
Kilasan itu sangat cepat. Bara berdiri di dekat pintu bersama Heru dan tiba-tiba saja Fredy bangkit dari kursinya. Kakak laki-lakinya dan seorang sipir menyusulnya sedikit tergesa. Saat melintasi Bara di dekat pintu, Fredy menolehnya sekilas. “Titip salam sama dia,” ucap Fredy padanya. Bara terhenyak.
Tak pernah dipikirkan Bara sama sekali kalau Fredy bisa bicara sedatar itu. Semuram itu. Dengan nada bicara seperti barusan, kekesalan di awal tadi seakan pecah. Apa Fredy tak sanggup menyebut nama Dijah?
Dul melesat keluar tanpa ada yang menahannya. Tatapan mata Pak Wirya menjelaskan lebih dari cukup bahwa Dul akan baik-baik saja bicara berdua dengan bapaknya. Bara memutar tubuhnya menghadap keluar pintu yang menganga. Dul berlari kecil menyusul Fredy dengan meninggalkan decit sol sepatu karetnya di lorong.
Bara mendengar Dul memanggil ‘Bapak’ pada Fredy.
Ah … iya. Bagaimana pun juga Fredy itu bapak kandungnya.
Bara membayangkan posisi Fredy saat itu. Bagaimana kalau ia yang akan berpisah dengan Mima? Lalu, ia tersentak saat bahunya ditepuk. Pak Wirya telah berdiri di sebelahnya dengan pandangan ke arah yang sama.
“Tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik dan benar. Karena nyatanya baik dan benar adalah dua hal yang berbeda. Baginya, caranya mungkin baik. Tapi, bagi orang lain cara itu tidak benar,” gumam Pak Wirya.
Ruangan itu nyaris kosong. Bara tak lepas memandang Dul dan Fredy yang berdiri di lorong. Kakak laki-laki Fredy menghentikan langkahnya segera menyusul. Seakan memberi waktu pada adiknya untuk mengatakan sesuatu yang tak bisa dikatakannya saat berada di ruangan.
Posisi Fredy yang menghadap pintu, membuat Bara bisa melihat raut wajah pria itu. Keangkuhan dan wajah sok jago yang diingat Bara saat terakhir kali bertemu di pengadilan beberapa tahun yang lalu, sirna sudah. Fredy berdiri canggung menghadapi anaknya yang baru berusia hampir 13 tahun.
Tak tahu apa yang dibicarakan keduanya, Bara melihat Dul meraih tangan Fredy dan meletakkannya di dahi. Sedikit rasa bangga tersirat di hatinya karena Dul bersikap sesantun itu.
“Dul memang anak baik. Itu juga berkat kamu, Ra,” ucap Pak Wirya.
“Sebagai laki-laki yang dipenuhi gengsi, enggak mungkin dia berterima kasih pada Bara. Aku juga bakal gitu kayanya,” gumam Heru.
“Ayah rasa … kesakitannya sebagai seorang laki-laki adalah hal berbeda dengan yang dirasakannya sebagai seorang Bapak Dul hari ini. Sebelum-sebelumnya Fredy mencampuradukkan perasaannya. Menyakiti Dul untuk menyakiti ibunya. Hari ini, Fredy berhasil memisahkannya.”
“Terlalu rumit,” bisik Bara.
“Memang akan selalu rumit urusannya kalau memaksa orang lain mencintai kita,” sahut Pak Wirya.
“Dul udah selesai ngomongnya. Kita langsung nyari resto? Kebetulan waktu udah menunjukkan hampir tengah hari. Dul sepertinya juga butuh penyegaran. Udah tugas kita untuk bawa Dul refreshing buat menetralkan suasana. Gimana, Lik? Mau ikut ke café anak muda?” tanya Heru, merangkul pundak Pak Wirya dengan senyum lebar dan lesung pipinya.
“Boleh…boleh. Pokoknya Paklik mau café yang harga menunya paling mahal, tempatnya paling nyaman dan pemandangannya paling bagus,” kata Pak Wirya dengan raut serius.
“Kalau gitu memang paling tepat ikut aku,” sahut Heru, mengangguk dan menepuk dadanya dengan dramatis. Sembari melangkah, ia ikut menyeret lengan Bara bersamanya.
Bara tahu kalau obrolan yang ia dengar itu bertujuan meluruhkan kekakuan pikirannya atas percakapan Dul dan bapak kandungnya. Namun, konsentrasinya berpindah. Ia turut sedih untuk Dul. Seluruh bagian dirinya sedang ikut berduka. Perpisahan bapak-anak di depannya itu bukan perpisahan biasa pada umumnya.
“Udah selesai? Pasti laper,” kata Heru saat mereka telah tiba di dekat Dul.
“Iya, aku laper,” jawab Dul, tersenyum sumringah.
“Ayo…ayo, kita makan enak. Hari ini kita merayakan Dul yang pemberani.”
Bara terus memperhatikan Dul. Rasanya ia ingin menanyakan pada Dul soal apa yang remaja laki-laki itu rasakan. Namun, seperti hal yang sering dikatakan Pak Wirya padanya, Dul adalah anak perasa yang tak ingin merepotkan mereka semua. Sudah tentu Dul akan memperlihatkan gelagat bahwa ia baik-baik saja.
