
Akhirnya setelah Irene menyelesaikannya dengn cara yang sangat dewasa, mereka berempat bisa berjalan di pasar malam dengan tenang dan nyaman.
Sepanjang perjalanan, Daniyal terus menjaga Irene karena takut hal yang tadi akan terjadi lagi, sedangkan Brams hanya bisa menahan senyum melihat wajah Sherly yang pias karena melihat kejadian tadi.
“Kamu benar-benar terlalu meremehkan Irene Sherly.” Ucap Brams.
Sherly hanya diam saja dia sudah mulai bad mood setelah kejadian tadi, rasanya benar-benar memalukan.
“Aku mau pulang!” ucap Sherly yang membuat Irene, Daniyal dan Brams menoleh ke arahnya.
“Pulang? Tapi kita baru sampai Sherly.” Ucap Daniyal.
“Tapi aku tiba-tiba lelah, ayo kita pulang Brams.” Ucap Sherly yang langsung menarik lengan Brams secra paksa.
Daniyal merasa aneh dengan tingkah Sherly, dia menoleh ke arah Irene untuk meminta jawaban.
“Ayo kita juga pulang, aku juga udah capek.” Ajak Irene.
Mendengar jawaban istrinya membuat Daniyal menganggukkan kepala dan segera menggandeng Irene kembali ke mobilnya.
Sesampainya di rumah, Daniyal sudah tertidur setelah membersihkan diri, sedangkan Irene yang tadi sudah tidur cukup lama tidak mengantuk sama sekali dan memutuskan untuk berjalan ke balkon kamar untuk melihat laut yang indah.
“Indah sekali…” gumam Irene sambil menikmati hembusan angin yang membuat tubuhnya kedinginan.
Drrtt,,drtt. Saat Irene memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar karena kedinginan, tanpa sengaja dia melihat hp Daniyal bergetar dan ada pemberitahuan pesan masuk.
Awalnya Irene tidak ingin melihat karena itu adalah privasi suaminya, tapi rasa penasarannya benar-benar sudah tinggi dan akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat pesan tersebut.
‘Selamat tidur Daniyal, aku sangat menikmati malam ini.’ Itu adalah isi pesan yang di kirim oleh nomer yang tidak di kenal, namun Irene tau betul siapa yang mengirim pesan tersebut dan langsung menghapusnya dan segera naik ke atas tempat tidur dengan wajah kesalnya.
***
Pagi harinya, Daniyal sudah tidak menemukan Irene di sebelahnya, dan tentu saja Daniyal sudah tau kalau Irene akan pergi untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Daniyal yang masih malas untuk beranjak dari tempat tidurnya memutuskan untuk mengecek hp dan melihat apakah ada laporan yang di kirim Tiko kepadanya atau tidak.
Irene yang sudah selesai memasak langsung terkejut saat melihat Daniyal yang sudah mengecek hpnya, Irene merasa bersalah karena sudah menghapus pesan dari Sherly semalam.
“Semalam ada pesan masuk dari Sherly.” Ucap Irene.
“Sherly? Tidak ada tuh.” Jawab Daniyal santai.
“Udah aku hapus! Dia ngirim pake nomer ga di kenal, mengucapkan terimakasih dan selamat tidur, aku hapus habisnya menyebalkan!” ketus Irene.
Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal melebarkan senyumnya lalu dia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati sang istri dan mencium keningnya dengan lembut.
“Kamu boleh melakukan apapun sayang, kalau kamu tidak suka kamu boleh menghapusnya.” Ucap Daniyal dengan mesra.
“Apa kamu masih menyukainya?” tanya Irene.
“Menyukai siapa? Sherly?” tanya Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene.
“Engga kok, kita udah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai ga ada yang mengirim kabar sama sekali, jadi aku sudah melupakannya waktu itu.” Jelas Daniyal.
“Ah iya kamu juga jangan terlalu dekat dengan Brams, aku tidak suka!” lanjut Daniyal.
“Kenapa? Dia kan dokter keluargamu, aku pasti akan sering mengunjunginya kalau sedang ada kerjaan di sini.” Ucap Irene.
“Engga! Lebih baik kamu cari dokter lain saja, aku tidak suka kalau sampai kamu dekat dengan Brams, karena dia lebih paham dirimu di bandingkan aku!” ketus Daniyal.
