
Di antara mereka, tak ada satu pun yang bisa disalahkan. Dul memang datang tanpa pemberitahuan. Ingin membuat kejutan meski pada akhirnya dialah yang terkejut. Annisa tidak menjawab panggilan pasti karena sibuk bersiap-siap menemui papanya di luar pagar. Dan hujan datang bukan atas permintaan Papa Annisa. Dul masih berdiri di sudut pagar dengan buket mawarnya.
“Pa … Papa enggak boleh gitu,” rengek Annisa.
“Sudah hujan,” seru Papa Annisa dengan wajah tegas.
“Abdullah ….”
“Aku tunggu di sini.” Dul berusaha bicara setenang dan setegas mungkin. “Maaf kalau saya menunggu Annisa, Om.” Dul kembali mengangguk dan mengulas senyum pada Papa Annisa.
Malam itu, di depan matanya Annisa dibawa pergi oleh orang tua dan seorang pria muda yang mengabaikan kehadirannya.
Dul pernah merasa tidak dianggap. Ia paham bagaimana rasanya dan bisa dengan jelas mendeskripsikannya pada orang-orang. Perasaan tidak dianggap yang sudah ia lupakan karena kehangatan sebuah keluarga yang diberikan Bara mampu menambalnya. Namun malam itu luka sebagai seseorang yang tidak dianggap kembali menganga.
Sebuah buket dan sekotak cokelat menjadi saksi usahanya malam itu. Annisa masuk ke mobil papanya dengan sorot mata penuh amarah. Marah karena kekasihnya diperlakukan tidak pantas, marah karena sang kekasih juga memilih mengalah dan membiarkannya pergi makan malam bersama pria muda lain. Dul tahu Annisa sangat marah padanya.
Dul memang berniat menunggu Annisa sampai kembali ke rumah. Ia tak mau meninggalkan tempat itu berhasil meyakinkan penjaga kos untuk memperbolehkannya menunggu di teras.
Kalau menuruti ego, ia bisa saja menahan Annisa untuk tidak pergi. Tapi ia pasti merasa seperti pecundang yang takut kalah. Perbuatan itu juga pasti dibenci oleh setiap orang tua yang memiliki anak gadis. Bagaimana kalau Bara yang diperlakukan seperti itu oleh kekasih Mima? Dul pasti akan dengan senang hati menghajar pria yang memperlakukan ayahnya dengan buruk.
Lalu, kembali ke pertanyaan hal apa yang membuat Dul yakin kalau Annisa adalah sosok wanita yang dibutuhkannya sebagai pendamping hidup?
Annisa kembali ke kos-kosannya dua jam kemudian dengan pakaian basah kuyup.
“Kenapa hujan-hujanan?” Dul setengah memekik saat itu. Ia cepat-cepat menyeret Annisa untuk berdiri di teras.
“Kalau aku pulang naik mobil Papa, aku pasti enggak dikasih langsung ke sini. Mungkin Papa bakal cari alasan biar aku bisa di restoran itu lebih lama. Kamu udah senang, kan? Aku tetap jadi anak baik yang nurut sama orang tua.” Gigi Annisa bergemeretak karena dingin.
Dengan sifat keras yang dimiliki Annisa, sebenarnya Dul tahu kalau gadis itu pasti pintar sekali berargumen dengan sang ayah. Annisa gadis cerdas yang selalu memiliki opininya sendiri. Tapi dalam hubungan mereka, Annisa memilih untuk menuruti keinginan Dul yang bertindak pelan-pelan dalam mengambil hati ayahnya.
Dul yang pakaiannya sudah setengah basah meraih Annisa ke dalam pelukan. Cukup lama mereka berdiri saling mendekap satu sama lain. Sibuk menduga apa yang terjadi berikutnya.
“Aku datang ke resepsi Yoseph sendirian. Teman-teman nanyain kamu,” ucap Dul membuka percakapan. Terasa kalau tangan Annisa mengetatkan pelukannya. “Aku ngomong ke Putra dan Robin silakan kalau mau mendahului menikah. Aku enggak akan marah. Aku bakal nunggu kamu selesai spesialis.” Dul tertawa kecil. Ia mendengar isak kecil Annisa.
Annisa ikut tertawa. “Berarti Robin udah balikan sama Duma?” Jelas saja ia senang sekaligus sedih. Senang karena ia tahu kalau Robin memang menyukai Duma, tapi juga sedih kenapa kisahnya dan Dul tak bisa sesederhana itu.
“Robin udah beli motor dan Duma senang dibonceng. Mungkin sesudah Yoseph, Putra dan Wahyuni bakal nyusul.” Dul menghirup puncak kepala Annisa yang sedang tertawa sambil menangis.
