
Sedikit panik Bara berlari menghampiri pagar. Saat tiba di rumah tadi karena kebiasaan ia langsung mengunci pagar. Padahal, mobilnya pun masih berada di luar.
"Ssst ... suaranya Budhe. Jangan berisik. Nanti Dijah-nya bisa kaget duluan," kata Bara.
"Oh, ini surprise, toh? Mas Bara infonya kurang lengkap. Kalau diinfokan lebih dulu aku bisa pakai mode senyap," kata Tini, menggiring dua bocah laki-laki masuk bersamanya. "Ayo, masuk dan jangan bikin keributan apa pun. Pintunya jangan ditutup dulu. Mak Robin katanya udah deket. Asti sama Boy juga udah jalan menuju ke sini dari tadi."
"Masuk dari pintu belakang aja, Tin. Biar aku yang nungguin Mak Robin," kata Bara.
"Siap, Mas Bara. Suamiku juga masih di kantor. Katanya nyusul. Makanannya tolong jangan dikeluarin semua, ya. Disisain buat Mas-ku. Aku sengaja enggak masak buat malem."
"Siap, Budhe Tini," sahut Bara gantian.
"Bercanda, Mas Bara. Biar enggak kaku banget. Mas yang ada cambangnya enggak diundang?" tanya Tini, belum beranjak dari carport.
"Itu pertanyaan bercanda juga, kan?" tanya Bara dengan suara pelan.
"Yang itu serius," jawab Tini terkikik-kikik seraya meninggalkan Bara yang menghela napas menggeleng-gelengkan kepala.
Tak lama, Mak Robin muncul dengan sepeda motornya. Dari jarak beberapa meter sebelum tiba di pintu pagar, Robin sudah melambai-lambai dari balik tubuh ibunya.
"Motornya masukin aja, Mak." Bara melebarkan pintu pagar untuk memudahkan Mak Robin.
"Udah sampe si Tini?" tanya Mak Robin.
"Udah, Mak. Itu di dalem. Kompak banget pakai baju merah-merah sama Robin." Bara menunjuk Mak Robin dan Robin bergantian.
"Bukannya dress code ulang tahun si Dijah warna merah?" Mak Robin setengah bingung menatap Bara.
"Enggak ada dress code, Mak. Bebas aja. Kan, makan-makan kumpul temen biasa," jawab Bara, meringis menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal.
"Kata si Tini dress code-nya warna merah macam hari raya Imlek. Memang bodat kali muncung si Tini ini," omel Mak Robin berlalu dari carport dan masuk melalui pintu belakang. Robin ikut menatap kemeja merah menyala yang dipakainya dengan penuh paksaan dari rumah tadi.
Beberapa menit berdiri di dekat pagar, Asti muncul bersama putrinya dengan sebuah taksi. Sedangkan Boy muncul dengan sepeda motor besar yang masih mengilap berwarna biru yang berwarna sama dengan helmnya. Asti, putrinya dan Boy juga hadir dengan baju berwarna merah.
"Motor baru, Boy," sapa Bara.
"Bentuk apresiasi buat diri sendiri, Mas."
"Keren," kata Bara, mengacungkan ibu jarinya pada Boy.
"Harusnya aku mau pakai baju biru juga. Biar samaan sama helm dan motorku. Tapi Tini bilang dress code ulang tahun Dijah warna merah. Merah hari raya Imlek katanya. Makanya aku pakai kaos ini." Boy memarkirkan sepeda motornya di carport dan meletakkan helm birunya di stang motor.
Bara meringis. Belum bisa membayangkan percakapan apa yang terjadi di dalam jika melihat Tini datangdengan baju berwarna hitam.
Merasa tamu yang ditunggunya sudah hadir semua. Bara menutup pintu pagar dan mencantolkannya begitu saja.
Bara tiba di ruang makan saat semua orang yang berpakaian merah sedang menatap kesal pada Tini.
