
Di rumah sakit semua orang masih tertidur kecuali Irene yang sudah terbangun sejak tadi karena dirinya harus memantau perusahaannya dan juga membeli sarapan untuk adik-adiknya dan Aiden.
“Selamat pagi nona, anda mau kemana?” tanya perawat yang kebetulan berpapasan dnegan Iren di pintu lift.
“Aku mau ke kantin beli makanan buat adikku.” Jawab Irene.
“Tidak perlu nona, kami sudah menyiapkan sarapan untuk semuanya.”
“Bukannya rumah sakit hanya menyiapkan sarapan untuk pasien saja ya?”
“Iya nona, tapi untuk anda kami juga menyiapkan sarapan karena papi anda yang memintanya secara khusus.” Jelas perawat tersebut.
“Ah begitu? Baiklah terimakasih banyak ya.” Ucap Irene yang tidak jadi menaiki lift karena sarapan mereka sudah di sediakan.
Irene mengikuti perawat tersebut dari kamar Daniyal ke kamar Ratu, setelah selesai memberikan sarapan untuk semua orang, perawat tersebut segera berpamitan kepada Irene.
“Kak, kakak habis dari mana?” tanya Nancy kepada Irene.
“Loh kamu sudah bangun? Tadinya aku mau membeli sarapan di bawah, tapi ga jadi soalnya rumah sakit udah nyiapin.” Jelas Irene.
“Ayo sarapan dulu Nancy.” Ucap Irene kembali.
“Nanti aja kak, aku masih mau meriksa jadwal kuliahku.” Balas Nancy.
“Kamu mau masuk kuliah? Jangan dulu Nancy, lebih baik kamu istirahat dulu.” Ucap Irene.
“Ga bisa kak, aku ini udah pertengahan semester, ga bisa terus-terusan bolos karena sehari aja ga masuk banyak materi yang aku tinggalkan.” Ucap Nancy.
Nancy segera mengambil hpnya dan memeriksa pesan grup dari teman-temannya untuk melihat jadwal kuliah yang baru, namun perhatian Nancy mengarah kepada pesan papinya dan segera membuka pesan tersebut.
Seketika tubuh Nancy bergetar, dia meneteskan air mata lalu menatap Irene dengan tatapan tajam.
“A-ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Irene kepada Nancy.
“Kenapa kak Iren ga menepati janji!? Kenapa kak Iren memberitahu papi tentang semua yang terjadi kepadaku!?” teriak Nancy yang membuat Ratu terbangun dari tidurnya.
“Apa? Kapan aku memberitahu papi? Aku tidak memberitahunya Nancy!” ucap Irene.
“Terus menurut kak Iren siapa yang tau tentang hal ini selain kakak dan Aiden, hah! Lagian papi bilang kalo dia tau hal ini dari kakak!” ketus Nancy.
Ratu yang tidak tau apa-apa hanya bisa melihat ke arah Nancy dan Irene secara bergantian.
“Kak, ada apa sih? Kenapa kalian tiba-tiba bertengkar?” tanya Ratu.
“Diam! Kamu tidak tau apa-apa!” bentak Nancy yang langsung pergi keluar kamar dan berlari entah kemana.
Ratu yang mendengar bentakan dari Nancy langsung terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun, dia benar-benar terkejut sampai mematung di tempat tidurnya.
Irene yang tadinya mau mengejar Nancy langsung menoleh ke arah Ratu yang sedang terkejut dengan bentakan Nancy.
Irene hanya bisa menghela nafas panjang sambil memegangi kepalanya yang pusing dengan keadaan saat itu dan segera menghubungi Aiden untuk mengejar Nancy yang entah kemana.
“Maaf karena aku mengganggu sarapanmu Aiden, tolong ikuti Nancy, aku takut dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya.” Ucap Irene yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah memastikan Aiden mengikuti Nancy, Irene segera menghampiri Ratu dan memeluknya.
“Ratu tenanglah jangan di pikirkan ucapan Nancy.” Ucap Irene mencoba untuk menenangkan adiknya.
“K-kenapa kak Nancy jadi begitu kak?” tanya Ratu dengan tatapan yang masih kosong.
“Dia tidak begitu kok Ratu, dia sedang banyak masalah makanya jadi begitu kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak ya.” Ucap Irene.