“Hah? Hahaha, kamu ini lagi cemburu ya?” tanya Irene.
“Lah kok jadi aku sih?” tanya Irene.
Pagi itu villa Irene dan Daniyal di penuhi dengan tawa yang kencang bahkan bisa di dengan dari luar sampai membuat bodyguard yang menjaga di luar tersenyum mendengar kebahagiaan majikannya.
Sedangkan di sisi lain, Sherly yang sedang berdiri di balkon kamarnya yang bersebelahan dengan balkon kamar Daniyal dan Irene.
Jadi Sherly bisa melihat dengan jelas kebahagiaan kedua pasangan baru itu, Sherly sedikit terkejut meliht tawa Daniyal yang lepas saat berdua saja dengan Irene, sedangkan seingatnya selama Daniyal bersamanya Daniyal tidak pernah tertawa seperti itu.
“Kenapa dia bisa tertawa lepas begitu? Harusnya tawa itu hanya untukku Daniyal!” gumam Sherly sambil menatap tidak suka.
Setelah kejadian semalam, Sherly langsung mencari informasi tentang Irene di mbah google, dan diaa terkejut kalau Irene ternyata se kaya itu dan kekayaannya hampir setara dengan Daniyal.
Tentu saja itu membuat Sherly kesal dan dia semakin tidak menyukai Irene setelah mengetahui kebenaran tentang identitas Irene.
***
Di ruangannya, Aleena sudah berhasil memahami sedikit demi sedikit dokumen yang di berikan kepada Abizar.
“Kak aku sudah selesai membaca semuanya!” seru Aleena dengan semangat.
“Benarkah? Bagus kalau begitu, coba aku lihat.” Ucap Daniyal yang segera melihat pemahaman Aleena.
Brak!! Tiba-tiba saja Elif membuka pintu ruangan Aleena dengan kencang tanpa mengetuk lebih dulu membuat orang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut melihatnya.
“Elif kamu kok ga ngetuk pintu sih?” tanya Aleena.
“Maaf kak, gawat! Ada rekan bisnis kak Iren yang mau bertemu dengannya lusa.” Ucap Elif.
“Lusa? Tapi kakak belum pulang lusa, apa ga bisa di undur?” tanya Aleena.
“Ga bisa kak, dia masih ada urusan lain dan hanya memiliki waktu lusa.” Jawab Elif.
“Kalau begitu biar aku dan Aleena yang menemuinya.” Sahut Abizar.
“Ga bisa kak, yang bisa mengerti orang itu hanya kak Iren, dia orang yang benar-benar sulit di mengerti.” Jelas Elif.
“Kalo gitu ga punya pilihan lain, kamu segera hubungi kak Iren dan beritahu semuanya.” Ucap Aleena.
Elif segera menganggukkan kepala lalu keluar dari ruangan Aleena untuk menghubungi Irene.
“Siapa sih? Apa harus seperti itu?” tanya Abizar.
“Entahlah, banyak kok orang yang seperti itu, dia hanya percaya dengan kak Iren karena semua penjelasan kak Iren memang benar-benar bisa di percaya.” Jawab Aleena.
“Kalau begitu tidak usah di terima, biarkan saja perjanjiannya batal, toh masih banyak perusahaan besar lainnya yang mau bekerja sama dengan kak Iren.” Ucap Abizar.
“Ya ga bisa dong, kak Iren sangat menghargai orang yang mau bekerja sama dengannya, perusahaan sekecil apapun akan dia terima kak jadi kita ga bisa menolak siapapun tanpa ijin dari kak Iren.” Jelas Aleena.
Abizar hanya diam mendengar penjelasan Aleena, dia tidak mau mengatakan apapun lagi dan memilih untuk diam sambil membaca kembali dokumen yang tadi di kerjakan Aleena.
Sedangkan Aleena berusaha untuk menghubungi Elif dan bertanya tentang jawaban sang kakak.
“Gimana Lif?” tanya Aleena.
“Kak Iren bilang dia akan segera kembali besok.” Jawab Elif.
“Baiklah kalau begitu, terimakasih Elif kamu kembali bekerja ya.” Ucap Aleena yang langsung mematikan telfonnya.