
“Bu … Mas Dul kapan pulang lagi?” tanya Mima saat makan malam.
“Mas Dul, kan, baru pulang semester lalu. Nanti semester depan pulang lagi. Kenapa? Memangnya Mima mau apa?” tanya Dijah.
Semua mata yang sedang duduk mengitari meja makan tertuju pada Mima. Namun, jawaban gadis itu hanya gelengan kepala.
“Kangen Mas Dul,” celetuk Ibrahim dari sebelahnya.
“Memangnya Iby enggak kangen Mas Dul?” Mima balik bertanya.
“Enggak suka dipanggil Iby,” gerutu Ibrahim.
“Mbak suka panggilnya Iby. Imut,” kata Mima.
“Ngobrolnya nanti dilanjutin. Cepat habiskan makannya,” kata Dijah.
“Mbok Jum udah makan?” tanya Bara tiba-tiba.
“Udah. Habis makan langsung minum obat. Tadi aku juga udah ngasih kabar ke anaknya. Mbok Jum juga sempat telfonan lama. Tapi aku enggak tau ngobrolin apa. Karena aku tadi lagi masak,” jelas Dijah.
Saat namanya tengah disebut, Mbok Jum muncul ke ruang makan. Wajahnya masih pucat karena sudah lebih dari seminggu Mbok Jum sakit. Wanita tua itu mengeluh perutnya sering terasa kembung. Setelah dibawa ke dokter ternyata asam lambung Mbok Jum sedang kambuh. Dijah menyampaikan pada Bara bahwa dulunya beberapa kali sakit, keluhannya memang hanya seputar lambung. Tapi sakitnya itu sudah lama tidak kambuh.
“Ya, Mbok? Mau ngomong apa? Sini duduk dulu,” ajak Bara.
Ibrahim langsung berdiri menggeser satu kursi di sebelah Dijah. “Mbok duduk di sini,” kata Ibrahim, menepuk sandaran kursi dan menunggu sampai Mbok Jum duduk di kursi pilihannya.
“Makasih,” ucap Mbok Jum dengan nada lemah. Tangannya mengusap kepala Ibra sebentar sebelum bocah laki-laki itu kembali ke kursinya.
Dijah yang sudah selesai makan, berdiri mengangkat piringnya ke bak cuci dan segera kembali duduk dengan selembar lap meja. “Ngomong aja, Mbok. Kita semua dengerin.”
“Jah … maaf kalau aku kesannya enggak tahu diuntung. Tapi—”
“Mbok enggak boleh ngomong gitu. Kita ini udah seperti saudara. Di sini enggak ada yang berpikiran gitu ke Mbok.”
“Maafin Mbok. Mbok ngerasa udah waktunya ketemu anak-anak Mbok yang ngumpul di Kalimantan. Mbok udah tua … kalau ada apa-apa Mbok enggak mau ngerepotin Ayah Ibra. Anak Mbok juga kepengin kumpul.” Mbok Jum menunduk dan mulai menangis. “Tapi Mbok berat … sebenarnya Mbok berat. Ibra ….” Pandangannya langsung tertuju pada Ibrahim yang duduk di seberangnya.
Ibra langsung berdiri dan menghampiri Mbok Jum. Mbok Jum merentangkan tangannya dan Ibra ikut menangis memeluknya.
Usia Mbok Jum yang sudah sepuh, membuat Dijah harus meyakinkan wanita tua itu untuk beristirahat dan mereka tak apa kalau mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang pulang pergi setiap hari. Mbok Jum mengantar dan menjemput Ibra semasa TK. Dari mulai Ibra bangun tidur sampai kembali tidur, Mbok Jum selalu ada untuk bocah laki-laki itu. Mbok Jum menyayangi Ibra bagai cucu kandungnya sendiri. Sampai terkadang Dijah harus meminta Mbok Jum beristirahat dan tidak memaksakan dirinya.
Itu pula sebabnya Ibrahim sering disebut sebagai anak Mbok Jum. Ibrahim bisa anteng ditinggalkan di rumah hanya dengan Mbok Jum. Dan sejak Ibrahim duduk di bangku SD, bocah laki-laki itu ikut meminta Mbok Jum sama-sama belajar membaca. Satu persatu, pelan-pelan Mbok Jum mulai mengenal huruf dari Ibrahim.
Dijah ikut meneteskan air mata. Ia tidak tahu harus menahan atau melepaskan Mbok Jum yang sudah dikenalnya hampir dua puluh tahun. Mbok Jum adalah saksi hidup perjalanan hidupnya yang panjang. Dari wanita itu, Dijah belajar sangat banyak.
“Ibra harus sekolah. Enggak bisa ikut Mbok. Lagian … rumah anaknya Mbok itu kecil. Ibra bakal kepanasan. Enggak ada Mbak Mima. Dan kalau Mas Dul pulang nanti … bisa-bisa nyariin Ibra di mana.”
Dijah dan Bara saling pandang. Sebenarnya Bara tak tega kalau melihat Ibra menangis sampai sesegukan karena mendengar Mbok Jum akan pergi meninggalkan rumah mereka. Tapi rasanya lebih tak tega jika harus menahan Mbok Jum. Walau Mbok Jum tak perlu melakukan apa pun di rumah mereka, tapi bagi Bara kehadiran Mbok Jum sudah seperti pengganti ibu bagi Dijah. Mbok Jum sudah dianggap keluarga dan kerap dimintai pendapat ini itu yang menyangkut kenyamanan seisi rumah.
