
Sudah satu jam lebih Aiden menunggu Nancy menangis di pinggir danau sendirian, akhirnya Aiden memutuskan untuk berjalan perlahan mendekati Nancy.
“Nona, apa kamu tidak lelah menangis terus?” tanya Aiden yang membuat Nancy terkejut.
“Aiden!? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Nancy yang sudah menghapus air matanya.
“Aku sudah menunggu nona menangis selama satu jam lebih.” Ucap Aiden.
“Hah? Tidak mungkin aku menangis satu jam lebih, lagian aku tidak melihatmu dari tadi.”
“Bagaimana bisa kamu melihatku jika kamu sibuk menangis.” Ucap Aiden.
“Cih, kamu tidak tau bagaimana rasanya jadi aku!” ketus Nancy.
“Aku tidak akan berbicara sebagai bodyguardmu lagi sekarang nona.” Ucap Aiden yang membuat Nancy bingung.
“Maksudnya?” tanya Nancy.
“Tapi menangis bukanlah hal yang tepat untuk saat ini, aku lebih menyukai Nancy yang selama ini bersikap arrogant dan judes.” Ucap Aiden yang membuat Nancy terkejut dengan ucapannya.
“Sekarang bukan saatnya menangis, sekarang saatnya kamu membalas semua perbuatan mereka dan tunjukan kepada mereka kalau kamu tidak akan terpuruk hanya karena mereka.” Lanjut Aiden.
“Hey, kamu ini sedang apa?!” tanya Nancy yang dari tadi tidak mengerti kenapa Aiden mengatakan hal seperti itu.
“Aku sedang berubah menjadi temanmu nona.” Ucap Aiden.
“Siapa yang menyuruhmu menjadi temanku? Aku tidak berteman dengan orang yang lebih tua!” ketus Nancy.
“Walaupun aku lebih tua tapi jiwaku masih lebih muda darimu.” Ucap Aiden.
“Hey, apa sekarang kamu masih menjadi temanku?!” tanya Nancy dengan kening yang di kerutkan.
“Apa kamu mau aku terus menjadi temanmu?” goda Aiden.
“Ih menyebalkan!” ketus Nancy yang sekarang sambil tersenyum.
Aiden bersyukur karena bisa membuat Nancy kembali tersenyum lagi. Begitu juga dengan Nancy yang sudah lega karena bisa tersenyum berkat Aiden.
“Terimakasih kak Aiden, aku akan berterimakasih kepada papi karena sudah memaksaku mengutus bodyguard.” Ucap Nancy.
“Kamu juga bisa menjadikan aku sebagai temanmu jika kamu membutuhkan teman untuk curhat, aku mengerti jika kamu tidak bisa menceritakan masalahmu dengan saudaramu karena terasa canggung.” Ucap Aiden.
“Hm,, tapi kamu akan menjadi teman yang sangat menyebalkan sepertinya! Sudahlah ayo kita pulang.” Ajak Nancy.
“Pulang ke rumah atau ke rumah sakit?” tanya Aiden.
Mendengar Aiden mengatakan rumah sakit membuat Nancy teringat kalau dia sudah membentak adiknya yang sedang sakit sebelum keluar.
“Ke rumah sakit dulu, aku mau meminta maaf kepada Ratu.” Ucap Nancy.
“Minta maaf? Kenapa?” tanya Aiden.
“Loh kamu ga denger emang? Aku tadi habis ngebentak Ratu, dia pasti kaget banget kak Iren juga.” Ucap Nancy.
“Engga denger lah, aku tadi fokus sama makanan nona Irene langsung menyuruhku mengejar kamu, jadi aku ga tau apa-apa sebenernya.” Jelas Aiden.
“Yaampun jadi kamu belum makan dari tadi gara-gara ngikutin aku? Kenapa makanannya ga di bawa aja sih.” Ucap Nancy.
“Masa tau kalo nona akan selama ini,, kalau tau pasti bawa camilan juga aku itung-itung nonton bioskop gratis.” Canda Aiden.
“Wah, kamu ini sekarang udah berani bercanda sama aku ya..” ucap Nancy tidak percaya.
Aiden hanya tersenyum memamerkan gigi putihnya lalu mempersilahkan Nancy berjalan lebih dulu menuju mobil.
“Nona Iren bilang akan pulang ke rumah nona, mungkin dia mau menjenguk tuan Gilang.” Ucap Aiden.
