
Cinta sejati itu seperti hantu. Di mana semua orang membicarakannya, akan tetapi hanya sedikit yang benar-benar sadar dapat melihatnya.
...****************...
“Halo, selamat malam tuan Daniyal.” Ucap Tiko dari sebrang telfon.
“Halo Tiko, sekarang aku mau kamu mencari tahu pasien di rumah sakit jiwa yang ada di salah satu kota terpencil di sini, aku akan mengirimkan foto pasien tersebut.” Ucap Daniyal.
“Siap laksanakan tuan!” tegas Tiko.
Dengan segera Daniyal mematikan telfonnya dan melempar hp tersebut di atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Daniyal berendam di bathup kamar mandinya sambil memejamkan kedua matanya memikirkan tentang rencana balas dendamnya yang bisa membuat hubungan persahabatannya dengan Tommy hancur.
“Aku akan segera membuatmu menderita apapun caranya Irene Herlambang!” gumam Daniyal sambil menenggelamkan seluruh wajahnya ke dalam bathup yang sudah berisi air hangat.
Daniyal sudah memutuskan untuk mengikuti rencana papinya yang menyuruhnya untuk membuka identitas perusahaannya yang baru saja maju itu agar Gilang Herlambang mau menerimanya menjadi menantunya.
Sedangkan di sisi lain, Abizar tersenyum melihat Aleena mengiriminya pesan. Abizar senang karena Aleena sudah mulai menyukainya dan dia akan memulai rencananya untuk membuat Aleena tersakiti.
“Bagus, aku akan membuatmu hancur Aleena Herlambang!” gumam Abizar sambil menggenggam hpnya dengan kuat.
...****************...
Pagi hari di kediaman Bramantio, semuanya berada di meja makan sedang menyantap sarapan mereka. Bram heran melihat suasana sarapan mereka yang berbeda dari biasanya.
Biasanya ketiga anaknya akan berbicara atau membujuknya agar melupakan rencana balas dendamnya, namun pagi itu benar-benar sangat sepi dan semua orang sama sekali tidak berbicara sepatah katapun.
“Kalian bertiga ini ada masalah apa sih? Kenapa kalian bertiga diam saja?” tanya Bramantio menyelidiki anak-anaknya.
Mendengar pertanyaan papinya membuat Daniyal, Abizar dan Adyatma mengangkat kepalanya yang awalnya menunduk dan melihat ke arah papinya sebelum akhirnya ketiganya saling menatap satu sama lain.
“Kenapa? Kenapa kalian hanya lihat-lihatan? Apa begini caranya kalian bertiga berdemo untuk menghentikan balas dendam ini?” tanya Bram.
Mendengar ucapan papinya membuat Abizar menggebrak meja dan membuat semua yang ada di sana terkejut.
“Yaampun Abizar kamu mau buat api jantungan ya?!” ketus Bramantio.
“Papi tenang saja! Aku akan segera membuat Aleena menjadi milikku dan membuatnya tersiksa!” tegas Abizar.
“Papi juga tenang saja, aku akan melakukan hal yang sudah di usulkan oleh papi, aku akan melamar Irene segera dan mengungkapkan identitasku.” Sahut Daniyal yang membuat semuanya terkejut.
Pasalnya selama ini Daniyal tidak pernah sedikit pun mau mengungkapkan perusahaannya yang baru saja mulai maju.
“Kak, kamu serius mau mengungkapkan perusahaan barumu?” tanya Abizar.
“Hm, jadi kamu jangan menikahi Aleena dulu, biar aku saja yang memulai semuanya jangan sampai membuat keluarga mereka curiga.” Ucap Daniyal.
“Lalu aku? Aku masih belum mau menikah pi, lagi pula Ratu masih anak kecil dan aku tidak mau menikah dengan anak kecil.” Sahut Adyatma.
“Kamu tidak perlu menikahinya, kamu adalah bom waktu yang akan meledak setelah kedua kakakmu berhasil menghancurkan anak-anaknya.” Ucap Bramantio dengan senyum sinisnya.
“Jadi aku harus menjadi bodyguard lebih lama di bandingkan kedua kakakku?” tanya Adyatma yang di balas anggukan oleh papinya.
Adyatma hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan menyantap sarapannya.
“Lihatlah, kita tidak perlu mengkhawatirkannya karena dia masih bisa makan di saat seperti ini.” Ucap Daniyal yang di sambung tawa oleh Abizar.
“Tentu saja aku harus makan lebih banyak dari kalian berdua karena aku akan melakukan pekerjaan yang sangat berat!” ketus Adyatma sambil mengunyah makanan.
Daniyal, Abizar dan Bramantio hanya menggelengkan kepala melihat sikap tenang Adyatma dan ikut melanjutkan sarapannya.
“Oh iya pi, kemungkinan jika aku dan Irene menikah aku akan meyakinkan tuan Gilang untuk mengadakan pernikahan yang tidak terlalu besar, papi juga harus berpakaian seperti waktu papi menjengukku di rumah sakit, aku juga akan membawanya tinggal di apartmentku.” Jelas Daniyal.
