MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
Chapter 5



Park Jimin tengah memaki seseorang disebarang sana lewat teleponnya, mengabsen sederetan penghuni kebun binatang tanpa ada yang terlewat terlampau kesal pada supirnya yang tak becus kerja.


Bisa-bisanya mobil mewah yang baru ia beli beberapa bulan kini sudah mogok ditengah-tengah jalan seperti ini.


Ya, gara-gara sang supir yang melupakan check rutin ganti suku cadang mobil.


uh sial sekali Park Jimin, sekalinya bawa mobil ke kampus malah mogok seperti ini.


Berakhir lah dirinya terduduk di halte yang bersebrangan dengan mobilnya, mengutak atik handphone berusaha kembali menghubungi supirnya untuk menderek pulang mobil mogoknya yang sekarang tak ada bedanya dengan seonggokkan sampah bagi Jimin.


Belum sempat memencet dial nomor panggilan.


Perempuan berambut sebahu mengalihkan perhatiannya di sebrang sana, disamping mobil nya perempuan itu sedang menangis dan tertunduk begitu lesu.


"Yasha" Jimin berusaha mendekat.


"Hei, kau kenapa? "


Tanya Jimin saat sudah berada di hadapan perempuan.


Yasha mendongkak mendapati Park Jimin yang menatapnya penuh khawatir.


"Hiks.. " Tangisnya kian mengencang.


Park Jimin kebingungan dan dengan refleks mendekap Yasha berusaha menenangkan.


"Tak apa ada aku disini, kau bisa ceritakan semuanya padaku jika sudah merasa baikan"


Jimin menepuk-nepuk punggung itu laun.


Entah dorongan dari mana Jimin mampu memperlakukan perempuan itu seperti ini.


"Merasa baikan? "


Hampir sekitar 10 menit Yasha menangis dalam pelukan Jimin, tangisan dan isakannya telah mereda.


Hanya saja meninggalkan bengkak dikedua matanya serta hidung bangir yang memerah sempurna.


"Ingin cerita? " tanya nya lembut.


Yasha masih diam tak mengucapkan apa-apa  selain pandangan kosong, keduanya sekarang sudah terduduk bersebelahan di halte sebrang.


"Jika belum siap tak apa.. Kau bisa menceritakannya lain waktu "


Yasha melirik mata milik Jimin, terpancar sirat ketulusan dan rasa khawatir akan dirinya pun tergambar jelas di matanya.


Yasha sudah tak memiliki siapa-siapa lagi pikirnya,


Jadi haruskah ia percaya untuk menceritakannya pada Jimin, Dirinya pun tak mampu memendam kesedihan sedalam ini sendirian.


Yasha memejamkan matanya sejenak. 


"Kim Taehyung"


Lagi, nama itu keluar dari mulut seorang Kim Yasha namun Jimin tetap mendengarkan, meski hatinya mulai kesal.


"Dia hanya memanfaatkan ku untuk bisa lebih dekat dengan Rachel, Taehyung menyatakan cintanya pada Rachel di hadapan ku"


Jimin mengepalkan kedua tangannya geram,  bisa-bisanya Taehyung bertingakah seperti itu padahal Jimin sudah mewanti-wanti nya dari awal


'Anak itu harus aku beri pelajaran ' tekad Jimin dalam hati. 






Taehyung keluar dari mobilnya, dirinya baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran kampus.


Namun tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang,  mencengkram erat kerah kemeja dan memukul nya tepat di rahang lelaki tampan itu.


Taehyung limbung terjatuh, dirinya tak siap mendapat pukulan mendadak begini.


Taehyung mendongakkan kepalanya, ingin melihat siapa seseorang yang baru saja menghajarnya.


Terkejut kesan utama saat Taehyung melihat Jimin dengan tangan terkepal menandakan dirinya tengah dalam keadaan emosi.


"Apa-apaan kau Park! "


Taehyung berusaha bangkit, tangan memegangi rahangnya yang dirasa bergeser.


"Pukulan itu belum seberapa untuk ******** sepertimu"


Ucap Jimin penuh penekanan.


Mendengar ucapan sahabatnya membuat emosi Kim Taehyung tersulut. Dirinya tak terima dipanggil '********' tanpa alasan jelas.


"Apa masalahmu! "


Taehyung mendorong tubuh Jimin, Namun Jimin tak bergeming di tempatnya.


Geram Jimin, tangan nya kembali meremat kerah kemeja Taehyung menahan gejolak agar tak menghajar lelaki yang masih berstatus sahabatnya itu.


"Jika bukan sahabat kau sudah ku habisi "


Melepas kerah kemeja itu kuat, hingga Taehyung mundur beberapa langkah.


Taehyung tertunduk setelah mengetahui alasan Jimin menghajar.


