Dul

Dul
042. Semua Ada Saatnya



Bara tiba di rumah lebih awal karena niatnya menemui Pak Wirya batal hari itu. Ayahnya masih berada di Rumah Aman; rumah penampungan bagi perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan yang membutuhkan pendampingan selama menjalani proses hukum. Selama memasuki masa pensiunnya, Pak Wirya kini kembali aktif di sana. Bara sudah membuat janji untuk bertemu jam makan siang esok hari.


Untuk masalah Dul, Bara sudah memberi gambaran pada ayahnya. Ia dan Pak Wirya sepakat akan membicarakan hal itu bersama Dijah dan Dul secara terpisah lebih dulu.


Sore itu tak ada yang menghampiri Bara di ambang pintu. Biasanya Dijah sudah berada di teras tiap mendengar suara pintu pagar berat yang digeser. Atau Mima yang menghambur keluar menagih jajanan apa pun yang memang selalu disiapkannya di mobil untuk dibawa turun. Sekecil apa pun jajanan itu, Mima akan melonjak-lonjak senang. Atau bisa juga Dul yang biasanya keluar untuk membantu membuka pagar dan menungguinya memasukkan mobil ke carport. Sore itu sepi. Bara penasaran ke mana semua penghuni rumahnya.


Bara melepaskan sepatu dan masuk melalui pintu depan. Di bahunya tersampir sebuah ransel dan tangannya menggenggam plastik minimarket yang berisi cokelat dan snack untuk Mima, juga Dul.


“Kalau kamu enggak mau, nanti Pakdhe-mu yang di sana bakal dateng ke sini. Bawa orang Lembaga Bantuan Hukum. Kamu enggak kasian sama Ibu? Ibu enggak mau ketemu mereka, Dul …. Ibu enggak mau.”


Suara Dijah yang menangis sudah terdengar dari ruang tamu. Bara terus melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Lalu terdengar teriakan Dul.


“Aku enggak mau … aku enggak mau!”


“Dengerin Ibu—”


“Aku mau Ayah aja—”


Suara perdebatan ibu dan anak itu membuat Bara mempercepat langkah kakinya.


“Tapi Bapak kandung kamu memang yang di sana! Bukan Ayah yang di sini!"


“Dijah!!”


Tak sadar, Bara ikut berteriak. Tatapan tajamnya berpindah antara Dul dan Dijah yang sedang sama-sama menangis.


“Ada apa ini? Apa enggak ada yang menghargai Ayah sebagai kepala keluarga?” Bara melepaskan ransel dan meletakkan bungkusannya di lantai.


“Aku enggak punya bapak lain selain Ayah, kan?” Dul berdiri dari sofa dan memutar tubuhnya menghadap Bara. Keterkejutannya berganti dengan sesuatu yang lebih penting lagi. Yaitu, jawaban Bara yang memuaskankan hatinya.


Bara mengabaikan sejenak pertanyaan Dul dan beralih memandang Dijah yang sesegukan. “Kamu enggak inget Mas ngomong apa kemarin? Mas bilang tunggu … Mas ngomong ke kamu lebih dulu bukan untuk ini. Mas cuma perlu menenangkan hati Mas yang sama bingungnya. Kenapa kamu enggak sabar?”


“Aku enggak ada maksud apa-apa, Mas. Aku cuma khawatir kalau Dul bakal nolak dan ngomong kasar ke Ayah. Aku takut, Mas …. Bagaimana juga kami berdua berbeda. Aku enggak mau Mas malu karena kami.” Dijah terisak-isak dan menunduk di sandaran sofa.


“Malu kenapa? Memangnya kamu dan Dul siapanya Mas? Apa udah sekian tahun kamu masih enggak bisa percaya Mas?”


“Ayah … jawab aku. Aku enggak punya bapak lain selain Ayah, kan?” Air mata Dul meleleh ke pipinya. Namun, sorot matanya tegas meminta jawaban.


“Dul … Ibu harus ngomong gimana ke kamu? Ibu juga enggak suka, Ibu enggak mau. Tapi kita harus terima. Mau sampai kapan kita membohongi diri kita sendiri?” Dijah mengangkat wajahnya untuk memandang Dul.


