
Kalimat sederhana yang baru saja diucapkan Dul membuat Annisa diam beberapa saat. Siapa sangka seorang Abdullah yang selalu hemat berkata-kata bisa berubah dalam beberapa tahun terakhir. Annisa tersenyum memandang Dul.
Ya, remaja laki-laki ciuman pertamanya itu kini sudah beranjak dewasa. Annisa mengangguk, mundur selangkah agar bisa mengamati Dul lebih leluasa.
“Abdullah sekarang beda.” Annisa menatap Dul dengan tatapan muram. Semakin paham kalau sebagian orang mengalami perbedaan ke arah yang lebih baik. Dan sebagian lagi berusaha mempertahankan kebaikan pada dirinya dengan cara mati-matian. Annisa senang sekaligus sedih.
“Aku cuma khawatir kalau aku enggak sempat ngomong itu. Aku benar-benar kangen Annisa. Hampir tiga tahun, handphone-ku masih sama.” Dul mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan-pesan yang ditujukannya ke nomor ponsel lama Annisa. “Aku selalu tunggu Annisa balas pesanku. Kalau tidak dibalas, aku tunggu pesan itu sampai. Kalau pesannya sampai … setidaknya aku tau kalau Annisa masih ada.” Dul diam memandang ponselnya.
Annisa meraih ponsel Dul dan mulai menggulir pesan mulai dari atas. Air matanya mulai mengambang. Tak terhitung berapa kalimat ‘Annisa, apa kabar?’ yang dibacanya. Beberapa tahun hidup dengan benteng sosok gadis yang kuat, malam itu semuanya seakan runtuh. Ia yang selalu merasa bahwa tak ada yang benar-benar peduli padanya, malam itu tersadar. Ada seseorang yang dengan tulus ingin mengetahui keadaannya. Annisa menangis sesegukan. Air matanya jatuh menutupi layar ponsel yang sedang digesernya.
“Nomor lamaku itu nomor pascabayar. Atas nama Papa. Di hari aku ribut besar dengan Papa karena pernikahannya yang tiba-tiba dan begitu cepat, Papa ngambil ponsel aku. Papa ambil dan enggak pernah Papa kembalikan. Katanya hilang. Aku selalu menganggap Papa jahat. Tapi sekarang aku tau … mungkin Papa melakukan itu supaya aku enggak lari atau pergi dari rumah dengan menghubungi teman-teman yang mau menerima aku.” Annisa menghapus air matanya dan memandang Dul.
“Aku enggak sanggup tinggal dengan Papa dan keluarga barunya. Papa kayanya lebih dekat dengan anak-anak dari istrinya yang masih kecil-kecil. Papa sedang berusaha keras mencuri hati anak-anak sambungnya. Sementara itu ...kakak laki-laki sulung dan iparku mungkin menganggap aku sebagai beban selama ini. Kakak laki-lakiku yang lain tinggal di luar negeri. Ada yang sambil menyelesaikan pendidikannya, ada yang bekerja dan berusaha bertahan di negeri orang. Aku tau mereka udah punya keluarga. Mereka mau punya acara untuk keluarga kecilnya tanpa keberadaan aku yang selalu jadi pertimbangan diajak atau enggak diajak. Aku enggak mau mereka terus-menerus mengkhawatirkan aku. Aku belajar mati-matian untuk bisa kuliah di kota ini, agar aku bisa membebaskan mereka dari menanggung aku yang belum cukup umur. Sekarang … Abdullah pasti kasihan sama aku, kan? Abdullah pasti kasihan karena aku harus capek-capek cari tambahan uang jajan?” Annisa memandang Dul yang berdiri menatapnya dengan tenang.
Dul menggeleng. “Aku udah cukup sampai di penjelasan soal pesan-pesanku yang enggak pernah sampai. Makasih karena udah susah payah buat jelasin itu semua. Buat Annisa yang tabah berjuang untuk mandiri dan kuat, aku bangga. Annisa mengingatkan aku pada seorang perempuan kuat yang membesarkanku. Buat Annisa yang gigih dengan tujuan dan pendiriannya, Annisa mengingatkan aku pada seorang laki-laki berhati luas yang bersedia menjadi ayah sambungku. Sampai di sini, Annisa udah luar biasa. Annisa hebat. Mmmm … boleh aku peluk Annisa?”
