
“Sebenarnya acara wisuda itu jam berapa?” Putra bertanya pada Robin di sebelahnya.
“Kau gak pernah wisuda rupanya?” Robin merangkul bahu Putra sembari berjalan menuju rombongan keluarga Dul. Putra menjawab pertanyaan Robin itu dengan menggeleng.
“Nah, menggeleng kau. Belum pernah wisuda. Samalah kita kalo gitu. Mari kita tanya Mima Cantik.” Mereka mendekati keluarga Dul yang kesemuanya sudah bersiap dengan tugas masing-masing.
“Mima memang sesuai sama julukan yang kamu beri, Bin. Memang cantik,” timpal Yoseph. “Biar saya yang panggil Mima.”
Sebelum Yoseph melangkah, Robin menahannya. “Jangan sembarangan panggil Mima dengan sebutan itu. Suasana hati Mima gak bisa diprediksi BMKG.”
“Ternyata mereka ikut juga?” Heru menunjuk Robin dan Putra yang berjalan paling depan.
“Mima yang kasih tau kemarin. Mereka soulmatenya Mas Dul. Biar mereka ikutan meyakinkan Mbak Nisa nerima lamaran Mas Dul.” Mima menjentikkan jarinya pada Heru.
“Memangnya kenapa Mas Dul harus cepat-cepat nikah? Biar kamu bisa nyusul? Enggak boleh cepat-cepat.” Heru menggeleng. “Kamu cucu perempuan satu-satunya Satyadarma enggak boleh nikah terlalu cepat. Ra! Bara! Jangan kasih nikah cepat! Paklik …! Paklik …! Kalau Mima mau nikah terlalu cepat jangan dikasih ya.”
Tak cukup hanya dengan bicara pada Mima saat menanggapi asumsinya sendiri, Heru juga harus berteriak memanggil Bara dan Pak Wirya untuk mempengaruhinya.
“Ckckck … padahal ayahku yang di sana. Tapi kenapa lebih cemas yang di sini?” Mima menggeleng sambil memasang wajah prihatin pada Heru.
“Enggak boleh nikah cepat-cepat. Nikmati masa muda. Memangnya kamu udah punya pacar?” Heru mengikuti langkah kaki Mima yang cuek saja mendekati Sukma dan Fifi.
“Bulik, Budhe, tolong aku dari Pakdhe yang cerewet ini.” Mima santai saja mengambil seikat balon dari tangan Sukma. “Biar aku yang bagi-bagi tugas ke teman Mas Dul. Untuk sesi pertama ini cukup kami aja, kan? Sesi kedua buat orang tua?”
Fifi ikut menyodorkan seikat balon pada Mima. “Iya, benar. Ya udah kamu ikut briefing dulu sama Mas Dul. Soal Pakdhe cerewet ini biar Budhe yang tangani.” Fifi menepuk perut Heru yang sedang menyipitkan mata memandang mereka.
Setelah beres dengan bawaan masing-masing Mima pergi mendekati Dul dan teman-temannya buat membagikan lembaran urutan acara. “Nih, dibaca baik-baik. Enggak banyak, kok. Yang penting jangan ada yang lupa. Orang tua udah beres semua. Mas Putra, Bang Robin dan Kak Yoseph ucapannya enggak banyak-banyak. Khawatir malah salah. Udah beres, kan?”
Dul menangkap lengan Mima. “Mas belum…Mas belum. Setelah ngasi selamat dan ngasih bunga, Mas ngomong apa lagi? Kalau Mbak Nisa enggak mau terima bunga dari Mas gimana?”
“Enggak mungkin enggak mau terima. Ambil tangannya dan sodorin. Lalu lanjut apa yang mau Mas omongin. Heran, deh. Padahal dari Satuan Tempur Buru Sergap yang mengoperasikan F-16 Fighting Falcon, tapi ngomong gitu aja perlu latihan puluhan kali.” Mima mengomel tak sabar.
“Itu beda, Mima ….” Dul mencubit pelan pipi adiknya. “Mas enggak nanya dulu ke F-16 mau dioperasikan atau enggak.”
“Takut ditolak kau?” Robin menepuk pundak Dul dan terkekeh-kekeh. “Kau udah ganteng gini, bawa pesawat tempur, masa takut ditolak. Jangan kalah sama percaya diri aku yang bawa pickup yang isinya tabung gas.”
Dul berdeham lalu melihat jam di pergelangan tangannya. “Gugup,” sahut Dul.
“Ucapkan selamat. Terus kau sorongkan bunga itu. Bilang sama dia kalau bunga itu gak diterima, kau gak bisa lanjut ke paragraf berikutnya. Gitu aja. Apa payahnya? Kata Duma, aku kadang-kadang bisa menggemaskan.” Robin berbisik pada Dul saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Mata Dul berbinar dan mengangguk mantap. “Siap, laksanakan!” serunya.
Dul menarik napas dan merapikan pakaiannya sesaat sebelum pintu aula dibuka. Tapi sebelum benar-benar mendekati pintu tatapannya tertuju ke seorang anak kecil yang tak asing baginya. Anak kecil itu yang fotonya sering dilihat-lihat Annisa setiap membuka sosial media papanya. Adik kandungnya lain ibu. Meski Annisa tetap menjadi anak perempuan satu-satunya, Annisa bukan lagi anak bungsu. Saudara yang dibawa ibu sambungnya pun dua orang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP dan SD.