“Kalau Mbok Jum mau ke Kalimantan, kami semua enggak apa-apa. Nanti kami semua bisa ikut anter Mbok. Setidaknya, kami harus memastikan Mbok Jum sampai dengan selamat dan ketemu sama anak cucu Mbok Jum. Tapi … apa boleh nunggu sampai Dul pulang liburan semester berikutnya? Kalau Mbok Jum pulang sekarang … kasihan Dul juga. Dia enggak sempat ketemu Mbok. Nanti … kita jalan-jalan dulu sekeluarga. Selesai Dul liburan, kita antar Mbok. Gimana?” Bara memandang Mbok Jum yang masih memeluk Ibra dan mengusap-usap punggung bocah laki-laki itu.
Bara mengusap bahu dan lengan Dijah tanpa mengatakan apa pun. Sorot mata Dijah sedang tertuju pada Ibra yang masih menangis.
“Iya…iya. Enggak apa-apa. Mbok memang mau ketemu Mas Dul. Terakhir ketemu juga enggak sempat ngomong banyak. Harusnya Mbok bisa nunggu Mas Dulnya Ibra sampai lulus. Tapi Mbok juga khawatir … Mbok enggak sempat—”
Dijah melingkarkan tangannya di bahu Mbok Jum dan meletakkan kepalanya menyentuh kepala wanita tua itu. “Enggak apa-apa…enggak apa-apa. Di mana pun Mbok berada … asal Mbok bahagia, aku juga bahagia Mbok. Jangan nangis lagi. Kalau Ibra kangen, nanti Ibra bisa telfon Mbok. Kalau Mas Dul sudah selesai sekolahnya, doakan kita semua bisa main ke Kalimantan. Makasihku ke Mbok itu ... enggak cukup meski diucap beratus-ratus kali. Selamanya … sampai kapan pun aku enggak akan lupain Mbok.” Dijah meneteskan air matanya tanpa isakan.
“Khadijah … selalu jadi anak gadis Mbok yang manis,” ucap Mbok Jum terbata.
******
Liburan semester genap di tahun kedua Akademi Angkatan Udara membuat Dul tak sabar kembali ke rumahnya. Setelah upacara pelepasan tanda berakhirnya masa tahun ajaran, hampir semua Taruna Karbol tahun kedua berkelompok-kelompok membuat janji makan siang perpisahan. Mereka terpisah-pisah berdasar kedekatan selama di asrama.
Dul pergi memasuki café bersama delapan orang temannya. Termasuk Leonardo Yepa. Berleha-leha sejenak setelah terkurung dengan ketat oleh jadwal dan tembok asrama, bincang santai di sebuah café selalu menjadi agenda pertama mereka. Para pria dewasa yang sebagian besar berusia dua puluh tahun itu tengah membahas hal-hal yang tidak bisa mereka bahas dengan bebas selama terikat jam belajar. Apalagi kalau bukan soal wanita. Mereka tertawa lepas dan bercanda seraya menyisipkan cerita soal keseharian mereka.
Hari itu Dul akan menumpangi pesawat sore ke Jakarta. Karena terlalu santai berlama-lama di café tadi, akibatnya Dul harus tergesa-gesa mengejar jadwal penerbangan. Ia baru bisa bersantai dan mengembuskan napas lega saat sudah duduk di kursi pesawat. Dengan seragam serba cokelat dan topi yang bertengger di kepala, Dul menyandarkan punggung dan mengedarkan pandangan ke luar jendela pesawat. Di luar, langit tengah menyemburatkan rona merahnya. Pertanda matahari semakin menjauhi sisi bumi tempatnya berada. Dul memejamkan mata. Berharap penerbangan Yogyakarta dan Jakarta akan terasa singkat kalau ia tidak terlampau sering meliring jam di pergelangan tangan kanannya.
Kini, bandara sudah seperti kawan lama bagi Dul. Tempat di mana kebahagiaan pertemuan dan kesedihan perpisahan sering terlihat di tempat itu. Dul menyunggingkan senyum tipis dengan satu sudut bibirnya. Ia menyandang ransel dan masuk ke taksi.
Setengah jam perjalanan, Dul menghabiskan waktunya dengan bertukar pesan bersama Robin dan Putra. Apalagi kalau bukan menyusun acara untuk bertemu. Pandangan Dul sedang menyapu seberang jalan di sisi kanannya. Ia termangu-mangu menunggu balasan Robin berikutnya. Sampai ketika cara seorang wanita mengibaskan rambutnya mengingatkan Dul akan seseorang. Matanya membelalak. Di antara kemacetan jalanan, taksi tersendat-sendat. Langkah kaki wanita berambut panjang di trotoar seberang jalan terlalu cepat. Dul tidak mau kehilangan jejak wanita itu.
“Annisa,” gumam Dul. “Pak, saya berhenti di sini aja,” seru Dul pada supir taksi. Tangannya buru-buru mengeluarkan dompet dari dalam ranselnya.
To Be Continued