Tak ada yang menyahuti Tini. Semuanya masih memandang dengan raut sebal.
"Oke, baiklah. Gimana kalau sekarang aku panggil Dijah keluar kamar? Apa rekan-rekan alumni kandang ayam berkenan duduk mengitari meja menunggu Dijah?" Bara mengedarkan pandangannya ke semua orang. Semua orang mengangguk. "Oke, kalau gitu Dul dan Mima bisa duduk ke sebelah sini. Nanti Ibu bakal duduk di sini." Bara menepuk kursi yang di depannya terdapat cake ulang tahun.
Dul dan Mima memutari meja dan duduk di kanan kiri kursi yang dimaksud Bara. Bara kembali mengedarkan pandangannya. Memastikan semua orang sudah duduk di kursi-kursi yang dia keluarkan sebagai tambahan di ruang makan itu.
"Oke ... kalau gitu tinggal cek ini." Bara menuju ke sebuah tripod dan kamera yang sudah dipersiapkannya untuk mengambil foto dengan setelan otomatis. "Oke...oke, beres semua. Aku panggil Dijah sekarang." Bara meninggalkan ruang makan menuju kamar tidurnya. Dari dalam terdengar suara Dijah bernyanyi lagu anak-anak yang biasa dia dendangkan untuk menenangkan Ibrahim yang selalu aktif.
"Ibra ... anak Ayah udah selesai mandi?" Bara merentangkan tangan pada Ibra yang seketika menelungkup sebegitu melihat kedatangannya.
"Gendong Ibra, Mas. Aku mau kasi minyak rambutnya. Biar anak ibu wangi...biar rambutnya makin banyak," kata Dijah, mengatupkan mulutnya dengan gemas melihat Ibra yang sudah ganteng dalam pelukan Bara.
"Ayo, cepat. Mas mau kasi liat sesuatu." Bara merangkul pundak Dijah dengan tak sabar.
"Kasi liat apa? Sebentar," Dijah meletakkan botol-botol kosmetik bayi ke meja rias dan kembali masuk dalam pelukan Bara. "Mau kasi liat apa?"
"Ayo, ikut Mas aja." Dengan satu tangannya Bara menggendong Ibrahim, dan tangan lainnya merangkul pundak Dijah.
Tiba di ruang makan, langkah Dijah terhenti. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.
"Selamat ulang tahun, Ibu ...." Pekikan Mima paling keras dan memecahkan keheningan. Semuanya tersentak karena terkejut. Termasuk Dijah.
Detik itu, Dijah langsung menoleh pada Bara. "Kejutan ulang tahun aku, Mas?" tanya Dijah.
Bara mengangguk, "Iya, kejutan ulang tahun kamu."
"Itu cake ulang tahun-nya Mas yang beli?"
"Mas yang pilih dan Mas yang beli," jawab Bara.
Mata Dijah sudah memerah karena haru. "Mas yang minta Mbok Jum masak?"
"Iya, Sayang. Buat ulang tahun kamu. Belakangan ini kamu udah capek ngurus anak-anak di rumah terus. Mas sibuk belum sempat ngajak keluar buat jalan-jalan." Bara mengusap setitik air mata yang keluar dari sudut mata Dijah.
"Mas baik banget. Mas juga yang ngumpulin temen-temen aku," kata Dijah, memandang Tini, Mak Robin, Asti dan Boy yang juga tengah menatap haru padanya.
"Iya, biar kamu bisa ngobrol-ngobrol sama temen kamu. Hari ini Mas yang jaga Ibra," kata Bara.
"Sampai Mas minta temen-temen aku pakai baju seragam warna merah gitu?" Dijah semakin terharu memandang teman-temannya.
"Kalau itu bukan kerjaan Mas, Jah. Tapi kerjaan Budhe Tini," jawab Bara, meringis memandang Mak Robin, Asti dan Boy yang kembali teringat untuk memandang sinis pada Tini.
To Be Continued