
Annisa menghabiskan waktu menunggu acara wisuda selesai dengan berkutat di ponselnya. Dengan tetes air mata yang disembunyikan, Annisa mengirimi pesan bertubi-tubi pada Dul.
‘Tega banget kamu.’
‘Bilang aja kalau selama ini kamu memang enggak pernah berharap kita bisa sama-sama.’
‘Aku benci kamu. Kita enggak usah ketemu lagi.’
‘Pengecut.’
‘Nyesel udah kenal sama kamu.’
‘Buang-buang waktu ngomong sama kamu.’
Annisa menyeka air matanya sebelum meninggalkan kursi. Ia sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi menemui Dul dan menerima pria yang dikenalkan papanya. Malas memikirkan soal pria yang ia cintai tapi tak ada usaha sama sekali buatnya. Mungkin mereka memang tidak berjodoh, ratap Annisa dalam hati.
“Ada rencana mau ke mana? Kita makan siang sama-sama sebelum pulang.” Papa Annisa menghampiri sebegitu acara wisuda selesai. Mereka masih berada di dalam gedung.
“Ariz mana?” tanya Annisa pada papanya.
Sepertinya Papa Annisa sedikit terkejut dengan pertanyaan putrinya. “Ariz di luar. Memangnya kenapa? Mau ketemu? Ayo keluar. Icha bisa ketemu Ariz. Ariz memang selalu nanya kapan bisa ketemu kakaknya lagi.” Suara antusias dan bahagia tak bisa tersembunyikan. Entah ada angin apa sampai putri bungsunya yang keras kepala itu mau bertanya adik kandung yang enam tahun tak diterima dan selalu diabaikannya.
Annisa tersenyum. “Icha mau ketemu Ariz tapi enggak mau makan siang di luar. Icha capek mau cepat-cepat rebahan.” Langkahnya sudah tak bersemangat. Dalam kepalanya hanya terbayang rebahan di ranjang dan menangis sepuasnya. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan pria yang ia cintai nyatanya tak menjamin hubungan itu sampai ke jenjang pernikahan. Hari itu ia sedang ingin mengasihani dirinya.
“Yakin enggak mau makan di luar? Icha sudah sarapan?” Papa Annisa terus menjajari langkah putrinya. Sampai melupakan istrinya yang terseok-seok dalam himpitan kain panjang berbentuk rok yang dikenakan ke hari istimewa putri mereka.
“Icha cuma makan sepotong roti pagi tadi. Harusnya jam segini udah laper. Tapi kalau memang belum mau makan enggak apa-apa. Istirahat di kamar aja.” Ibu sambung Icha ikut menimpali dari belakang.
Papa Annisa menghentikan langkah dan menunggu istrinya. “Kamu enggak apa-apa kalau kita pulang aja, kan? Mungkin Icha lagi enggak mood.”
“Pacarnya enggak dateng lagi, kan? Pacar Icha enggak dateng karena Papa. Harusnya jangan gitu. Papa tadi dengar kalau Icha nanya Ariz, kan? Aku udah bilang kalau bagaimana pun Icha dan Ariz itu saudara kandung seberapa kesalnya dia sama papanya. Icha pasti sayang adiknya. Dan kita pasti bisa meyakinkan Icha. Pelan-pelan Icha pasti mau nerima aku dan anak-anak. Kalau Papa tetap bersikeras menolak pacarnya Icha, kapan hubungan keluarga kita membaik?” Wanita yang beberapa tahun silam dinikahi Papa Annisa ikut mengungkapkan isi hatinya. Bertahun-tahun bersikap seperti musuh bebuyutan dengan putri sambung membuatnya cukup lelah.
“Papa sudah melukai Icha. Kamu ingat ,kan, kalau kita menikah tanpa izin dari Icha?” Papa Annisa mengernyitkan dahi memandang istrinya.
“Udah bertahun-tahun. Apa Papa enggak bisa ngomong ke Icha kalau aku sayang dia? Icha itu anak perempuanku satu-satunya. Icha enggak akan punya adik lagi selain Ariz. Icha tetap paling cantik di rumah. Kenapa orang-orang yang saling menyayangi bisa sama keras kepala dan gengsinya? Aku capek dalam situasi ini terus-terusan. Kasian aku, kasian Icha dan kasian Ariz, Pa. Biarlah kita yang mengalah lebih dulu. Kalau Papa terima pacar Icha, aku yakin hati Icha bakal lembut ke kita.”
Papa Annisa tercenung dan memandang tubuh Annisa yang berbalut toga melangkah gontai keluar gedung. Sepasang pintu besar itu sudah dibuka dan peserta wisuda hari itu mulai terurai keluar satu persatu. Tatapan mereka yang tadinya menerawang perlahan-lahan menemukan fokusnya. Sesosok bocah kelas satu SD yang tadi ia minta menunggu di sebuah stand jajanan bersama wanita asisten rumah tangga terlihat di depan pintu bersama seorang pria berseragam.
