
Annisa dan papanya serentak menoleh ke datangnya suara. Ayah dan anak itu sama terkejutnya melihat kehadiran Dul di sana.
“Bukan bermaksud enggak sopan, tapi Nisa enggak sesalah itu sampai harus dipukul. Saya enggak terima, Om.” Dul berjalan mendekat.
“Bukan kamu yang memutuskan anak saya salah atau enggak.” Meski mengatakan hal itu, tangan Papa Annisa yang tadi terangkat perlahan turun.
“Harusnya Papa enggak seegois ini. Dul benar, kok. Memangnya Icha salah apa sampai Papa mau mukul? Cuma karena wanita yang harus Icha panggil Mama?”
“Annisa!”
“Nisa … udah.” Dul bergerak gelisah. Harusnya ia ingin melanjutkan dengan mengatakan jangan bicara dengan nada tinggi kepada papanya. Tapi sorot mata Annisa yang menyala bisa membuat Dul menerka bahwa ia bisa menjadi sasaran amukan gadis itu. Lagipula, Dul tak mau menyalahkan Annisa di depan orang tuanya sendiri. Ia ingin berada di pihak kekasihnya.
“Malam ini cukup. Papa enggak suka ada orang asing mencuri dengar percakapan keluarga,” kata Papa Annisa.
“Orang asing? Tunggu...tunggu. Papa jangan pergi sekarang. Papa harus tau tujuan Abdullah datang ke sini.” Annisa menarik lengan Dul agar mendekat padanya. “Ayo, Mas Dul harus ngomong ke Papa tujuan datang ke sini mau apa.”
Dul tersadar dengan situasinya dan pergi ke mobil untuk mengambil segala titipan lauk-pauk dari ibunya. “Saya cuma bawain ini, Om. Ini titipan dari Ibu. Lusa saya terbang ke Jogja buat mulai belajar di SekBang.” Dul menyodorkan tempat bekal berisi lauk pauk pada Annisa.
"Lihat, kan? Papa lihat siapa yang selama ini perhatian ke Icha?"
Papa Annisa berdeham pelan. “Semoga kalian nanti tahu kalau hidup ini tidak sesederhana tempat bekal ini, ya. Wisuda kamu nanti Papa dan Mama yang akan datang. Enggak akan ada orang lain. Besok dan lusa Papa datang ke sini. Papa mau ngobrol serius. Kos-kosan kamu juga sepertinya harus pindah. Memang lebih lebih tepat kalau ngambil spesialis enggak usah di kota ini lagi.”
“Lusa aku mau ikut ke bandara buat antar Abdullah. Papa bisa datang besoknya lagi. Enggak harus lusa.” Annisa gelagapan mengoreksi ucapan papanya.
“Maaf. Papa tetap di rencana semula. Termasuk soal wisuda atau upacara pengambilan sumpah jabatan kamu. Cuma Papa dan Mama.”
“Enggak! Papa aja,” sahut Annisa. “Papa dan Abdullah,” tegas Annisa lagi.
Papa Annisa pergi meninggalkan Annisa dan Dul tanpa menoleh. Meninggalkan sepasang muda-mudi yang canggung dan serba salah.
“Kamu enggak boleh gitu ke Papa. Aku enggak apa-apa enggak datang ke wisuda kamu. Itu memang giliran keluarga kamu—Papa, kakak laki-laki atau keluarga lain—yang memang menginginkan dirinya hadir. Aku enggak apa-apa. Aku enggak mau kamu ribut dengan keluarga hanya karena hal sepele.”
Annisa yang tadi setengah melamun memandang kepergian mobil papanya jadi tersentak menatap Dul. “Abdullah bilang apa? Sepele? Buatku siapa yang datang ke wisudaku itu bukan hal sepele. Aku mau orang-orang spesial yang kontribusinya jelas buat pendidikanku. Buat Abdullah jelas enggak apa-apa. Tapi buat aku?”
“Nisa ... maksudku bukan gitu. Bagaimanapun kita harus menghargai papa kamu sebagai orang tua. Aku enggak mau papa kamu beranggapan kalau selama mengenal aku dan keluargaku membuat kamu semakin jauh; enggak ingat sama keluarga. Aku enggak mau gitu. Aku mau hubungan kita didukung keluarga.”
“Abdullah ... ini bukan soal didukung atau enggak. Ini bukan cuma soal hubungan kita, tapi hubungan aku dan wanita yang dipilih Papa buat gantiin Mama. Enggak semudah itu. Apalagi soal wisuda.” Annisa menggeleng. “Abdullah enggak akan mengerti gimana rasanya kehilangan orang yang dicintai dan di saat nyaris bersamaan harus dipaksa menggantikan orang itu dengan sosok baru.”
“Maaf, tapi aku enggak mau kamu jadi anak yang melawan orang tua. Maksudku cuma itu, Nisa .... Aku mau hubungan kamu dan Papa membaik.”
