
Pagi itu Irene dan Daniyal menikmati sarapan dengan tenang,mereka memiliki rencana untuk berjalan-jalan mengelilingi Korea awalnya, namun rencananya berubah setelah mendapatkan telfon dari Elif yang mengatakan tentang rencan pertemuan dengan rekan bisnisnya.
“Maaf ya kak kita jadi harus pulang lebih awal.” Ucap Irene yang merasa bersalah karena pekerjaannya membuat acara bulan madu mereka batal.
“Tidak apa-apa sayang, aku juga kasihan sama Tiko yang harus mengurus perusahaan sendiri.” Balas Daniyal.
“Kalo kamu ga capek kita pulang malam ini ga apa-apa kok, biar kita bisa istirahat sebelum kembali bekerja.” Lanjut Daniyal.
“Malam ini? Terserah kamu aja, aku ngikutin kamu aja.” Ucap Irene.
“Aku akan menyiapkan pesawat pribadiku jadi kita bisa pulang saat tengah malam.” Ucap Daniyal.
Irene hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan suaminya, lalu dia memutuskan untuk segera mengemasi
barang-barangnya dan suaminya.
“Hai Daniyal…” sapa Sherly dengan ramahnya.
“Sherly? Kamu sedang apa di sini?” tanya Irene yang melihat Sherly sudah masuk ke dalam villanya.
“Aku bosen di villa jadi aku mutusin buat ke sini deh main-main.” Jawab Sherly.
“Kenapa kamu hanya menyapaku? Kamu ga nyapa Irene?” tanya Daniyal yang muncul dari belakang mereka.
“Ah masa sih tadi aku cuma nyapa Daniyal? Maaf ya Iren aku lupa kayaknya.” Ucap Sherly dengan santai.
Namun Irene benar-benar kesal dengan ucapan Sherly, dia tidak suka dengan jawabannya yang terkesan menyebalkan.
Tetapi Irene yang tidak mau mempermasalahkan hal itu kembali mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
“Loh kamu mau kemana Iren? Kenapa berkemas?” tanya Sherly.
“Pulang.” Jawab Irene dengan singkat.
“Hah? Pulang? Kamu aja apa sama Daniyal juga?”
“Kayaknya kamu seneng banget kalo cuma aku yang pulang ya Sherly? Tapi sayangnya kali ini suamiku juga ikut pulang bersamaku.” Ucap Irene dengan senyum sinisnya.
“Kamu sepertinya tidak menyukaiku Irene.” Ucap Sherly to the point.
Irene yang tadinya sibuk memasuki pakaian ke dalam kopernya seketika diam dan menoleh ke arah Sherly dengan
tatapan tajam.
“Sama seperti kamu yang terang-terangan menunjukkan perasaanmu kepada suamiku, aku pun tidak akan menyembunyikan rasa tidak sukaku kepadamu Sherly.” Ucap Irene dengan tegas.
“A-apa?” Sherly terkejut mendengar ucapan Irene.
Sherly menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Kenapa? Kamu nyari suamiku? Kamu tenang aja, dia ga akan tergoda denganmu dan aku juga udah bilang sama suamiku kalau aku sangat tidak menyukaimu.” Tegas Irene.
“Jadi lebih baik kamu pergi dari sini karena kamu menggangguku!” ketus Irene.
Mendengar ucapan Irene membuat Sherly kesal dan dia segera pergi dari villa Irene dan Daniyal tanpa berpamitan.
Sedangkan di sisi lain, Daniyal yang dari tadi sengaja mengumpat hanya bisa tersenyum mendengar peringatan
tegas yang di berikan istrinya kepada Sherly.
“Kasihan sekali Sherly, dia memilih lawan yang salah! Pfftt..” gumam Daniyal sambil menahan tawanya.
***
Sebulan sudah pernikahan Daniyal dan Irene, semakin lama kehidupan rumah tangga mereka benar-benar harmonis. Keduanya tidak pernah bertengkar walaupun hanya dalam hal-hal kecil dan itu yang membuat Gilang bahagia karena putrinya mendapatkan laki-laki yang tepat.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, seperti biasanya Irene sudah bangun untuk menyiapkan semua kebutuhan Daniyal dan juga dirinya.
