
Sebelum kedatangan Bara ke café, Dul sudah lebih dulu menjadi pengamat di sana. Suasana café itu saat malam ternyata semakin ramai. Dua jam duduk di sana bersama Heru, Dul mengamati bermacam-macam orang yang keluar masuk. Rata-rata pria berpakaian kantoran, sedangkan wanitanya beragam. Ada yang terlihat memakai seragam kantor, ada juga yang berpakaian santai.
Setiap kali ada yang melintas di dekat mereka, Dul bisa mencium aroma parfumnya. Beberapa dari mereka melihat Dul beberapa saat, kemudian berlalu begitu saja. Mungkin karena ia satu-satunya anak kecil yang berada di café itu. Lampu yang menjadi temaram, ditambah alunan musik Ballad, membuat Dul tak terasa sudah menghabiskan sepiring spaghetti. Padahal judul malam itu harusnya makan malam bersama ayahnya. Café itu merupakan pemandangan dan suasana baru buatnya.
Beberapa saat sebelum kedatangan Bara, Heru yang tadinya menghadap pintu, dan mengayunkan kepala menikmati musik, tiba-tiba bergeser dan menoleh ke arah Dul. Pria itu bukan menatap Dul, melainkan dinding kaca di sebelah mereka.
“Pakdhe, kenapa?” tanya Dul heran.
“Ehem, kamu lihat wanita yang baru masuk pakai kemeja putih itu?” Heru sedikit melirik ke arah wanita yang dimaksudnya, lalu kembali menatap Dul. Posisinya sedikit menyerong dari meja yang dipilih wanita berkemeja putih.
Dul melihat ke arah yang dimaksudkan oleh Heru. “Lihat. Memangnya kenapa?” tanya Dul lagi. Ia masih belum mengerti.
“Di mana wanita itu duduk?” Tak sempat menjawab Dul, Heru malah balik bertanya.
Dul kembali melihat wanita berkemeja putih. Kali ini pandangannya tidak jauh. Wanita yang dimaksud Heru duduk tepat di meja sebelah mereka. Heru hanya tinggal menoleh sedikit saja, maka bisa beradu pandang dengan wanita itu.
“Wanita pakai kemeja putih … duduk di belakang Pakdhe,” ucap Dul.
“Serius kamu?” Heru membelalak. Dul mengangguk. “Bisa-bisa leher Pakdhe pegal karena ngadep sini terus,” ucap Heru pelan.
“Memangnya itu siapa?” Dul sama sekali tidak mengerti. Kemungkinan apa yang membuat seorang pria malas bertemu dengan wanita? Dul tak memiliki bayangan saat itu. Ia hanya paham wanita yang menghindari pria. Seperti ibunya yang menghindari bapaknya dulu. Ada apa dengan Heru? “Mmmm … apa wanita berkemeja putih itu bakal mukul Pakdhe kalau ketemu?” Pertanyaan polos Dul yang membuat Heru seketika menegakkan tubuhnya.
“Mukul mungkin enggak. Tapi sebaiknya Pakdhe enggak usah ketemu lagi dengan wanita itu.” Heru semakin memiringkan tubuhnya untuk membelakangi meja di sebelah mereka.
Tiba-tiba suara benda terbuat dari besi jatuh dari meja sebelah dan bergulir di bawah meja sampai tiba menabrak ujung sepatu Heru.
“Padahal baru dikeluarin dari kotak. Udah jatuh aja,” ucap wanita di meja sebelah.
“Ya, ambillah. Minta tolong ke Mas di sebelah,” ujar temannya.
“Oke, wait,” sahut wanita itu.
Heru kembali membelalak lagi. “Dul … ambil benda yang di dekat kaki Pakdhe. Cepat kembaliin ke meja sebelah. Pakdhe enggak mungkin noleh ke sana.”
Heru menarik napas dan memejamkan mata saat mendengar ucapan Dul. Berharap wanita di meja sebelah tidak terlalu menggubris arti ucapan Dul.
Dan ternyata, persembunyian itu tidak bisa bertahan lebih lama. Heru yang mengubah posisi duduknya tidak melihat kedatangan Bara. Dul yang masih diliputi tanda tanya pun, luput memperhatikan kedatangan pria itu.
“Mas, kok, anakku diajakin bolos? Di ajak ke sini pula.”
Seruan Bara yang cukup keras, membuat Heru dan Dul sama terkejutnya. “Santai, Ra. Hari ini kita bertiga bujangan,” sahut Heru masih dengan posisi menyerong. Tangannya meraih menu dan menyodorkannya pada Bara.
“Udah hari terakhir, harusnya sayang dilewatkan. Ini kenapa duduknya begini?” Bara menarik bangku di seberang Heru dan Dul diiringi tatapan Heran. “Ngapain ngeliatin dinding kaca?” Jiwa wartawannya tidak terima begitu saja. Pasti ada suatu hal yang sedang terjadi.
“Cuma satu jam terakhir aja bolosnya. Lagian aku kebetulan lewat daerah sana, kalau aku bolak-balik lagi ke kantor terus jemput Dul, bisa kena macet. Udah sore,” jelas Heru, menyodorkan menu café pada Bara. Berharap kalau Bara tidak terlalu membahas alasan kenapa ia duduk dengan posisi seperti itu.
“Ya … kenapa harus ke tempat ini,” ucap Bara, memelankan suaranya. Berharap tidak didengar oleh Dul. Padahal dengan jarak sedekat itu mustahil Dul tidak mendengarnya.
“Memangnya kenapa? Dul udah gede. Entar lagi SMP. Takut bener kalo Dul ngomong macem-macem ke ibunya,” seloroh Heru.
Bara mengangkat menu dan memukul pelan lengan Heru karena perkataan itu. “Ini café enggak cocok buat anak-anak. Buat bawa istri juga enggak cocok. Bisa memicu pertanyaan-pertanyaan—” Bara terdiam tak melanjutkan ucapannya. Pandangannya beradu dengan wanita berkemeja putih di meja sebelah.
“Bara … kamu Bara, kan?” tanya wanita berkemeja putih yang ternyata mengenali Bara.
“I-iya … Mbak … Mbak Rini apa kabar?” tanya Bara, melirik Heru.
“Baik—baik, kamu sama siapa?” Wanita yang bernama Rini itu akhirnya menatap punggung Heru. Dahinya mengernyit, detik berikutnya matanya melebar karena mengenali Heru. “Oh, ternyata laki-laki itu memang menghindari aku terus sampai sekarang,” ucap Rini.
“Mungkin enggak keliatan,” tukas Bara. “Mas … ini Mbak Rini, lho. Belum ada ngeliat, kan?” Bara menatap Heru penuh arti. Sekejab saja ia sudah mengerti penyebab posisi duduk Heru yang memang aneh sejak tadi.
Heru memutar tubuhnya dan membuat raut terkejut. “Oh, Rini … enggak nyangka kita ketemu di sini. Cuma berdua aja?” tanya Heru, memandang seorang wanita lainnya yang duduk di seberang Rini.
“Iya, aku berdua aja bareng temenku. Letta, kenalin ini Heru,” ujar Rini, memandang temannya lalu memandang Heru yang berdiri mengulurkan tangan. Wanita yang bernama Letta itu menyambut uluran tangan Heru. “Kamu sengaja enggak ngeliat aku, kan?” todong Rini tertawa kecil. Ia bertukar pandang dengan Letta yang berada di depannya.
To Be Continued