
Irene dan Daniyal sudah berada di dalam mobil menuju taman kota yang sudah di tentukan oleh Daniyal.
“Apa kamu sudah memesan café untuk kami? Aku ingin hanya ada kita di dalam café itu.” Ucap Irene.
“Sudah semuanya, aku sudah memean seluruh café agar bisa di nikmati oleh kalian.” Jelas Daniyal.
“Good! Lalu, kamu sudah menyuruh Elif menyiapkan semua berkasnya bukan?” tanya Irene.
“Hm, dia hanya tinggal foto copy beberapa berkas lalu akan menyusul ke café.” Jawab Daniyal.
“Baiklah bagus kalau semuanya sudah siap, aku harus melihat dan menata meja kita dengan tanganku sendiri sesampainya di sana.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.
Daniyal sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Irene yang sangat mencintai kebersihan itu, dia selalu menyediakan apapun yang di butuhkan Irene untuk membersihkan meja makan.
“Aku sudah membawa peralatan untuk membersihkan meja, kamu masuklah lebih dulu aku akan membawakannya kepadamu.” Ucap Daniyal yang langsung berjalan ke belakang mobil dan membuka bagasi.
Setelah mengambil semua peralatannya, Daniyal segera masuk ke dalam café dan memberikan semuanya kepada Irene.
Irene terkejut melihat Daniyal yang membawa semua peralatan kebersihannya, Irene tidak menyangka kalau Daniyal sudah hafal kebiasaannya walaupun baru beberapa hari bekerja dengannya.
“Terimakasih Daniyal, kamu memang tau apa yang paling aku butuhkan.” Puji Irene.
Daniyal hanya tersenyum sambil mengangguk pelan ke arah Irene, lalu meninggalkannya mengurus mejanya sendiri, karena Daniyal tau kalau percuma saja jika menawarkan bantuan kepada Irene dia tidak akan mau.
Daniyal duduk di kursi yang berada tidak jauh dari meja yang sedang di bersihkan oleh Irene. Daniyal terus memperhatikan Irene.
Namun Daniyal sama sekali tidaka tertarik dengan Irene, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya dia membuat Irene menyukainya dengan cepat karena baru saja dirinya menerima penolakan dari Irene.
Sedangkan Irene yang sadar kalau dari tadi dirinya terus di perhatikan oleh Daniyal hanya bisa meneruskan pekerjaannya seolah-olah tidak melihat Daniyal yang terus memperhatikannya.
“Sebenarnya kenapa sih dia ngeliatin aku terus begitu? Dia ga mungkin serius soal ucapannya yang tadi bukan?” gumam Irene yang terus mengelap meja sambil meneliti kembali apakah masih ada debu yang menempel di sana atau tidak.
Sedangkan di sisi lain, Aleena dan Abizar yang sudah sampai perusahaan langsung di cegat oleh salah satu karyawan yang ada di sana.
“Kak Aleen, kenapa kakak kemari?” tanya karyawan kakaknya.
“Emangnya kenapa? Aku mau bekerja lah emang aku ga boleh datang?” tanya Aleena yang heran dengan pertanyaan karyawan kakaknya.
“Apa kak Iren ga ngasih tau kak Aleen kalau rapat di ubah tempat di café yang ada di taman kota? Baru aja kak Elif berangkat menyusul kak Iren.” Jelas karyawan tersebut.
Aleena bingung karena Irene tidak memberitahunya tentang perpindahan tempatnya, bahkan Aleena berfikir kalau kakaknya tidak ingin memakainya sebagai model perusahaannya lagi.
“Bagaimana ini? Apa kak Iren udah ga mau memakaiku lagi karena masalah tadi? Apa papi dan kak Iren tau tentang hubungan kita?” tanya Aleena dengan khawatir.
“Jangan bicara seperti itu, kakakmu mungkin lupa karena terlalu sibuk menyiapkan perubahan tempat ini.” Ucap Abizar yang berusaha untuk membuat Aleena tidak khawatir berlebihan.
“Ayo aku akan mengantarmu ke tempat itu.” Ajak Abizar.
Aleena langsung menganggukkan kepalanya dan segera mengikuti Abizar masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke tempat yang baru saja di ubah.
Sepanjang jalan Aleena terus saja diam sambil menatap ke luar jendela, membuat Abizar sedikit merasa khawatir.
“Apa kamu masih memikirkan tentang perpindahan tempat?” tanya Abizar.
“Hm,, aku takut kalau kak Iren marah padaku.” Jawab Aleena.
