Dul

Dul
092. Cerita Annisa (2)



“Tolong tanya Abdullah, dia mau balik jam berapa? Teman yang lain mau pamit. Udah pada laper karena belum makan siang.” Yani menyenggol lengan Robin dengan sikutnya.


Robin sedikit tersentak, tapi langsung berbisik pada Putra di sebelahnya.


“Tanya Dul, dia balik jam berapa. Yang laen dah kelaparan belum makan siang,” kata Robin setelah menepuk lengan Putra.


Putra mencolek punggung Dul di depannya. “Mau balik sekarang? Semua udah laper.” Putra sedikit bangkit untuk berbisik ke belakang telinga Dul.


Dul menoleh ke belakang. “Semua? Siapa?”


Putra mengangkat bahu, “Enggak tau siapa. Tapi yang paling pasti itu aku.”


Dul menatap jam dinding di atas lemari hias, “Hampir jam tiga. Maaf aku jadi kelupaan. Aku masih mau di sini ngeliat kakak laki-lakinya Nisa yang belum dateng. Kalian permisi duluan enggak apa-apa. Aku di sini aja. Bilang ke Yani,” pesan Dul.


Setelah pesan yang disampaikan Dul berpindah dua kali, akhirnya Yani maju ke depan menemui Dul. Gadis itu membungkuk dan menarik lengan Dul sedikit menjauhi Annisa.


“Ibunya sakit kanker payudara, Dul. Udah lama. Papanya Nisa itu kontraktor yang pindah setiap kali ada proyek besar. Sebenarnya Nisa bisa tinggal sama neneknya di sini dan enggak ikut pindah. Tapi dia mau dekat ibunya terus. Dan tiap pindah, papanya selalu bawa ibunya karena khawatir tiba-tiba ada yang darurat. Nisa empat bersaudara. Anak bungsu dan tiga lainnya laki-laki. Kakak sulungnya udah berkeluarga, yang dua masih kuliah. Satu di Jogja, satu di Bandung. Sekarang tinggal nunggu kakak laki-lakinya yang sulung karena kerja dan tinggal di Balikpapan. Laporan selesai, Dul. Kita semua permisi duluan karena udah sore. Kamu pasti lebih suka sendiri, kan? Soal Kak Lova aman.” Yani membekap mulutnya sendiri untuk menahan tawa di waktu yang tidak tepat.


“Semua informasi keren. Tapi bagian akhir harusnya enggak perlu dibilang,” sahut Dul. Yani terkekeh.


“Oke, kalimat terakhir lain kali enggak akan dibilang. Aku permisi ke Nisa mewakili semuanya,” ujar Yani. Dul mengangguk dan gadis itu perlahan maju mendekati Nisa.


“Nisa …,” panggil Yani.


Annisa berhenti merapikan penutup wajah ibunya, lalu menoleh pada Yani. Ia sempatkan menarik seulas senyum memandang Yani. “Makasih, ya …. Yani,” kata Annisa setelah membaca nama yang tertera di seragam Yani.


“Kami semua turut berdukacita, ya. Semoga kamu cepat pulih dan bisa balik ke sekolah secepatnya. Kalau ada apa-apa, kita selalu siap sedia. Terutama Ketua Osis kita yang duduk di belakang kamu. Kami mau permisi sekarang.”


Annisa sempat tersenyum saat menoleh ke belakang sekilas pada Dul. “Sekali lagi makasih udah datang ke sini.” Annisa kembali menghapus air matanya yang mengalir. Perasaan dirinya kini dikasihani banyak orang karena kehilangan ibu membuatnya kembali sedih.


“Oh, ya. Dul belum ikut pulang. Masih mau di sini katanya. Jadi … kami permisi sekarang, ya.” Yani bangkit dan memeluk Annisa. Walau tidak menangis tersedu-sedu, Annisa tak berhenti menyeka air matanya dengan selembar sapu tangan yang sejak tadi ia genggam.


Sembilan orang murid kemudian berdiri dan mengucapkan belasungkawa. Di pintu keluar mereka kembali bertemu dengan adik mama Annisa yang tadi membawa mereka masuk. Belum ada yang melihat di mana Papa Annisa dan belum ada yang berani menanyakannya.


