
Di dalam kamar yang remang-remang, Daniyal terbangun dari tidurnya dengan kepala yang sedikit pusing setelah pertempurannya semalam bersama wanita yang di pesan oleh sahabatnya.
Daniyal pun menoleh ke samping tubuhnya dengan perlahan dan melihat tubuh seorang wanita yang masih polos tanpa sehelai benangpun dan hanya di tutupi oleh selimut tebal yang menutupinya juga.
“Haah, bodohnya aku! Kenapa aku mau meniduri wanita yang sudah berhubungan dengan laki-laki lain! Bodoh!” ketus Daniyal yang mengutuk dirinya sendiri.
Daniyal melihat hpnya lebih dulu dan membaca chat grup yang masuk dari teman-temannya.
“Hey bagaimana malammu?” tanya Roy.
“Dan? Kenapa kamu tidak membalas pesan?” tanya Roy kembali.
“Kamu ini mengganggu saja Roy! Sudah jelas kalau Daniyal sedang bersenang-senang sekarang..” balas Tomy.
“Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan…” balas Roy.
“Apa kamu tidak puas dengan wanitamu? Hahaha, kamu sudah memiliki dua wanita dan masih mengganggu temanmu yang lain?” tanya Tomy.
“Lalu bagaimana dengan dirimu? Kenapa kamu membalas pesanku kalau kamu sedang menikmati wanitamu?” tanya Roy.
“Diamlah, aku tidak berminat dengan mereka!” jawab Tomy.
“Hanya Daniyal yang puas dengan wanitanya haha, bagaimana kalau kita berdua minum di luar sambil menunggu si Daniyal menyeesaikan pertempurannya?” tanya Roy.
“Boleh, aku tunggu di pintu masuk.” Ucap Tomy.
Dan pesan selesai sampai di sana.
Daniyal yang membaca pesan grup tersebut hanya bisa mengutuk kedua temannya itu dan segera beranjak dari tempat tidurnya, namun tiba-tiba saja ada tangan yang memegang tangannya.
Daniyal menoleh ke arah wanita yang sudah membuka wajahnya sambil tersenyum manis ke arahnya. Namun bukannya terpesona atau tergoda, Daniyal justru jijik melihat wanita tersebut dan menepis tangannya begitu saja.
“K-kenapa kamu menepis tanganku? Apa aku melakukan kesalahan tuan?” tanya wanita tersebut.
“Hubungan kita hanya sebatas saling membutuhkan dan memuaskan, dan perlu kamu ingat kalau aku tidak tidur dengan wanita yang sama, jadi jangan pernah menemuiku apa lagi sampai menuntut sesuatu kepadaku karena aku akan memberimu uang yang cukup untuk kebutuhanmu!” ketus Daniyal yang langsung memakai baju handuk yang ada di sofa dan berjalan ke kamar mandi.
Wanita tersebut hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesalnya karena sudah di campakkan begitu saja oleh Daniyal.
“Bagaimana bisa dia tidak tergoda sama sekali kepadaku setelah malam yang panjang itu.” Gumam wanita tersebut.
Akhirnya wanita tersebut memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan memakai baju handuknya lalu duduk di sofa menunggu Daniyal selesai memakai kamar mandi.
Selama hampir satu jam Daniyal membersihkan diri dan memakai kembali pakaiannya yang membuatnya terlihat sangat mempesona.
“Aku akan memberikanmu cek kosong, kamu bisa menuliskan berapapun nominal yang kamu mau.” Ucap Daniyal yang mengambil selembar cek kosong dari dalam dompetnya.
Namun wanita tersebut meremas cek tersebut sampai kusut dan melemparnya ke sembarang arah membuat Daniyal mengerutkan keningnya karena hal itu.
“Apa-apaan kamu ini!?” ketus Daniyal.
“Aku tidak membutuhkan uangmu!” ketus wanita tersebut.
“Jangan melebihi batas! Kamu hanyalah wanita malam yang menggoda laki-laki manapun yang memiliki uang!”
“Aku menginginkan hal lain selain uang!”
“Apa itu? Cepat katakan karena aku harus segera pergi!” tegas Daniyal.
“Kamu! Aku menginginkan dirimu!”
Daniyal benar-benar terkejut dengan keberanian wanita yang ada di hadapannya itu, lalu seketika suara tawa terlepas dari mulut Daniyal.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya wanita tersebut.
“Apa kamu tidak tau diri? Aku tidak akan pernah memiliki hubungan lebih dengan seorang wanita malam!” ketus Daniyal dengan wajah seriusnya.
Seketika tubuh wanita tersebut merinding bukan main, dia tidak membayangkan betapa seramnya wajah Daniyal saat itu. Namun hal itu tidak membuat wanita tersebut takut, justru dia semakin tergoda untuk mendapatkan Daniyal seutuhnya.
