Dul

Dul
047. Tangis yang Pecah



Dijah setengah hati saat melepaskan Bara meninggalkan ruang rawat. Sukma, ipar perempuannya baru saja tiba menggantikan kakak laki-lakinya untuk berjaga. Sebenarnya ia sendiri tak merasa terlalu perlu untuk ditunggui bak orang yang sakit parah. Sudah ada perawat dan dokter jaga di rumah sakit itu. Namun, ucapan Bara malam itu tidak bisa disangkal oleh keras kepala Dijah.


"Kamu bisa aja melahirkan sewaktu-waktu. Mas enggak mau kamu sendirian di sini. Sukma dalam perjalanan ke sini. Pokoknya kamu enggak usah panik. Mas pasti bisa bawa Dul pulang."


Begitulah pesan Bara sebelum berangkat. Malam itu keluarga mereka seakan kacau balau. Ini baru soal menjawab pertanyaan sederhana Dul. Belum mengajak Dul memenuhi permintaan Fredy.


Tubuh Dijah terasa kaku saat Sukma duduk mengisi kursi yang baru saja ditinggalkan Bara. Suasana canggung membuat Dijah terpaksa menyusut air matanya. Ia bahkan merasa tak bebas untuk menangis. Ia harus pura-pura tenang menunggu kabar Dul dari Bara. Ditambah Sukma yang mungkin tahu tentang apa yang terjadi, membuat kepercayaan diri Dijah merosot. Bisa-bisa semua orang di keluarga Bara menganggapnya tak becus mendidik Dul. Hati Dijah rasanya getir sekali.


"Mbak Dijah kalau mau nangis aku enggak apa-apa kok, Mbak. Enggak mungkin Mbak Dijah enggak sedih. Namanya juga anak. Tapi kata Mas Bara tadi, Mas Heru jagain Dul sampai Mas dan Ayah dateng. Jangan khawatir." Sukma mengusap lembut punggung tangan kiri Dijah yang tersambung dengan selang infus.


Ucapan Sukma barusan membuat air mata yang sejak tadi ditahan-tahan Dijah, merembes keluar. "Semua orang repot karena anakku. Karena aku juga," lirih Dijah, menarik kerah dasternya ke atas untuk menutupi wajah.


"Mbak Dijah enggak boleh gitu. Udah biasa, Mbak. Namanya juga keluarga enggak ada yang ngerepotin. Enggak boleh ngomong gitu. Anak Mbak Dijah yang mana? Apa bukan anaknya Mas juga? Jangan sampai denger Dul, Mbak. Kasian," jawab Sukma. Air matanya pun sudah ikut mengalir karena mendengar tangisan Dijah.


Membicarakan soal anak akan selalu membuat Sukma lebih sentimentil. Padahal sebelum menikah, saat ia dan Bara masih tinggal serumah, bisa dibilang kalau ia termasuk golongan wanita yang sulit menangis. Keluarga besar tahu kalau Bara-lah yang lebih perasa di antara mereka.


Namun, semuanya berubah saat ia berumah tangga dan memiliki anak. Ia merasa mudah menangis dalam soal cerita yang berhubungan dengan anak kecil. Terutama soal Dul. Entah kenapa, meski Dul sudah berada di antara mereka dan terlihat bahagia, Sukma tetap merasa iba. Dul lebih pendiam dari kebanyakan anak seusianya.


"Tapi Dul ... kami. Semua orang repot karena kami. Ayah yang udah tua juga ikutan sibuk ke sana kemari malem-malem. Mas Heru harusnya udah pulang ke rumah ketemu keluarganya. Semua orang udah capek di luar rumah buat kerja. Kami malah ngerepotin," isak Dijah.


Sukma mengusap lengan Dijah berulang-ulang. "Ayah selalu bilang kalau jumlah kami bersaudara sangat sedikit. Makanya Mas Bara dan Mas Heru itu udah kayak saudara kandung. Karena memang kami enggak punya yang lain. Sepupuan dari Ibu tinggalnya jauh. Jadi udah terbiasa dari dulu, apa-apa ditanggulangi sama-sama. Masalah Mas Heru dulu-dulu, Ayah dan Eyang Kakung beresinnya sama-sama. Masalah Mas Bara, juga aku. Enggak ada anak yang enggak pernah bikin keributan masa kecilnya. Kata Ayah itu biasa. Malah kalau anak-anak terlalu tenang, Ayah suka khawatir dengan perkembangan emosinya. Apa yang dilakukan Dul masih tahap wajar, Mbak. Biasa. Mbak enggak usah mikir yang macem-macem. Kita ini keluarga. Untuk itulah keluarga itu ada."