“Enggak apa-apa. Mereka pasti ngerti. Aku udah jelaskan berkali-kali. Mereka titip salam. Ayah dan ibu juga titip salam. Aku juga minta maaf karena datang enggak bilang-bilang. Maksudnya ….”
Annisa melepaskan pelukan. “Selamat ulang tahun, Abdullah. Udah 26 tahun. Tiga bulan lagi aku yang 26 tahun. Beda tiga bulan berasa tiga tahun. Padahal kamu yang ulang tahun, tapi kamu yang bawain beginian buat aku.” Annisa mengambil buket bunga dan kotak cokelat dari dekapan Dul.
“Makasih karena masih milih aku dibanding cowo tadi,” ucap Dul diiringi tawa kecil. Ia kembali memeluk Annisa yang sedang mendekap buket dan kotak cokelat.
“Cowo tadi dokter. Usianya tiga tahun di atas kita. Anak teman Papa. Dari pekerjaan sudah oke. Tapi masih jauh lebih ganteng dan gagah Mas Dul. Aku maunya sama Abdullah. Apa pun yang bilang, aku maunya sama Abdullah.” Annisa memejamkan mata menghirup aroma parfum di kemeja Dul. Pakaiannya yang tadi basah kini sudah setengah kering.
“Seorang anak akan selalu membutuhkan restu dan doa baik dari orang tuanya sampai kapan pun. Kita harus sabar sedikit lagi.”
Percakapan yang cukup mendalam itu ternyata tidak membawa sesuatu yang cukup baik. Papa Annisa kembali datang ke kos-kosan dengan wajah murka dan menghardik Dul sambil menunjuk-nunjuknya.
“Siapa yang mengajarkan kamu hal-hal enggak sopan begitu? Padahal kamu sudah tau kalau saya enggak suka anak perempuan saya dengan laki-laki berseragam. Saya juga sudah mengatakan hal itu berkali-kali pada Annisa. Apa kalian kurang paham? Kamu lagi, Cha! Pergi begitu aja dari restoran enggak ada pamit sama tamu Papa cuma untuk ketemu dengan anak ini? Tau apa kalian soal cinta-cintaan?” Papa Annisa berdiri di bawah hujan.
Dul melepaskan pelukannya dari Annisa. Ia menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Permintaan maafnya sangat diperlukan karena ia tak mau ada keributan malam itu. Ia tak mau Annisa malu dan terpaksa pindah tempat tinggal.
“Maaf, Om. Saya permisi pergi sekarang. Maaf kalau saya selalu membawa kegaduhan dalam keluarga Om. Kami memang masih terlalu muda untuk mengerti soal cinta-cintaan dan kehidupan. Mengutip kata-kata Akung saya yang bijaksana, bahwa cinta dalam suatu hubungan biasanya hanya bisa bertahan sebentar. Tapi kasih sayang selalu bertahan lebih lama. Dan sebagai tambahan bahwa saya menyayangi Annisa sudah lebih dari sepuluh tahun. Mulai dari seragam putih biru dan jauh sebelum gelar dokter itu melekat di namanya. Malam ini saya permisi dulu. Saya enggak mau Annisa malu di tempat ini karena saya. Tapi saya janji bakal kembali lagi untuk bicara serius dengan Om.” Dul memandang Annisa yang menangis dengan buket mawar dalam dekapan. Dul tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menyempatkan diri menyelipkan segumpal rambut Annisa ke belakang telinganya.
Berbekal janji itu, ia pergi meninggalkan Annisa. Setahun lagi gadis itu akan lulus dari pendidikan spesialis penyakit dalam. Tugas Annisa memuaskan dan menuruti keinginan orang tuanya sudah terpenuhi. Ia bisa memohon restu dari Papa Annisa dengan kepala tegak.
Setahun yang dinantikan itu ternyata benar-benar berjalan sangat lambat. Padahal ia sudah menyibukkan diri dengan mengikuti semua pelatihan dan sering mengambil tugas keluar kota sampai ibunya mengomel.
Di penghujung usianya yang ke dua puluh tujuh tahun, sebuah dilema kembali hadr. Annisa akan wisuda untuk kedua kalinya dan memintanya untuk hadir.
Pikirannya sedang sangat sibuk ketika ibunya merajuk meminta dijenguk.
“Mas … Ibu mau ke tempat pembuangan sampah. Mau bagi-bagi nasi. Ibu kepengin perginya sama Mas Dul. Pulang, Mas! Jangan sampai Ibu sedih. Apalagi kalau sampai sakit. Awas aja.”
Peringatan dari Mima membuat Dul segera melirik kalendernya. Ia harus segera mengambil cuti dan pulang demi wanita yang melahirkannya.
To be continued
(Lanjutan scene ini adalah scene yang terdapat dalam cerpen berjudul ANAK IBU. Bisa buka profil juskelapa untuk membacanya. Bagi yang belum pernah membaca nanti akan disertakan dalam novel ini.)