MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 136 (LAMARAN ABIZAR)



Saat ini Abizar sudah berada di depan halaman rumah Herlambang, dia mencoba untuk menenangkan diri dan menarik nafas panjang agar jantungnya bisa berdetak normal kembali.


“Aku harus bisa, ini hanya sekenario yang aku buat sendiri jadi aku tidak boleh gugup sedikitpun!” gumam Abizar di dalam hatinya.


Akhirnya Abizar segera masuk ke dalam halaman rumah Gilang herlambang untuk sgera melamar Aleena.


Di dalam sana sudah ada Aleena, Gilang dan juga para adiknya yang sedang menunggu kedatangan Abizar.


“Kak Abizar?” ucap Aleena saat melihat Abizar berjalan masuk ke dalam rumah.


Senyum merekah di bibir tipis Aleena, sedangkan Abizar terus berusaha untuk mengulas senyum di bibirnya dan mengatur nafasnya kembali.


“Selamat pagi om Gilang.” Sapa Abizar kepada Gilang.


“Duduklah nak Abizar, silahkan.” Balas Gilang dengan ramah.


Abizar duduk di sebelah Aleena saat itu, Aleena benar-benar terlihat sangat cantik, bahkan menurut Abizar hari ini Aleena lebih cantik dari hari biasanya, padahal Abizar sering kali melihat Aleena memakai make up, tapi entah kenapa hari ini Aleena terlihat sangat cantik.


“Terimakasih karena om Gilang sudah mau menyambut saya di sini.” Ucap Abizar.


“Tentu saja aku akan menyambut laki-laki yang sudah mengambil hati putriku dariku.” Ucap Gilang bercanda.


Aleena dan Abizar hanya bisa tersenyum mendengar candaan dari Gilang, lalu keduanya segera menunduk karena malu.


“Jadi bagaimana nak Abizar?” tanya Gilang.


“Om, saya ingin menjawab pertanyaan yang om Gilang berikan kepadaku semalam.” Ucap Abizar.


“Silahkan.” Ucap Gilang memberi kesempatan untuk Abizar untuk berbicara.


“Aku memang bukanlah seorang pengusaha yang menyamar seperti kak Daniyal, tapi aku bisa menjanjikan satu hal kepada om Gilang, kalau aku akan menjadi tiang penopang yang kuat untuk Aleena, saya akan bertanggung jawab penuh atas hidup Aleena.” Ucap Abizar.


Gilang tersenyum mendengar ucapan Abizar, dia langsung menatap wajah Aleena dan Abizar secara bersamaan.


“Kalian berdua adalah pasangan yang cocok, selama kamu bisa bertanggung jawab dan membuat putriku bahagia, aku akan selalu merestui hubungan kalian berdua.” Ucap Gilang.


Kata-kata Gilang membuat Aleena dan Abizar tidak percaya, keduanya menatap wajah Gilang dengan tatapan bingung.


“Kenapa kalian berdua berekspresi seperti itu? Bukankah kalian berdua seharusnya senang?” tanya Gilang kepada keduanya.


“Kak, itu artinya papi menyetujui hubungan kalian berdua, selamat ya.” Ucap Nancy.


“Benarkah ini pi? Apakah aku tidak sedang bermimpi?” tanya Aleena.


“Tentu saja tidak sayang, papi sudah merestui hubungan kalian sejak semalam, hanya saja kamu terlalu sensitif semalam jadi papi ga bisa bilang apa-apa.” Jelas Gilang.


“Huaaa,, papi!!!” teriak Aleena yang langsung memeluk tubuh sang papi dengan erat.


“Kamu ini apaan sih Leen, jangan seperti anak kecil deh! Emang ga malu sama calon suami kamu?” tanya Gilang.


Mendengar kata calon suami membuat Aleena dan Abizar saling menatap satu sama lain lalu menundukkan kepala karena tersipu malu.


Adyatma yang melihat kakaknya tersipu malu seperti itu benar-benar terkejut, bahkan mulutnya menganga saat ini karena melihat sisi lain kakaknya.


“Ini benar-benar mengejutkan melihat kakakku yang sedingin kulkas bisa tersipu malu, dan sepertinya dia tidak pura-pura saat ini.” Gumam Adyatma sambil menggelengkan kepalanya.


Ratu menyadari jika Adyatma sedang menggelengkan kepalanya, lalu dia berinisiatif untuk mendekat kepada Adyatma dan bertanya kepada bodyguardnya itu.