“Itu … itu Ariz digandeng siapa? Bukannya tadi sama Yati? Yatinya mana? Itu siapa—” Papa Annisa menyipitkan mata untuk menyesuaikan pandangannya di bawah silau cahaya luar ruangan.
Di depan pintu Dul berdiri dengan sebuket bunga sambil menggandeng adik bungsu Annisa dari lain ibu. Di depan Papa dan ibu sambungnya, langkah kaki Annisa terhenti. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Sosok pria yang ia sumpah serapahi dalam hati sejak tadi.
Annisa terlihat sama syok dengan kedua orang tuanya. “Ariz?” Ucapan itu bukan bentuk pertanyaan yang sebenarnya. Hanya ungkapan keheranan. “Kenapa bisa? Ngapain?” Kata-kata itu keluar lirih saja dari bibirnya.
“Sini! Sini! Aku ketemu Mas pilot.” Ariz melonjak-lonjak tak sabar tapi tetap memegang tangan Dul.
Annisa melangkah keluar gedung mendekat. Dul. Sorot matanya lurus memandang Dul yang perlahan menepikan langkahnya agar tak mengganggu lalu lalang orang di pintu utama.
“Ariz?” sapa Annisa, memandang adiknya. Masih malu untuk langsung memandang Dul. Ia sedikit membungkuk untuk mencubit pelan pipi Ariz dan merapikan rambut bocah itu.
“Dokter Annisa Inayah Abbas spesialis penyakit dalam, selamat atas kelulusannya. Semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat buat orang banyak. Juga … berdedikasi dalam profesi dan kecintaannya dengan ilmu kesehatan.” Dul menyodorkan buket bunga pada Annisa.
Annisa belum pulih dengan keterkejutannya. Tangannya masih menggantung canggung di kedua sisi tubuhnya. Tak terukur untuk menyambut buket yang disodorkan Dul.
“Nisa … kalau kamu enggak terima buket bunga dari aku, aku enggak akan bisa lanjut ke paragraf berikutnya.” Dul berkata sangat pelan dan suaranya agak khawatir.
“Oh,” kata Annisa, cepat-cepat mengambil buket bunga. Ia menghirup aroma bunga dan mendekapnya. “Wangi …. Makasih Lettu Penerbang Abdullah …. Mmmm … paragraf berikutnya apa?” Annisa kemudian mengatupkan bibir. Berusaha keras menyembunyikan rasa tak sabarnya.
“Sebelum paragraf berikutnya kamu harus lihat itu dulu.” Dul menoleh ke belakang. Menunggu beberapa saat sampai Mima, Ibra, Putra, Robin dan Yoseph muncul dengan aksesori masing-masing.
Annisa hampir menangis kembali ketika melihat Mima dan Ibra berdiri memegang karton ucapan selamat atas kelulusannya. “Mbak Nisa …. Selamat ya ….” Mima melambai.
“Robin memegangi selusin balon metalik warna-warni. “Nisa …. Selamat ya … jangan merajuk-merajuk lagi!” seru Robin. Dul meringis. Pesannya pada Robin tadi bukan kata-kata yang barusan diucapkan.
“Kami bawa ini, Nis! Selamat ya …. Semoga Annisa menjadi dokter yang sakinah, mawadah, warahmah.” Yoseph mengangkat sebuket besar bunga lainnya.
“Salah ucapan, Seph. Harusnya bukan yang itu. Itu untuk ucapan nanti,” bisik Putra. “Enggak baca urutan acara.”
“Maaf, Put. Tapi saya rasa Annisa cukup senang dengan ucapan barusan. Terbukti dia mengusap air mata haru di pipinya.” Yoseph balas berbisik.
“Yang ikut rame banget …,” bisik Annisa dengan wajah memerah karena tersipu. “Ada Mima … kangen ngobrol sama Mima. Ibra juga. Robin, Putra, Yoseph …. Semuanya baik banget mau ikut dateng ke sini.”
“Belum rame. Ini belum semuanya. Tim yang di depan kamu sekarang disebut tim ucapan kelulusan. Masih ada tim yang lain.” Gantian Dul mengatupkan bibirnya sebentar karena gugup.
“Tim apa?” Annisa mengedarkan pandangan ke belakang Dul dan orang-orang di sekitar mereka. Ia juga menyempatkan diri menoleh ke belakang untuk melihat reaksi papa dan ibu sambungnya.
“Tim yang ini ….” Dul mundur beberapa langkah. “Ariz ikut Mas sebentar ya.” Dul mengacak rambut Ariz dan membawa bocah laki-laki itu untuk menjemput segerombolan orang tua yang telah menanti isyarat untuk diperbolehkan keluar.
To be continued