“Ariz?” sapa Dul pada anak kecil itu. Bocah yang dipanggil Ariz itu menoleh dan melepaskan tangannya dari seorang wanita paruh baya.
“Pasti Mas Pilot. Ariz ingat fotonya di handphone Kak Icha.” Aris menunjuk lambang wing penerbang yang tersemat di dada kiri Dul.
“Sering ketemu Kak Icha? Kapan terakhir ketemu?” Dul akhirnya berjongkok agar Ariz tidak terlalu mendongak menatapnya.
Ariz menggeleng. “Jarang ketemu. Kak Icha baik tapi sering cemberut. Kayanya kurang suka sama aku. Hari ini aku mau lihat Kak Icha pakai seragam lulus. Mama bilang hari ini Kak Icha enggak akan cemberut sama aku. Soalnya udah jadi dokter hebat.”
Dul mengusap pipi Ariz. “Kak Icha enggak akan cemberut lagi ke kamu mulai hari ini.” Dul lalu berdiri dan menggandeng tangan bocah laki-laki itu menuju pintu yang terbuka.
Di belakang Dul, semua orang berbisik-bisik. Ibra sedikit cemberut ketika melihat Dul menggandeng Ariz. “Ketemu adik baru,” gumam Ibra.
Mima menyikut lengan Ibra. “Heh, enggak malu apa? Udah gede, udah SMA masa cemberut karena anak kecil. Kasian itu adiknya Mbak Nisa. Kata Mas Dul hidup mereka udah biasa aja. Adiknya itu enggak kebagian masa kejayaan papanya. Papanya Mbak Nisa udah enggak sehebat dulu kerjaannya.”
Ibra kemudian diam memandang anak laki-laki yang memang dari pakaiannya pun terlihat biasa saja. Hatinya langsung luluh ketika anak laki-laki yang sedang digandeng Dul itu menoleh ke belakang dengan wajah takut-takut memandang mereka satu persatu. Ibra menyempatkan diri untuk melambai. “Hai,” sapa Ibra.
Ariz melihat wajah Dul, kemudian melihat wajah Ibra. Mencoba menerka kalau dua orang pria itu adalah kakak beradik karena kemiripannya. Ariz melambai. “Pasti Mas adiknya Mas Pilot. Mirip!” Ariz tersenyum bangga karena yakin tebakannya benar.
Ibra dan Mima tertawa seraya melambai pada Ariz. Dan semua perhatian akhirnya tertuju pada puncak acara hari itu.
Dul mendekati Annisa dan menyerahkan buket bunga. Kalimat ucapan selamat sudah ia lontarkan dan saatnya masuk ke sesi kedua. Sebelum masuk ke sesi kedua itu ia terhenti sejenak mengagumi kecantikan Annisa dalam balutan toganya. Rambut gadis itu tidak disanggul. Hanya diikat ekor kuda dan diberi kesan ikal-ikal di tiap ujungnya. Dari bagian lengan toga Dul bisa melihat Annisa memakai kebaya berwarna ungu. Manis sekali, bisik Dul dalam hati.
“Abdullah …,” panggil Annisa. Reaksi Dul hanya satu alisnya yang terangkat. Membuat Annisa harus mengulangi panggilan itu agar suasana hati yang mendengarnya semakin baik. “Mas Dul … semua orang tua kenapa harus ikut? Akung dan Uti juga? Serius? Ada apa, sih?” Annisa menoleh ke belakang untuk melihat orang tuanya. Papa dan ibu sambungnya berhenti dua langkah di belakang dengan tatapan tertuju pada serombongan orang tua yang hari itu hadir untuk mendukung putranya.
Dul berdeham kecil sambil merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil beludru dan membukanya. “Selamat siang, Om. Saya minta izin untuk ini.” Dul menunjukkan kotak beludrunya pada Papa Annisa. “Dokter Annisa … hari ini, saya; Letnan satu penerbang Abdullah Putra Satyadarma berniat melamar kamu sebagai istri. Di bawah tatapan para orang tua di belakang sana, aku harap kamu enggak bakal menolak aku.” Dul mengurai seutas kalung yang akan dipakaikannya pada Annisa.
“Tunggu … tunggu. Kamu udah pernah ngelamar aku. Ini ngelamar lagi? Ngelamar terus? Sampai kapan? Aku enggak mau terus-terusan dilamar tapi enggak jelas kapan. Udah kelamaan,” Annisa cemberut dan terlihat tidak antusias dengan kalung emas berliontin dua huruf A yang sedang dipegang Dul.
“Enggak kelamaan. Kamu dengar dulu.” Dul menoleh ke belakang. Memandang Pak Wirya yang menatap mereka dengan senyum wibawa. Pria itu mengangguk mantap pada Dul.
Dul menarik napas. Rencananya sedikit berubah. Apakah semua orang akan mengomelinya kalau ia mengubah rencana sedikit saja? Ia tak sanggup melihat Annisa yang cemberut dalam balutan kebaya cantiknya.
“Aku melamar kamu untuk hari ini. Kita datangi Papa kamu sekarang.” Dul menggandeng Annisa dengan Ariz berada di sisi kirinya. Dul berdiri tegap dan memakai topinya di depan orang tua Annisa. “Om, Tante … hari ini saya mau melamar Annisa menjadi istri saya. Bukan hanya sekedar melamar. Kalau Annisa bersedia dan Om memberikan restu, saya akan menikahi Annisa hari ini.”
To be continued