Setelah beberapa bulan bersama, akhirnya Ratu dan Adyatma bisa berteman setelah Adyatma terus saja membuat Ratu kesal karena dia selalu menggodanya dan seringkali mengajak Ratu berbicara.


“Apaan sih kamu ini gila ya? Aku ini geleng-geleng soalnya kak Abizar ga pernah tersipu malu seperti itu tau.” Balas Adyatma.


“Dih berani kamu ngatain aku gila!” ketus Ratu.


“Hehe sorry lah ya, habisnya pertanyaan kamu tuh aneh-aneh aja.” Ucap Adyatma sambil memamerkan gigi putihnya.


Ratu hanya menatap tajam ke arah Adyatma, lalu dia segera kembali duduk di dekat saudaranya yang lain.


“Ngomong-ngomong, kak Iren ga dating hari ini ya?” tanya Queen saat Ratu sudah kembali duduk di sebelahnya.


“Entahlah, apa mungkin kak Iren masih marah masalah kemarin ya?” tanya Ratu.


“Kamu ini gimana sih, orang tanya malah balik tanya! Ya mana aku tau!” ketus Queen yang kesal karena bukannya mendapat jawaban, Queen malah mendapatkan pertanyaan balik.


“Kamu ini sewot banget sih jadi orang! Aku ini kakak kamu loh walaupun hanya berbeda beberapa menit!” ketus Ratu.


“Diem deh, ga usah bawa-bawa waktu kelahiran! Aku ga perduli sama hal itu!” balas Queen.


“Kalian berdua masih mau lanjut berdebatnya?” bisik Nancy yang berbicara dengan senyumannya namun hal itu sangat menyeramkan menurut Ratu dan Queen.


“Engga kak, kita diem kok.” Ucap Queen yang di balas anggukan oleh Ratu.


Akhirnya kedua anak kembar itu terdiam setelah mendengar teguran dari Nancy.


Tidak lama kemudian, Daniyal dan Irene datang dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan banyak sekali makanan yang mereka bawa.


Abizar dan Adyatma menatap tidak suka saat Daniyal masuk ke dalam rumah karena mereka berdua masih mengingat kejadian tadi pagi.


Sedangkan yang lain tersenyum senang saat Irene datang, Nancy, Ratu dan Queen segera menghampiri Irene dan membantunya membawa barang bawaannya.


“Yaampun kak Iren banyak banget bawaannya.” Ucap Queen.


“Iya, karena aku yakin kalian semua tidak ada yang bisa di andalkan untuk acara ini, namanya lamaran harusnya kalian menyediakan suguhan untuk tamu istimewa kita.” Jawab Irene.


Aleena hanya diam menatap Irene yang saat ini sedang tersenyum sambil memberikan makanan yang dia bawa kepada adik-adiknya.


Dengan segera Aleena beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati kakak kesayangannya itu, beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya Aleena memeluk tubuh Irene dengan erat.


“Maaf kak hikss,, hikss,, maafkan adikmu yang kurang ajar ini..” ucap Aleena yang saat ini sudah menangis.


“Kenapa kamu menangis? Kalau tau kamu akan menangis setelah aku datang lebih baik aku tidak datang tadi!” ketus Irene.


“Engga kak! Jangan bicara seperti itu, aku sangat bahagia kamu mau datang ke hari istimewaku ini kak.” Jawab Aleena.


“Kalau begitu jangan meminta maaf dan menangis seperti anak kecil, sebentar lagi kamu akan menikah dan tanggung jawabmu akan semakin besar, aku tidak bisa ikut campur urusanmu lagi setelah kamu menikah nanti.” Jelas Irene.


“Kenapa kakak ga bisa ikut campur?” tanya Aleena.


“Karena kamu sudah menjadi milik suami kamu, mungkin aku hanya bisa memberi beberapa saran, tapi kamu tetap harus menuruti perkataan suami kamu.” Jawab Irene.


“Sebesar itu kah tanggung jawab yang akan aku tanggung nantinya kak? Apa aku bisa menanggung semuanya?” tanya Aleena.


“Kenapa kamu bicara seperti itu? Saat kamu menerima Abizar seharusnya kamu sudah yakin siap untuk menganggung semuanya, jangan ragu karena itu akan membuat pernikahanmu tidak bahagia.” Ucap Irene sambil tersenyum.


Seperti biasa, Irene memang sudah seperti pengganti ibu bagi Aleena, Nancy, Ratu dan Queen. Entah apa jadinya jika mereka tidak memiliki Irene di hidup mereka.