
Sesampainya di rumah keluarga Herlambang, Daniyal membantu Irene turun dari mobil dan dia segera menggandeng tangan Irene dengan erat.
Keduanya terkejut melihat dekorasi yang terhias dari halaman rumah, sedangkan di sisi lain Abizar dan Adyatma yang sedang berdiri sebelahan di depan pintu hanya menatap datar keduanya.
Lebih tepatnya, mereka berdua menatap datar saat melihat Daniyal dan Irene sedang bergandengan tangan dengan mesranya, bahkan Daniyal yang biasanya dingin saat ini sedang tertawa lebar kepada Irene.
“Hai Abizar, Adyatma, kalian semakin tampan saja.” Sapa Irene dengan semangat.
Abizar dan Adyatma hanya bisa memaksakan senyumannya kepada Irene dan menyapanya dengan professional.
Sedangkan Daniyal kembali khawatir saat melihat kedua adiknya sedang menatapnya dengan tatapan seperti itu, namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja dan tetap berjalan masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya hanya wajahnya saja yang tenang, padahal hati Daniyal tidak baik-baik saja karena sebenarnya Daniyal takut kalau adik-adiknya akan melakukan sesuatu kepada Irene setelah mengetahui tentang kabar kehamilan Irene.
“Kamu ini jangan suka memuji laki-laki sembarangan!” bisik Daniyal.
“Kamu cemburu ya?” goda Irene dengan senyum penuh arti.
“Engga! Ngapain aku cemburu!” ketus Daniyal yang kembali melihat ke depan.
“Tidak mungkin mereka akan menyakiti keponakan mereka kan?” gumam Daniyal.
“Hah? Kamu ngomong sesuatu sayang?” tanya Irene yang mendengar gumaman Daniyal tapi tidak jelas.
“Eh engga kok sayang, aku ga bilang apa-apa.” Jawab Daniyal berbohong.
Di ruang tamu sudah ada Gilang dan Aleena yang menyambut keduanya setelah mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
“Selamat datang kakak-kakakku…” sapa Aleena dengan bahagia.
“Selamat datang anak-anakku…” apa Gilang.
Gilang dan Aleena bergantian memeluk tubuh Irene, sedangkan Daniyal hanya bersalaman dengan keduanya.
Saat itu Irene memang memakai baju rajut yang sangat pas body dan membuat perutnya terlihat, tapi hal itu tertutupi dengan jaket oversize yang dia gunakan sebagai lapisan.
“Di mana yang lain?” tanya Irene.
“Ada di atas kak, mereka sedang bersiap mungkin sebentar lagi turun.” Jawab Aleena.
Irene hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban adiknya, lalu dia segera menggandeng tangan papinya dengan lembut.
“Papi, bagaimana keadaan papi? Apa papi baik-baik saja?” tanya Irene.
“Papi baik-baik saja sayang, kamu baik-baik saja kan?” tanya Gilang dengan kode melihat ke arah perut Irene.
“Ah sangat baik papi, papi tenang saja..” ucapI Irene yang sudah tau tujuan sang papi bertanya tentang cucunya.
“Papi kenapa menyiapkan semua ini sih? Harusnya makan malam saja sudah lebih dari cukup loh..” ucap Irene.
Memang menurut Irene dan Daniyal hari itu papinya sangat berlebihan, karena Gilang mendekor rumahnya dengan balon berwarna pink dan biru, layaknya baby shower.
“Kenapa? Papi sangat bahagia hari ini jadi papi mau menyambut kamu dan Daniyal dengan meriah.” Jelas Gilang.
“Tapi ini terlalu berlebihan pi, seperti ulang tahun anak-anak aja deh.” Ucap Irene yang tanpa sengaja membuat Gilang sakit hati.
Daniyal yang melihat ekspresi wajah mertuanya segera menggenggam tangan Irene lebih erat.
“Ga sopan bilang kayak gitu sayang, bukannya kamu berterimakasih malah bilang gitu, lihat papi sedih gara-gara ucapan kamu, setidaknya kamu harus menghargai usahanya.” Jelas Daniyal dengan sedikit berbisik.