Bara memandang Dul, “Denger Ayah dulu—” Ucapannya terpotong oleh perkataan Dul.


Kini Dul menatap Dijah, “Aku enggak punya bapak narapidana. Aku enggak pernah punya bapak dari dulu. Aku enggak pernah punya bapak. Kenapa Ibu ngomong kayak gitu? Aku enggak mau—”


“Asal kamu tau, Ibu juga enggak pernah menganggap kamu punya bapak. Dari dulu Ibu ngerawat kamu sendirian. Ibu banting tulang sendirian biar kamu bisa hidup lebih baik dari Ibu dan manusia mana pun di dunia ini. Kamu anak Ibu. Lihat akte kelahiran kamu. Kamu ini anak Ibu. Enggak ada nama orang lain di sana selain nama Ibu. Sampai kapan pun kamu tetap anak Ibu, Dul …. Tapi ada orang lain yang kepingin ketemu kamu. Anggap ada orang lain yang kepingin ketemu kamu. Apa Ibu enggak bisa minta tolong?”


“Dijah … tolong hargai Mas di sini. Dul … pergi ke kamar. Nanti kita ngomong berdua. Nanti kita bicarakan ini hanya berdua. Kamu dan Ayah. Ibu sedang mengandung. Ayah khawatir—ya, ampun … Ayah harus ngomong gimana?” Bara berdecak gemas memandang Dul yang semakin menyorotkan kekecewaan padanya.


“Kamu denger apa kata Ayah barusan? Ke kamar sekarang. Nanti Ayah nyusul.” Dijah menyusut air matanya.


Dul menyambar ponselnya dari sebelah televisi dan memutari sofa diiringi tatapan Dijah dan Bara.


“Enggak ada yang mau jawab pertanyaan aku. Aku cuma nanya, aku enggak punya bapak selain Ayah, kan? Kalau enggak ada yang jawab, biar aku yang tanya sendiri ke orang yang kepingin ketemu aku.” Dul berlari melewati Bara dan melesat keluar rumah melalui pintu depan.


“Dul! Dul! Aduh!” pekik Dijah, memegangi perutnya.


Bara berlari keluar menyongsong pagar yang sudah sedikit terbuka. Cukup untuk Dul meloloskan tubuhnya yang kurus dan jangkung. Puncak kepalanya terlihat di luar pagar. Berlari melewati bagian depan rumah menuju ke luar komplek. Satu hal yang disadari Bara akhir-akhir ini. Dul mewarisi bentuk tubuh ayahnya yang tinggi jangkung. Bocah laki-laki yang memasuki usia remajanya itu sudah semakin tinggi. Bahkan melewati tinggi ibunya.


“Dul! Dul!” panggil Bara, lalu terhenti. Mengingat langit sudah gelap dan tetangga bisa mendengar keributan keluarga mereka.


“Aduh …,” rintih Dijah.


Langkah kaki Bara tertahan di dekat pagar. “Dijah ….” Bara seketika kembali memutar tubuhnya menuju ke dalam.


“Ayah … Mas Dul? Mas Dul ke mana? Ibu kenapa? Ibu sakit ….” Mima berdiri di dekat Dijah. Memegangi lutut ibunya yang sedang meringis menunduk ke sandaran sofa.


“Mas Dul keluar sebentar. Ke rumah temennya. Ibu—kita tolong Ibu dulu.” Bara duduk di sofa dan mengangkat bahu Dijah. “Jah .. mana yang sakit? Perutnya sakit? Kamu enggak apa-apa? Anak Mas enggak apa-apa, Jah?” Bara memeluk Dijah agar tubuh wanita itu condong padanya. Tangannya menyusuri punggung Dijah melewati pinggang, pinggul dan tiba di bagian belakang. “Ada perdarahan apa enggak? Kamu jangan bikin Mas takut … ayo, kita ke rumah sakit,” ujar Bara. Tangannya masih meraba-raba bagian belakang tubuh istrinya.


To Be Continued