
Di dalam barisan itu terdapat di antaranya Yani dan Nina yang terus-terusan terkikik-kikik. Sedangkan Rayon hari itu terselamatkan karena menjadi pimpinan barisan kelas di depan.
"Harusnya kalau jadi contoh itu bisa lebih benar sedikit, Bin. Verifikasi dulu baru dilakukan. Jangan asal. Apalagi kalau hal itu menanggung hajat hidup orang banyak," tutur Putra. Setelah dipisahkan dengan barisan utama upacara, kini ia dan Robin berdiri paling depan.
"Udahlah, semua-semua kelen salahkan aku. Siapa suruh kelen ikut aku?" Robin menyenggol Putra dengan sikunya.
"Karena kamu yang lebih dekat ke depan. Suara kamu mendominasi dalam barisan, makanya teman-teman di belakang enggak denger."
"Yang penting Nina dan Yani ikut dihukum. Aku enggak perlu malu," kata Robin dengan liciknya.
"Tapi Lova udah liat ke sini," gumam Dul, meringis.
"Ah, kau walaupun terpanggang matahari masih nampak gantengnya. Raport kau berkilau, mukamu berkilau. Kalo dihukum gini makin belingsatan cewe-cewe itu. Ternyata Abdullah juga manusia biasa yang pernah salah. Macam gitu," jelas Robin panjang lebar demi mengurangi sedikit rasa bersalahnya.
Dan usai upacara resmi hari itu, Kepala Sekolah benar-benar membuktikan ucapannya. Robin berdiri di podium bertugas sebagai Pembina Upacara dengan sebuah mic yang diletakkan sejajar dengan mulutnya. Putra diberikan tugas sebagai pembaca teks Pancasila. Dul diminta menjadi Pemimpin Upacara, Yoseph menjadi pembaca doa, Nina menjadi pemimpin grup paduan suara dadakan yang dibentuk pagi itu. Mereka semua melakukan reka ulang upacara yang tidak diikuti mereka tadi.
"Seph ... Seph .... Baca teks doanya aja," bisik Yani yang pagi itu harus membacakan teks Pembukaan UUD 1945. Sedangkan pasukan pengibar bendera ditiadakan karena bendera sudah terlihat sejak tadi.
"Yoseph tidak mengerti. Ini doa agama lain. Yoseph improvisasi saja. Itu gampang," kata Yoseph pada Yani.
Yani mengangguk mengerti. Benar juga, pikirnya. Yoseph adalah murid yang paling sering berdoa di antara mereka. Setiap saat, setiap waktu. Kalau hanya berdoa di reka ulang upacara itu saja pasti hal yang mudah.
"Penghormatan peserta upacara kepada Pembina Upacara dipimpin oleh Pemimpin Upacara!" ucap seorang murid perempuan melalui mic.
Dul memejamkan matanya sedetik. Mengumpulkan segala keseriusan yang dimilikinya saat itu untuk meneriakkan perintah agar semua temannya memberi hormat pada Robin. Wajah Robin yang berkilau karena matahari pagi dan titik peluhnya di dahi, membuat Dul bersusah payah mengeluarkan suaranya. Ia harus menarik napas dua kali dan menunduk untuk menghindar dari tatapan Robin.
"Dul, yang betol kau. Biar kita cepat masuk kelas. Kita udah jadi tontonan," bisik Robin.
Pagi itu amat sulit untuk serius. Semuanya mudah tertawa hanya saling pandang, kecuali Robin. Sejak menaiki podium Pembina Upacara wajahnya sudah kaku. Di benaknya terbayang tugas selanjutnya yang tak hanya berdiri di sana.
"Amanat dari Pembina Upacara. Peserta Upacara diistirahatkan," ucap pembaca acara.
"Cek-cek, satu dua tiga dicoba," kata Robin dengan mic di depannya.
"Diminta memberi amanat. Bukan diminta nyanyi!" seru Kepala Sekolah yang berdiri di belakang Robin. Sepertinya pagi itu Kepala Sekolah tidak memiliki hal penting yang harus dilakukannya selain mengawasi reka ulang upacara.
"Apalah yang mau saya bilang, Pak? Saya pun bingung." Robin menggaruk kepalanya dan menoleh ke belakang.
"Nah, diminta ngomong pakai mic biar semua temannya bisa dengar, malah bingung. Tapi di barisan tadi kamu saya lihat ngobrol terus," kata Kepala Sekolah.
"Enggih-enggih aja, Bin. Biar cepat selesai. Nambah setengah jam lagi aku bisa pingsan," bisik Putra di sebelah Robin.