Berpamitan pada kakak laki-laki Fredy pun tak mereka pikirkan lagi. Pria itu telah menghilang mengikuti langkah adiknya yang cepat-cepat menghilang dari sana. Apa mungkin tadi Fredy menangis? Apa Dul sempat melihatnya? Bara penasaran sekali.
Acara makan siang yang digadang-gadang Heru sebagai perayaan keberanian Dul, nyatanya lewat begitu saja di hadapannya. Konsentrasi Bara berpencar ke mana-mana.
“Ayo, Dul. Semuanya dicoba. Pakdhe sengaja minta diambilkan piring kecil ini,” Heru mengangkat piring kecil di tangannya, “agar Pakdhe bisa menjelaskan dengan benar. Semua pasta di sini luar biasa enak. Inget, ya … yang lurus-lurus ini namanya pasta. Bukan mi. Bentuknya ada tiga macam, ini Pakdhe pesan semuanya.” Heru mengangkat sedikit pasta dan menaruhnya di piring kecil.
“Mmm…ini enak banget. Ayo, Paklik katanya minta ditraktir di café mahal. Udah nyampe sini malah diem aja,” kata Heru.
“Diem aja karena nunggu pasta yang keliatan enak itu disodorkan ke sini,” Pak Wirya menunjuk jajaran piring di depan Heru.
“Oh, maaf…maaf. Aku susun sekarang,” kata Heru.
Setelah diam cukup lama sejak di perjalanan, akhirnya Bara tertawa kecil melihat tingkah Heru yang berusaha keras mencairkan suasana. Ia menghargai usaha kakak sepupunya itu. Namun, di sisi lain ia tetap harus mencibir. Di meja sebelah mereka dua orang wanita pekerja kantoran sedang duduk berhadapan. Sesekali menoleh ke meja mereka saat mendengar tawa renyah Heru. Bukan wanita cantik, tapi Heru memang suka diperhatikan siapa pun sejak dulu. Tingkahnya akan semakin atraktif.
“Mas, dari café ini aku dan Dul langsung minta dianterin pulang, ya. Dul perlu tidur. Pagi tadi bangun terlalu cepat,” kata Bara, memandang Heru.
“Iya, boleh. Paklik juga mau langsung pulang?” tanya Heru.
“Kalau kamu repot muter-muter, Paklik bisa naik taksi dari sini,” Pak Wirya mengibaskan tangannya meminta agar Heru tak perlu memikirkan soal sepele.
“Enggak boleh naik taksi. Pokoknya aku anter. Gampang,” Heru menoleh Bara. “Kalau gitu kita anter Paklik dulu.”
Bara mengangguk menyetujui. Memaksakan sisa hari itu berjalan dengan ceria sepertinya terasa menyulitkan bagi Bara yang peka. Setelah menerima pesanan tambahan untuk dua orang yang menunggunya di rumah, Bara berdiri dari sofa. Heru sudah berjalan mendahului bersama Pak Wirya. Sedangkan Dul, ikut menemaninya menunggui makanan take away.
Heru dan Pak Wirya sudah tak tampak di depan café. Sepertinya kedua orang itu langsung menuju ke parkiran. Kini, Bara dan Dul hanya berdua. Pintu kaca café baru saja berdebam menutup di belakang mereka. Dul menahan lengannya dengan raut akan mengatakan sesuatu.
“Mau ngomong apa?” tanya Bara langsung. Dul melepaskan tangannya dan terlihat berpikir. Dul pasti sedang memilih kata-kata yang tepat, pikir Bara.
“Yah … aku…mau tanya.”
“Mmmm? Apa? Ayo, Ayah dengar.” Bara benar-benar sudah siap menjawab.
“Bapak tadi bilang … kalau Bapak cuma jalan-jalan,” Dul mendongak menatap bola mata cokelat Bara. “Katanya cuma jalan-jalan,” ulang Dul lagi.
Bara mengangguk mantap. “Bapak kamu memang cuma jalan-jalan,” tegas Bara.
“Kata Bapak … dia titip pesan ke Ibu kalau Bapak enggak akan ganggu Ibu lagi.” Dul menelan ludah. “Boleh aku sampein ke Ibu?” tanya Dul.
Bara kembali mengangguk. “Boleh. Ceritakan pada Ibu semua hal yang mau kamu ceritakan soal hari ini. Ayah izinkan dan enggak keberatan sama sekali. Hari ini kamu hebat. Besok-besok kamu pasti jadi anak lebih hebat lagi “
Dul tersenyum tipis dengan satu sudut mulutnya. “Makasih, Ayah.”
Bara ikut tersenyum menyentuh bahu Dul. “Ayo, kita pulang. Di rumah ada dua wanita yang menunggu makanan ini,” Bara mengangkat bungkusannya.
“Mbok Jum?” tanya Dul.
“Tadi udah Ayah tanya, Ibu bilang Mbok Jum enggak mau makanan aneh-aneh. Enggak suka,” tukas Bara.
Dul kembali tersenyum. Ia memang ingin cepat sampai di rumah. Ingin bercerita pada ibunya soal ingatan yang baru saja ia patrikan.
To Be Continued