
Ibunya menghela napas. “Makasih, ya, Dul. Hidup Ibu pokoknya cuma buat kamu. Kamu yang sabar tinggal sama Mbah. Nanti kalau uang yang Ibu kumpulkan sudah cukup dan kamu sudah bisa mandiri, kita bakal tinggal sama-sama. Ibu akan cari kontrakan buat kita berdua,” tutur ibunya.
“Ibu enggak mau cari Bapak baru? Kasian Ibu sendirian terus enggak ada yang belain. Aku masih kecil. Enggak bisa bales mukul Bapak.”
Ibunya tertawa. “Enggak usah mikir nyari Bapak dulu. Yang penting kamu bahagia dan cukup. Ibu sudah bahagia,” kata ibunya.
“Tapi aku bahagianya kalau punya Bapak. Tapi bukan Bapak yang suka pukul Ibu. Ibu cari Bapak baru aja," ujar Dul, keras kepala.
“Siapa yang mau sama Ibu? Ibu kerjanya jadi pemulung. Ya, sudah. Sana masuk ke rumah. Ibu mau pulang. Malam nanti Ibu mau kerja lagi.”
“Jangan kerja malem-malem, Bu. Nanti Ibu sakit,” ucap Dul, menunduk memandang kantong belanjaan mini market berisi jajanan.
“Ibu cuma anter-anter pesanan ke meja tamu. Pulangnya enggak lama. Pokoknya kamu sekolah yang rajin biar capeknya Ibu terbayar.”
Sore itu Dul melambaikan tangan pada ibunya di depan gang. Ia berjalan menyusuri gang menuju rumah Mbah tempat dia tinggal selama ini.
Sebelum mendorong pintu pagar kayu yang reyot, Dul kembali menoleh ke mulut gang. Ibunya masih berdiri di sana menunggu sampai ia benar-benar masuk ke rumah. Melihat senyum letih ibunya, Dul tak pernah berhenti berdoa agar ibunya juga bisa berbahagia. Ia juga menginginkan kehadiran seorang Bapak yang bisa menjadi pelindung ibunya. Bukan Bapak yang bisanya memaki dan menyakiti ibunya tiap kali mabuk.
Kilasan masa lalu itu memudar. Dul merasa bahunya ditepuk pelan. “Mas Dul lagi mikirin apa? Asik bener, deh. Itu ibu udah selesai. Ayah udah nunggu di mobil ngajak makan malam. Besok Mas Dul udah berangkat dinas lagi,” ucap Mima, adik perempuannya.
“Ayo, pulang. Ibu sudah selesai. Nasi yang dibagiin sudah habis,” kata ibunya, menunjuk kantong plastik besar yang sudah kosong.
“Terlalu sedikit, ya, nasinya? Nanti lain kali Mas tambah lagi. Masih banyak anak-anak yang belum dapet,” kata Dul, memandang ke arah sekumpulan anak pedagang asongan yang sedang melihat isi bungkusan temannya.
“Enggak apa-apa. Nanti kalau Mas Dul pulang berikutnya, kita buat bungkusan nasi yang banyak. Itu Ayah udah nunggu. Katanya Ayah mau ngajak kita makan malam di tempat yang spesial. Jarang-jarang Mas Dul bisa pulang di tengah waktu dinas yang padat.” Ibunya menggandeng mereka. Mima di tangan kanannya, dan merangkul lengannya di sebelah kiri.
Di kejauhan, Ibra adik bungsunya dari lain ayah, sedang melambaikan tangan dari jok tengah.
“Ayo—ayo, naik. Ayah punya tempat makan baru yang spesial.” Ayahnya yang gagah duduk di belakang kemudi. Ikut melambai saat mereka berjalan mendekat.
Ayahnya baru genap berusia lima puluh tahun. Sebagian rambutnya sudah memutih, namun gagahnya masih sama dengan dua puluh dua tahun yang lalu saat mereka pertama kali bertemu. Kegagahan seorang pria menunggangi motor besar yang sedang mendekati ibunya, tak bisa ia lupakan. Ayahnya adalah sosok pria sejati yang begitu ia kagumi. Mempersunting ibunya yang seorang janda dan menyayangi dirinya bagai anak kandung.
“Mas Dul kayanya udah lebih tinggi dibanding Ayah. Apa Ayah yang sekarang semakin menyusut, ya?” Ayahnya tertawa, tak lepas memandang wajahnya sejak mereka bertemu kemarin sore.
“Ya, udah tentu lebih tinggi Mas Dul. Perwira gitu, lho. Temen-temenku yang cewe pada titip salam sama Mas Dul. Banyak yang mau kenalan,” ucap Mima, menyenggol bahunya saat mereka sudah duduk bersisian di jok tengah.
Candaan itu terus mengalir sepanjang perjalanan. Ayah mereka mengajak makan di sebuah restoran seafood ternama yang Dul tahu harganya tak murah. Lagi-lagi ayahnya tak mau kalau ia mengeluarkan uang buat mentraktir mereka.