Aiden hanya menganggukkan kepala lalu mengikuti Nancy yang berjalan menuju mobilnya, dan keduanya segera pergi ke rumah sakit bersama.
***
Sedangkan di sisi lain, Daniyal yang sedang sendirian di rumah sakit segera menghubungi papinya yang berada di rumah.
“Halo papi..” ucap Daniyal saat Bram mengangkat telfonnya.
“Daniyal? Bagaimana?” tanya Bramantio.
“Aku sudah melakukan hal yang papi suruh, dan sepertinya mereka sedang kelabakan saat ini.” Ucap Daniyal.
“Bagus, kamu memang paling bisa di andalkan di bandingkan adik-adikmu.” Puji Bramantio.
“Dimana mereka pi? Apa mereka sudah berangkat bekerja?” tanya Daniyal.
“Sudah, mereka baru saja berangkat kerja dan mungkin mereka akan ke rumah sakit dulu sebelum ke rumah laki-laki itu.” Ucap Bramantio.
“Pi, bagaimana bisa papi tau kalau anak ketiga tuan Gilang akan mengalami kejadian seperti ini? Apa mungkin…” ucapan Daniyal terpotong karena Bram langsung membantahnya.
“Mana mungkin papi melakukan hal itu! Kamu tau papi ini mengirim mata-mata ke semua anak-anak laki-laki itu karena papi tidak mau sampai anak-anak papi jatuh cinta kepada anak dari musuhnya sendiri!” tegas Bramantio.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu, karena jika papi yang merencanakan hal ini itu sama saja papi seperti mereka yang sudah membuat mami meninggal.” Ucap Daniyal.
“Kamu ini berisik banget sih! Tenang aja papi ga mungkin melakukan hal itu.” Ucap Bramantio yang langsung mematikan telfonnya.
Tidak lama setelah mematikan telfon dari papinya,Abizar dan Adyatma masuk ke dalam kamar Daniyal secara bersamaan.
“Hai kalian kemari? Bukankah seharusnya kalian bekerja?” tanya Daniyal saat melihat kedua adiknya.
“Bagaimana keadaanmu kak? Apa sudah membaik?” tanya Adyatma.
“Hm sudah membaik dan mungkin aku segera keluar dan bisa bekerja seperti biasa lagi.” Jelas Daniyal.
“Cih, ternyata dia sudah baik-baik saja, kalau begitu ayo kita segera bekerja.” Ajak Abizar.
“Sepertinya hanya kamu yang bekerja sekarang Abizar, karena Adyatma harus tetap berada di sini.” Ucap Daniyal yang membuat Abizar dan Adyatma kebingungan.
“Kenapa kak? Kenapa aku harus ada di sini?” tanya Adyatma yang tidak tau apa-apa.
“Karena majikanmu ada di sini, dia semalam di bawa ke rumah sakit karena ternyata di punggungnya ada luka bakar yang cukup parah.” Jelas Daniyal.
“Apa?! Bagaimana bisa? Aku rasa aku sudah melindunginya dengan baik.” Ucap Adyatma.
“Mungkin kamu terlalu sibuk mengelamatkan kepalanya tanpa tau kalau punggungnya tidak terlindungi.” Ucap Daniyal.
“Sebaiknya kamu segera mengunjunginya dan meminta maaf karena tidak bisa melindunginya, ingatlah kalau kita harus bisa membuat mereka jatuh cinta.” Ucap Abizar yang langsung berjalan ke arah pintu.
“Kamu mau kemana kak?” tanya Adyatma.
“Aku mau kerja lah, bisa terlambat aku kalo ngobrol sama kalian.” Ucap Abizar yang benar-benar pergi meninggalkan ruangan Daniyal.
Abizar berapapasan dengan Nancy dan Aiden yang baru keluar dari lift.
“Kak Abizar, kamu menjenguk kak Dani?” tanya Aiden.
“Hm, sekarang aku akan pergi bekerja, semangat bekerjanya Aiden.” Ucap Abizar yang di balas anggukan dan senyuman oleh Aiden.
Abizar melirik ke arah Nancy dan melihat kedua mata Nancy yang saat itu sangat sembab karena habis menangis dan tidak tersenyum sama sekali kepadanya.
“Cih, dia masih saja sombong! Untung saja aku tidak menjadi bodyguardnya, kalau aku jadi Aiden akan aku makan hidup-hidup wanita sombong sepertinya!” gumam Abizar sambil masuk ke dalam lift.