
Korea
Aleena dan Abizar baru saja sampai di villa milik Irene, Abizar segera membawa koper miliki Aleena dan menaruhnya di dalam kamar utama.
“Wah, kamarnya sudah di hias dengan baik, pasti kak Iren yang menyiapkan semua ini.” Ucap Aleena yang sedang mengagumi kamar yang sudah di siapkan oleh Irene.
“Hmm kamu benar, kamar ini sudah di siapkan dengan sangat baik.” Balas Abizar yang masih sibuk dengan koper mereka.
Aleena menoleh ke arah Abizar dan langsung mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu sedang sibuk sendiri dan tidak melihat kamar mereka sama sekali.
“Kak! Kamu kok sibuk sama koper sendiri sih? Kamu bilang kamar ini bagus tapi kamu ga lihat.” Ucap Aleena.
Abizar menghentikan aktifitasya, dia segera menoleh ke arah Aleena dan juga melihat ke sekeliling kamar yang mereka tempati.
“Aku sudah melihatnya bukan? Kamar ini sangat bagus dan aku menyukainya.” Ucap Abizar.
“Huh kamu ini emang ga ada romantisnya deh kak! Kata-katanya aja manis habis itu cuek lagi!” ketus Aleena yang memutuskan untuk membantu Abizar merapihkan barang-barang mereka.
“Kamu marah?” tanya Abizar.
“Engga tuh.” Ucap Aleena yang masih fokus dengan kopernya.
Abizar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aleena yang sedang merajuk, lalu dia segera kembali mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
“Setelah ini aku akan mengajakmu pergi mengelilingi Korea, Aleena sudah memberikan aku list tempat bagus untuk kita kunjungi.” Ucap Abizar.
Mendengar ucapan Abizar membuat Aleena terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
“Kamu menghubungi kak Irene?” tanya Aleena.
“Bukan aku yang menghubunginya, dia yang tiba-tiba mengirimi aku pesan.” Jawab Abizar dengan jujur.
“Ah begitu, kalau begitu ayo kita pergi sekarang kak! Masalah koper bisa di lanjutkan nanti setelah kembali dari tempat-tempat itu.” Ucap Aleena.
“Baiklah kalau begitu, ayo siap-siap lah setelah itu kita akan segera pergi.” Ucap Abizar yang membuat Aleena semakin senang mendengarnya.
Aleena terus saja bersenandung sambil membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Abizar yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai, Aleena keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilit menutupi tubuhnya.
Abizar yang melihat hal itu tentu saa tidak mungkin tidak tergoda dengan tubuh mulus sang istri. Abizar segera berajalan menghampiri Aleena yang sedang memilih pakaian yang masih ada di dalam kopernya, lalu memeluk tubuh Aleena dari belakang membuat Aleena terkejut.
“K-kak Abizar? Kenapa kamu memelukku tiba-tiba?” tanya Aleena yang masih saja gugup dengan sikap Abizar yang seperti itu.
“Kak, geli ih.” Ucap Aleena sambil berusaha melepaskan pelukan Abizar.
“Bukannya kamu menyukainya sayang?” tanya Abizar menggoda.
“Kak, aku sudah keramas loh jangan macem-macem deh.” Ucap Aleena yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari Abizar.
“Kenapa kalo kamu udah keramas? Kan tinggal keramas lagi.” Balas Abizar.
“Kamu enak bisa keramas kapanpun dan cepat kering juga, sedangkan aku? Rambutku panjang kak, susah keringnya juga, aku ga terlalu suka pake hairdryer.” Ucap Aleena.
“Hemm baiklah tapi jangan harap setelah pulang nanti aku ga akan melepaskan kamu.” Ucap Abizar yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
***
Sedangkan di sisi lain, seseorang dengan pakaian serba hitam sedang menatap villa yang di tempati oleh Abizar dan Aleena.
“Halo tuan, mereka sudah sampai tuan dan tidak ada yang mencurigakan.” Ucap orang tersebut lewat earphone yang dia pakai.
“Baiklah, terus pantau mereka dan jangan sampai lengah.” Balas seseorang dari sebrang sana.
“Baik tuan.” Ucap orang itu dan langsung mematikan telfonnya.
Orang yang baru saja di telfon oleh orang yang berpakaian serba hitam itu adalah Gilang, Gilang menyuruh seseorang untuk mengawasi Aleena dan Abizar.
Gilang menyuruh seseorang untuk mengawasi Aleena dan Abizar karena dia takut jika Abizar tidak bisa menjaga putri kesayangannya, karena ada banyak orang yang mengetahui identitas Aleena dan juga ada banyak fans Aleena yang berasal dari luar negeri membuat Gilang semakin khawatir dengan keselamatan sang putri.
Gilang tidak terlalu memperdulikan tentang Irene karena ada Daniyal yang menurutnya mampu menjaga Irene dan juga Daniyal memiliki kekuasaan untuk mengutus penjaga.
Dan lagi, Irene juga memiliki kekuasaan untuk mengutus penjaga yang akan menjaga mereka.
“Aku tidak terlalu khawatir dengan Irene, yang aku khawatirkan adalah Aleena dan putri-putri kita yang lain sayang, sejak dulu Irene selalu bisa di andalkan dan menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik, sedangkan adik-adiknya masih sangat membutuhkan kita.” Ucap Gilang kepada sang istri yang ada di dalam bingkai foto berukuran besar di dalam kamarnya.
Gilang selalu memandangi foto sang istri tercinta jika ada sesuatu yang bersangkutan dengan putri-putrinya, Gilang melakukan hal itu karena dia ingin berkeluh kesah karena merasa tidak bisa menjaga kelima putrinya.
Sering kali Gilang mengeluh tidak kuat menjaga kelima putrinya yang memiliki sikap yang beragam, kadang Gilang merasa kalau dirinya tidak bisa menjaga putri-putrinya dengan baik terutama saat masalah yang menimpa Nancy dengan kekasihnya waktu itu.
Sakit rasanya melihat salah satu putri kesayangannya di perlakukan tidak senonoh oleh laki-laki b4jingan, mereka bahkan tidak pantas menyentuh sepucuk rambut sang putri.
Setelah kejadian itu Gilang langsung memberi hukuman kepada orang-orang yang sudah mempermalukan putrinya, bahkan nama mereka sudah tidak akan pernah terdengar lagi.