Dul

Dul
133. Kejutan dari Sermatutar



“Kalau ditanya kepengin atau enggak, jawabannya jelas kepengin. Siapa yang enggak mau datang ke acara wisuda pac…wanita yang diinginkan buat jadi pendamping hidup, maksudnya. Tapi waktunya memang belum bisa. Aku enggak mau Annisa jadi mikir kalau aku enggak ada usaha.”


“Tapi aku mau Abdullah ikut datang. Biar Papa dan Abdullah aja. Aku enggak mau ada orang lain yang gantiin Mama.”


“Katanya enggak ada perasaan gimana-gimana lagi ke istrinya Papa.”


“Tapi aku enggak mau….”


“Minta kakak kamu aja. Kamu yang ngomong ke Papa langsung. Jangan kakak kamu.”


“Tapi Aku mau Abdullah dateng ….”


“Kamu masih ada acara pengambilan sumpah dokter, kan? Aku janji bakal datang yang itu. Jangan ngambek. Ibu cerita kalau baju seragam kita semua udah selesai. Terus … Mima ngirim foto fitting kemarin. Annisa cantik banget.”


“Makasih.”


“Kamu sekarang manggil ‘Abdullah’ lagi. Biasanya udah ngikut keluargaku, manggil dengan sebutan ‘Mas Dul’.”


“Maaf.”


“Maaf juga kalau wisuda kamu, aku enggak bisa datang. Tapi, aku berharap banget kamu bisa ikut datang sewaktu wisudaku. Kalau pelantikannya gampang … kan, upacara Prasetya Perwira-nya di Jakarta. Wisuda nanti … aku kepengin ketemu kamu di Jogja. Pokoknya kamu harus ikut ke Jogja. Aku punya kejutan.”


Bagi Annisa, ucapan Dul itu bukan lagi berupa permintaan, tapi perintah. Setelah ia mengiyakan ucapan Dul, panggilan telepon itu berakhir dalam kekakuan.


Annisa sedang menelungkup menggeser tiap foto di galeri ponselnya. Ingatan percakapannya bersama Dul di telepon beberapa hari yang lalu muncul saat ia sedang menatap foto selfie mereka berdua di sofa ruang tamu kediaman kekasihnya itu. Ia menjepret kamera ponselnya diam-diam. Saat Dul sedang menukar channel televisi dengan wajah cemberut karena suasana mereka sedang ‘panas’. Annisa mencibir dan mengetuk-ngetuk layar ponselnya tepat di pipi Dul.


Pada kepulangan Dul liburan yang lalu, mereka bernegosiasi soal siapa yang datang ke wisudanya siapa. Annisa harus menerima kalau acara wisudanya lebih dulu ketimbang wisuda Dul.


Mau tak mau ia menerima hal itu meski ada rasa kesal yang tidak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang membuatnya semakin kesal adalah, karena Dul juga tidak bisa ia salahkan.


Saat makan siang terakhir sebelum Dul kembali ke asrama, ia uring-uringan. Lebih banyak diam dan kurang ramah merespon ucapan Dul. Selama hampir dua tahun menjalin hubungan, baru kali itu ia merasa memiliki hal yang bisa diributkan bersama pacarnya yang terlalu tenang itu.


Dan hasilnya, Dul yang merasa tidak memiliki masalah apa pun padanya, terlihat gelisah dan kelimpungan. Sebenarnya ia sedikit geli melihat Dul melirik dan meladeninya terlalu berlebihan di meja makan. Ayah ibu kekasihnya pun pasti paham kalau anaknya lain dari biasa. Dul terlalu sering menawarinya lauk pauk. Mengisi gelas air putihnya yang baru diminum setengah, juga mencoba menggenggam tangannya di bawah meja. Lucu, romantis, sekaligus mengesalkan.


Perpisahan mereka juga tak sehangat biasanya. Dul seakan tak maul agi memulai topik soal wisuda. Di malam saat mengantarnya kembali ke rumah, Dul hanya mencium pipinya. Karena hal itu pula yang membuat ia meninggalkan Dul dengan segera di depan pagar. Harusnya Dul punya usaha lagi membujuknya. Bukan hanya memberi ruang dengan ikut diam.


Lalu, telepon-telepon bujukan dari Dul pun datang bertubi-tubi seperti telepon barusan. Annisa kembali menggeser layar ponsel, lalu mengulum senyum memandang foto iseng lain yang dilakukannya pada Dul.


Dul sedang menunduk dan asyik berkutat dengan ponselnya. Annisa iseng berpura-pura melihat isi chat dan menjepret kamera ponselnya saat ia mengecup pipi Dul. Dan seperti biasa, Dul yang tidak pernah bisa multitasking, tak menyadari hal itu.


“Baiklah … fiks kangen banget. Aku cium dulu.” Annisa mengecup layar ponselnya yang menampilkan foto Dul dengan seragam terakhir yang ditemuinya saat itu. Sermatutar Abdullah Putra Satyadarma. Ia lalu meletakkan ponsel dan bangkit menuju lemari. “Jogja …,” bisik Annisa.


***


Dul menarik napasnya dalam-dalam. Beberapa saat yang lalu ia menerima kabar kalau keluarganya sudah bersiap-siap menuju gedung. Sebelum seluruh taruna-taruni yang akan diwisuda hari itu masuk ke aula, Dul juga sudah memenuhi permintaan Annisa yang masih setengah merajuk karena berfoto memakai toga tanpa kehadirannya.


