
Sepanjang malam seusai bertemu Annisa, Dul sulit memejamkan mata. Padahal tubuhnya lelah, tapi kantuk tak kunjung singgah. Penantian bertahun-tahun rasanya tak sia-sia. Walaupun belum menyatakan rasa, setidaknya malam itu perasaan mereka masih sama.
Rasanya sudah puluhan kali Dul mengubah letak tubuhnya di ranjang. Menghadap pintu, lalu membelakangi pintu untuk menghadap dinding. Di tangannya tergenggam ponsel yang sejak tadi ia genggam. Tak lama ia selesai mandi, Annisa mengirimkan pesan padanya.
‘Abdullah udah sampai rumah?’
Pesan sederhana tapi membuat hati Dul berbunga-bunga. Perutnya terasa hinggapi ratusan kupu-kupu yang sedang menari salsa. Tak perlu waktu lama ia sudah membalasnya.
‘Udah sampai rumah. Baru selesai mandi. Annisa tidur sekarang. Besok enggak ada mata kuliah, kan? Aku jemput sebelum makan siang, ya.’
Hal yang membuatnya semakin tak bisa tidur adalah jawaban Annisa yang singkat. Hanya ‘iya’ tapi sudah membuat hatinya jungkir balik. Ia jatuh tertidur dengan aplikasi pesan yang masih terbuka di ponselnya.
Dan ternyata, ketika Dul mengira bahwa ia sudah tidur berjam-jam, ia malah terbangun saat langit masih gelap. Hanya tidur selama tiga jam. Dan terbawa akan kebiasaannya selama di asrama, ia sudah rapi jali jam tujuh pagi.
“Mau apa, sih? Mondar-mandir depan-belakang pada enggak ngapa-ngapain.” Dijah menepuk lengan Dul yang kembali melintas di dapur.
“Mau puas-puasin lihat Mbok Jum sebelum pergi ke Kalimantan. Aku pasti kangen Mbok Jum nanti.” Dul berdiri di belakang Mbok Jum dan melingkarkan tangan di tubuh kurus wanita tua itu.
Mbok Jum berhenti mengaduk nasi goreng untuk menepuk-nepuk tangan Dul. “Mbok juga pasti kangen sama Mas Dul. Tujuh belas tahun lihat Mas Dul sampai jadi kaya sekarang. Mbok Jum harusnya liat Mas Dul sampai jadi pilot pesawat tempur.” Suara Mbok Jum sudah terdekat.
Dul menunduk dan meletakkan dagunya di bahu Mbok Jum. “Nanti aku bakal kunjungi Mbok Jum ke Kalimantan. Yang penting … Mbok Jum sehat-sehat. Tunggu kita semua.”
Dijah berdiri melihat pemandangan itu. Kembali mengingat kalau kebersamaan mereka dengan Mbok Jum tak lama lagi. Bara sudah mengatakan kalau mereka semua akan berangkat setelah Dul kembali ke asrama.
“Sekarang Mas Dul sarapan. Harus banyak-banyak makan masakan Mbok. Ini nasi goreng Mima dan Ibra. Yang ini buat Mas Dul dan Ayah Ibu. Dikasih cabe.” Mbok Jum meletakkan mangkuk berisi nasi yang baru diangkatnya dari penggorengan. “Nanti Ibra biar Mbok aja yang suapi makannya.” Suara Mbok Jum sangat pelan saat mengatakan itu. Ia sempat menyeka sudut matanya yang berair.
“Siang nanti … menu makan siangnya apa, Bu?” Dul menarik kursi dan duduk menyendok nasi.
“Kenapa? Mau dimasakin sesuatu? Lagi kepengin makan apa?” Dijah ikut duduk di sebelah Dul.
“Kira-kira … siang nanti Ayah bakal ngajak kita pergi atau enggak?”
“Memangnya kenapa? Ditanyain dari tadi jawabannya muter-muter. Kamu mau pergi?” Karena jawaban dari Dul tak kunjung keluar, Dijah mengambil piring dan ikut makan di sebelah putranya.
“Ayah lagi ngapain?” tanya Dul.
“Ayah mandi. Mima mandi, Ibra belum bangun. Itu Mbok Jum baru masuk ke kamar. Di ruang makan ini cuma ada kita berdua. Mas Dul mau ngomong apa, Nak?” Dijah membujuk, tapi tidak memandang wajah Dul. Tetap berusaha pura-pura sibuk agar Dul tidak merasa diintervensi. Kali ini ia membalik-balik telur dadar di piringnya. Menunggu dengan sabar Dul akan mengajaknya bicara soal Annisa.
