
Di tengah-tengah perdebatan yang terjadi di bawah, Adyatma berlari menuruni tangga tanpa mengetahui apapun, lalu tiba-tiba dia berhenti saat melihat ketegangan yang ada di bawah.
“Kenapa kalian semua wajahnya tegang begitu?” tanya Adyatma.
Semua orang hanya diam kecuali Abizar yang menggelengkan kepalanya perlahan menandakan kepada Adyatma kalau dia harus tenang.
Akhirnya Adyatma yang melihat keseriusan di wajah kakaknya langsung terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi.
“Hm baiklah..” ucap Adyatma yang langsung tenang dan tidak mengatakan apapun lagi.
“Terserah papi aja deh! Aku mau tidur kepalaku pusing!” ucap Daniyal.
“Kalau kamu melakukan hal seperti ini lagi, kamu akan gagal dengan misimu Daniyal!” tegas Bramantio.
Daniyal yang awalnya mau menaiki tangga langsung berbalik menoleh ke arah papinya dengan tatapan tajam.
“Gagal? Segitu pengennya papi membuat anak-anak tuan Gilang hancur? Aku bisa menyuruh orang untuk menghancurkan mereka satu per satu pi tanpa melakukan hal seperti ini!” ketus Daniyal.
“Daniyal!” ucap Bramantio.
“Kenapa pi? Papi ga suka? Apa jangan-jangan sebenarnya papi melakukan hal ini karena dendam pribadi dan bukannya karena untuk membalas kematian mami?” tanya Daniyal.
“Diam Daniyal!! Jangan membantah papi, karena kamu dan kedua adikmu tidak akan bisa melakukan apapun tanpa papi!” ketus Bramantio yang langsung berjalan keluar rumahnya dan mengendarai mobilnya.
Daniyal, Abizar dan Adyatma merasa aneh dengan sikap papinya yang sangat dendam dengan keluarga Gilang.
“Apa ucapan kak Daniyal tadi beneran?” tanya Adyatma.
“Entahlah, soalnya papi terlalu menggebu-gebu masalah misi ini.” Jawab Abizar.
Daniyal yang sudah melihat papinya pergi segera melanjutkan niatnya untuk menaiki tangga namun Abizar mencegatnya.
“Kak, kapan kamu kembali bekerja?” tanya Abizar yang membuat Adyatma menghentikan langkahnya.
“Besok, kalian amati setiap gerak-gerik Irene, apa dia seperti mencurigaiku atau tidak.” Ucap Daniyal.
“Baiklah kak.” Ucap Abizar.
“Kita harus segera menyelesaikan misi ini agar segera kembali ke pekerjaan kita yang seperti biasanya.” Ucap Daniyal.
“Hem, tapi Ratu susah sekali untuk di dekati kak.” Sahut Adyatma.
“Aku sudah dekat dengan Aleena, jadi aku tinggal melakukan langkah selanjutnya saja.” Ucap Abizar.
“Benarkah kak? Kenapa bisa cepat sekali? Apa dia tipe wanita murahan?” tanya Adyatma.
“Hah? Anak-anak tuan Gilang sebenarnya tidak murahan, tapi kebetulan aja dia memang menyukaiku dan dia juga sepertinya tidak pernah berpacaran jadi sekali di gombalin udah jatuh cinta.” Jelas Abizar.
“Ah begitu, jadi sepertinya kak Abizar akan lebih dulu menyelesaikan misi.” Ucap Adyatma.
“Udahlah aku mau istirahat capek.” Ucap Daniyal yang langsung berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Abizar dan Adyatma yang sudah siap segera masuk ke dalam motor sport masing-masing.
Daniyal, Abizar dan Adyatma selama ini memang tidak pernah memakai mobil mereka karena tidak ingin memperlihatkan kalau mereka memiliki mobil, walaupun mereka mengendarai motor sport juga mereka selalu menaruh motor mereka di parkiran umum yang ada di dekat perumahan lalu mereka menuju rumah keluarga Gilang menggunakan ojek yang selalu mangkal di sana.
“Kak Abizar duluan sana, aku masih mau duduk dulu di sini menikmati pemandangan.” Ucap Adyatma.
“Hah? Apa yang mau kamu liat di sini Adyatma? Yang di liat cuma pohon sama amang-amang tukang ojek.” Sahut Abizar.
“Ya kan ngeliat pohon rindang juga pemandangan loh kak.” Ucap Adyatma.
“Ah paling si masnya di sini mau liat tukang jamu yang bahenol itu ya?” tanya tukang ojek yang ada di sana.
