
Baru saja lima menit meletakkan setumpuk map di meja Heru, ponsel Bara bergetar.
“Keren. Cepat banget selesainya. Udah semua, nih?” Heru memajukan letak kursinya untuk meraih map yang baru diletakkan Bara.
“Udah semua. Sebentar, ada telfon masuk,” kata Bara, merogoh kantongnya dan mengernyit beberapa detik kemudian. “Putra? Ini teman Dul,” pekik Bara, langsung menggeser layar ponsel.
Heru ikut menghentikan kegiatannya membuka-buka lembaran map karena wajah serius Bara.
“Astaga ... aduh .... Padahal udah diwanti-wanti. Memangnya apa yang—Om ke sana sekarang.” Bara mengakhir pembicaraan. Ia memandang Heru yang raut wajahnya membutuhkan penjelasan. “Dul berantem, Mas. Dengan anak sekolah lain. Sekarang dibawa ke sekolahnya. Semua anak-anak itu orang tuanya dipanggil. Aku berangkat dulu.” Bara mengantongi ponsel dan berbalik menuju pintu.
Heru cepat-cepat menyimpan map yang dibawa Bara ke dalam laci terkunci. “Ra! Aku ikut!” seru Heru, keluar ruangan menyusul Bara.
“Bukannya masih ada kerjaan? Aku enggak apa-apa, lho. Cuma masalah anak-anak,” ujar Bara saat Heru menjajari langkahnya di lobi kantor.
“Naluri wartawan, Ra. Ini pertama kali Dul terlibat perkelahian. Ini salah satu kemajuannya,” kata Heru, mengikuti langkah Bara menuju parkiran sepeda motor.
Bara menoleh, “Anak berantem, kok, malah kemajuan. Aku naik motor, Mas. Memangnya mau peluk pinggangku? Aku mau ngebut biar cepat sampai di sekolah Dul. Aku enggak mau masalah ini sampai ke kantor polisi. Bisa aja ada orang tua murid yang terprovokasi,” jelas Bara, memasukkan kunci motornya dan memakai helm.
“Eh, naik motor?” Heru memandang ragu. “Pinggang aman kalau aku dibonceng naik ini? Maklum, udah empat puluhan,” sambungnya masih mengamati bentuk boncengan motor Bara yang menukik
Bara meringis dari balik helmnya. “Mau ikut, ayo. Kalau enggak, aku berangkat sekarang.” Ia naik ke motor dan menyalakan mesin.
Heru menyambar helm Bayu yang tersangkut di stang motor. “Aku ikut,” kata Heru, naik ke boncengan Bara dan langsung menepuk-nepuk pinggangnya. “Ngeliat wanita-wanita itu diboncengi pakai ini, kok, malah seneng banget, ya. Dijah enggak pernah bilang kalau pinggangnya sakit?” tanya Heru, mulai ikut merunduk menyamakan posisi tubuhnya dengan Bara.
“Enggak sakit karena cinta dan dinikmati,” sahut Bara, setengah berteriak.
“Turunnya pasti tetap pegal, cuma enggak ngomong aja.”
“Tanya Dijah kalau enggak percaya,” balas Bara lagi.
“Berantem sama anak sekolah lain? Tawuran? Rasanya, kok, enggak mungkin ....” Heru bicara dari punggung Bara. Sekarang tangannya sudah mencengkeram erat pinggang Bara dan mengikuti condong tubuh adik sepupunya mengendarai motor besar.
Bara tak menjawab lagi. Ia menggeber motornya membelah jalanan mumpung saat itu belum jam pulang kantor.
Sementara itu, keributan di trotoar memancing semua murid yang baru saja bubar menonton sepakbola berduyun-duyun melihat. Melihat keributan itu terjadi antara Ketua Osis SMA mereka, rekan satu sekolah Dul beramai-ramai menggelandang siswa sekolah lain itu kembali ke sekolah mereka.
“Ayo, bantu bawain motornya. Kembali ke sekolah aja. Mumpung di sekolah masih ada guru BK dan olahraga,” kata penjaga sekolah, menunjuk dua sepeda motor yang masih distandar di tepi jalan.
Yani tiba-tiba muncul di sebelah Dul dengan napas terengah-engah. “Gimana ceritanya? Kok, jadi berantem? Enggak ada yang harus dirawat, kan? Di sekolah ada guru BK dan guru olahraga. Bisa lama sidangnya.”
Yani memperhatikan wajah Dul dengan seksama. Sudut bibir Dul berdarah dan dagunya ada luka lecet. Tapi pakaian Dul tak ada noda sedikit pun. Berbanding terbalik dengan Robin yang wajahnya baik-baik saja, namun bajunya luar biasa kotor.
“Bin, kok, bisa gitu?” tanya Yani, memandang Robin dari atas ke bawah.
“Aku anak Rinso enggak takut kotor,” jawab Robin santai.
“Ngaco. Di sekolah ada guru BK, jangan sampai salah jawab,” pesan Yani pada Robin.
