
Seminggu sudah Aleena dan Abizar berbulan madu, malam itu mereka sibuk berkemas karena besok pasangan baru itu harus kembali ke Indonesia karena Aleena harus kembali bekerja sampai kontrak kerjanya dengan perusahaan sang kakak habis.
“Haah, padahal aku masih belum puas di sini…” gumam Aleena sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
“Kamu mau memperpanjang bulan madu kita? Aku bisa mengurusnya.” Ucap Abizar.
“Hah? Eh, aku mau sih tapi aku masih harus kerja huhuhu…” ucap Aleena yang awalnya semangat saat Abizar menawarkan perpanjang bulan madu, hanya saja dia ingat kalau dia harus bekerja.
“Padahal kamu yang kekeh mau pulang karena kerjaan.” Ucap Abizar.
“Yah gimana lagi kak, emang udah kewajibannya begitu.” Ucap Aleena.
Abizar hanya tersenyum sambil membantu Aleena untuk merapihkan pakaian miliknya dan juga Aleena agar cepat selesai mengemasi barang-barangnya.
“Kita pake jet pribadi yang sudah di siapkan ka Daniyal, dia menghubungiku tadi.” Ucap Abizar.
“Benarkah? Baguslah itu akan membuat kita lebih cepat sampai di bandingkan naik pesawat umum karena banyak delay nya.” Ucap Aleena.
“Maaf ya Aleena.” Ucap Abizar yang membuat Aleena langsung menoleh ke arah Abizar.
“Maaf? Kenapa kamu minta maaf padaku kak?” tanya Aleena.
“Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa-apa, seperti hal seperti jet pribadi aja aku ga bisa.” Ucap Abizar.
“Yaampun kenapa kamu bicara seperti itu sih sayang,,, aku terima kamu apa adanya dan aku yakin kamu pasti bisa maju jika mau usaha.” Ucap Aleena membujuk Abizar.
Abizar tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada Aleena karena dia sudah menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada di diri Abizar.
***
Di sisi lain, di mansionnya Daniyal sedang bersiap untuk bekerja, sedangkan Irene masih tertidur pulas di balik selimut tebalnya.
Daniyal sengaja tidak membangunkan Irene karena dia tau kalau semalaman Irene tidak bisa tertidur karena perutnya terasa tidak enak dan sesekali terasa kram.
Setelah selesai berpakaian dengan rapih, Daniyal segera menghampiri istrinya dan mencium keningnya dengan lembut agar tidak membangunkannya.
“Tidurlah lebih lama, aku tau kamu pasti lelah.” Bisik Daniyal agar tidak membangunkan Irene.
“Selamat pagi tuan…” sapa bi Sumi saat melihat Daniyal yang sudah ada di ruang makan.
“Pagi bi.” Balas Daniyal.
“Di mana nona Irene tuan?” tanya bi Sumi.
“Dia ada di kamarnya masih tertidur bi, jangan di bangunin sampe dia bangun ya bi, sesekali lihatlah ke kamar apakah dia sudah bangun atau belum, kalau sudah bangun segera antarkan sarapan dan susu untuknya.” Ucap
Daniyal.
“Siap tuan saya akan segera menyiapkannya.” Ucap bi Sumi.
Ahirnya bi sumi selesai menyiapkan sarapan dan mempersilahkan Daniyal untuk menyantap sarapannya.
“Silahkan di makan tuan.” Ucap bi Sumi.
“Terimakasih bi.” Ucap Daniyal.
Bi Sumi segera undur diri kembali ke dapur untuk merapihkan sisa peralatan masak yang tadi dia gunakan di bantu dengan pelayan yang lain.
Sedangkan Daniyal menikmati masakan bi Sumi dengan biasa, sampai tiba-tiba saja Bramantio datang mengejutkan Daniyal yang sedang menyantap sarapannya.
“Papi? Kenapa papi kemari sepagi ini dan tiba-tiba sekali?” tanya Daniyal.
“Abizar sudah menikah? Dan sekarang sedang berbulan madu? Apa-apaan ini Daniyal? Kamu mendktrin adik-adikmu untuk melupakan balas dendam yang harusnya kalian lakukan ya?!” ketus Bramantio.
“Apa maksud papi? Aku juga ga tau tiba-tiba saa Abizar melamar Aleena dan Aleena menerimanya begitu juga dengan papi Gilang.” Jelas Daniyal.
“Dia bahkan tifak mengatakan apapun kepada papi Daniyal! Apa yang sedang kalian mainkan sebenarnya? Aku harus menarik Adyatma dari tugas ini agar dia juga tidak jatuh cinta dengan anak laki-laki itu!” ketus Bramantio yang langsung pergi dari mansion milik Daniyal.
Daniyal terpaku, dia tidak percaya kalau papinya hanya datang untuk membicarakan pernikahan dan bulan madu Abizar saja, terlebih saat itu Bramantio baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya.
Daniyal segera menoleh ke arah tangga untuk memastikan apakan Irene sudah terbangun atau belum, dia bingung harus mengatakan apa jika Irene melihat papinya marah-marah seperti itu.