Semuanya bijaksana. Sama baiknya. Kenapa ia tidak bisa sebijak Sukma? Kenapa ia malah mengacaukan perasaan Dul dengan kata-kata tajamnya? Dijah menahan tangisnya dengan sudah payah. Sampai dadanya ikut terasa sesak. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Dijah gelisah dan melirik jam dengan mengangkat ponsel yang digenggamnya dengan tangan kanan sejak tadi.


"Anak-anak sama siapa? Apa mereka enggak apa-apa ditinggal ibunya malem-malem?" Dijah memandang Sukma yang terlihat santai memangku tasnya. Ia sudah ditemani malam itu, dan ia tahu kalau Sukma juga punya dua orang anak laki-laki yang harus dirawatnya.


"Ada Mas Rico di rumah. Lagian anak udah gede-gede. Sekarang udah mandiri."


"Apa Ibu enggak apa-apa di rumah sama Mima? Besok Ibu enggak ngajar di kampus?" Dijah benar-benar merasa tak enak.


Membayangkan perjuangan Bara menikahinya memang selalu membawa kenangan tersendiri bagi Dijah. Jalan Bara memasukkan Dijah dan Dul ke dalam keluarganya tidak mudah. Begitu pula jalan Dijah berdamai dengan dirinya sendiri dan tiap detik, sampai detik itu selalu berusaha memantaskan dirinya bagi seorang Bara Wirya Satyadarma.


"Mbak, Mas Bara barusan kirim pesan. Awalnya nanya Mbak lagi ngapain. Terus Mas bilang, mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Dul tadi cuma ketemuan sama Robin dan ngobrol sebentar. Mungkin sebentar lagi nyampe," jelas Sukma, melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


Dijah menegakkan letak berbaringnya. Membenarkan letak selimutnya sebaik mungkin. Kalau Sukma memakai kata 'mereka', itu artinya Pak Wirya pun akan tiba di sana beberapa saat lagi. Tak lupa Dijah membersihkan matanya dari sisa tangis.


Benarlah apa yang dikatakan Sukma, tak sampai lima belas menit kemudian terdengar ketukan di pintu sebanyak tiga kali. Bara melangkah masuk dengan Dul dalam rangkulannya. Tak seperti dalam cerita-cerita yang semestinya digambarkan. Dul tak menghambur ke dalam pelukan Dijah begitu saja. Remaja laki-laki itu berjalan masuk dan langsung berdiri di sisi kanan ranjang.


Di belakang Bara, Pak Wirya berdiri memandangi punggung Dul. Mengamati wajah Dul yang terlihat serba salah. Terlalu banyak orang di sana, pikir Pak Wirya.


"Ma, kamu sudah bisa pulang sekarang. Mas kamu udah nyampe buat nemenin istrinya. Kasian Rico ditinggal kelamaan," ujar Pak Wirya.


Sukma bangkit dari kursi seraya menyampirkan tasnya ke bahu. "Kok yang kasian Mas Rico ... bukannya anak-anak?" Sukma tertawa kecil.


"Ya lebih kasian Rico. Anak-anak selalu tau apa yang bakal dilakuinnya. Lah, Rico? Dia pasti enggak tau harus berbuat apa kalau kelamaan ditinggal bareng anaknya."


"Jadi ... aku udah bisa balik ke...."


Sukma sudah berdiri di dekat Pak Wirya saat mereka semua terkesima dengan apa yang dilakukan Dul.


"Maafin Ibu, Dul .... Kamu jangan sakit hati sama Ibu. Kamu pasti tau maksud Ibu apa," ucap Dijah.


Dul menunduk di atas lengan Dijah. "Tau, Bu...tau. Kita harus jaga nama baik Ayah, kan? Biar Ayah enggak malu ngambil kita jadi keluarga?" Dul kembali menangis. "Maafin aku, Bu...."


To Be Continued