Dul

Dul
135. Selamat Dari Ayah



Waktu terasa melambat dan pelukan itu terasa amat lama. Dul memeluk erat ibunya yang terasa jauh lebih kecil darinya. Padahal … untuk ukuran seorang wanita, tubuh ibunya terbilang tinggi. Ibunya yang selalu gesit dan tak pernah bertele-tele. Yang bicaranya kadang tajam, lucu, juga polos. Ibunya masih terisak dengan tangan tak henti menepuk-nepuk punggungnya. Air matanya pun ikut meleleh. Mustahil sekali rasanya tak ikut menangis di suasana seharu itu. Pelukan itu hanya diwarnai isakan dan kata-kata pendek ibunya yang menyebut, “Ternyata kita bisa, Dul.”


Ya. Ibunya benar. Ternyata mereka bisa melalui semuanya. Di malam-malam sepi dengan pakaian seadanya, dan uang yang hanya cukup membeli beras dengan beberapa butir telur untuk lauk esok hari, mereka sering berandai-andai. Bukan berandai-andai untuk hidup kaya raya dan serba berkecukupan, melainkan sekedar angan agar mereka bisa hidup bersama dan pergi jauh meninggalkan kesulitan yang mengimpit mereka.


Ketika pelukan itu terlepas, Dul masih memegang tangan ibunya yang menangkup wajah. Ia lalu menoleh ke pinggangnya. Tangan Ibrahim sudah melingkar. Entah kapan bocah laki-laki sepuluh tahun itu ikut memeluknya.


“Mas …,” cicit Ibra, meminta perhatian.


Dul beralih memeluk adik bungsunya. Mengangkat Ibrahim sebentar setelah bocah itu memeluk lehernya. “Mas Dul keren,” kata Ibrahim. Dul terkekeh-kekeh mencium pipi bocah itu sebelum menurunkannya. Lalu, perhatiannya berpindah pada dua gadis muda yang sejak tadi diam memperhatikan. Mima menghambur ke pelukannya lebih dulu. Sedangkan Annisa melangkahkan kaki, namun berhenti di dekat kakak adik yang sedang berpelukan.


“Aku senang dan terharu, tapi aku enggak bisa nangis, Mas. Aku keringetan. Panas, Mas. Mungkin kalau acara ketemunya di ruangan ber-AC aku bisa ikut nangis,” cerocos Mima.


Semua tergelak karena ucapan gadis itu. Dul mengusap pelan kepala Mima, karena paham adik perempuannya itu semakin judes belakangan jika itu berkaitan dengan wajah dan rambutnya. Dul tak mau mengambil resiko dengan mencubit pipi Mima atau mengacak rambut adiknya itu.


Menit berikutnya, pandangan Dul dan Annisa bertumbuk. Dengan sepasang tangan Dul masih berada di bahu Mima dan Ibra, ia mengangguk pada Annisa yang ragu-ragu. Gadis itu lalu maju, ikut masuk ke dalam pelukan di antara Mima dan Ibra.


“Selamat Mas Dul ….” Annisa bahkan tak sanggup berkata jelas. Suaranya teredam dalam lingkaran tangan Dul yang memeluk mereka bertiga. Malu-malu Annisa menjumput bagian depan seragam Dul saat menyentuh tubuh kekasihnya itu. Ia tak melupakan sepasang orang tua yang sedang berdiri mengawasi mereka. Dan saat itu, alasan Annisa semakin mengidolakan Bara sebagai sosok ayah adalah karena hal sederhana, namun begitu berarti bagi dia. Bara memberinya waktu dengan mengalihkan perhatiannya sejenak. Ia menjadi berani untuk sedikit lebih ekspresif mendekati Dul. “Liburan nanti harus jalan-jalan pokoknya,” ucap Annisa.


“Nanti aku kenalin lagi ke Robin, Putra dan Yoseph,” jawab Dul.


“Go public, ya?” Annisa menahan tawa dengan menutup mulutnya.


***


Bara menyunggingkan senyum tipis memandangi Dul yang sedang sibuk dengan dua adiknya, juga seorang gadis muda yang sejak tadi malu-malu dan bertindak takut salah di depan ia dan Dijah. Ia harus melingkarkan tangan di bahu Dijah dan menunjuk sekumpulan keluarga lain untuk membawa tubuh istrinya itu sedikit berputar. Memberi ruang pada Annisa agar berani sedikit mendekat pada Dul.


