
Matahari sudah bersinar dengan terang, seperti biasa Irene sudah menyiapkan sarapan dan juga pakaian untuk sang suami.
Semua sudah tertata rapih, bahkan Irene sudah memakai pakaiannya, Irene juga ingin membeli beberapa susu hamil untuk dirinya.
Namun Irene memutuskan untuk tidak memberitahu Daniyal tentang kehamilannya karena Irene sudah melihat perubahan sikap Daniyal.
“Selamat pagi sayang…” sapa Irene dengan lembut.
Daniyal yang baru bangun dar tidurnya itu hanya menatap wajah Irene sebentar lalu segera mengalihkan pandangannya.
“Aku sudah membuatkan kamu sup dan juga bubur agar kamu bisa meredakan mabukmu.” Ucap Irene kembali.
“Kenapa kamu membawaku pulang?” tanya Daniyal tanpa menoleh ke arah Irene.
“Kenapa kamu bertanya padaku? Bukankah normal kalau istri membawa suaminya pulang ke rumah?” tanya Irene.
“Tapi aku tidak berniat pulang semalam!” ketus Daniyal.
“Kenapa tidak mau pulang? Kamu masih ingin memangku wanita malam di bar itu?” tanya Irene dengan nada yang mulai kesal.
Daniyal diam sejenak dan berpikir kalau Irene sudah melihatnya dengan wanita malam di bar itu namun dia tetap bersikap biasa saja.
“Ya bisa di bilang begitu.” Ucap Daniyal dengan santainya.
“Kenapa kamu mengatakan hal itu kak? Sebenarnya kamu ini kenapa?” tanya Irene.
“Aku kenapa? Ga kenapa-kenapa kok.” Ucap Daniyal cuek.
“Kak Daniyal tuh berubah kak, biasanya kakak selalu berbicara dengan bahasa yang halus dan manis, tapi sekarang kakak lebih banyak mengabaikan aku.” Ucap Irene.
“Kakak juga bilang kalo kakak mau menjauhi aku? Bagaimana bisa kamu menjauhi aku kalau aku ini adalah istrimu?” ucap Irene kembali.
Daniyal sebenarnya terkejut dengan ucapan Irene, dia merasa tidak pernah mengatakan tentang menjauhi Irene, apa karena dia mabuk semalam? Berapa banyak yang sudah dia katakan kepada Irene semalam?.
“Diamlah aku lelah mendengar ucapanmu.” Ucap Daniyal.
“Apa? Lelah kak? Kalau memang ada masalah kita bisa membicarakannya baik-baik, kalau aku ada salah kamu bisa menegurku, kita bisa mencari jalan keluar bersama kak.” Ucap Irene.
“Aku tidak apa-apa, hanya membutuhkan waktu untuk sendiri karena aku tidak menyukaimu.” Ucap Daniyal yang langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mendengar balasan dari Irene.
Mendengar ucapan Daniyal benar-benar membuat hati Irene sakit, rasanya sesak di dada setelah Daniyal mengatakan kalau dia sudah tidak mencintainya.
“Aku harus bagaimana kak? Kenapa kamu berubah seperti itu?” gumam Irene sambil meremas kerah kemejanya sendiri.
Akhirnya Irene memutuskan untuk tidak memperdulikan ucapan suaminya, biarkan saja Daniyal sepeti itu entah sampai kapan, dia juga akan berusaha untuk bersikap sabar dan menunjukkan kepada Daniyal kalau dirinya sangat
mencintainya walaupun sudah di perlakukan tidak baik.
Di meja makan, Irene menunggu Daniyal turun dan menyiapkan sarapan Daniyal seperti biasanya, tidak lupa Irene juga menyiapkan sayur di mangkuk yang berbeda untuk Daniyal.
Irene tersenyum saat mendengar suara langkah suaminya sedang menuruni tangga, lalu senyum di wajahnya memudar saat melihat Daniyal tidak memakai stelan jas yang sudah dia siapkan tadi.
Namun Irene tidak mempermasalahkan hal itu, dia hanya terus memaksakan senyumnya dengan manis.
Bi Sumi yang melihat interaksi keduanya hanya bisa diam, awalnya bi Sumi ingin makan bersama dengan pelayan yang lain di pavilion tapi Irene memohon kepada bi Sumi untuk tidak pergi dan tetap makan bersama mereka, dan akhirnya bi Sumi menurut dan makan bersama dengan Irene dan Daniyal.
