
Dan beginilah Dul di masa menjalani menjalani SMP-nya. Datang tepat waktu tanpa pernah terlambat sekali pun. Duduk di kursi nomor dua dari belakang yang bersebelahan dengan dinding. Sedikit sulit memanjang-manjangkannya cerita pada temannya. Menjawab atau menimpali seperlunya saja. Apalagi kalau itu teman wanita. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun makin sedikit.
Di kelasnya, Dul duduk berdekatan dengan Putra. Seorang remaja yang bertubuh tambun, berkulit kuning langsat dan wajahnya selalu ceria bersahabat. Selain Robin, mungkin hanya kepada Putra-lah Dul banyak berbicara.
"Semuanya udah punya kelompok. Sisa kita berdua aja. Sama anak perempuan itu. Satu kelompok minimal tiga orang," kata Putra, menunjuk murid baru perempuan yang menempati kursi Dul sebelumnya. "Gimana? Enggak ada pilihan lain. Kamu harusnya iyain aja waktu Emi ngajakin tadi. Sok jual mahal. Kita jadi luntang-lantung." Putra mendengkus pada Dul.
"Sama aja kita berdua atau masuk ke kelompoknya Emi. Sama-sama tugas kelompok, ya harus dikerjain sama-sama." Dul meraba lacinya dan menarik keluar buku cetak matematika.
"Beda cerita, Dul. Emi itu naksir kamu. Kalau kita sekelompok dengan dia, kita tinggal ongkang-ongkang kaki. Enggak perlu ikut ngerjain tugas. Dari tadi dia ngeliatin kamu aja," bisik Putra dengan aksen Jawa-nya yang kental.
"Udah, enggak usah dibahas. Kita berdua aja enggak apa-apa. Nanti ngerjain tugasnya di rumahku. Kalau kamu bisa akhir minggu aja. Ayahku di rumah dan kita bisa nanya-nanya," jelas Dul.
"Anak baru itu? Ajakin ke rumahmu juga? Kita satu kelompok dengan dia, lho. Anaknya sombong minta ampun. Enggak pernah mau diajak gabung. Ke mana-mana sendiri. Anak laki-laki kelas sebelah banyak yang naksir. Tapi enggak pernah dipedulikan tiap dipanggil. Mentang-mentang orang kaya," omel Putra lagi.
"Kamu aja yang ngomong ke dia. Kamu juga atur waktunya. Mau di mana, mau kapan. Pokoknya kamu ketua kelompok kita. Aku ngikut aja. Lagian tugasnya gampang, kok. Materi Things around us. Sebenarnya dikerjain sendiri juga bisa, tapi nanti malah ngenakin kamu." Dul terkekeh.
"Iyo, ngertilah. Yang pinter itu kelebihannya ya ini. Bisa merintah-merintah," balas Putra.
Pulang sekolah, Dul berjalan berdampingan dengan Putra menuju gerbang sekolah. Di depan mereka, siswi perempuan pindahan itu terlihat tergesa-gesa.
"Aku ngomong sekarang, ya. Mumpung dia belum masuk ke mobilnya," Putra menepuk pundak Dul dan berjalan menjajari langkah siswi itu.
"Kita satu kelompok buat tugas bahasa Inggris. Kalau mau, akhir minggu ngerjainnya sama-sama di rumah Dul," Putra menunjuk Dul di belakangnya. Siswi pindahan itu menoleh ke belakang sejenak dan kembali melanjutkan langkah.
"Aku enggak bisa. Akhir minggu...pokoknya enggak bisa. Aku kerjain sendiri aja," kata siswi itu.
"Ora iso (enggak bisa), mesti kerja kelompok. Kalau bisa ngerjain sendiri, aku enggak perlu repot-repot jadi perantara." Putra kembali menoleh pada Dul seraya mengangkat bahu.
"Ya udah, namaku enggak usah dimasukin juga enggak apa-apa. Aku enggak usah ngerjain. Nanti aku yang ngomong ke guru."
Begitulah, Dul dan Putra berdiri menatap punggung siswi pindahan yang masuk ke mobil sedan hitam dan langsung pergi dari depan gerbang sekolah.