Ketika pelukan ketiga anaknya terurai, Bara langsung mendekat. Seperti biasa, apa pun kesenangan yang sedang berlangsung di keluarga mereka, giliran Bara merasakannya adalah yang paling akhir. Kali itu, ia memang ingin memeluk dan memberi selamat Dul lebih lama. Selesai Dul meluruskan topi dan merapikan baju, anak sulungnya itu mendongak. Mereka sama-sama maju selangkah, saling mendekat.


Pelukan itu diawali oleh Dul. Seorang pria muda yang awal dilihatnya sebagai bocah laki-laki lima tahun yang sedang duduk di sebelah wanita berwajah manis dengan senampan ayam goreng. Dul dengan mata cerdas yang menatapnya penuh selidik dan banyak tanya.


“Selamat,” ucap Bara singkat. Lebih dari itu ia mungkin tak sanggup lagi mengatakan apa-apa. Sejak kecil, dalam keluarga ia dikenal sebagai anak yang cengeng. Gampang menangis dan tersentuh hatinya. Bahkan ia lebih cengeng dari Sukma adik perempuannya.


Dul memeluknya dalam pelukan yang sangat kuat dan mantap. Tangan kecil yang terulur padanya setiap akan naik ke boncengan motor besar kini sudah berubah menjadi tangan yang tegap berisi. Begitu kuat dan mantap.


“Makasih, Ayah,” sahut Dul.


Bara mengingat bocah berwajah manis dengan kerah kausnya yang berlubang dan menatap potongan ayam goreng dengan mata berbinar. Bocah yang berseri-seri bangga saat digandengnya ke acara pentas seni TK dan tatapan penuh syukur saat diberikan sekantong jajanan. Tak pernah sedetik pun ia menyesal mengajak bocah laki-laki itu naik ke atas motornya. Abdullah memang anak istimewa.


Dul mengingat seorang pria gagah dengan motor besar yang datang bak pahlawan untuk mengajaknya berputar-putar kala ia merindukan ibunya. Pria yang dengan berani mendekati ibunya yang begitu dingin dan hanya memikirkan soal lembaran rupiah demi makan sehari-hari dan biaya ia masuk TK. Bara sudah berhasil menepati janji untuk mengantarkannya menjadi seorang pilot. Pria yang membesarkannya itu membantunya mewujudkan mimpi.


“Makasih, Ayah ….” Dul kembali mengucapkan sebaris kalimat setelah berhasil menarik napas dalam-dalam dan menahan air matanya.


Keduanya lalu berdiri berhadapan dan tersenyum lebar. Keduanya juga menahan malu untuk tak melirik kanan-kiri mereka. Paham kalau ada gadis muda paling jahil di rumah yang akan meledek mereka kalau menangis berbarengan.


“Nah, udah selesai? Udah selesai, kan? Yah?” Mima memeluk lengan Bara. “Aku laper,” kata Mima.


“Yang satu ini memang enggak ada sabarnya. Maunya cepat terus,” omel Dijah, menepuk bokoong Mima.


“Kan, Ibu yang ngajarin. Semua harus sat-set-sat-set cepat. Ayo, Mima, cepat. Cepat-cepat-cep—”


“Kita pergi sekarang. Makan siang di restoran yang udah aku pesan sejak kemarin. Ayo.” Satu tangan Dul masih membekap mulut Mima. Tangannya yang lain menggamit tangan Annisa yang berdiri di sisi kirinya.


“Ih, jangan sentuh kulit wajah perempuan.” Mima melepaskan tangan Dul, lalu menepuk lengan kakak laki-lakinya.


“Iya. Enggak boleh gitu. Makeupnya bisa rusak.” Annisa ikut menimpali. “Perlu effort buat tampil cantik begini.” Annisa menggandeng lengan Mima untuk bergeser menjauh. Ia lalu membantu merapikan lipstik Mima yang sedikit tercoret.


“Rasain … rasain.” Mima mencibir ke arah Dul.


Bara tertawa kecil. “Mima sekarang udah ada sekutunya. Kamu harus hati-hati.” Setelah mengatakan itu, Bara menunduk karena merasa tangannya kembali digelayuti.


“Aku laper …,” cicit Ibrahim.


“Wah, iya. Ayo kita makan. Ayah lupa masih ada anak kecil yang masih dalam masa pertumbuhan.” Bara menggandeng Ibrahim, diikuti dengan tangan lainnya merangkul bahu Dijah. “Ayo, Bu. Kita ajak anak-anak kita makan.”


Dijah menengadah menatap wajah Bara. “Makasih, Mas. Udah nganter Dul sampai ke sini.”


Bara mengusap-usap bahu Dijah dengan anggukan. “Iya, Jah. Sama-sama. Makasih juga udah percaya Mas.”


To Be Continued