
Di penghujung pertemuan Dijah dan teman-temannya hari itu, Boy menjadi pusat obrolan karena statusnya yang masih terus sendiri. Semua orang seperti kompak mengajukan pertanyaan sejenis yang semakin memojokkannya.
"Kau sibuk nanya si Dayat kapan punya cewek. Kalo kutengok dari gaya-gayanya si Dayat, gak perlu pun dia diajari, dah pande kali dia pasti. Kaunya yang belum jelas, Boy. Kenapa kau gak maen cewek?" Mak Robin mulai memborbardir Boy dengan pertanyaan pertama.
"Ah, pacaran itu ribet, Mak. Ketiduran aja mesti minta maaf. Aku udah semakin dewasa, Mak...."
"Dewasa? Tua maksud kau?" Mak Robin meralat perkataan Boy yang dinilainya tidak tepat.
"Iya, tua. Makanya aku males yang ribet. Hidup ini udah cukup 'hadeh', Mak. Jadi, sekarang aku harus perbanyak 'Ya udah'-nya aja. Enggak kebayang punya pacar dan harus melalui fase nganter jemput sana-sini."
Asti yang merasa tersindir dengan ucapan Boy, menepuk lutut pria itu. "Aku ya dulu gitu, Mas. Kalau enggak gitu gimana mau saling mengenal?" Asti balik bertanya.
"Mungkin Boy mau mengenal pacarnya lewat CV aja kaya ngelamar kerjaan. Jadi enggak perlu ngelewatin fase anter jemput." Tini meluruskan kakinya di sebelah Boy.
"Lagian pacaran, kan, cuma gitu-gitu aja siklusnya. Akhir minggu ngajak nonton, ke dalam studio bawa popcorn buat dimakan berdua. Yah, itu-itu aja. Bosen," beber Boy.
"Coba lain kali kalau nonton ke dalam studionya bawa tumpeng buat dimakan berdua. Biar enggak bosen," sahut Dijah.
"Astaga ... tapi bener juga, Jah." Bara tergelak dan tertawa terbahak-bahak seraya menyapu wajah Dijah.
Semua orang di ruang keluarga tak ada yang tertawa. Semuanya diam menikmati gelak tawa Bara yang asyik sendiri.
"Kalau gitu enggak usah pacaran, Boy. Mengenal satu sama lain sebentar, dan kalau cocok bisa langsung nikah. Berkeluarga dan syukur-syukur cepat dikaruniai anak. Pasti bakal asyik sendiri dengan keluarga baru." Kali ini Heru ikut menimpali dengan saran yang lazim.
"Mmm...punya anak, ya .... Kenapa mikirnya aja udah repot. Kayanya aku belum siap punya anak. Ngurus anak itu pasti mengambil sebagian besar waktu dan merepotkan," Boy berkata sambil menarik toples berisi emping ke dekatnya.
"Kalau kamu ngurus anak manusia itu enggak repot, Boy. Yang repot itu kalau kamu ngurus anak Krakatau. Itu baru pas dengan penggambaran kamu barusan." Tini ikut menimpali seraya memindahkan toples emping dari depan Boy ke sebelahnya.
"Dari semua yang kami bilang sama kau, semuanya kau enggak setuju. Kalau semua kerepotan hidup ini mau kau hindari, bukan perjalanan hiduplah namanya. Tapi pelarian hidup. Pening pula aku nengok kau," omel Mak Robin.
"Yah ... gimana, ya .... Aku itu belum ngerasa keuangan stabil. Entah kenapa sejak kena pengurangan pegawai beberapa tahun yang lalu aku selalu merasa khawatir soal keuangan. Khawatir kalau aku menikah sekarang dan tiba-tiba terjadi sesuatu di kampung, aku enggak bisa bantu karena udah punya keluarga. Kalian semua tau sendiri kalau aku terserang darah rendah, aku tinggal pulang ke kampung aja buat naikin tensi."
Asti meringis mendengar penuturan Boy. Ia tahu meski Boy terlihat seperti anak yang tidak peduli pada orang tuanya, kenyataan menunjukkan bahwa Boy yang paling bisa diandalkan di antara kakak-beradiknya. Terlebih ibunya sering sakit akhir-akhir ini.
"Tapi udah saatnya Mas Boy mulai memikirkan diri sendiri," ucap Asti dengan lembut.
"Aku inget soal kata-kata ini," timpal Heru. "Sering diucapkan Paklik buat seorang anak yang terlalu peka. Semua temannya mau diselamatkan dari dunia kelam." Heru melirik Bara yang mencibir di sudut ruangan.
"Makasih semuanya buat saran yang keren-keren malam hari ini. Pulang dari acara kumpul-kumpul ini aku pasti akan menjadi sosok yang lebih bijaksana," kata Boy.
"Kalau cuma bijaksana aja pun gak berguna juga, Boy," sambut Mak Robin.
"Inget lagu lama yang pernah kita nyanyikan dengan mic galaumu itu? Walaupun hidup seribu tahun enggak ada pasangan apa gunanya." Tini dan Asti terkekeh mengingat lagu yang sering mereka nyanyikan di kandang ayam dulunya.
"Yang udah ada pasangan sekarang bisa ngomong gitu, Boy." Heru terkekeh-kekeh meledek Tini.
"Lha, iyo ... makanya liat Boy ogah-ogahan disarankan menikah aku ikut kesel." Tini meraup emping di toples dan memakannya dengan santai. "Menikah itu enak, Boy. Karena bisa buat kitaberhenti mengagumi milik orang lain." Tini terkikik-kikik geli karena kata-katanya sendiri. Sedangkan Boy mencibir mendengar perkataan Tini.
Berbeda dengan Heru yang mengulum senyum mendengar perkataan Tini, Bara malah melemparkan tatapan sebal pada kakak sepupunya.
Seiring usainya perkataan Tini, terdengar suara pintu pagar besi yang digeser.
"Nah, ini pasti yang baru datang adalah Mas-ku si lesung pipi." Tini membenarkan letak duduknya dan mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.
"Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah," kata Mak Robin.
"Permisi ...." Suara Wibi terdengar dari pintu depan.
"Sebentar aku menyongsong suamiku ke pintu." Tini bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan.
Tak lama, Tini muncul kembali bersama Wibi yang menenteng sebuah bungkusan besar.
"Apa itu, Tin?" tanya Mak Robin.
"Bayaran makan kami sekeluarga, Mak." Tini meletakkan sebuah kado besar di tengah-tengah alumni kandang ayam yang menatap penasaran.
To Be Continued
Maafkan saya yang sangat lelah hari ini. Besok kita update seperti biasa ya ....