“Aku tahu Abdullah selalu berusaha menjadi anak yang baik. Abdullah berusaha mengikuti semua keinginan orang tua karena kebahagiaan orang tua juga kebahagiaan Abdullah. Tapi kalau Papa enggak mau kita sama-sama dan selalu menganggap kalau Abdullah membawa pengaruh buruk buatku, apa aku harus diam aja? Apa Abdullah enggak mau berusaha menjelaskan kalau enggak ada satu pun yang bisa memaksa kita harus dengan siapa?” Air mata Annisa sudah menggenang dan bersiap tumpah sesaat lagi.
“Kita harus buktikan kalau hubungan kita; kalau aku enggak bawa pengaruh buruk untuk kamu. Ikuti perkataan Papa selama itu baik. Bagaimanapun Papa adalah orang tua yang pasti menginginkan hal terbaik buat anaknya.”
“Termasuk kalau Papa enggak mau kita sama-sama?” Air mata Annisa sudah jatuh ke pipinya.
Tangis Annisa pecah dalam dekapan Dul. “Apa impianku wisuda dengan ditemani Papa dan Abdullah adalah impian yang terlalu mewah? Aku mau kita sama-sama....”
“Aku juga.”
“Tapi harusnya Abdullah usaha ngomong ke Papa. Bukan cuma ngomong harus bersabar. Sabar itu enggak ada batas waktunya.” Annisa masih terus menangis.
“Aku bakal sabar menunggu Annisa, sampai Annisa bisa membuktikan ke Papa kalau kita juga akan tetap dengan rencana semula.”
Tangis Annisa semakin keras. “Pasti lama...pasti lama. Gimana aku bisa bersabar kalau mulai besok pasti semakin susah buat ketemu Abdullah?”
Kali itu, Dul tak menjawab. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Annisa dan meletakkan dagu di atas kepala gadis itu. Diam-diam Dul ikut menangis. Ia bingung. Perasaan tak diterima sebagai sesosok anak kembali menghantuinya. Seiring dengan itu, tenggorokannya tercekat. Ia terlalu malu untuk menangis di depan gadis yang ia cintai.
“Hubungan kita enggak harus selalu baik-baik aja. Yang paling penting ... hati kita bisa tenang karena kita masih sama-sama. Dengan tahu kalau kita masih sama-sama ... itu udah jadi kekuatan buat aku. Kita hanya harus bersabar sedikit lagi untuk membuktikan kalau kita benar-benar serius. Sabar sedikit lagi.”
Ketika mengatakan itu, Dul benar-benar mengira bahwa ia memang hanya harus bersabar sedikit lagi. Ia tinggal menyelesaikan sekolah penerbangan yang memakan waktu tak sampai dua tahun untuk kemudian bisa bersama-sama Annisa. Nyatanya, semua tak sesederhana itu. Pertanyaan dari orang-orang terdekat membuatnya tersenyum getir karena berusaha menyembunyikan keadaan hubungannya bersama Annisa.
“Annisa memang enggak ikut nganter ke bandara, Mas? Lagi berantem, ya?” Dijah adalah orang pertama yang menyadari perubahan pada sikap Dul.
“Enggak berantem. Lagi sibuk, Bu. Persiapan mau wisuda dan pengambilan sumpah dokter,” jawab Dul, diplomatis.
Dijah terpaksa berhenti bertanya ketika mendapat isyarat telunjuk di bibir dari Bara. Sore itu mereka hanya berempat saja melepas Dul berangkat ke Yogyakarta. Ibra bergelayut manja pada Dijah seperti biasa dan Mima yang belakangan juga banyak melamun.
“Mas ... Dul sama Annisa baik-baik aja, kan? Dua hari ini Dul keliatannya beda.”
Bara menggeleng. “Hubungan mereka lagi enggak baik-baik aja. Kita tunggu Dul sendiri yang ngomong sebelum kita usil buat tanya-tanya duluan. Baru dua hari, Jah. Kita kasih Dul waktu sampai dia merasa bisa mempercayai kita untuk ngomong lebih dulu.”
Dijah menyetujui perkataan Bara dan ikut tenang meski Dul tak menyebut-nyebut nama Annisa lagi. Ketenangan itu ternyata terlalu lama. Berlangsung sampai hingga hampir dua tahun berikutnya. Dul jarang pulang di waktu liburan dan sekalinya pulang, waktu sudah bergulir cukup lama. Hingga mereka sekeluarga seperti dipaksa lupa dengan sosok gadis berambut panjang lurus bernama Annisa.
“Bu, minggu depan upacara penyematan wing penerbang. Datang ke Jogja jangan mepet, ya. Harus beberapa hari sebelumnya. Ayah udah janji ngajak liburan.” Dul mengingatkan dari seberang telepon.
“Mmmm ... Mas Dul,” panggil Dijah.
“Ya?”
“Annisa apa kabar? Apa Ibu boleh ngajak Annisa ke Jogja? Ayah minta Ibu untuk sabar nunggu Mas Dul yang cerita duluan. Tapi udah hampir dua tahun ... Ibu enggak sabar mau tau kabar Annisa. Ibu kangen Nisa, Mas."
“Bu ....”
“Ya, Nak?”
“Aku enggak tau apa Annisa masih mau tau soal kabarku atau enggak.”
To be continued