MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 122 (MENGETAHUI TENTANG RINDA)



Daniyal terus saja mendengarkan ucapan istrinya dan tidak berniat untuk membuka kedua matanya sama sekali karena dia sangat menyukai semua ucapan Irene tentang pujian untuk dirinya.


Sampai akhirnya Daniyal merasakan nafas yang berhembus halus semakin mendekati wajahnya membuat Daniyal terkejut karena mengetahui kalau istrinya mau manciumnya.


Tentu saja hal itu adalah hal yang langka karena selama ini Irene tidak pernah berinisiatif untuk mencium dirinya lebih dulu.


Daniyal hanya diam saja ingin menikmati ciuman dari sang istri, tapi ternyata Irene bukan menciumnya, dia malah mengambil sesuatu dari wajahnya sampai akhirnya Daniyal yang kesal karena Irene tidak jadi menciumnya segera membuka kedua matanya.


Melihat suaminya sudah membuka kedua matanya membuat Irene terkejut dan mau berdiri, namun Daniyal lebih cepat menarik tangan Irene dan tangan satunya memegang tengkuk Irene yang membuat mereka akhirnya berciuman.


“Yaampun kak! Kamu sudah bangun sejak kapan?” tanya Irene yang sudah berhasil lepas dari ciuman Daniyal.


“Bukannya kamu tadi mau menciumku? Kenapa tidak jadi?” tanya Daniyal.


“Siapa yang mau nyium kamu sih? Ada kotoran diwajah kamu makanya aku bantu ambil.” Jelas Irene.


“Kotoran? Ah aku kira kamu akan menciumku.” Ucap Daniyal kesal.


“Kamu aja main nyosor! Kamu ga takut kalo ada orang lain selain aku?” ucap Irene.


“Tidak mungkin ada orang lain, karena aku tau kamu ga mungkin ngomong kayak gitu kalo ada orang lain.” Ejek Daniyal sambil menjulurkan lidahnya.


“Apa?! Jadi kamu mendengar semua yang aku katakan?” tanya Irene.


“Tentu saja, sejak kamu masuk aku sebenarnya sudah bangun, tapi pura-pura tidur aja.” Jelas Daniyal sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Ih menyebalkan! Kamu sangat menyebalkan!” ketus Irene sambil memukuli dada bidang Daniyal.


“Aw sakit sayang jangan pukul aku begitu.” Ucap Daniyal sambil memegang tangan Irene yang memukulinya.


“Kamu menyebalkan! Kenapa kamu suka sekali menguping sih?” ucap Irene.


“Memangnya ada yang salah? Aku hanya menguping istriku yang berbicara sendiri kok.” Ucap Daniyal.


“Aku tarik semua ucapanku tadi! Semoga saja anak kita nanti akan mirip sepertiku dan tidak menyebalkan seperti kamu!” ucap Irene yang langsung berjalan ke meja kerjanya.


Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal langsung duduk dan melihat Irene yang kesal dengannya.


“Kenapa di tarik ucapannya? Dia akan sangat tampan sepertiku sayang..” ucap Daniyal.


Irene hanya diam saja tanpa menggubris ucapan suaminya itu, lalu dengan segera Daniyal beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri istrinya yang sedang kesal dengannya.


“Sayang, jangan marah gitu dong..” ucap Daniyal sambil memeluk tubuh Irene dari belakang.


“Jangan ngerayu deh!” ketus Irene.


“Hahaha, udah ah ayo kita makan siang, aku di sini untuk menjemputmu loh.” Ucap Daniyal.


“Oh iya sayang, tadi aku liat ada foto kamu dan seorang wanita yang mirip dengan mami kamu.” ucap Daniyal mencoba untuk memulai pembicaraan.


Irene langsung menoleh ke arah bingkai foto yang di maksud Daniyal, dia tau betul foto apa yang di maksud


Daniyal.


“Ini adalah fotoku dengan tante Rinda, dia adalah saudara kembar mami kak.” Ucap Irene yang membuat Daniyal terkejut bukan main.


“S-saudara kembar? Mami kamu punya saudara kembar?” tanya Daniyal.


“Dan semenjak itu mamiku mengajak tante Rinda tinggal di rumah untuk membuatnya sedikit tenang dan bisa melupakan kesedihannya karena ada aku, Aleena dan Nancy waktu itu.” Lanjutnya.