Irene segera menoleh dan terkejut saat menyadari kalau papinya memang sedang murung dan dia jadi berasa bersalah karena hal itu.
“Papi, maafkan Irene ya,, dekorasinya sangat bagus kok dan… Cucu papi pasti sangat senang.” Bisik Irene yang membuat Gilang kembali tersenyum senang.
Irene merangkul tubuh papinya dan membuatnya agar tidak sedih lagi, lalu dia segera mengajak papinya untuk duduk di sofa ruang tamu karena kakinya memang sudah pegal berdiri cukup lama.
Satu per satu adik-adik Irene turun dan menyapa Irene dan Daniyal secara bergantian, semua orang berbincang dengan seru sebelum akhirnya acara utama di mulai, namun sebelum itu mereka memutuskan untuk makan malam lebih dulu karena semuanya sudah di siapkan oleh para pelayan.
Para bodyguard juga tidak di ijinkan pulang karena Gilang mau mereka semua ikut menikmati pesta yang dia buat dan juga ikut mendengar tentang kabar baik Irene, agar mereka bisa membantu untuk menjaga Irene di manapun saat mereka bertemu saat jam kerja atau bukan.
Setelah makan malam selesai, semua orang pergi ke ruang tamu dan berbincang di sana bersama layaknya keluarga walaupun ada para bodyguard di sana, namun Gilang menganggap semua adalah keluarganya.
Tentu saja hanya orang bodoh yang menolak bekerja di rumah keluarga Herlambang, karena Gilang dan juga anak-anaknya sangat baik kepada para pelayan yang bekerja di rumah mereka.
“Jadi sekarang kami bisa tau alasan papi mendekor sampai seperti ini kan?” tanya Nancy yang sebenarnya masih sangat penasaran.
“Tentu saja, biarkan pemeran utamanya berada di depan untuk memberitahu semuanya.” Ucap Gilang tersenyum ke arah Daniyal dan Irene yang ada di sebelahnya.
Mendengar ucapan papinya membuat jantung keduanya berdetak kencang, rasanya seperti akan mengungkapkan perasaan di hadapan semua orang dan itu membuat telapak tangan Irene berkeringat.
“Sayang kamu baik-baik saja?” tanya Daniyal yang bisa merasakan tangan Irene yang mulai basah.
“Iya sayang, aku hanya gugup saja kok.” Jawab Irene.
Daniyal tersenyum dan mengeratkan pegangan tangannya lalu membantu Irene berdiri dan berjalan ke hadapan semua orang.
Semuanya hanya menatap ke arah Daniyal dan Irene dengan tatapan aneh, mereka semua tidak tau apa yang akan di umumkan oleh Irene.
Semuanya tidak da yang mengira Irene hamil karena mereka yakin kalau Irene akan langsung memberitahu mereka langsung saat mengetahui kalau hamil.
“Cepetan ngomong dong kak, aku udah penasaran banget dari pagi ini.." rengek Nancy.
"Kamu ini dari tadi ga bisa sabar kayaknya ya." sahut Aleena sambil menggelengkan kepalanya.
"Emang kak Aleena ga penasaran?" tanya Nancy.
"Ya penasaran lah!" sahut Aleena kembali.
"Sudah jangan berdebat! Lebih baik kita dengerin kak Iren sama kak Daniyal ngomong!" seru Ratu yang membuat semua orang akhirnya diam.
Setelah semua orang diam akhirnya Irene dan Daniyal menghela nafas panjang lebih dulu untuk menenangkan diri.
"Jadi, kami mau memberitahu kalian semua kalau..." ucap Irene namun terputus.
"Irene hamil.." sahut Daniyal dengan polosnya.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Daniyal begitu juga dengan Irene, Irene berharap kalau dia membiarkan semua orang penasaran tapi Daniyal malah langsung memberitahu mereka semua.
Sedangkan yang lain terkejut karena ucapan Daniyal yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"A-apa? Kak Irene hamil? Seriusan kak?" tanya Queen memastikan.
"Iya Irene hamil dan usianya sudah 5 bulan sekarang." ucap Daniyal yang kembali membuat Irene syok karena dia ingin memberi waktu untuk bicara tapi suaminya dengan entengnya memberitahu semua orang.