"Ayo, sampaikan sepatah dua patah kata buat teman-teman kamu. Kalau tidak ada, kalian belum boleh masuk. Ayo, sampaikan nasehat yang juga bisa kamu terapkan untuk diri kamu sendiri. Saya tunggu." Kepala Sekolah menunjuk mic.
Robin kembali memutar tubuhnya ke depan dan menatap puluhan mata yang berharap banyak padanya.
"Nasehat saya... Ummm, apa, ya .... Baek-baek ajalah kita. Tetap jadi diri sendiri, gosah gengsi-gengsi, tetap jadi anak ceria dan semoga kita bisa tamat sama-sama berapa pun nilainya."
"Pak Pembina, saya belum berdoa," kata Yoseph pada Robin yang sedang menuruni podium.
"Udah habis sandiwara kita hari ini. Enggak ada lagi. Udah capek aku berdiri tegak di sana. Tegang semua urat betisku," kata Robin.
"Sudah selesai? Saya sudah menyiapkan doa," kata Yoseph.
Robin merangkul Yoseph, "Pastikan isi doamu mencantumkan semoga jangan lagi kita upacara sendiri kayak tadi. Amin. Udah itu aja," kata Robin.
"Pinggir... pinggir, Putra udah lemes," Dul menyeruak iring-iringan temannya untuk cepat-cepat membawa Putra ke kelas.
Semua orang ikut mengiringi Dul karena khawatir Putra yang pucat pasi bisa terjatuh. Di kelas, guru bidang studi Bahasa Indonesia terlihat ikut khawatir melihat wajah Putra.
"Kalau memang sakit bisa ke UKS. Di sana ada minyak angin," kata guru perempuan itu.
"Perlu ke UKS, Put? Biar aku anter," Dul berdiri mengipasi Putra dengan buku tulis.
"Enggak apa-apa dia, enggak apa-apa .... Aku punya obatnya," kata Robin, membuka resleting tasnya dan mengeluarkan kotak bekal. "Aku ada roti isi meises. Pasti langsung sehat si Putra abis makan ini." Robin menyodorkan kotak bekalnya.
"Bisa jadi. Mari dicoba dulu," kata Putra, meraih kotak bekal Robin dan membukanya. "Bu Guru, saya izin makan obat," Putra mengangkat tangannya pada guru Bahasa Indonesia dan mendapat balasan cibiran.
Kebahagiaan masa SMA selalu didominasi persahabatan, kebersamaan, juga tak lupa persoalan cinta monyet.
Putra bahagia hanya dengan lauk-pauk bervariasi yang disajikan oleh ibunya, juga bahagia dengan akhir minggu yang diisi dengan kegiatan memancing bersama sang ayah.
Robin bahagia hanya dengan pulang sekolah bersama Nina dan sedikit menggombali Yani di sela-sela waktunya. Ia juga bahagia kalau bapaknya yang sering bekerja di lain daerah bisa sering-sering pulang menghabiskan seminggu dua minggu bersamanya.
Dan untuk Dul, ia bahagia tak ada tertinggal satu pun pelajaran meski sedang tak berada di sekolah. Banyak murid perempuan yang dengan senang hati meminjamkannya catatan. Dul juga bahagia akhir-akhir ini sering menang main catur melawan Pak Wirya dan Bara. Semuanya sudah begitu sempurna bagi Dul. Ditambah lagi dengan ....
"Abdullah," panggil Lova dari ambang pintu kelas.
"Masuk aja. Aku catat ini sedikit lagi. Nanggung," kata Dul, menunjuk papan tulis yang berisi coretan-coretan guru Kimia yang belum selesai dicatatnya.
"Yang lain pada ke mana? Udah pulang semua?" tanya Lova terheran-heran melihat kelas kosong hanya tersisa Dul.
"Semuanya kecapekan karena reka ulang upacara," sahut Dul tertawa.
"Oh, yang tadi ...." Lova terkekeh-kekeh. "Kami juga dulu pernah digituin. Meski lucu tapi berhasil bikin kapok," tukas Lova.
"Iya, Robin kapok. Mungkin minggu depan dia bakal anteng," jawab Dul, matanya masih melihat ke papan tulis dan tangannya belum berhenti mencatat.
"Aku duduk di sini, ya ...." Lova menghenyakkan dirinya di sebelah Dul.
"Iya, enggak apa-apa," jawab Dul. Ia diam beberapa detik menyadari kalau mereka hanya berdua saja di kelas itu.
To Be Continued