"Aku menyesal.. "


Ya, Taehyung memang mengerutuki kebodohan nya sendiri. Telah memainkan perasaan perempuan sebaik Yasha.


"Cih.. "


Jimin berdecih menatap Taehyung dengan tatapan meremehkan.


"Setelah menghancurkan hubungan kedua sahabat baik itu kau menyesal "


Taehyung mengangkat kepalanya, menatap Jimin tak mengerti atas ucapannya.


"Yasha menceritakan segalanya saat itu, dirinya melampiaskan emosinya pada Rachel.. Sampai sekarang hubungan keduanya memburuk, kau tau itu semua karena ulah bodoh mu tae"


Ucap Jimin yang mulai bisa meredam emosinya, perasaannya sudah tak sekalut tadi.


"Aku tak tahu jim, maaf karna tak mendengarkan mu dari awal dan maaf telah menyakiti perempuan yang sangat kau cintai"


Jimin memejamkan matanya erat, mengingat bagaimana tangisan Yasha dua hari yang lalu. Begitu tersakiti atas ulah sahabatnya sendiri.


"Aku melihat matanya, sarat akan kecewa padaku, seharusnya aku tau kalau dia menyimpan rasa padaku.. Aku memang terlalu bodoh untuk menyadarinya, aku ingin menebus kesalahanku dan mendapatkan maaf nya"


"Jangan bertindak bodoh lagi tae, memaksanya agar memaafkan semua kesalahan mu


Taehyung menggeleng.


"Aku tak akan memaksanya, tapi aku akan mencobanya.. Aku tersadar saat melihat kesedihan yang ia tahan, aku benar-benar sadar bahwa ia begitu mencintaiku, dan aku melihat bagaimana ia pergi bersamaan dengan hatiku yang merasa kehilangan"


Taehyung tersenyum disela ucapannya, mengingat hari-hari nya bersama seorang Yasha yang selalu bahagia.


"selama beberapa minggu bersamanya, hatiku pun sudah mulai menerima nya hanya saja ego ku terus tertuju pada Rachel, karna dari itu sekarang aku akan membuka sepenuh hatiku untuknya, mulai menerima cintanya yg tulus padaku"..


"Bedebah, Berhenti memcoba mendekati nya lagi tae atau kau akan melihatnya semakin terluka karna mu"


"Tidak jim, aku berjanji pada diriku sendiri, takkan menyakitinya lagi dan kau bisa menghajar ku jika itu terjadi"


"Kau! " geram Jimin.


"tak akan semudah itu untuk kembali pada Yasha ingat, mulai sekarang aku yang akan selalu ada untuknya "


Lanjut Jimin.


Jimin berlalu pergi dari sana, menatap Taehyung dengan nyalang sebelum akhirnya benar-benar pergi.


'Aku akan mencoba, tak peduli segala ancaman mu jim, aku bertekad menghapus segala kesalahanku padanya dan belajar menerima cintanya'





Sudah seminggu lebih lamanya hubungan antara Rachel dan Yasha memburuk, tak pernah terlihat bersama bahkan saat berpapasan pun tak ada yang saling menyapa seolah-olah mereka tak saling mengenal satu sama lain.


Yasha terlalu kuat dengan egonya, tak ingin dulu memulai percakapan ataupun sekedar tegur sapa.


Sedangkan Rachel takut untuk memulai, dirinya terlalu berasumsi bahwa sahabatnya itu benar-benar membencinya sampai berubah seperti ini.


Yang paling buruk dari semua itu adalah Rachel, semenjak hubungan persahabatan keduanya merenggang Rachel jadi tidak pernah mementingkan dirinya. Dia benar-benar merasa kehilangan.


Bagaimana tidak, karna selama ini hanya Yasha yang memperhatikannya. Mulai dari pola makan, belajar sampai kebersihan apartemennya pun Yasha yang selalu mengingatkan.


Yasha sudah seperti seorang kakak baginya. Ayah yang sibuk, Ibu yang telah tiada dan pacar yang dirinya juga tak punya membuatnya sangat bergantung pada sahabat seperpopokan nya itu.


.


Kini Seokjin sebagai teman 'baru' sekaligus bodyguard nya sekarang lebih sering memperhatikan Rachel.


Dirinya mencoba menggantikan sosok Yasha yang tentu saja sebenarnya tak mungkin dapat tergantikan.


Seokjin pun sering membersihkan apartemen nona nya, selalu mengingatkan Rachel agar tak telat maka juga memberikan perhatian-perhatian kecil lainya.


Rachel beruntung, setidaknya ada Seokjin yang sekarang bersamanya dan selalu menyemangati nya. Dan mungkin Seokjin bisa masuk sebagai kategori sahabatnya nya mulai dari sekarang.





to be continued..