“Setauku kak Iren sangat menyayangi adik-adiknya, aku yakin dia ga mungkin marah hanya karena hal seperti itu.” Ucap Abizar.
“Hm kamu benar, aku akan membicarakan hal ini kepada kak Iren nanti.” Ucap Aleena.
Abizar menoleh ke arah Aleena, dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Aleena yang sedang berada di atas kakinya.
“Aku akan berusaha untuk membuat keluargamu merestui hubungan kita.” Ucap Abizar dengan lembut.
“Terimakasih… Karena kamu sudah hadir di dalam hidupku, baru kali ini aku menyukai seseorang.” Ucap Aleena.
Abizar hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus menyetir mobilnya menuju café yang ada di taman kota.
“Sudah sampai, ayo kita turun.” Ajak Abizar yang membuat Aleena tersadar lalu menoleh ke luar jendela.
“Ah iya, pasti kak Iren sedang membersihkan meja yang akan dia tempati deh.” Ucap Aleena yang melihat Irene sedang sibuk mengelap meja dari kejauhan.
Aleena dan Abizar memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri Irene dan Daniyal yang sudah ada di dalam café.
“Hai Abizar!” sahut Daniyal saat melihat Abizar yang sudah masuk ke dalam café.
“Hai kak Dani,.. Aku ke sana dulu ya..” ucap Abizar kepada Aleena setelah menyapa Daniyal.
Aleena segera menganggukkan kepala dan berjalan menghampiri kakaknya dan Abizar menghampiri Daniyal yang sedang duduk di kursi lain.
“Gimana? Sepertinya informasi dariku bisa membuat kalian semakin dekat?” tanya Abizar dengan suara kecil.
“Apanya! Dia menolakku mentah-mentah saat aku berusaha untuk mendekatkan diri.” Ketus Daniyal.
“What!? Ga mungkin! Sedingin apapun sikap perempuan, aku yakin dia akan luluh jika ada lak-laki yang menghiburnya di saat dia sedang memiliki masalah.” Jelas Abizar.
“Tapi kamu tau kalau dia berbeda Abizar..”
“Engga kak, kamu harus semakin gigih mendekatinya, aku yakin setidaknya hatinya berdebar saat kamu ada di saat dia memiliki masalah.” Ucap Abizar.
Daniyal hanya menghela nafas panjang sambil menaikkan kedua bahunya.
Di sisi lain, Aleena menyapa kakaknya yang sedang sibuk membersihkan meja.
“Hai kak, apa kakak baik-baik saja?” tanya Aleena.
Irene menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke arah adiknya.
“Baik-baik saja? Emangnya aku kenapa? Aku selalu baik-baik saja kok..” jawab Irene.
“Mengenai papi,, apa papi memarahi kak Iren?” tanya Aleena dengan ragu.
“Kenapa kamu gugup seperti itu? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Irene.
“Hah? Eh, engga kok kak, aku takut papi memarahi kak Iren karena kami.” Ucap Aleena.
“Kamu tenang aja Leen, akan aku pastikan kamu dan Abizar bisa bersama tanpa halangan dari papi.” Ucap Irene.
Mendengar ucapan kakaknya membuat Aleena terkejut dan menoleh melihat wajah kakaknya dengan seksama.
“K-kak…”
“Kenapa? Kamu kaget kenapa aku bisa tau tentang hubungan kalian berdua?” tanya Irene.
“K-kakak sudah tau lalu kenapa diam saja?” tanya Aleena.
“Bukannya kamu tau prinsipku adalah membahagiakan adik-adikku, aku ingin kalian semua bahagia dengan laki-laki pilihan kalian sendiri.” Ucap Irene.
“Tapi, sebenernya papi ga pernah mementingkan status, tapi mungkin papi kurang suka kalau salah satu anaknya menyukai orang yang seharusnya setia bekerja dengannya.” Jelas Irene.
“Tapi kamu tenang aja, selama papi sudah memiliki satu saja menantu yang bisa dia andalkan untuk urusan perusahaan, aku yakin kalau dia akan merestui yang lain memilih laki-laki pilihan mereka sendiri.” Lanjut Irene.
“A-apa maksud kak Iren? Jangan-jangan,,, kak Iren ga akan menerima perjodohan yang papi siapkan bukan?” tanya Aleena.
Irene hanya diam tidak menjawab pertanyaan adiknya, dia hanya menoleh sambil tersenyum ke arah adiknya.. Tentu saja Aleena tau betul ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh kakaknya, dia tidak terima jika kakaknya harus memilih laki-laki yang tidak dia sukai hanya karena kebahagiaan adik-adiknya.