“Aku sudah menyiapkan nasi dan lauk untukmu sayang, makanlah.” Ucap Irene dengan bersemangat.
Namun bukannya mengambil piring yang sudah di siapkan, Daniyal malah mengambil piring baru dan mengambil nasi dan lauknya sendiri.
Sakit! Jujur saja perasaan Irene sangat terluka saat melihat hal itu tapi setidaknya dia senang karena Daniyal masih mau memakan makanan yang dia buat.
Setelah makan, Daniyal segera beranjak dari kursi makannya dan segera berjalan keluar rumah tanpa berpamitan kepada Irene dan bahkan bi Sumi.
“Kak Daniyal tunggu!” teriak Irene namun Daniyal sama sekali tidak menggubrisnya.
Seketika perutnya terasa kram, Daniyal yang melihatnya hanya diam menatapnya dengan dingin, sedangkan Irene berusaha untuk tidak merasakan kram di perutnya dan langsung berdiri begitu saja.
“Nyonya Irene, kamu tidak apa-apa?” tanya bi Sumi.
“Tidak apa-apa bi.” Jawab Irene dengan lembut.
“Kak Daniyal, kalau memang kakak tidak mau berpamitan denganku tidak masalah, tapi aku mohon setidaknya kakak harus tetap berpamitan dengan bi Sumi seperti biasanya!” ucap Irene.
“Aku berangkat dulu bi, puas?” ucap Daniyal yang melihat ke bi Sumi lalu menatap tajam ke arah Irene.
Irene hanya bisa pasrah melihat Daniyal yang sudah pergi begitu saja, sedangkan bi Sumi memegang pundak Irene dengan perasaan iba.
“Nyonya, yang sabar ya..” ucap bi Sumi.
“Aku ga tau salah aku apa bi, tapi aku yakin kalau dia akan kembali seperti semula jika aku lebih sabar menghadapinya.” Ucap Irene.
“Iya nyonya, pasti tuan Daniyal akan berubah.” Ucap bi Sumi yang sebenarnya juga tidak tau apakah tuannya itu bisa berubah atau tidak.
“Kalo gitu Iren berangkat dulu ya bi, bibi hati-hati di rumah.” Pamit Irene.
“Iya nyonya, nyonya juga hati-hati ya.” Ucap bi Sumi.
Irene hanya tersenyum lalu segera mengendarai mobilnya menuju perusahaan.
Saat Irene keluar dari mobilnya, dia berpapasan dengan Aleena dan Abizar yang juga baru keluar dari mobil.
“Aleena? Abizar? Kalian berdua sudah datang?” tanya Irene.
“Kenapa kakak kaget begitu? Yang ada kak Iren tumben dateng pagi, biasanya kakak dateng siang.” Ucap Aleena.
“Benarkah? Ah mungkin sekarang aku tidak kesiangan jadi dateng lebih pagi.” Ucap Irene.
“Sudahlah ayo masuk.” Ajak Irene.
Aleena tersenyum bahagia lalu menganggukkan kepala dengan bersemangat, dia segera merangkul lengan Irene dan mereka berdua pun masuk ke dalam perusahaan bersama-sama.
“Kamu ada jadwal pemotretan hari ini?” tanya Irene.
“Iya kak, ada beberapa pemotretan lagi sama Delon.” Jawab Aleena.
“Baiklah hati-hati dengannya, walaupun dia baik tapi bisa jadi ada maksud lain.” Bisik Irene.
“Siap kak! Oh iya, kakak baik-baik saja?” tanya Aleena.
Pertanyaan sang adik membuat Irene sedikit terkejut dan langsung menatap wajah Aleena.
“Ada apa kak? Kenapa kak Iren melihatku seperti itu?” tanya Aleena yang menjadi gugup.
“Kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu?” tanya Irene.
“Ga apa-apa, kita kan udah ga tinggal serumah lagi jadi aku ga tau gimana kabar kakak di sana, apakah kak Iren makan dengan teratur, apakah kak Daniyal memperlakukan kakak dengan baik.” Ucap Aleena.
“Sangat baik, kak Daniyal sangat baik kepadaku dan dia juga sangat lembut.” Jawab Irene.
“Tapi itu dulu…” batin Irene.
“Benarkah kak?” tanya Aleena.
“Tidak! Dia sangat dingin sekarang!” batin Irene.
“Tentu saja benar, aku sangat bahagia Aleena jadi jangan
mengkhawatirkan aku dan fokus pada pekerjaanmu.” Ucap Irene.