“Lalu bagaimana dia bisa berada di rumah sakit jiwa?” tanya Daniyal.


“Hem? Dari mana kak Daniyal tau kalau tante Rinda ada di rumah sakit jiwa?” tanya Irene.


Mendengar pertanyaan Irene membuat Daniyal membeku, dia benar-benar lupa kalau Irene tidak pernah memberitahunya tentang rumah sakit jiwa.


“Bodoh Daniyal bodoh!” batin Daniyal di dalam hatinya sambil melihat sekeliling untuk mencari jawaban.


“Ah iya, aku melihat tulisan di foto yang kamu pajang itu, di ujung bawah ada tulisan nama rumah sakitnya.” Ucap


Daniyal yang melihat ada tulisan nama rumah sakit di bagian ujung foto Irene dan Rinda.


“Yaampun kamu bisa melihatnya? Aku aja ga tau kalo ada nama rumah sakitnya di foto itu.” Ucap Irene.


“Jadi setiap kalian tidak ada jadwal dan menyuruh kami libur itu karena kalian ingin melihat tante Rinda ini?” tanya Daniyal.


“Iya, tapi hanya papi yang jarang melihat tante Rinda karena tenta Rinda mengingatkan papi dengan mami dan membuatnya semakin sedih dan merasa bersalah.” Jelas Irene.


“Yah memang tante kamu ini benar-benar mirip sekali sama mami kamu, mungkin orang yang tidak tau akan mengira kalau mami kamu masih hidup.” Ucap Daniyal.


“Hem, hari itu adalah hari yang tidak pernah aku dan Aleena lupakan, karena hal itu aku dan Aleena memiliki trauma kegelapan dan juga trauma bertemu dengan orang banyak, kita juga harus melakukan terapi bertahun-tahun dan melakukan home schooling.” Jelas Irene.


Mendengar penjelasan Irene membuat Daniyal merasa kasihan karena dia tidak tau kalau rasa sakit Irene begitu


besar.


“Bisakah kamu ceritakan bagaimana kalian bisa sampai di culik?” tanya Daniyal.


“Yah ceritanya panjang kak, aku dan Aleena yang nakal karena tidak menuruti ucapan mami untuk menunggunya, kami malah berjalan-jalan dan bertemu orang jahat yang di yakini mereka adalah orang suruhan musuh papi.” Ucap Irene.


“Lalu di saat kami sudah tidak bisa melakukan apapun, mami juga sudah terkulai lemas di lantai karena pukulan orang-orang itu, ada seorang tante yang baik hati menolong kami, dia melindungiku dan Aleena dari pukulan orang-orang itu.”


“Sampai akhirnya polisi datang dan ternyata tante itu sudah menghubungi polisi sebelum dia menolong kami.” Jelas Irene sambil menahan air matanya agar tidak keluar.


“Menangislah sayang, kalau kamu mau menangis maka menangislah.” Ucap Daniyal yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Irene.


Melihat suaminya yang sudah siap untuk di peluk membuat Irene tersenyum senang dan langsung berlari memeluk tubuh Daniyal dan tangisnya pecah di pundak Daniyal.


“Apa kamu sudah mengetahui siapa wanita itu?” tanya Daniyal.


“Belum, papi tidak bisa menemukan identitasnya jadi kami tidak tau di mana keluarganya berada, bahkan di detk terakhirnya dia tidak bisa melihat keluarganya.” Ucap Irene.


“Tapi anehnya, sebelum di kubur mayat tante itu menghilang di ambil orang kak, kami benar-benar merasa bersalah


sampai saat ini karena hal itu, kami tidak tau apakah dia di makamkan dengan layak atau tidak.” Ucap Irene


“Bagaimana mayatnya bisa hilang?” tanya Daniyal dengan santai.


Karena Daniyal sudah tau kalau hal itu adalah perbuatan papinya, sang papi menyuruh seseorang untuk mengambil jasad maminya setelah mendengar tentang kejadian itu.


“Aku juga ga tau kak, bahkan cctv saat itu kebetulan sedang mati dan papi ga bisa mengetahui siapa yang menculik mayat itu.” Jelas Irene.


“Sudahlah, dia adalah orang baik jadi dia pasti sudah tenang di sana.” Ucap Daniyal menenangkan.