
Cinta adalah pemberian terbaik, cinta juga adalah penghargaan terbesar untuk yang menerimanya.
...****************...
“Jadi bagaimana?” tanya Gilang kembali.
“Hah? Maksud papi gimana apanya nih?” tanya Irene tidak mengerti.
“Kamu ini pura-pura ga tau apa gimana sih Iren? Gimana Tommy menurut kamu?” tanya Gilang.
“Baik kok pi, orangnya baik, ramah, pinter juga sih keliatan dari cara dia ngomong.” Jawab Irene.
Mendengar hal itu membuat Gilang tersenyum bahagia, pasalnya anak sulungnya ini jarang sekali memuji seseorang terutama laki-laki.
Sedangkan Irene tau betul apa yang sedang di pikirkan oleh papinya melihat dari senyumannya.
“Tapi pi, Iren merasa ga cocok aja kalo untuk jadi lebih dari temen.” Sambung Irene yang membuat wajah papinya berubah.
“Maksudnya? Kamu tidak mau di jodohkan dengannya?” tanya Gilang.
Irene hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil memastikan ekspresi wajah sang papi, namun Gilang hanya menghela nafas panjang dan semakin membuat Irene gugup sampai menelan salvilanya.
“P-papi..” panggil Irene dengan ragu, namun Gilang masih saja diam tanpa mengatakan apapun.
“Papi jangan nakutin Iren dong…” rengek Irene sambil memegang tangan papinya.
“Sudahlah, papi juga ga bisa memaksa kamu, tapi bisakah kamu jangan langsung menolaknya? Bisakah kamu bertemu beberapa kali dulu dengannya baru memutuskan?” tanya Gilang.
“Baiklah pi, Iren akan bertemu dengannya beberapa kali, tapi kalau Irene tetap tidak cocok jangan maksa ya, walaupun Irene cuek tapi Irene cuma mau menikah sekali seumur hidup.” Jelas Irene.
“Papi ga akan memaksa kamu kok, papi juga mau kamu bahagia, papi menjodohkanmu untuk mencari yang terbaik untukmu, papi tidak mau sampai kamu tidak menikah karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.” Jelas Gilang.
Irene hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada papinya, dia juga sebenarnya sangat ingin menikah dengan seseorang yang sangat menyukainya dan dia sukai, tapi apa daya kalau hati belum merasa yakin Irene juga tidak bisa memaksakan.
...****************...
Di sisi lain, Daniyal pulang lebih dulu saat mendapat telfon dari pelayan rumahnya, Daniyal sengaja tidak memberitahu papinya dan menyuruh pelayannya tidak memberitahu papinya tentang hal ini.
“Tuan Daniyal…” sapa pelayan yang tadi menghubunginya.
“Di mana Abizar?” tanya Daniyal.
“Di kamarnya tuan, tadi tuan Abizar pulang-pulang udah marah-marah gitu sampe banting pintu kamar, padahal biasanya ga pernah begitu.” Jelasnya.
“Hm, baiklah bi makasih banyak karena sudah merawat Abizar, bibi bisa kembali melakukan pekerjaan bibi, biar aku yang melihatnya.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh pelayannya.
Daniyal menaiki tangga dan berjalan menuju kamar adiknya lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu karena dia penasaran dengan apa yang terjadi kepada sang adik.
“Abizar,, ini Daniyal, kakak masuk ya…” ucap Daniyal yang langsung membuka pintu kamar Abizar tanpa mendengar persetujuan dari Abizar.
Saat berada di dalam kamar adiknya, Daniyal melihat Abizar sedang merokok di balkon kamarnya dengan wajah frustasi, dengan yakin Daniyal menghampiri adiknya.
“Kamu kenapa Abizar? Tadi kamu habis kemana sampe ga ke perusahaan?” tanya Daniyal.
“Kamu kenapa sih!? Ngomong sama kakak, kamu habis dari mana sampe kamu jadi gila gini!” ketus Daniyal sambil memegang pundak sang adik.
“Kamu bakalan ngelakuin hal yang sama kayak aku kak, bahkan kamu bisa lebih parah di bandingkan aku.” Ucap Abizar.
“Maksudnya apaan sih! Ga usah basa-basi! Cepet ngomong!” ketus Daniyal.