“Cih! Untuk apa aku membawamu ke sana, kamu hanya akan membuat apartmentku berantakan dan makananku habis!” ketus Daniyal.
“Sudah jangan di lanjutkan lagi, kalian ini sudah besar masih saja suka berdebat!” ketus Bramantio.
“Baiklah Daniyal, lakukan semua rencanamu karena kami juga akan menutupi semua identitas kita sebisa mungkin.” ucap Bramantio.
Setelah selesai menyetujui rencana anaknya, Bramantio pergi lebih dulu ke perusahaannya, sedangkan Abizar dan Adyatma siap dengan motor mereka masing-masing, sedangkan Daniyal segera berjalan ke arah parkiran mobilnya.
“Kakak! Ngapain ke parkiran mobil? Kakak mau naik mobil?” tanya Adyatma.
“Tentu saja! Kamu lupa kalau aku akan mengungkapkan identitasku? Ini adalah cara untuk membuat mereka percaya padaku!” balas Daniyal yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Abizar dan Adyatma saling menatap satu sama lain sebelum akhrinya mengendarai motor mereka mengikuti Daniyal yang sudah lebih dulu.
Di sepanjang perjalanan, Daniyal tersenyum penuh dengan rencana, lalu tiba-tiba dia ingat kalau dia belum melihat pesan dari asisten pribadinya.
Akhirnya Daniyal membuka ponselnya dan benar saja ada lima panggilan tak terjawab dari Tiko dan juga ada beberapa pesan yang di kirimkan Tiko padanya.
‘ Tuan, wanita yang ada di rumah sakit memang benar sama persis dengan wanita yang ada di foto yang tuan kirim, sedangkan namanya Rinda.’ Begitulah isi pesan Tiko pada majikannya.
‘ Tuan, apa aku harus melakukan sesuatu pada wanita itu? ‘ isi pesan yang ada di bawahnya.
‘ Aku bisa membuatnya menghilang tiba-tiba dari rumah sakit ini kalau tuan mau.’ Itu adalah pesan terakhir yang di kirimkan oleh Tiko pada majikannya.
Melihat pesan terakhir yang di kirimkan Tiko padanya membuat Daniyal berfikir sejenak.
“Hem,, menarik! Menghilang secara tiba-tiba? Bagaimana jika hal itu benar terjadi? Akan sangat menyenangkan!” gumam Daniyal dengan senyum sinisnya namun kedua matanya masih fokus melihat jalan di depannya.
Daniyal membuka kembali pesan dari asisten pribadinya itu dan segera membalas pesan tersebut.
‘ No! jangan membuat keputusan secepat itu, aku akan menggunakannya di saat rencanaku sudah berhasil! ‘ itulah isi pesan yang di kirim oleh Daniyal.
‘ Baik tuan, sesuai keinginan anda!’ balas Tiko dengan sigap membalas pesan majikannya.
“Good! Aku sudah memiliki banyak sekali bom waktu untukmu nona Irene, aku akan lihat bagaimana kamu akan tergoda oleh diriku yang sebenarnya.” Gumam Daniyal yang kembali menaruh hpnya di dalam saku celananya.
Daniyal sudah berada di depan Gerbang yang sangat tinggi segera keluar dari mobilnya karena dia tau kalau satpam di sana tidak mengenalinya yang memakai mobil sport yang sangat mahal itu.
“Selamat pagi pak..” sapa Daniyal dengan ramahnya.
“Loh Dani? Ini beneran kamu? kok kamu rapih sekali? Bawa mobil mewah juga, kamu ini nyewa di mana mobilnya saya juga mau loh..” ucap satpam tersebut.
Mendengar ucapan satpam tersebut membuat Daniyal terkekeh karena dia sudah bisa memastikan akan ada banyak orang yang terkejut dengan penampilannya saat ini.
Tentu saja terkejut, Daniyal yang biasanya memakai celana jeans dan jaket kulit berwarna hitam, tiba-tiba saja berubah seperti orang yang ingin melamar pekerjaan secara resmi.
“Bapak ini bisa aja deh, mau buat apa emang nyewa mobil pak? Buat jemput calon istri kedua?” goda Daniyal.
“Ah kamu ini Dani bisa aja deh, kalo sampe istri saya denger yang kamu omongin bisa di gantung hidup-hidup saya.” Balas satpam tersebut.
Akhirnya Daniyal dan satpam tersebut tertawa dan dengan segera satpam tersebut membukakan pintu pagar untuk Daniyal dan membiarkan Daniyal masuk ke dalam dengan mobil sportnya.
...****************...
Hai kakak-kakak semuanya, author mau kasih info nih…
Kalo sekarang author akan lebih fokus menceritakan tentang kisah cinta Irene & Daniyal dan Aleena & Abizar dulu yaa biar kakak-kakak semua ga pusing bacanya hehe…
Selamat membaca!! Saranghae..💙