“Mmmm … Bu.”
“Hmmm? Nasi goreng Mbok Jum hari ini enak banget, ya …. Apa karena Mas Dul baru pulang makanya Mbok Jum masak seenak ini.” Dijah melirik Dul yang sedang menuangkan air putih ke gelasnya.
“Kemarin malam sebenarnya sesudah ketemu Robin, Putra dan Yoseph, aku ketemu Annisa. Mmm … Ibu ingat Annisa, kan?” tanya Dul, menunggu Dijah menoleh padanya.
Dijah menoleh Dul untuk menunjukkan ekspresinya. “Ingat. Yang kita antar ke bandara, kan? Yang cantik? Rambutnya panjang, kulitnya putih, untuk ukuran anak gadis, termasuk tinggi, langsing….”
“Ingatan Ibu memang tajam. Tanya Ayah kalau enggak percaya.”
“Apa warna tas Annisa sewaktu di bandara?”
“Mmmm … hitam?”
Dul kembali memutar duduknya dan lanjut menghabiskan nasi goreng. “Itu warna tasnya kemarin. Tasnya ke bandara dulu warnanya biru.”
“Oh, hitam warna tas yang kemarin, ya? Mima kayanya sebentar lagi selesai mandi. Ibu mau siapin sarapannya dulu.” Dijah bangkit dari kursi. Namun, lengannya ditangkap Dul. Ia menghentikan langkah dan berbalik.
“Bu, siang nanti aku boleh bawa Nisa makan siang di sini? Papa Annisa udah nikah lagi dan tinggal dengan keluarga barunya. Nisa sekarang anak kos dan kuliah di kedokteran UI. Sebentar lagi semester lima, sama kaya aku. Apa boleh kalau Nisa datang dan kita….”
“Boleh, Mas. Ajak Nisa ke sini. Ibu bakal masak yang enak. Biasanya anak kos makannya pasti beli terus. Seringnya makan mi instan. Semoga Annisa enggak gitu, ya. Kasian.”
Bara masuk ke ruang makan dan memandang wajah ibu dan anak itu bergantian.
“Pokoknya kalau Mas Dul mau bawa Nisa ke sini, Ibu enggak apa-apa. Ibu memang gampang jatuh kasian sama anak kos. Dulu ada yang ngaku-ngaku anak kos dan selalu datang minta makan.” Dijah melirik Bara seraya berdiri untuk menyiapkan teh.
“Ayah ngerasa lagi diomongin,” ucap Bara, menarik kursi yang biasa ditempatinya. Melihat raut wajah Dijah dan Dul, ia bisa menebak kalau pembicaraan ibu dan anak itu sudah sampai ke topik Anmisa. “Apa Ayah ada melewatkan sesuatu?”
“Biar Ibu aja yang ngasih tau Ayah, ya. Aku mau ke kamar. Mau nelfon,” kata Dul, memijat-mijat pundak Bara sebentar kemudian bersiul-siul masuk ke kamar.
“Gimana? Dul udah cerita? Ayo, sini duduk dulu.” Bara menarik kursi di dekatnya.
“Mas, kayanya aku ada salah ngomong tadi. Kayanya Dul tau kalau kemarin malam kita jemput dia.” Dijah meringis.
***
Seragam yang dikenakan Dul sudah sangat rapi. Membungkus ketat tubuhnya dan terselip rapi ke dalam celana. Di tangannya tergenggam topi yang baru ia buka sesaat yang lalu. Rambutnya pun sudah ia rapikan. Tapi ia merasa masih butuh waktu beberapa menit untuk mengatur napas dan detak jantungnya sebelum menelepon Annisa dan mengabarkan gadis itu kalau ia sudah tiba di luar pagar.
“Halo? Aku udah di luar,” ujar Dul di telepon. Ia mengatupkan mulut dan berdiri menyatukan tangannya di belakang tubuh. Tak lama, pintu pagar mengayun terbuka.
“Hai,” sapa Annisa.
Dul lupa menjawab sapaan karena terpukau dengan penampilan Annisa siang itu. Hanya jeans dan selembar kaus oblong putih yang diselipkan ke celana. Sebuah sling bag dan sepasang sneakers putih. Annisa terlihat sangat berbeda dari yang dilihatnya kemarin malam. Ujung-ujung rambut gadis itu dibentuk ikal menggantung. Bibirnya mengilap dengan lip gloss berwarna merah jambu.
“Hai …?” Annisa mengulang sapaan.
Dul tertawa kecil. “Hai …. Maaf. Annisa cantik banget.” Dul kembali mengatupkan mulutnya.
To Be Continued