Tak ada jawaban dari Annisa. Gadis itu menunduk dan menangis dengan raungan tertahan. Dul maju selangkah dan menarik Annisa dalam pelukannya.
Cukup lama Annisa menumpahkan semua ganjalan di hatinya dalam bentuk air mata. Mereka berdiri di trotoar jalan raya yang mulai lengang, tak jauh dari simpang jalan di mana sebuah pos polisi berada. Walau hanya berdiri diam menepuk-nepuk pelan punggung Annisa, namun mata Dul ikut basah.
Annisa melepaskan pelukannya dengan senyum kecut. “Maaf. Lama enggak ketemu, aku malah kaya gini. Makasih udah selalu nanyain kabar aku. Mulai sekarang aku enggak akan ganti nomor handphone lagi.” Annisa tertawa.
“Mana handphone kamu?” tanya Dul tiba-tiba. Pengalaman kehilangan kontak Annisa membuat ia sepertinya harus lebih aktif membereskan masalah komunikasi.
Annisa mengernyit, tapi ia merogoh tas kanvas putih yang tersampir di bahunya. Dul mengambil ponsel Annisa dan mengetikkan sederet nomor.
“Aku simpan nomor handphone-ku. Lalu … aku telfon…oke, sudah masuk.” Dul menepuk ponsel di sakunya. “Lalu buat tambahannya, aku kasih alamat email ayahku yang sampai sekarang masih aku pakai. Email ini kenang-kenangan dari sejak mendaftar SMA. Ayahku bilang harus dipakai terus. Kamu juga bisa hubungi aku ke alamat email ini. barawirya@gmail.com”
Dul kemudian mengembalikan ponsel pada Annisa. “Ini udah lewat tengah malam. Kos-kosan kamu di mana? Ayo, aku antar pakai taksi.”
Karena sudah melewatkan tumpangan Pak Samsul dan ojek langganannya, lewat tengah malam itu Annisa tidak ada pilihan selain menerima tawaran Dul mengantarnya. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah duduk berdampingan di taksi dalam keadaan diam seribu bahasa. Keduanya tidak tahu hal apa lagi yang bisa diobrolkan. Tubuh yang lelah dan mata yang mengantuk membuat keduanya sibuk dengan pikiran sendiri.
Dul turun lebih dulu membukakan pintu untuk Annisa. “Akhir minggu ini ada acara?” tanya Dul, menutup pintu taksi dan memandang taksi itu pergi menjauh.
“Kayanya enggak ada acara apa-apa. Di sini enggak ada keluarga. Biasanya aku cuma di kamar tidur seharian.” Annisa tertawa kecil. “Taksinya enggak disuruh nunggu aja? Kamu nanti pulangnya sulit cari taksi,” kata Annisa.
“Selalu ada, kok. Aku beberapa kali naik pesawat malam dan sampai dini hari. Sebagian taksi cari nafkahnya milih di jam-jam segini.”
Annisa mengangguk. “Ini kos-kosan aku. Enggak jauh, kan? Aku suka lokasinya yang enggak perlu masuk ke gang-gang kecil. Mudah dijangkau dengan angkutan umum karena letaknya di tepi jalan.” Annisa memandang bangunan di belakangnya.
Mereka sedang berdiri di depan pagar tinggi sebuah rumah bermodel klasik yang bagian depannya tumbuh pohon mangga yang rindang.
“Letaknya memang strategis.” Dul mengangguk, ikut memandang bangunan di belakang Annisa. Ia mengatupkan mulutnya sedetik, lalu menunduk memandang sepatu di detik berikutnya. Sapuan pandangan matanya, melihat Annisa melakukan hal yang sama.
Annisa terkesiap dan memandang Dul dengan sorot takjub. Itu bukan kalimat ajakan atau penawaran. Tapi mirip sebuah perintah yang sulit ditolak karena tidak ada pilihan ya atau tidak dalam jawabannya. Annisa kembali mengangguk.