Daniyal yang awalnya mau membuka pintu kamar seketika berbalik menatap Tika dengan wajah yang tajam.
“Aku tidak butuh namamu, karena sebentar lagi aku akan melupakan kejadian selmalam!” ketus Daniyal yang langsung menutup pintu dengan kencang hingga membuat Tika terkejut.
“Aku… Aku akan membuatmu kembali mencariku tuan Daniyal!” gumam Tika dengan senyuman sinisnya.
Sedangkan Daniyal yang sudah berada di luar kamar segera menghubungi teman-temannya yang sudah membuatnya kesal.
“Kemana mereka ini? Mereka berdua mengejekku semalam dan sekarang mereka kabur meninggalkanku?” gumam Daniyal yang terus mencoba untuk menghubungi kedua temannya.
Sampai akhirnya Roy mengangkat telfon Daniyal dengan nada serak khas bangun tidur.
“Hmm..” ucap Roy saat mengangkat telfon Daniyal.
“Kamu baru bangun Roy?!” tanya Daniyal tidak percaya.
“Hmm,, kenapa? Kamu kan juga tidur sangat pulang semalam.” Ucap Roy.
“Cepat bangun! Ajak Tomy juga bangun karena aku sudah muak di sini!” ketus Daniyal.
“Hah? Kamu ini kenapa buru-buru sekali sih! Kamu baru saja bersenang-senang semalam, terus kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?” tanya Roy.
“Pokoknya aku muak berada di sini! Aku ingin pulang, terserah kalian kalau kalian tidak mau pulang!” ketus Daniyal yang langsung mematikan telfon tanpa mendengar jawaban dari Roy.
Daniyal segera berjalan cepat menuju parkiran dan segera masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Daniyal langsung masuk ke dalam rumah tanpa rasa khawatir jika dia akan di marahi oleh papinya.
“Pagi pi.” Sapa Daniyal yang berjalan begitu saja saat melihat Bram ada di hadapannya.
“Stop Daniyal!” ketus Bramantio.
Daniyal berhenti seketika, lalu menoleh ke arah papinya.
“Hmm,, ada apa pi?” tanya Daniyal seolah-olah tidak terjadi apapun.
“Ada apa? Ada apa kamu bilang!? Kamu tidak pulang semalaman dan sekarang bilang ada apa?!” ucap Bramantio yang sudah mulai meninggikan nada suaranya.
“Ya terus kenapa pi? Daniyal sudah besar, jadi ga pulang pun ga masalah kan?” tanya Daniyal.
Bramantio berjalan menghampiri Daniyal lalu tiba-tiba… PLAK!!! Tamparan keras pun melayang di pipi mulus Daniyal dan membuat Abizar yang saat itu baru menuruni tangga terkejut melihatnya.
“Papi! Papi kenapa menampar kak Daniyal?” tanya Abizar sambil berlari ke arah papinya.
“Diamlah Abizar! Jangan ikut campur karena kamu ga tau apa-apa!” ketus Bramantio.
“Iya Abizar tau kalo Abizar ga tau apa-apa pi, tapi kak Daniyal bukan lagi anak kecil yang harus di perlakukan seperti itu!” ucap Abizar.
“Apa kamu mau menceramahi papi sekarang? Apa kamu tau kemana semalaman dia?” tanya Bramantio kepada Abizar sambil menunjuk ke arah Daniyal.
“Kak Daniyal cuma ke club biasanya sama teman-temannya kan? Bukannya dari dulu kak Daniyal hampir setiap hari ke sana pi?” tanya Daniyal.
“Kalau hanya itu papi ga akan marah Abizar! Kamu tau apa yang kakakmu lakukan semalam hah!? Dia tidur dengan wanita malam!” tegas Bramantio.
“Ya emangnya kenapa kalau tidur sama wanita malam pi? Bukannya selama ini aku juga selalu tidur dengan semua mantan kekasihku?” tanya Abizar dengan santai.
“Kalau hanya tidur papi tidak akan marah! Tapi dia melakukan hal itu di saat papi memberikan sebuah misi penting!”
“Lagian aku tidur dengan siapapun ga ada yang tau dan ga akan mengganggu urusan pekerjaanku!” sahut Daniyal.
“Apa kamu tau kalau semalam salah satu bodyguard yang menjaga anak Gilang melihatmu masuk ke dalam club, bahkan Irene juga ada di sana melihatmu naik ke lantai VVIP!” ucap Bram yang membuat semuanya terkejut.
Pasalnya mereka tidak tau apa yang ada di fikiran Irene setelah melihat Daniyal ada di club malam setelah pulang dari rumah sakit, dan pergi ke lantai VVIP dan membayar wanita malam.