
"Apa yang kamu bilang barusan?" tanya Aleena dengan tatapan yang tajam.
Abizar terkejut mendengar pertanyaan Aleena, dia tidak ingat kalau ternyata dia mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
"Apa emang yang aku bilang? Kayaknya aku ga bilang apa-apa kok." ucap Abizar.
"Kamu bilang kalo kamu pergi? Kamu mau pergi kak? Apa kamu mau meninggalkan aku!?" ketus Aleena yang mulai emosi.
Abizar menoleh ke kanan dan ke kiri, dia melihat orang-orang sedang menatap ke arahnya dan juga Aleena.
"Sssttt, jangan berisik orang-orang akan salah paham." bisik Abizar.
"Biarkan saja!" teriak Aleena.
Dengan segera Abizar menggendong Aleena di pundaknya selayaknya karung beras, Aleena terus memberontak tapi Abizar tidak menurunkan Aleena.
Setelah sampai di mobil, Abizar langsung memasukkan Aleena dan memasangkan sabuk pengaman untuknya.
"Masuk dan diam!" tegas Abizar.
Aleena hanya diam, dia benar-benar kesal dan juga sedih dengan ucapan yang keluar dari mulut Abizar.
Apa maksudnya pergi? Kemana Abizar akan pergi? Apa ada wanita lain yang membuat Abizar pergi meninggalkannya?
Aleena terus memikirkan hal yang tidak-tidak kepada Abizar.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Abizar saat dia masuk ke dalam mobil.
"Apa yang harus aku bicarakan? Bukankah kamu yang seharusnya menjelaskan kepadaku?" tanya Aleena.
"Apa kamu benar-benar akan pergi?" tanya Aleena.
"Tentu saja aku akan pergi Aleena, aku mengajarimu semuanya agar kamu tidak tertipu dengan orang di luar sana." ucap Abizar.
"Jadi kamu beneran mau pergi kak? Hikss,, hikss kenapa kak? Apa kamu sudah memiliki wanita lain? hikss.." tanya Aleena.
"Bukan Aleena, aku pergi bukan karena wanita lain tapi aku akan mencari pekerjaan yang lebih layak sebelum aku melamarmu." ucap Abizar.
"Mungkin kamu bisa bicara seperti ini, tapi aku tidak Aleena, aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak berguna, aku akan menjadi laki-laki yang bisa bertanggung jawab atas hidupmu." jelas Abizar.
"Kamu juga bisa bilang begitu, tapi belum tentu papi kamu juga bisa menerimaku." lanjut Abizar.
"Papi ga akan melarang hubungan kita, dia sudah berjanji padaku kak!" seru Aleena.
"Ga bisa Aleena, semua orang tua ingin anaknya memiliki pasangan yang mapan untuk menjamin hidup putrinya, kalau aku jadi papi kamu pun aku akan melakukan hal yang sama, aku pasti menginginkan yang terbaik untuk anak perempuanku nantinya." jelas Abizar.
"Tapi kak, kamu mau cari kerja apa sih?" tanya Aleena.
"Apapun itu, yang intinya tidak akan membuatmu dan keluargamu malu." ucap Abizar.
"Tapi kak, aku ga butuh hal-hal seperti itu serius." rengek Aleena.
"Aleena aku mohon kamu harus mendukung aku, aku hanya ingin menjadi lebih pantas untuk bersanding denganmu." ucap Abizar.
Aleena hanya memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil, dia berusaha untuk menahan air matanya karena dia tau kalau air matanya itu tidak akan berguna di hadapan Abizar.
Abizar memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menarik Aleena untuk menoleh ke arahnya dan melihatnya.
"Lihat aku Aleena, aku tidak akan pergi secepatnya, sebelum aku pergi aku akan mengajarimu berbagai hal termasuk memimpin perusahaan, kamu tidak akan selamanya menjadi seorang model, suatu hari nanti kamu akan meneruskan usaha keluargamu." ucap Abizar.
"Itulah kenapa aku selalu memarahimu jika kamu melakukan kesalahan atau bermalas-malasan, aku juga tidak suka jika kamu membicarakan Irene karena setelah kamu membicarakannya kamu akan kembali merasa kalau kamu masih memiliki seseorang dan akhirnya kamu akan bergantung kepada Irene." jelas Abizar.
Mendengar hal itu membuat Aleena terdiam, apa yang di katakan Abizar memang benar, dia memang selalu mengandalkan Irene jika memiliki masalah.
Sedangkan suatu saat nanti dia akan memiliki kehidupannya sendiri dan Irene juga akan fokus untuk mengurus keluarga kecilnya.
Sekarang Aleena mengerti kenapa Abizar bersikap tegas kepadanya, awalnya Aleena kira kalau Abizar seperti itu karena sudah tidak mencintainya, namun ternyata apa yang dia pikirkan salah.
"Baiklah, aku akan mendukungmu untuk mencari pekerjaan lain, aku juga akan mulai belajar untuk memimpin perusahaan dan lebih mandiri lagi." ucap Aleena yang akhirnya mengalah.
Abizar tersenyum mendengar jawaban dari Aleena, dia mencium kening Aleena dengan lembut dan mengelus rambutnya.
"Bagus! Aku tau kamu pasti akan cepat belajar." ucap Abizar yang membuat Aleena tersenyum.