“Nanti ya, nanti kamu akan tau semuanya, sekarang lebih baik kamu istirahat dan aku akan mencoba berbicara dengan Nancy.” Ucap Irene.
“Baiklah kak, sebaiknya kakak mengejar kak Nancy karena jika masalahnya begitu besar aku takut jika kak Nancy tidak akan bisa menahannya.” Ucap Ratu.
“Kamu baik-baik saja kan di sini sendirian? Apa perlu aku suruh Dani kemari?” tanya Irene.
“Ga perlu kak, aku baik-baik saja kok di sini, kak Iren sebaiknya cepet nyusul kak Nancy karena saat ini dia yang membutuhkan teman.” Ucap Ratu.
“Terimakasih karena sudah mengerti Ratu, mmwwah, aku akan menghubungi Aleen untuk kemari.” Ucap Irene sambil mencium kening adiknya.
Setelah berpamitan dan menghubungi Aleena, Irene segera keluar dari kamar pasien dan segera berlari untuk mengejar Nancy.
Irene terus berlari menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mencoba untuk menghubungi Aiden namun tidak mendapat jawaban.
“Halo? Aiden? Kemana saja kamu, kenapa tidak menjawab telfonku?” tanya Irene saat telfonnya sudah berhasil di angkat oleh Aiden.
“Em,, nona sebaiknya jangan kemari dulu karena sepertinya nona Nancy sedang berada di danau pinggir kota bersamaku, tapi aku melihatnya dari jauh.” Jelas Aiden.
“Nancy, bagaimana keadaannya? Apa dia tidak melakukan hal-hal yang berbahaya?” tanya Irene.
“Engga kok nona, dia hanya menangis di sebuah bangku yang ada di danau dan menangis sendirian.” Ucap Aiden.
“Tolong awasi dia terus Aiden, aku akan mengurus masalah ini setelah melihat keadaan papi di rumah.” Ucap Irene.
“Baik nona, semoga masalah ini cepat selesai dan nona Nancy tidak sedih seperti ini lagi.” Ucap Aiden.
Irene segera mematikan telfon dari Aiden dan segera mengambil mobilnya di parkiran dan menuju ke rumah untuk melihat keadaan sang papi.
***
Drtt,, drtt… Aiden yang baru saja membuka kotak makanannya di kejutkan dengan telfon dari Irene yang membuatnya memutuskan untuk mengangkat telfon lebih dulu.
“Halo nona..” ucap Aiden saat mengangkat telfon dari Irene.
“Aiden, Nancy baru saja pergi karena… Ah pokoknya ceritanya panjang dan aku mohon kamu segera ikuti dia karena aku tidak bisa meninggalkan Ratu begitu saja.” Ucap Irene.
“B-baik nona..”
“Maaf karena sudah mengganggu sarapanmu, aku benar-benar butuh bantuanmu Aiden, aku mengandalkanmu.” Ucap Irene yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah mendapatkan telfon dari Irene, Aiden segera mengambil jaket miliknya dan berjalan membuka pintu kamar.
“Aiden, ada apa? Kenapa kamu pergi tanpa sarapan? Apa yang di katakan nona Irene?” tanya Daniyal.
“Panjang ceritanya kak, aku ngejar nona Nancy dulu ya nanti akan aku ceritakan.” Ucap Aiden yang langsung pergi begitu saja.
Aiden terus mencari keberadaan Nancy setelah keluar dari lift sampai akhirnya dia melihat Nancy baru saja menaiki taxi.
Aiden yang kebetulan menaruh mobilnya di dekat pintu keluar segera menaiki mobil dan mengikuti Nancy dari belakang.
Sampai akhirnya dia menghentikan mobilnya di danau pinggir kota mengikuti Nancy yang berhenti lebih dulu.
Nancy segera keluar sambil sesekali mengelap pipinya yang basah karena air mata, sedangkan Aiden hanya berjalan mengikuti Nancy dari belakang.
“Entahlah tapi aku tidak suka jika nona Nancy seperti ini.” Gumam Aiden yang terus mengikuti Nancy.
Sampai akhirnya Nancy duduk di bangku yang ada di sana dan Aiden memutuskan duduk di bangku yang lebih jauh dari Nancy namun masih bisa memantau Nancy dari jauh.
“Semoga masalah kamu cepat selesai dan kembali ceria seperti sebelumnya.” Gumam Aiden sambil menatap Nancy yang menangis sambil menundukkan kepalanya.