“Masih kecil kali kalo jawab guru BK, Yani. Dari tadi aku lagi mikir kayak mana jawab pertanyaan mamakku. Si Putra yang pande ini,” Robin melirik Putra di sebelahnya. “Mamakku pula yang diteleponnya duluan. Bagus telepon polisi sekalian daripada telepon mamak aku. Haduh … ilang premanku, bah.”
“Kenapa bisa berantem, sih? Memangnya enggak bisa diomongi baik-baik? Kalau begini hubungan antar sekolah bisa memanas. Bisa timbul dendam,” kata Penjaga Sekolah saat langkahnya beriringan dengan Dul.
“Nanti saya yang ngomong ke Guru BK. Selanjutnya terserah Guru BK mau gimana. Panggil orang tua, skorsing atau apalah. Liat nanti aja,” kata Dul.
Putra menepuk pundak Robin, “Sabar … bukan gitu konsepnya,” ucap Putra.
“Ayo, cepat. Jangan dilama-lamain jalannya. Udah sore,” kata Penjaga Sekolah, melambatkan langkah dan mengibaskan tangannya di belakang semua murid yang berjalan menuju gerbang.
“Udah macam giring entok ke kandang si kawan itu, bah,” sungut Robin.
“Udah—udah, jangan berisik. Kita langsung ke ruang BK aja. Siswa sekolah lain dibawa ke sana,” kata Yani. “Nanti aku bantu ngomong ke ibumu," sambung Yani, memandang Robin.
“Aih, makjang baek kali … Yani dah lama?” tanya Robin saat mereka tiba di pagar.
“Lama apanya? Aku dari tadi memang belum pulang. Masih nonton dari dekat gawang,” jelas Yani.
“Cantiknya … aku nanya apa cantikmu udah lama?” Robin terkekeh-kekeh. Putra melepaskan rangkulannya dari pundak Robin seraya mendengkus.
Rifky, dan tiga orang temannya sudah mengisi empat kursi yang dijejerkan di depan meja Guru BK. Duduk juga di sebelah Guru BK itu seorang Guru Olahraga yang mengajar kelas tiga.
“Nah, silakan minum lebih dulu. Abis berantem tadi pasti haus.” Guru BK meletakkan air mineral botol kecil di depan masing-masing siswa. Guru itu lalu menoleh Dul dan Robin, “Kalian juga harus minum,” kata Guru itu.
“Kami aman, Pak. Bapak jamu tamu kita aja,” sahut Robin.
Guru BK membalas ucapan Robin dengan merapatkan giginya. Robin bungkam seketika.
Tiba-tiba Lova muncul di pintu ruang BK. “Rifky! Kok, gini? Dul?” Lova memandang Dul yang balas memandangnya dengan sorot datar.
Jarak kursi mereka dari pintu tempat Lova berdiri kira-kira hanya tiga meter saja. Meski begitu, Robin masih sempat berbisik pada Dul, “Halah-halah … datang dia. Cemana? Masih jadi kau ke rumahnya besok?” tanya Robin pada Dul.
Guru Olahraga yang tadi pergi ke kantor untuk menelepon sederet nomor telepon para orang tua sudah kembali muncul di ambang pintu.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Guru Olahraga pada Lova.
“Dia otak pelakuny—” Perkataan Robin terhenti karena Dul menendang kakinya. “Ih, kan betol yang kubilang tadi. Macam betol aja dia nangis-nangis di telepon. Udah macam sinetron pula,” omel Robin pula.
“Buat yang enggak ada kepentingannya bisa nunggu di luar aja, ya. Kamu ngapain?” tanya Guru Olahraga pada Putra.
“Saya support system Dul dan Robin, Pak,” jawab Putra.
“Kau saksi matalah, Put. Apa pula sistem-sistem itu,” omel Robin lagi.
“Kamu sepertinya perlu minum lebih banyak. Ayo, habiskan dua botol air mineral ini sekaligus. Biar kepalanya dingin,” pinta Guru BK yang duduk di balik mejanya.
Meski cemberut, Robin benar-benar menghabiskan dua botol air minuman yang disodorkan padanya.
Sejak tadi, Dul diam seribu bahasa. Ia hanya memandangi sisa-sisa murid yang masih berada di luar ruang BK karena rasa penasaran. Ia juga tengah menyusun penjelasan untuk dibeberkannya pada guru, juga pada ayahnya. Memang memalukan karena penyebab perkelahian itu hanyalah karena seorang murid perempuan. Tapi, Dul tidak menyesali perbuatannya menendang Rifky lebih dulu. Malah menurutnya mulut Rifky lebih layak ditendang ketimbang tubuhnya.
Dari balik kaca, Dul melihat sepeda motor merah masuk pagar dan melaju sampai ke dekat ruang BK.
“Dul! Ayah Bara datang!” seru Robin.
Seruan itu begitu keras. Robin tak tahu kalau hati Dul saat itu mencelos. Lagi-lagi ia merepotkan ayahnya.
To Be Continued