MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 82 (RENCANA BULAN MADU)



Alena berjalan melewati lobby perusahaan dengan anggun, dia menyapa semua karyawan dengan ramah begitu juga para karyawan yang membalas sapaannya.


“Hai kak Aleena..” Sapa Elif yang sudah ada di sebelahnya.


“Hai juga kak bodyguard…” sapa Elif kepada Abizar yang ada di belakang Aleena.


“Hai Elif bagaimana keadaan hari ini?” tanya Aleena.


“Baik sekali, perusahaan juga sepi sekali karena kak Iren tidak ada di sini.” Ucap Elif.


“Hahaha, kakak meminta cuti untuk seminggu karena dia ingin berbulan madu, benar-benar bulan madu yang mendadak memang karena kita juga tidak ada yang mengetahui tentang bulan madunya itu.” Jelas Aleena.


“Haah semoga saja kak Iren segera memberikan kita keponakan yang menggemaskan.” Ucap Elif sambil tersenyum penuh harap.


Aleena juga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, keduanya sudah senang sekali walaupun hanya memikirkannya saja.


Sedangkan Abizar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua wanita itu benar-benar sulit di mengerti pikirnya.


“Kenapa semua wanita bahagia hanya karena hal-hal yang tidak jelas.” Gumam Abizar.


Abizar berjalan menekan tombol lift selagi Aleena dan Elif masih tertawa bersama.


“Aleena, pintu lift sudah terbuka.” Ucap Abizar.


Namun Aleena sama sekali tidak mendengarnya karena masih asik tertawa dengan Elif.


“Aleena!!” ucap Abizar kembali dengan nada yang makin tegas membuat Aleena menoleh ke arah Abizar.


“Eh kak…” ucap Aleena.


“Liftnya.” Ucap Abizar dengan singkat sambil melirik ke arah pintu lift yang sudah terbuka.


“Ah maaf kak, Elif aku ke atas dulu ya kalau ada apa-apa kamu bisa langsung ke ruanganku aja.” Ucap Aleena yang di balas anggukan oleh Elif.


Di dalam lift Abizar hanya diam seribu bahasa, sedangkan Aleena yang tau kalau Abizar sedang kesal dengannya hanya bisa melihat ke arah Abizar dengan wajah imutnya.


“Jangan melihatku seperti itu! Itu tidak akan mempan kepadaku!” ketus Abizar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Aleena.


“Cih! Dasar menyebalkan! Aku kan cuma mengobrol tapi kamu marah sampai seperti ini!” gumam Aleena yang masih bisa di dengar oleh Abizar.


“Aku marah karena kamu tidak mendengarkan aku Aleena, saat ini kamu sudah berada di perusahaan bukankah seharusnya kamu bersikap sedikit lebih dewasa?” tanya Abizar dengan tegas.


Aleena terkejut mendengar ucapan Abizar, dia tau kalau mereka sudah membuat kesepakatan, Aleena meminta Abizar memantaunya dan membantunya untuk belajar bertanggung jawab karena dia ingin menjadi seperti Irene, namun mungkin sikap Aleena benar-benar masih seperti anak kecil dan itulah yang membuat Abizar kesal.


“Maaf.” Ucap Aleena sambil menundukkan kepalanya.


Abizar menoleh ke arah Aleena, lalu pintu lift terbuka begitu saja membuat Abizar kembali melihat keluar lift dan keluar dari lift.


“Aleena?” ucap Abizar saat melihat Aleena masih berdiri menunduk di dalam lift.


Abizar yang sudah tidak sabar segera menarik tangan Aleena dan membawanya menuju ruangannya.


“Masuklah.” Ucap Abizar.


Setelah menutup pintu ruangan Aleena, tiba-tiba saja Abizar memeluk tubuh Aleena dengan erat sambil mengelus rambutnya dengan lembut.


“Maafkan aku, aku tiba-tiba sangat senang saat kamu bilang ingin berubah dan aku jadi semakin serakah dan ingin kamu erubah secepatnya.” Jelas Abizar.


“Aku juga minta maaf karena sudah bersikap seperti anak kecil lagi.” Balas Aleena.


“Sudahlah jangan sedih lagi, kita lakukan perlahan oke? Pasti kamu bisa berubah kok.” Ucap Abizar.


Aleena hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Abizar, dia beruntung memiliki orang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi.


“Udah ayo kembali bekerja, sepertinya Elif sudah mengubah jadwalmu selama seminggu kedepan.” Ucap Abizar.


