan yakin.


“Baiklah, apa yang kamu rencanakan?” tanya Aleena.


Akhirnya Nancy tersenyum senang mendengar persetujuan dari kakaknya, lalu dia segera menyuruh sang kakak mendekat.


“Jadi, aku membutuhkan kak Abizar juga untuk menjalankan rencana ini kak, karena dia yang akan membujuk kak Daniyal untuk mengikuti kita fitting pakaian.” Jelas Nancy.


“Jadi maksudnya, kita membawa kak Iren terus kak Abizar bawa kak Daniyal?” tanya Aleena yang di balas anggukan oleh Nancy.


“Terus mau bilang apa? Kalo kita bilang mau fitting baju pasti kak Iren ga mau dan dia bilang kalo pekerjaannya lebih penting.” Jelas Aleena.


“Kalo gitu kita bilang kalo papi kumat dan masuk rumah sakit! Dia pasti langsung lari nyamperin kita kak!” celetuk Nancy.


Pletak!! Tiba-tiba saja Aleena menyentik kening Nancy dan membuatnya berteriak kesakitan.


“Aw! Sakit kak, kenapa kakak mukul kening aku!” ketus Nancy.


“Kamu udah gila ya! Masa iya mau jadiin papi ancaman! Gila deh!” ketus Aleena.


“Ya kalo gitu Ratu atau Queen aja.”ucap Nancy.


“Sama aja! Omongan itu doa tau! Cari alesan yang lain, jangan bawa-bawa orang lain, apa lagi tentang sakit!” ketus Aleena.


“Terus mau alesan apa lagi kak? Aku juga bingung nih..” ucap Nancy.


“Terserah kamu deh! Pokoknya jangan bawa-bawa sakit!” ketus Aleena yang langsung pergi meninggalkan Nancy.


Aleena berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya, lalu Nancy mengikutinya dan masuk ke dalam kamar Aleena tanpa permisi.


“Yaampun Nancy! Kamu ini ga bisa apa permisi dulu masuk kamar orang!” ketus Aleena.


“Permisi! Kak, ga ada waktu buat permisi, temanku sudah membuat baju pengantin, dia menyuruh kak Iren untuk segera mencobanya karena kalau kekecilan atau kebesaran bisa segera di ubah!” jelas Nancy.


“Ya kalo gitu suruh temanmu bawa bajunya ke sini.”


“Tapi kak, walaupun di bawa ke sini juga kak Iren selalu lembur… Sebenernya kenapa sih kak Iren kerja terus!” ketus Nancy.


“Aku akan mencoba untuk menghubungi kak Iren, ga usah bawel!” ketus Aleena.


“Bagus! Kita semua akan ke sana setelah kak Iren setuju karena aku juga menyuruh dia untuk membuat baju kembaran buat kita!” ucap Nancy dengan bersemangat.


“Haah, dasar bawel!” ketus Aleena yang langsung mengambil hpnya di atas meja riasnya.


***


Di sisi lain, Irene yang baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya sedang mregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk.


“Tapi pekerjaan ini banyak sekali, dan kita juga harus selesai tepat waktu jadi aku ga bisa nunda lagi..” jawab Irene.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Irene yang membuat Irene dan Elif menoleh ke asal suara.


“Kak Daniyal?” ucap Elif yang terkejut karena kedatangan Daniyal yang tiba-tiba.


“Hai Elif, bisa pinjem Irene sebentar?” tanya Daniyal dengan senyum ramahnya.


“Ah, b-boleh kak, tentu saja boleh.” Ucap Elif yang langsung keluar sambil mengedipkan matanya ke arah Irene.


Irene hanya membuka kedua matanya dengan lebar saat melihat Elif yang ingin keluar dari ruangannya, namun percuma saja karena Elif sama sekali tidak mendengarkannya.


“Hai Irene.” Sapa Daniyal setelah Elif meninggalkan ruangan.


“Hai kak, kakak tumben ke sini ga ngabarin dulu, emang ga ada kerjaan?” tanya Irene.


“Kebetulan pekerjaanku baru saja selesai dan aku memang ingin bertemu denganmu untuk membahas apa yang harus kita bahas bersama.” Ucap Daniyal.


Irene tau betul apa yang di maksud Daniyal adalah tentang pernikahan mereka yang selalu tertunda untuk di bicarakan karena kesibukan masing-masing.


Bahkan terakhir mereka bicara tentang pernikahan dua hari setelah kejadian pesta ulang tahun Siska, itu pun mereka hanya membicarakan tentang kapan hari pernikahan mereka saja.


Mereka masih belum membicarakan tentang perlengkapan pernikahan bahkan konsepnya saja mereka belum membicarakannya.


Drrtt,,drtt.. Tiba-tiba saja hp Irene berdering dan pembicaraan mereka terpotong begitu saja.


“Tunggu ya kak.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.


“Halo, ada apa Leen?” tanya Irene setelah mengangkat telfon dari Aleena.


“Kak, Nancy dari tadi bawel nih! Dia bilang kapan kakak bisa fitting baju pengantin karena temannya butuh waktu untuk mengubah kalo bajunya kekecilan atau kebesaran.” Jelas Aleena.


“Hemm, kebetulan sekali kak Daniyal juga ada di perusahaanku, bagaimana kalau hari ini kita fitting baju agar cepat selesai.” Ucap Irene.


“Benarkah kak? Ah,, akhirnya, baiklah kalau begitu kita tunggu di rumah ya..” ucap Alena yang langsung mematikan telfonnya.


Irene segera menaruh hpnya kembali dan menoleh ke arah Daniyal.


“Jadi, bagaimana?” tanya Daniyal.


“Kita mulai dari fitting baju ya kak, Nancy sudah menyuruh temannya untuk membuatkan pakaian pernikahan kita.” Ucap Irene.


“Baiklah kalau begitu ayo kita segera berangkat.” Ajak Daniyal.


“Hem, aku bilang Elif dulu untuk mengatur kembali jadwalku.” Ucap Irene.


“Apa tidak masalah kalau kamu menunda pekerjaanmu?” tanya Daniyal.


“Tidak masalah kok kak, ayo kita berangkat.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.


Daniyal keluar dari ruangan Irene lebih dulu, sedangkan Irene menghampiri Elif lebih dulu untuk mengatakan kalau dirinya harus keluar.


“Apa kamu bisa mengatur ulang jadwalku Elif?” tanya Irene.


“Tentu saja bisa kak, kakak tenang aja! Udah sana pergi kak, kalian memang harus pergi berdua dan menyiapkan semuanya agar sesuai dengan kinginan kalian berdua.” Ucap Elif.


Mendengar ucapan Elif membuat Irene menganggukkan kepala dan mempercayakan semua urusan pekerjaannya kepada sekretaris pribadinya itu.


Walaupun masih terbilang muda, tapi kemampuan Elif melebihi kemampuan orang dewasa yang sudah memiliki banyak pengalaman, itulah yang membuat Irene sangat mempercayainya.