Alasannya selalu sama. “Anak Ayah belum ada yang menikah, semua masih jadi tanggungan Ayah. Lagian uang Ayah banyak, kok.”
Ayahnya masih bekerja sebagai redaktur di kantor berita. Pria itu sangat aktif di usia senjanya. Terkadang bahkan masih mengendarai motor besar miliknya yang terparkir di garasi rumah. Ibunya sering mengomel dan mengatakan kalau ayahnya hanya mencari alasan saat membelikannya motor besar.
Karena sejatinya, ayah mereka yang paruh baya itu yang ingin mengendarainya. Sejak ia berdinas di Magetan, motor itu seolah kembali pada pemilik aslinya. Ayahnya kembali pada hobi lama. Merawat dan sesekali mengendarai sepeda motor besar bak anak muda. Sedangkan ibunya, hanya sesekali mau ikut dibonceng. Alasannya, sudah sering sakit pinggang.
“Hati-hati, ya, Mas. Doa Ibu selalu menyertai Mas Dul.” Ibunya menangis memeluknya di depan pintu.
Selalu sama. Sejak pertama kali ia berangkat pendidikan, sampai ia sudah menjadi perwira pertama angkatan udara, ibunya masih menangis tiap melepasnya.
“Pokoknya Ibu doain Dul sehat-sehat selalu. Ayah dan Ibu juga sehat-sehat. Jangan sering ngambek sama Ayah karena Ayah pulang kerja suka lama. Jangan suka cemburuan juga meski Ayah memang masih ganteng,” kata Dul, memeluk ibunya sambil melirik sang ayah yang mengacungkan ibu jari padanya.
“Sukanya godain Ibu,” kata Ibra, menonjok pelan lengannya. Dul tertawa, Ibra si anak bungsu memang selalu menjadi si anak Ibu.
Ibunya melepaskan pelukan seraya menyeka air mata. Mima dan Ibra bersamaan memeluknya. Sepasang adiknya itu mengguratkan kesedihan yang berusaha mereka tutupi karena gengsi. Taksi sudah menunggu di luar pintu pagar. Ayahnya mengangkat tas bawaan ke luar pintu rumah. Pria itu belum mengatakan apa pun padanya.
Saat mereka berdua saja di depan pintu pagar, Dul meraih tangan ayahnya. “Aku berangkat, Yah. Jaga ibu, ya. Jangan sering pulang malem. Ayah harus jaga kesehatan. Ayah masuk angin muntah-muntah kemarin, Ibu khawatir banget dan kirim pesan panjang ke aku.”
“Siap, Kapt!” sahut ayahnya. Dul tertawa dan menunduk. Mencium punggung tangan pria yang selalu didoakannya panjang umur.
“Aku berangkat,” kata Dul, melepaskan jabat tangannya.
Ayahnya menepuk bahunya. “Selamat bertugas Lettu Penerbang Abdullah Satyadarma. Ayah sangat bangga punya anak laki-laki seperti kamu. Kamu memenuhi impian Ayah, Nak. Jaga diri.”
Dul mengangguk-angguk dan melambai. Ia berjalan menuju taksi dan masuk menenteng bawaannya. Dan seperti biasa. Ia selalu mengusap air mata saat telah benar-benar sendiri. Ia tak mau beradu pandang dengan mata sama-sama penuh air mata dengan Ayah dan ibunya. Setiap berangkat dinas, ia merasa separuh nyawanya tertinggal di rumah bersama keluarganya. “Aku sayang kalian semua,” bisik Dul.
******
Dul masih tersenyum mengingat sebutan Bara yang keras kepala untuknya. Kapten. Meski sudah dijelaskan berkali-kali bahwa ia belum berpangkat seorang Kapten, tapi pria tampan paruh baya itu selalu bersikukuh menyebutnya Kapten. Taksi baru sampai di portal komplek ketika ponsel Dul bergetar pendek-pendek.
‘Jangan bilang kalau kamu enggak datang di wisudaku untuk kedua kalinya. Aku enggak akan mau ketemu kamu lagi karena aku enggak mau punya suami pengecut.’
Pesan dari Annisa membuat Dul menarik napas dalam-dalam. Apa air mata ibunya tadi sebuah isyarat bahwa selama ini keluarganya tahu bahwa ia tidak mampu mendapatkan restu orang tua dari gadis yang diinginkannya?
Dul merasa dadanya bergemuruh. Penerbangannya tiga jam lagi tapi ia merasa perlu bertemu dengan seseorang. Ia lalu menggulir ponselnya mencari sebuah nama yang merupakan punca pemberi nasehat tertinggi di keluarganya.
“Halo? Akung? Mmmm … kira-kira Akung berminat kalau aku jemput dan kita duduk di café buat ngobrol-ngobrol? Aku perlu saran.”
“Sangat berminat. Akung siap-siap sekarang. Mmmm … apa boleh Akung minta sepotong dessert sebagai bayarannya?”
“Mmmm … sayangnya enggak boleh. Kalau diganti menu lain yang lebih sehat apa masih berminat?”
“Akung siap-siap sekarang.”
To be continued