“Kamu tau kak? Kita hampir ketipu sama keluarga itu! Kakak tau, kalau mami mereka masih hidup kak! Mami mereka ada di rumah sakit jiwa di kota terpencil, mereka masih bisa melihat mami mereka, sedangkan mami kita pergi untuk selamanya!” jelas Abizar dengan wajah memerah.
Mendengar penjelasan adiknya membuat Daniyal mengerutkan keningnya, dia tidak percaya dengan ucapan sang adik dan masih mencoba menelaah ucapannya.
“Apa katamu barusan? Coba ulangi perkataanmu!!” teriak Daniyal.
“Telingamu baik-baik saja kak, ucapanku benar jika mereka masih memiliki mami!” ketus Abizar dengan wajah yang tersenyum pahit.
“Bagaimana bisa kita terlalu bodoh dengan drama keluarga mereka yang mengadakan peringatan kematian mami kita dan mami mereka, cih! Munafik!!” ketus Abizar.
Daniyal benar-benar tidak percaya akan hal ini, tubuhnya lemas, kakinya sudah tidak mampu untuk berdiri, dia selalu berusaha membuat papinya menghilangkan dendamnya karena menurutnya Gilang dan keluarganya adalah orang yang baik.
Namun dia salah, semua yang dia ucapkan salah, Gilang dan keluarganya sama sekali tidak baik, mereka menutupi kebenaran yang membuatnya dan adik-adiknya merasa sakit hati.
“Aku akan segera bertindak! Aku akan membuat anaknya menderita di tanganku!” gumam Daniyal sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Gimana caranya kak? Kakak ga bisa memilikinya karena dia sudah di jodohkan sama kak Tom, sahabat kakak sendiri, kan kakak juga yang bilang kalo kakak bakal menyerah untuk menikahi wanita itu.” Ucap Abizar.
“Ga usah di pikirkan, aku akan merebutnya, aku ga perduli kalo hubungan persahabatanku dan Tom hancur, balas dendam ini lebih penting di bandingkan apapun!” ketus Daniyal yang segera berjalan keluar dari kamar meninggalkan Abizar yang masih berdiri di balkon.
“Lihatlah, kalian semua akan tamat karena kak Daniyal sudah sangat kesal sekarang.” Gumam Abizar sambil menatap punggung Daniyal yang sudah keluar dari kamarnya.
Daniyal terkejut melihat di depan pintu kamar Abizar, Adyatma sudah berdiri dengan wajah terkejut, tentu saja Daniyal tau kalau adik bungsunya itu pasti sudah mendengar semuanya.
“Kak,, tadi…” ucap Adyatma terbata-bata.
“Jangan sampai papi mengetahui hal ini!” ketus Daniyal yang langsung berjalan melewati Adyatma yang belum selesai bertanya.
Para pelayan terkejut melihat Daniyal yang keluar dari kamar Abizar dengan wajah yang kesal dan segera menuruni tangga dengan sedikit berlari.
“Tuan Daniyal, ada apa? Kenapa dengan tuan Abizar?” tanya pelayan setianya.
“Ah bibi maaf kami ada sedikit masalah tapi bibi tidak perlu khawatir karena kami bisa mengatasinya.” Jelas Daniyal dengan senyum di wajahnya.
Pelayan tersebut bernama bi Sumi, bi Sumi sudah bekerja di rumah keluarga Bramantio sejak berusia 19 tahun bahkan sebelum Daniyal, Abizar dan Adyatma lahir, setelah lulus SMA dia di bawa ke rumah keluarga Bramantio dan mulai bekerja di sana.
Bi Sumi sangat jujur dan baik, dia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa ada kesalahan, dan itulah kenapa dia menjadi pelayan yang paling di percaya oleh keluarga itu, bahkan Daniyal, Abizar dan Adyatma sangat menyayanginya dan menganggapnya sebagai ibunya sendiri.
Itulah kenapa Daniyal tidak ingin membuat bi Sumi khawatir dengan keadaannya dan keadaan adiknya.
“Benarkah tuan? Jika tuan besar tidak boleh di beritahu bibi tidak akan memberitahunya, tapi bisakah tuan menceritakan apa yang terjadi? Bibi tidak ingin sampai terjadi sesuatu kepada kalian.” Ucap bi Sumi.
“Nanti ya bi, Daniyal akan memberitahu bibi suatu saat nanti, tunggu waktu yang tepat ya bi.” Ucap Daniyal dengan lembut.
Bi Sumi hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak ingin memaksa Daniyal untuk bercerita lebih banyak kepadanya karena itu adalah privasi majikannya.