Mereka semua tidak terlalu ambil pusing. Mereka hanya anak-anak remaja yang cukup dengan mendatangi sahabatnya saja sudah cukup.


Semua teman-temannya sudah berpamitan dan para pelayat keluar masuk silih berganti. Annisa tak ada beranjak sedikit pun dari sebelah ibunya. Gadis itu berkali-kali merapikan kain penutup ibunya, lalu terlihat mengusap pelan pipi ibunya, tangannya, dan gadis itu menunduk untuk mencium dahi ibunya. Tak hanya sekali, Dul melihat Nisa mengulang hal itu sepanjang duduk di sana.


“Icha … Tante mau ambil kain panjang Mama, Sayang. Icha tau ada di mana?” Seorang wanita mendatangi Annisa dan berjongkok di sebelahnya.


“Ayo, aku ambilin aja, Tante.” Annisa berdiri dan pergi masuk ke bagian dalam rumah dalam rangkulan wanita yang mendatanginya tadi.


Tak lama, Dul melihat orang-orang yang duduk di teras berdiri. Sepertinya ada yang baru datang. Lalu Dul teringat akan perkataan Yani yang mengatakan bahwa semuanya tengah menunggu kakak laki-laki sulung yang akan tiba dari Kalimantan. Dul ikut menoleh.


Lalu dua orang laki-laki masuk bersamaan ke rumah dan langsung menghampiri jenazah ibu Annisa. Menyusul di belakangnya seorang laki-laki lain dan seorang wanita yang menggandeng dua orang anak laki-laki berusia di bawah lima tahun.


Dari bisik-bisik pelayat di belakang Dul, ia mendengar kalau itu adalah tiga orang kakak laki-laki Annisa. Yang masuk paling akhir adalah si sulung dan istrinya.


Beberapa saat menahan rasa penasaran terhadap keberadaan Papa Annisa, Dul akhirnya merasa puas. Seorang pria muncul masih berpakaian lengkap.


“Jalanan macet banget. Papa harusnya udah nyampe dari tadi. Icha mana?” tanya Papa Annisa.


“Itu Icha,” sahut si sulung.


Icha kembali datang dan mendekati jenazah ibunya ke tempat semula. “Kak, geser. Dari tadi aku duduk di sini,” kata Annisa.


Kakak laki-lakinya hanya menoleh sebentar lalu bergeser untuk memberi tempat. Dul melihat salah seorang kakak laki-laki Annisa menangis dan dua di antaranya tertunduk lesu. Sedangkan papanya duduk di dekat kaki sang istri dan memijatnya lembut seraya menunduk.


Dul tak tahu bagaimana latar belakang keluarga Annisa. Ia tak bisa menilai secara sepihak. Tapi melalui kacamatanya sendiri, Dul bisa melihat kalau Annisa-lah yang paling kehilangan ibunya. Seorangnya lagi adalah kakak laki-laki Annisa yang nomor tiga. Yang lainnya juga bersedih, tapi dengan cara dan kadar yang diartikan Dul cukup berbeda.


“Papa jam berapa dari Singapore?” tanya kakak Annisa yang nomor dua.


“Harusnya Papa sudah bisa sampai di sini jam sepuluh pagi. Tapi nyari penerbangan mendadak agak sulit. Papa enggak nyangka ini. Papa baru pergi meeting satu malam. Padahal kemarin Mama kondisinya baik-baik aja,” tutur Papa Annisa.


Tiba-tiba Annisa memandang papanya. “Icha udah bilang jangan pergi dulu. Kondisi Mama udah beda. Obat yang biasa diminum Mama habis, tapi enggak dicari. Papa bilang enggak apa-apa. Tunggu…tunggu. Tapi Mama enggak bisa nunggu.” Annisa menutup wajahnya dan kembali menangis. Papanya mendekati dan meraihnya ke dalam pelukan. “Mama nanyain semuanya. Mana Papa? Mana Kak Ardi? Mana Kak Ifan? Mana Kak Aris? Mama pergi dalam keadaan kesepian. Semuanya enggak ada.” Bahunya berguncang dalam pelukan papanya.


“Maafin Papa…maafin Papa.” Papa Annisa mengecup kepala Annisa dan mengusap-usap punggung gadis itu.


To Be Continued