Setelah menyiapkan pakaian lengkap, Irene segera pergi ke lantai bawah untuk memasak sarapan seperti biasa
“Pagi bibi..” sapa Irene dengan ramah.
“Pagi juga nyonya Irene, udah mau mulai masak?” tanya bi Sumi.
“Iya nih bi soalnya hari ini aku sama kak Daniyal harus rapat jadi kita berangkat lebih pagi dari biasanya.” Jelas Irene.
Bi Sumi hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan majikannya itu, dia mulai membantu Irene menyiapkan apa saja yang di perlukan seperti biasanya, hubungan bi Sumi dan Irene juga semakin dekat keduanya sering kali bercanda dan tertawa bersama, sesekali bi Sumi menceritakan tentang kehidupannya dulu sebelum bekerja dengan Daniyal.
Jujur saja bi Sumi sudah mengetahui alasan Daniyal menikahi Irene karena membalas dendam, tapi semakin lama bi Sumi semakin dekat dengan Irene dan bi Sumi yakin kalau Irene adalah orang yang sangat baik.
“Bi, Iren ke atas dulu ya bangunin kak Daniyal.” Ucap Irene yang langsung di balas anggukan oleh bi Sumi.
Irene berjalan mendekati suaminya yang masih tertidur lelap, dia membangunkan Daniyal dengan lembut sampai
akhirnya Daniyal membuka kedua matanya dan tersenyum saat melihat wajah Irene.
“Pagi cantik..” sapa Daniyal dengan lembutnya.
“Pagi sayang, ayo bangun kamu kan harus rapat pagi ini.” Ucap Irene.
Namun bukannya bangun, Daniyal justru menarik Irene ke dalam pelukannya dan dia memeluk istrinya itu dengan erat.
“Yaampun sayang kamu kok malah narik aku sih? Ayo bangun nanti terlambat.” Ucap Irene.
“Sebentar sayang, aku mau meluk kamu dulu bentar… Lagian aku ga jadi rapat pagi ini.” Ucap Daniyal.
“Loh jadi pagi ini ga ke kantor? Tapi aku yang harus ke kantor sayang jadi aku harus segera bersiap.” Ucap Irene.
“Hem baiklah sayang ayo kita mandi dan sarapan.” Ucap Daniyal pasrah.
“Kita mandi sendiri-sendiri! Aku ga mau mandi sama kamu bahaya.” Ucap Irene.
“Ih kenapa bahaya? Emang aku gigit?” tanya Daniyal.
“Pokoknya ga mau! Karena aku yang harus ke perusahaan jadi aku mandi dulu wlee..” ucap Irene sambil menjulurkan lidahnya mengejek sang suami.
Daniyal segera mengejar Irene, namun terlambat karena Irene sudah mengunci pintu kamar mandi.
“Sayang mandi bareng aja…” rengek Daniyal sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Ga mau! Aku bisa terlambat kalau bisa mandi sama kamu.” jawab Irene.
“Emang aku ngapain kok bisa buat kamu terlambat sayang? Padahal aku cuma mau mandi bareng aja loh, hayo
pikirannya udah ke mana-mana nih…” goda Daniyal.
“Diamlah!” ketus Irene.
Akhirnya Daniyal mengalah dan kembali duduk di pinggir tempat tidur menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.
Setelah hampir 30 menit akhirnya Irene sudah selesai mandi dan berpakaian rapih dengan jas kantornya.
“Cantik! Kamu selalu cantik setiap hari sayang..” puji Daniyal.
“Tapi aku ngerasa gendutan deh, soalnya jas ini udah sesek banget.” Ucap Irene.
“Benarkah? Tapi aku ga ngerasa kamu gendutan kok itu cuma pikiran kamu aja sayang.” Ucap Daniyal.
Daniyal segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Irene yang masih merasa kalau tubuhnya sudah mulai gemuk.
Irene memutuskan untuk pergi ke ruang makan lebih dulu karena Daniyal masih berada di kamar mandi karena Daniyal tidak perlu memakai jas jadi Irene tidak perlu membantu Daniyal.
“Sayang aku turun duluan ya nanti kamu langsung ke bawah aja.” Ucap Irene.
Daniyal hanya berdehem mengiyakan ucapan Irene, lalu Irene segera ke bawah untuk sarapan.