"Jadi, gimana?" Putra menatap Dul.
Tugas kelompok itu akhirnya hanya dikerjakan Dul dan Putra berdua saja. Akhir minggu itu Putra menepati janjinya untuk menyambangi rumah Dul. Tiga jam berada di kamar dipakai keduanya untuk mengerjakan tugas selama sejam dan dua jam lainnya Dul gunakan untuk mendengarkan omelan Putra soal siswi pindahan.
"Ngeselin, kan. Ternyata memang bener kata teman-teman sekelas. Anaknya enggak mau bergaul. Terlalu cuek dan mukanya itu, lho .... Kaku kebangetan."
Dul sedang membuka lemari kacanya dan menyeka salah satu miniatur pesawat dengan lap khusus yang dibelikan Bara. Sesekali ia tersenyum atau tertawa kecil mendengar ocehan Putra tentang siswi baru.
Kejadian seperti itu ternyata berulang di banyak hari berikutnya. Dul yang terlampau cuek dan tidak peduli dengan siapa ia akan dipasangkan tiap ada tugas kelompok, selalu berakhir dengan Putra yang kurang tenar dan siswi baru yang sombong dan selalu tak punya waktu.
"Dul, si anak baru nitip ini. Seperti biasa, dia enggak bisa ikutan tugas kelompok. Tapi, kali ini lumayan. Dia nitipin buku yang katanya bisa jadi sumber yang bagus buat tugas IPA kita." Putra meletakkan sebuah buku tebal bertuliskan 'Kamus IPA Lengkap dan Bergambar'.
Dul yang sudah sangat terbiasa, menerima kabar itu biasa saja. Ia mengambil kamus IPA itu dan menyimpannya ke tas. Tugas itu adalah tugas akhir mereka di tahun itu. Tahun berikutnya mereka sudah beranjak naik ke kelas 2 SMP.
Kesibukan Dul sebagai pelajar di tahun kenaikan kelas membuatnya sedikit lupa bahwa ia masih menyimpan buku milik siswi pindahan itu. Terlebih saat kenaikan kelas 2 SMP, nama Dul masuk ke dalam jajaran siswa yang akan menempati kelas unggulan. Ia dan Putra berpisah. Begitu pula dengan siswi pindahan yang hanya sesekali dilihatnya melintasi kelas sendirian.
"Seperti biasa, enggak peduli sama orang," ucap Dul. Tak sengaja, komentar itu meluncur begitu saja. Dul menyadari ucapannya barusan dan sedikit malu pada dirinya sendiri karena terlalu nyinyir.
Yang penting dia enggak pernah ganggu orang lain, kan?
Suara hati Dul yang lain mengingatkan. Dul beringsut menjauhi jendela dan kembali duduk di kursinya. Kelas unggulan selalu penuh dengan anak-anak yang aktif dan rajin belajar. Tak banyak siswa yang hobi mengobrol seperti Putra.
Dan karena murid laki-laki lebih sedikit dibanding murid perempuan, kehadiran Dul jadi tampak menonjol. Untuk tugas-tugas kelompok pun ia tak perlu repot-repot mencari kelompok. Banyak murid perempuan yang sering menawarkan diri belajar bersamanya.
Bahkan, beberapa tak segan menyarankan agar mereka datang ke rumah Dul di akhir pekan. Biasanya kalau sudah begitu Dul hanya tersenyum kaku menampik usul itu. Ia malu pada ayah ibunya. Merasa segan kalau harus menerima tamu anak-anak perempuan yang pasti lebih banyak tertawa cekikikan ketimbang belajar. Ditambah lagi dengan bayangan soal Mima yang akan memandangnya dengan penuh arti. Untuk itu Dul memilih untuk mendatangi rumah temannya.
Suatu siang di tengah tahun pelajaran mereka, Putra yang sudah lama tak terlihat muncul di depan pintu kelas Dul.
"Tumben inget aku," sapa Dul dengan ransel di bahunya.
"Soal siswi pindahan itu ... besok hari terakhir dia sekolah di sini. Katanya mau pindah lagi. Kalau aku hitung-hitung, dia cuma setahun di sini. Enggak tau mau pindah ke mana."
To Be Continued