Pagi itu Annisa mengirim pesan sangat singkat padanya. Benar-benar sangat singkat.


‘Foto.’


“Leo … boleh minta tolong?” Dul menyodorkan ponselnya pada Leonardo Yepa.


“Ah … pasti Abdullah mau kirim ke pacar, ya?” Leonardo langsung mengerti dan menjepret beberapa kali.


“Makasih,” kata Dul saat melihat hasilnya. Ia memilih satu dari empat foto yang terlihat sama saja untuk dikirimkan pada Annisa. Untuk acara penutupan pendidikan dan wisuda sarjana, hari itu mereka semua mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU) berwarna biru putih. Setelah semenit berpikir, Dul mengirimkan satu foto dengan satu kata sebagai penyertanya.


‘Ini.’


Sebelum menutup ponselnya, ia meringis. Benar-benar hubungan yang agak dingin belakangan ini. Ia sangat merindukan Annisa. Terakhir bertemu, situasi mereka tidak mengenakkan. Dua menit memasukkan ponsel ke saku celananya, ponsel itu kembali bergetar pendek.


‘Ganteng.’


Balasan singkat itu tak hanya membuat langkah kakinya lebih ringan. Tapi juga membuat hatinya mengembang karena kebahagiaan.


Bagian depan pintu masuk gedung bertuliskan, Upacara Penutupan Pendidikan dan Wisuda Sarjana Taruna Tingkat IV AAU Gedung Sabang Merauke Kesatrian AAU Yogyakarta.


Acara sebentar lagi akan dimulai dan Dul sudah berdiri di sebelah kursi istimewa yang sudah berhasil ia peroleh. “Benar-benar perjalanan panjang,” ucap Dul seraya menepuk sandaran kursinya. Ia lalu duduk dan menegakkan tubuhnya memandang ke seluruh penjuru ruangan.


Tahap demi tahap dari rangkaian acara wisuda itu dilalui seluruh peserta upacara dengan sangat khidmat. Meski begitu empat jam merupakan waktu yang singkat buat hati yang rindu.


“Para wisudawan harus senantiasa meningkatkan kemampuan literasi dan menanamkan prinsip lifelong learning sepanjang pengabdian. Setiap langkah perjalanan karier ke depan, adalah proses pembelajaran tanpa henti. Keunggulan di udara akan selalu dapat dicapai dengan dasar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu sikap, moral, dan karakter lulusan menjadi aset paling berharga yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun.”


“Saya tegaskan kepada para pejabat, para dosen, para pengasuh, para pelatih, para staf, beserta seluruh keluarga besar AAU, untuk menyiapkan cetak biru aset masa depan TNI AU,” tegas KASAU. “Saya harap civitas akademika AAU, senantiasa mengasah kemampuan, memperkaya pengetahuan, dan menambah wawasan dengan melalukan perubahan positif untuk mewujudkan perbaikan yang berkesinambungan.”


“Saat pangkat Perwira disematkan pada pundak kalian, maka saat itu pulalah melekat kehormatan, kebanggaan, keteladanan, dan amanah yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara sepanjang masa,” pesan Kasau.


Lalu sampailah pada acara yang dinantikan semua wisudawan. Pemanggilan satu persatu lulusan untuk ke depan. Dul memusatkan perhatiannya. Dengan sabar menunggu namanya yang pasti akan dipanggil paling akhir. Dalam hatinya ia berharap keluarganya ikut mendengar. Sebuah kejutan yang ia persembahkan pada orang tua yang ia cintai sama besarnya.


“Dan penyerahan piagam penghargaan Adhi Makayasa oleh Inspektur Upacara.”


Sebait kalimat itu membuat Dul berdiri dan melangkah tegap ke depan. “Lapor, penerima penghargaan Adhi Makayasa, siap.” Ia sudah berdiri tegap menghadap Inspektur Upacara.


“Pembacaan keputusan. Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara. Nomor keputusan 104.IV/20XX. Tentang penentuan taruna terbaik lulusan Akademi Angkatan Udara, dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Kepala Staf Angkatan Udara, menimbang, mengingat, memperhatikan dan seterusnya, memutuskan, menetapkan, satu, Sermatutar Abdullah Putra Satyadarma S.Tr (Han), nomor akademi 174XX Program Elektronika Pertahanan, sebagai taruna terbaik dari taruna tingkat IV dan memberikan kepadanya anugerah lencana Adhi Makayasa atas prestasinya . Dua, keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. ….”


Untuk Ayah yang sangat sabar dan Ibu yang selalu kuat ....


“Penyerahan medali dan piagam penghargaan Adhi Makayasa oleh Inspektur Upacara.”


Dul menunggu seorang pria yang berdiri dari balik meja melangkah menuju ke arahnya berdiri. Didampingi dengan seorang wanita yang membawa baki, Dul sedikit menunduk untuk menerima medalinya, kemudian piagamnya. Mengangguk mengiyakan sebait dua bait pesan singkat dari Inspektur Upacara.


Sebentar lagi … sebentar lagi upacara selesai dan mereka semua bakal menyongsongku di luar.


To Be Continued


PS. Maaf