MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 62 (PERTUNANGAN)



Malam itu Aleena, Nancy, Ratu dan Queen benar-benar sudah siap untuk tidur di kamar sang kakak, mereka ber empat sudah membawa bantal mereka masing-masing karena semuanya memiliki bantal kesayangannya masing-masing.


“Yaampun, kasur ini berukuran king size tapi kenapa terasa sangat sempit saat kalian berada di sini?” tanya Irene sambil melihat tempat tidurnya yang sudah penuh.


Saat itu Irene memang baru keluar dari kamar mandi, dan dia terkejut saat tempat tidurnya sudah di kuasai keempat adiknya.


“Hai kak, apa kakak sudah luluran? Maskeran? Kak Iren harus tampil sempurna besok.” Ucap Nancy.


“Kakak tenang saja, kak Iren selalu tampil dengan sempurna walaupun hanya dengan sepasang piyama tidur.” Sahut Ratu.


“Kamu merayu karena aku sudah mengijinkan kalian tidur di sini ya?” tanya Irene dengan tatapan penuh selidik.


“Hehehe, ayo kak tidurlah..” ajak Ratu.


“Lalu aku tidur di mana kalau kalian sudah memenuhi tempat tidurku?” tanya Irene.


Mendengar ucapan Irene membuat ke empat adiknya berguling dan menyisakan tempat kosong di tengah-tengah mereka.


“Tidurlah di tengah kak, karena hari ini kak Iren adalah ratunya.” Ucap Aleena.


“Kalian itu ada-ada saja deh.” Ucap Irene yang akhirnya berbaring di tempat kosong yang di berikan oleh adik-adiknya.


Saat Irene sudah berbaring, tiba-tiba saja semuanya memeluk tubuh Irene dan membuatnya merinding karena geli.


“Hey kalian semua kenapa memelukku begitu sih?” ucap Irene sambil mencoba untuk melepaskan pelukan adik-adiknya.


“Kak, kami sangat menyayangimu dan kami benar-benar merasa akan kehilanganmu setelah kamu menikah nanti..” ucap Queen dengan manjanya.


“Yaampun kalian ngapain merasa kehilangan? Aku kan tidak kemana-mana.” Ucap Irene.


“Kak Daniyal kan ternyata pengusaha, bagaimana kalau dia akan membawa kakak ke luar negeri karena dia ingin membuka cabang di sana?” tanya Queen.


“Kamu terlalu berfikir kejauhan Queen, lagi pula kak Daniyal tidak pernah membicarakan tentang hal itu.” Ucap Irene.


“Kalau sampai dia memang mengajakku tinggal di luar negeri aku akan sering mengunjungi kalian jadi kalian tenang saja ya..” ucap Irene memberi jawaban.


“Benarkah kak? Jangan berubah ya kak, tetap menjadi kakak yang baik dan selalu menjadi panutan untuk kami semua..” ucap Nancy.


“Aku tidak akan berubah, aku akan menjadi contoh yang baik untuk kalian dan aku sangat menyayangi kalian semua.” Ucap Irene.


“Semoga kak Iren dan kak Daniyal adalah jodoh sehidup semati, aku ingin kak Iren bahagia dan itu sudah lebih dari cukup untukku.” Ucap Aleena.


“Udah ah jangan ngomong terus yang ada nanti aku jadi sedih dan membatalkan acara ini.” Ucap Irene.


“Jangan kak!! Baiklah ayo kita tidur..” ucap semuanya.


“Baiklah, selamat malam semuanya, aku menyayangi kalian..” ucap Irene.


“Kami juga menyayangi kak Iren..” seru semuanya secara bersamaan.


Akhirnya mereka berlima segera menutup kedua matanya dan tertidur dengan pulas.


Sedangkan di sisi lain, seperti biasanya Gilang memeriksa keadaan putri-putrinya secara berurutan dari Queen dan seterusnya sampai ke kamar Irene sebelum dia tertidur.


Namun dia tidak mendengar suara apapun di dalam kamar anak-anaknya karena biasanya jam segitu mereka masih belum tertidur, akhirnya Gilang memutuskan untuk membuka pintu kamar anak-anaknya tanpa mendengar


persetujuan dari mereka.


Akhirnya Gilang berjalan ke kamar Irene untuk bertanya tentang keberadaan adik-adiknya, namun dia juga tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar putri sulungnya dan akhirnya Gilang mencoba untuk membuka pintu kamar Irene.