“Iya, kakak yang menyuruh Elif untuk mengatur ulang jadwalku karena dia ingin aku belajar untuk memahami perusahaan.” Jelas Aleena.


***


FLASHBACK


Malam hari di rumah Daniyal dan Irene, hari ini adalah hari pertama Irene tidur di tempat yang menurutnya asing, rasanya sangat canggung sekali karena merasa kurang nyaman.


Waktu di hotel dia tidak merasa tidak nyaman karena dia sudah terbiasa tidur di hotel saat berpergian, tapi ini berbeda Irene juga tidak tau kenapa dia merasa canggung tidur di kamar yang megah itu.


Daniyal yang tau kalau istrinya itu gelisah segera membuka kedua matanya dan memeluk tubuh Irene dari belakang.


Irene yang tiba-tiba mendapatkan pelukan dari suaminya itu hanya bisa menahan nafasnya entah kenapa, lalu dia menoleh dan berbalik arah.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Daniyal.


“Aku ga tau ga bisa tidur.” Jawab Irene.


“Sini biar aku peluk biar kamu tidur.” Ucap Daniyal sambil memeluk tubuh Irene semakin erat.


Irene yang mendapatkan perlakuan manis dari Daniyal itu hanya bisa tersenyum bahagia, namun dia takut kalau Daniyal tidak benar-benar menyukainya, dia takut kalau Daniyal hanya memanfaatkannya saja.


“Kak..” panggil Irene.


“Hem, ada apa?” tanya Daniyal.


“Jawab jujur, kenapa kamu memutuskan untuk menikah denganku?” tanya Irene.


“Karena aku menyukaimu.” Ucap Daniyal.


“Benarkah? Sejak kapan?”


“Sebenarnya sejak pertama aku bertemu denganmu karena kamu sangat cantik dan terlihat dewasa, tapi sekarang aku juga semakin menyukaimu setelah mengetahui kalau kamu sebenarnya orang yang sangat baik.” Jelas Daniyal.


“Jadi kamu bener-bener ga rela aku di jodohkan sama Tommy?” tanya Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.


“Terus kenapa ga dari dulu aja melamarku, pasti papi setuju selama kamu memiliki tanggung jawab terhadap perusahaanmu.” Ucap Irene.


“Karena awalnya aku niat bekerja dan mengasingkan diri, mana aku tau kalo aku bakalan menyukaimu.”


“Ah benar juga ya.. Aku hanya takut kalau suatu saat kamu berubah menjadi dingin padaku.” Ucap Irene.


Daniyal terdiam tanpa mengeluarkan suara saat Irene mengatakan hal seperti itu padanya.


“Aku takut kalau aku sudah terbiasa dengan perlakuan manismu dan suatu saat kamu berubah tiba-tiba.” Sambung Irene.


“Haah,, tidak akan, aku akan tetap memperlakukanmu dengan manis.” Ucap Daniyal sambil mengeratkan pelukannya.


“Terimakasih suamiku sayang…” ucap Irene dengan malu-malu.


“Kenapa harus berterimakasih? Itu memang sudah tugasku sebagai seorang suami bukan?” ucap Daniyal.


“Hemm, ga apa-apa berterimakasih kan ga ada salahnya kok, maaf dan terimakasih itu harus ada untuk saling menghormati, dan aku menghormatimu sebagai suamiku.” Ucap Irene.


Daniyal sudah sering mendapatkan pujian atau kata-kata manis dari banyak wanita, namun kata-kata Irene adalah hal yang berbeda, jantung Daniyal berdegup kencang hanya beberapa kata manis dari Irene.


“Apa-apaan hatiku ini! Aku sudah sering mendapatkan kata-kata manis seperti ini tapi tidak pernah merasa deg-degan seperti ini.” Batin Daniyal.


“Ah iya, ayo kita liburan.. Aku sudah menyuruh Tiko untuk mengatur jadwalmu dan jadwalku selama seminggu jadi kita bisa liburan ke tempat yang kamu inginkan.” Ucap Daniyal.


“Liburan? Seperti bulan madu begitu?” tanya Irene dengan semangat.


“Yap! Bulan madu, bagaimana?” tanya Daniyal.


“Mau, aku mau! Tunggu aku akan hubungi Elif untuk mengatur jadwal Aleena biar dia juga bisa mulai belajar tentang perusahaan selama aku tidak ada.” Jelas Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.


Irene dengan semangat menghubungi Elif untuk mengatur jadwal Aleena selama seminggu kedepan.