Dul menarik napas lega melihat anggukan Annisa. Makna yang sangat besar baginya. Annisa sedang tidak menunggu orang lain di akhir minggu. “Besok aku hubungi kamu. Dan kalau kamu perlu hubungi aku lebih dulu, aku juga senang. Maksudnya ….”
“Maksudnya enggak ada yang bakal cemburu kalau aku menghubungi Abdullah lebih dulu, kan? Oke,” sahut Annisa disertai anggukan.
“Kalau gitu … aku pamit sekarang. Aku cari taksi di depan sana. Mmmm … selamat istirahat,” ucap Dul kembali mengangguk-angguk.
“Abdullah juga. Selamat istirahat. Hati-hati di jalan. Ngomong-ngomong … terima kasih buat obrolannya malam ini.” Annisa menyodorkan tangannya.
Dul menyambut uluran tangan Annisa sedikit ragu. Skenario dalam kepalanya sudah melebihi jabatan tangan formal itu. Jadi, ketika tangan mereka bersentuhan, ia meletakkan satu tangannya di punggung Annisa dan membawa gadis itu mendekat padanya. Dul lalu melepaskan topinya dengan tangan kanan bersamaan tangan kirinya berpindah dari punggung Annisa dan menyentuh pipi gadis itu.
“Sersan Mayor Dua Taruna Abdullah Putra Satyadarma izin mencium Annisa,” ucap Dul lembut. Satu tangannya mengusap pipi Annisa dengan tatapan mereka yang terus menaut. Dul tersenyum karena melihat Annisa membulatkan mata. Detik berikutnya, ia sudah menempelkan bibirnya di bibir Annisa. Keduanya memejamkan mata.
Sepasang tangan Annisa yang canggung terangkat perlahan dan menyentuh kedua lengan Dul. Ia mendongak dan setengah berjinjit. Dul sudah jauh lebih tinggi dibanding saat menciumnya di kelas dulu.
Sementara itu di dalam sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.
“Mas! Mas! Itu Dul nyium anak gadis orang! Gimana itu? Nanti bapaknya marah. Mas!” Dijah menepuk lengan Bara.
“Jangan dilihat. Itu adegan dewasa. Dul udah dewasa.” Bara menangkup wajah Dijah agar tidak memandang Dul di kejauhan. “Sini ibunya Dul dicium juga biar enggak berisik.” Bara mencium Dijah yang sedikit syok menerima bahwa Dul sudah menjadi pria dewasa.
To Be Continued
Dear pembaca :
Untuk pemenang giveaway fans diamond, saya batasi di 50, ya. 20 paket akan tetap saya undi agar tetap adil (dari nomor urut 51-100). Untuk lebih jelasnya silakan baca di ****pengumuman giveaway.**
Tidak dibeda-bedakan pembaca di GC, di Watsap Grup atau pembaca yang mana pun.
Maaf kalau belum bisa memuaskan setiap pembaca. Maaf juga kalau belum dibuka lapak jual beli sekarang-sekarang ini demi menjaga hati yang sudah mendukung Dul mulai novel ini tidak ada acara giveaway. Lagipula, pembagian 70 paket giveaway sudah sangat menguras waktu, tenaga dan semuanya.
**Dul kapan tamat, Kak? **Jawabannya : Tidak tahu kapan. Mungkin bisa dalam jangka waktu dekat, bisa juga awal bulan depan.
**Dul ada session keduanya, Kak? **Jawabannya : Tidak ada. Saya mau move on ke novel berikutnya.
**Kenapa jodoh Dul bukan anak Pak Dean, Kak? **Jawabannya : Di dalam novel juskelapa tidak ada perjodohan meski tokoh kadang sedikit saling kenal. Tapi tidak ada hubungan signifikan terhadap tema cerita. Biarkan anak-anak mereka menemukan jodoh masing-masing tanpa harus dijodoh-jodohkan. Ini bukan zaman Siti Nurbaya.
Salam sayang,
juskelapa