Dan Gilang terkejut saat melihat kelima putrinya sedang tertidur sambil berpelukan satu sama lain, lalu senyum hangat mengembang di wajahnya yang sudah berkeriput dan air mata menetes di pipinya melihat kedekatan anak-anaknya.


“Lihatlah Rindi, putri-putri kita sangat saling menyayangi satu sama lain dan mereka sudah sangat dewasa sekarang, akan sangat sempurna kalau kamu masih berada di sini dan melihat mereka berlima seperti ini.” Gumam


Gilang sambil mengelap air matanya dan menutup kembali pintu kamar Irene.


***


Hari pertunangan pun telah tiba, pagi itu Aleena, Nancy, Ratu dan Queen sibuk memakai gaun mereka masing-masing, sedangkan Gilang yang sudah rapih dengan stelan jasnya sudah berdiri di depan untuk menyambut para


tamu undangan.


“Om, sebaiknya om Gilang duduk saja jangan di sini om.” Ucap Abizar.


“Tidak apa Abizar, tuan rumah harus menyambut tamu undangan di depan karena tidak sopan jika aku hanya duduk di dalam tanpa menyambut mereka.” Ucap Gilang.


“Baiklah kalau begitu aku akan mengambilkan kursi agar om bisa duduk.” Ucap abizar yang di balas anggukan oleh Gilang.


Dengan segera Abizar berjalan masuk ke dalam untuk mengambil kursi agar Gilang bisa duduk saat tidak ada tamu yang datang.


“Kak Abizar, kamu mau kemana?” tanya Aleena saat melihat Abizar sibuk membawa kursi.


“Ah ini untuk papi kamu, kasihan dia berdiri, jadi saat tidak ada tamu biar dia bisa duduk.” Jelas Abizar sambil melihat ke arah Gilang.


“Terimakasih ya kak, kakak sudah sangat perhatian kepada papiku.” Ucap Aleena dengan senyum manisnya.


“Kenapa kamu harus berterimakasih? Aku lah yang harusnya berterimakasih karena papi kamu sudah membuat anak yang sangat cantik untukku seperti ini.” Ucap Abizar.


Aleena tersenyum malu mendengar ucapan Abizar, Abizar selalu bisa membuatnya tersipu malu dan merasa nyaman berada di dekatnya.


“Kak Aleen, kamu ngapain di sini kak? Ayo kita ke kamar kak Iren.” Ajak Nancy membuat Aleena yang awalnya tersenyum tiba-tiba saja diam lalu menoleh ke arah sang adik.


“Ah iya kamu benar, kalau begitu aku titip papi ya kak Abizar, aku ke kamar kak Iren dulu.” Ucap Aleena yang di balas anggukan oleh Abizar.


Tidak jauh dari Aleena dan Nancy, Ratu dan Queen berdiri di depan pintu rumah sejak tadi sambil melihat interaksi antara Aleena dan Abizar sejak tadi.


“Lihat bukan? Kak Aleena tersipu malu setelah kak Abizar mengatakan sesuatu.” Ucap Queen kepada Ratu.


“Memang apa yang salah? Kak Aleena memang ramah kepada semua orang Queen.” Balas Ratu.


“Tidak Ratu, apa kamu tidak bisa membedakan mana senyum ramah dan mana senyum karena tersipu malu?” tanya Queen.


“Duh udah deh jangan bahas apapun lagi, ayo sebaiknya kita masuk karena kak Nancy dan kak Aleena sudah berjalan ke arah kita.” Ucap Ratu yang berjalan masuk ke dalam rumah.


“Kamu harus mendengarkanku Ratu! Sebentar lagi akan ada pernikahan ke dua dan dengan bodyguardnya sendiri!” teriak Queen sambil berlari karena Ratu tidak mendengarkannya dan hanya berjalan begitu saja.


Setelah Aleena, Nancy, Ratu dan Queen sudah berada di depan kamar Irene, mereka ber empat memutuskan untuk masuk ke dalam.


“Hai kak Iren…” sapa semuanya secara bersamaan membuat Irene menoleh ke asal suara.


“Hai, kalian semua datang kemari? Masuklah..” ucap Irene dengan tersenyum senang.


Dan akhirnya ke empat adiknya masuk ke dalam melihat para penata rias merias wajah Irene dengan hati-hati.