“Ada mas, uh bodynya bagaikan gitar spanyol!” ucap tukang ojek tersebut sambil memperagakan dengan kedua tangannya.
“Wah jadi kamu menikmati keindahan alam sendirian?” tanya Abizar kepada adiknya sambil memberikan tatapan mencurigakan.
“Yaelah si amang ngapain ngomong sama kakakku sih? Aku kan mau menikmati pemandangan sendirian tau..” protes Adyatma.
“Lah, pemandangan itu harus di bagi mas biar dapet pahala.” Jawab tukang ojek tersebut.
“Sudahlah biarkan saja dia menikmati pemandangan sesuka hatinya pak, kalo gitu saya minta anter dong ke rumah biasa.” Ucap Abizar.
Akhirnya salah satu tukang ojek tersebut segera menyiapkan motornya dan membonceng Abizar ke tempat tujuannya.
Semua tukang ojek yang ada di sana sudah mengenal Abizar dan Adyatma karena mereka berdua sudah langganan di sana sejak pertama kali mereka bekerja sampai saat ini.
“Kenapa masnya ga nunggu si mbak jamu lewat aja? Nyesel loh ntar.” Ucap tukang ojek yang sedang menyetir motornya.
“Ah ngapain pak, aku yakin kalo majikanku lebih anggun dan cantik di bandingkan tukang jamu itu.” Jawab Abizar.
“Hehehe, emang anak-anak di rumah majikan kamu itu cantik-cantik sekali walaupun bodynya tidak seperti gitar spanyol.” Sahut tukang ojek tersebut.
Abizar hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan tukang ojek tersebut. Sampai akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Gilang yang sangat megah itu.
“Terimakasih loh pak, kembaliannya buat bapak aja.” Ucap Abizar yang memberikan pecahan uang lima puluh ribuan kepada tukang ojek tersebut.
“Loh mas ini sih kebanyakan.” Ucap tukang ojek tersebut.
“Ga apa-apa pak, ambil aja buat makan sama keluarga di rumah pak, semoga bermanfaat ya.” Ucap Abizar dengan ikhlas lalu segera berjalan menuju pos satpam yang ada di depan gerbang.
Abizar yang sudah berada di depan pos satpam langsung menyapa satpam tersebut dengan ramah seperti biasanya.
“Wah tumben datang lebih pagi dari yang lain Abizar?” tanya satpam tersebut.
“Hehe, iya nih kebetulan moodnya lagi enak di ajak bangun pagi jadi langsung ke sini aja deh.” Jelas Abizar.
Satpam tersebut segera membukakan pintu gerbang untuk Abizar, dan membiarkan Abizar masuk ke dalam rumah.
Abizar segera berjalan masuk ke dalam rumah dan menyapa semua pekerja yang sedang sibuk di dalam rumah.
“Mas Abizar, itu di panggil sama mbak Aleena.” Ucap salah satu pelayan yang ada di sana.
“Ada apa ya bi?” tanya Abizar.
“Waduh saya juga kurang tau, pokoknya tadi mbak Aleena bilang kalau mas Abizar datang segera ke kamarnya karena ada sesuatu yang harus di katakan.” Jelas pelayan tersebut.
“Ah begitu, baiklah kalau begitu aku ke atas dulu ya bi.” Ucap Abizar yang langsung menaiki tangga menuju kamar Aleena.
Sesampainya di depan kamar Aleena, Abizar segera mengetuk pintu kamar dan Aleena segera menyuruh Abizar untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Selamat pagi Aleena..” sapa Abizar dengan ramah dan juga senyuman manis.
Aleena yang mendengar suara Abizar segera tersenyum lebar lalu berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh atletis laki-laki yang menjadi bodyguarnya itu.
“Jadi kamu menyuruhku ke sini karena ini?” tanya Abizar menggoda Aleena.
Aleena segera melepaskan pelukannya dan wajahnya seketika memerah karena malu mendengar ucapan Abizar.
Setelah kejadian di ruangan Irene, Aleena dan Abizar semakin lama semakin dekat satu sama lain bahkan mereka sudah berpacaran hanya dalam waktu yang singkat, keduanya berusaha untuk menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga Aleena karena itu akan membuat semua orang terkejut.
Aleena berjanji kepada Abizar kalau dia akan berusaha untuk memberitahu keluarganya tentang hubungan mereka secara perlahan, Abizar pun setuju dengan keputusan Aleena dan dia juga siap untuk menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu hubungan mereka.